
Elang sedang mencari keberadaan Alin di sekolah. Dia berkunjung ke kelas sebelah. Dia tau bahwa gadis itu pasti masih bersedih atas masalah yang menimpa dirinya.
Dia tidak menemukan Alin di kelas. Hari ini mereka mengadakan studi wisata satu sekolah.
"Apa dia nggak ikut?" tanya Elang merasa tidak bersemangat.
"Cari siapa Lang?" tanya Nadia saat menyadari sepupunya berada di dalam kelasnya.
"Cari Alin, masa cari kamu." jawab Elang mulai terang - terangan.
"Ngapain kamu cariin dia? kayak nggak ada kerjaan yang lebih penting saja." ucap Nadia dengan muka jengkel.
"Trus ngapain kamu sibuk ngurusin aku mau ketemu siapa, kayak nggak ada kerjaan yang lebih penting aja daripada ngepoin aku
" jawab Elang tidak mau kalah.
"Kamu itu, aku hanya tidak mau kamu terjebak sama perempuan ular itu."
"Bukankah kata - kata itu lebih cocok untuk kamu?" tanya Elang tersenyum mengejek Nadia.
"Kamu....." ucap Nadia kesal.
"Apa? nggak jelas banget." jawab Elang pergi meninggalkan Nadia.
"Apaan sih Elang? kenapa dia seperti itu" ucap Nadia kesal dengan sepupunya.
Elang mencari keberadaan Alin. Dia harus menemukan Alin agar wanita itu mau ikut. Jika wanita itu tidak ikut, maka dia yang lebih malas.
Elang telah sampai di belakang kelas XI IPA. Biasanya dia sering melihat Alin sering duduk di sana. Jika tidak ada, maka gadis itu di pastikan di perpustakaan.
Benar saja, Elang melihat gadis itu sedang duduk memeluk lututnya. Elang berjalan mendekati Alin dengan wajah sumringah.
"Ngapain di sini?" tanya Elang yang ikut duduk di sebelah Alin.
"Kamu liatnya lagi apa?" tanya balik Alin.
"Ya duduk."
"Trus kenapa tanya lagi." ucap Alin kesal.
Bibir Elang melengkung membentuk sebuah senyuman mendengar jawaban gadis itu. Itulah yang membuat gadis itu terlihat berbeda dengan anak - anak yang lain. Gadis itu selalu apa adanya.
"Alinshy." panggil Elang dengan lembut.
"Apaan sih panggil Alinshy? malu tau di dengar orang." jawab Alin semakin kesal.
"Kenapa harus malu? jarang - jarang loh ada panggilan khusus dari seorang Elang kepada wanita." jawab Elang.
"Terserah, tapi lagi nggak pengen."
"Yakin? nanti kamu kangen di panggil seperti itu, karena selain aku tidak akan ada yang memanggil kamu secara istimewa seperti itu.
"Entahlah, jangan ganggu lah, aku lagi malas berdebat, lagian kamu kenapa semakin dekat aja sama aku."
"Aku semakin dekat sama kamu?" tanya Elang yang merasa bahwa wanita itu sedang kepedean.
"Ini buktinya."
"Ah kamu aneh, biasa gadis lain paling senang aku dekatin."
"Itu gadis lain, aku ya aku."
"Nanti aku di intimidasi sama mawar."
"Coba aja kalau dia berani."
"Dia kan calon istri kamu, kata teman-teman yang aku dengar, Elang mau sama siapapun, ujung - ujungnya dengan Mawar juga menikah."
"Menikah masih lama, jadi jalani saja dulu."
"Kamu nggak pengen menikah sama wanita lain selain mawar?" tanya Alin mengatakan sambil memutar badannya ke kiri agar bisa menatap Elang dengan leluasa.
"Pengen sih, tapi kamu mau nggak sama aku?" tanya Elang juga menatap balik Alin.
Jantung Alin lansung berdebat kencang saat Elang bicara seperti itu.
"Hahahaha, dia serius banget." ucap Elang sambil tertawa.
Sebenarnya jantung Elang juga berdebar saat berbicara seperti tadi. Akan tetapi melihat Alin yang terdiam membuat Elang memutar otak agar situasi tidak canggung.
"Kalau benaran tadi padahal aku mau loh, lumayan lah jadi orang kaya." jawab Alin juga tidak ingin kalah.
"Alinshy."
"Hmmm."
Elang tersenyum ketika Alin lansung menyahut ketika di panggil Alinshy.
"Kamu nggak benaran nggak pergi study wisatakan?" tanya Elang.
"Jika aku nggak pergi ngapain aku datang ke sekolah." jawab wanita itu.
Elang menepuk keningnya. Pikirannya telah di kalahkan oleh hatinya.
"Katanya siswa terpintar tapi kenapa bodoh seperti ini." ucap Alin mengejek.
"Mungkin saja karena berada di dekat kamu, makanya aku jadi keliatan bodoh begini." jawab Elang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ayuk ke bis, nanti malah di tinggal." ucap Alin berdiri dari duduknya.
"Kamu duduk di sebelah aku saja di bis." ucap Elang juga ikut berdiri.
"Malas, nanti pada heboh pula gossip."
"Biarin saja, awas aja jika nggak mau, aku cium kamu." ucap Elang mencoba mengancam Alin.
"Nggak mempan."
"Apa?" tanya Elang lansung mendorong Alin dengan pelan ke arah dinding yang tidak jauh dari tempat berdirinya.
Elang meletakkan kedua tangannya di sisi kiri kanan tubuh Alin. Alin yang posisinya terjebak diantara tubuh Elang menjadi takut. Elang mendekati wajah Alin. Alin memejamkan matanya karena tidak berani menatap wajah Elang yang sangat dekat. Nafas lelaki itu sangat dengar di penciuman Alin.
"Hahahaha, serius amat mukanya." ucap Elang tertawa menjauhkan diri dari Alin.
Alin yang baru menyadari menjadi kesal karena di kerjain sama Elang.
"Ayok." ajak Elang menggenggam tangan Alin.
Kali ini Alin hanya diam mengikuti langkah kaki Elang menuju bis yang sudah terparkir di depan sekolah