
Ujian akhir semester telah usai. Elang dan para OSIS nampak sibuk karena mempersiapkan classmeeting. Banyak jenis lomba yang di adakan. Di penghujung Classmeeting mereka juga mengadakan study wisata.
Di tengah classmeeting Alin nampak kebingungan sendiri. Semenjak kejadian itu, Rima dan Cahaya sudah jarang bersamanya.
Alin hanya bengong sendirian. Selain dengan Rima dan Cahaya, memang sudah tidak ada yang mau berteman dengannya. Apalagi Alin tidak di sukai oleh Nadia yang merupakan penguasa sekolah selain Elang.
Alin tidak berminat untuk menonton berbagai macam perlombaan. Akhirnya dia memutuskan pergi ke perpustakaan untuk membaca buku.
Alin berjalan menuju perpustakaan. Di sepanjang jalan dia menemukan banyak siswa yang berkumpul - kumpul. Ada berbagai macam kegiatan siswa di sekolah. Ada yang menggosip, ada yang pacaran, dan ada yang memang jadi suporter kelas masing-masing.
Ketika melewati ruang OSIS, dia tidak sengaja bertemu dengan Elang. Elang nampak berjalan keluar dari ruangan tersebut membawa beberapa kertas di tangannya.
"Tumben tidak ada pawangnya." ucap Alin dalam hati.
Alin mencoba untuk tidak menatap elang. Dia merasa malu karena tidak ada teman satupun yang mau bersamanya.
Alin mencoba berjalan dengan cepat dan agak menjaga jarak dengan Elang. Begitupun dengan Elang.
Elang tau bahwa tidak ada yang mau berteman dengan wanita itu karena statusnya yang bukan orang kaya. Elang tau bahwa Alin bukan dari golongan orang miskin. Dia berada di ekonomi menengah.
Elang agak emosi sedikit karena Alin juga menghindarinya. Dia tidak terima wanita itu menghindarinya. Karena jika wanita lain mengejarnya, berbeda dengan gadis itu.
"Alin tunggu." panggil Elang.
Merasa namanya dipanggil membuat jantung Alin berdebar kencang. Alin segera menormalkan detak jantungnya sebelum membalikkan badannya.
"Iya ada apa Elang?" tanya Alin setelah membalikkan badannya.
"Bagaimana kabar hubungan kamu dengan Nori?" tanya Elang dengan senyum mengejek.
"Baik, maaf apa ada hubungannya dengan tugas anda?" tanya Alin juga tersenyum mengejek.
"Sebagai teman aku hanya memastikan kalian baik-baik saja."
"Maaf teman siapa ya? saya tidak merasa berteman dengan anda, dan saya rasa Nori juga bukan teman anda." jawab Alin membuat senyum di wajah Elang menghilang.
"Saya dan Nori tentu berteman meski kami sering berkompetisi, saya harap anda bukan tipe yang sama dengan Nori."
"Maksud anda?"
"Ya sama - sama murahan, kan Nori itu mana cukup dengan satu wanita, dan kamu sepertinya juga begitu, selamat kalian cocok."
"Terima kasih, dan saya rasa mau saya ini murahan tidak ada hubungannya dengan anda." ucap Alin yang merasa tersinggung dengan ucapan Elang. Akan tetapi dia mencoba untuk menahan diri.
Alin melihat Mawar berjalan mendekati mereka.
"Sepertinya pawang anda sudah datang, jangan jauh-jauh, sepertinya dia nggak bisa jauh dari anda." ucap Alin.
"Hey jangan kurang ajar kamu ya." ucap Mawar yang mendengar ucapan Alin sekilas.
"Opsss ternyata dengar, Raka dan queen sekolah, aku takut." jawab Alin berpura-pura ketakutan.
"Udah mawar nggak usah di ladeni."
"Ada apa ini Elang dan mawar?" Alin menoleh ke arah suara yang ia hafal betul. Siapa lagi jika bukan Nadia.
Elang menjadi kesal karena kedua wanita itu datang. Dia tidak berharap sama sekali dengan kedatangan dua wanita itu. Dia yakin masalah ini akan lebih besar jika mereka ikut campur.
"Ada apa ini Elang? kok kamu diam aja." ucap Nadia.
"Nggak tau ini anak, kayaknya mencari masalah sama aku dan Elang." jawab Mawar
"Kamu memang nggak tau malu ya, udahlah ekonomi pas - pasan eh malah belagu." ucap Nadia.
"Iya, selama ini aku memang nggak Suka dengan dia, songong, jika ekonomi kamu belum sekaya siswa di sini jangan belagu, Makanya nggak ada yang mau berteman dengan kamu." ucap Mawar.
"Heh, aku miskin dan nggak kaya nggak ada hubungannya dengan kalian, setidaknya kalian itu masih di bawah aku." jawab Alin.
"Hey kamu mengigau ya, dari segi mana aku kalah dengan kamu." ucap Nadia.
"Apalagi aku." Mawar membeo.
"Seorang Nadia yang selalu rangkingnya di bawah saya, makanya dia marah karena tidak bisa membuat saya jatuh secara rangking, sedangkan kamu Mawar cuma wajah yang cantik tapi otak kosong, di kelas sebelah aja rangking sepuluh besar aja nggak masuk, jadi OSIS juga karena pengaruh Elang Maheswara." ucap Alin membuat Mawar dan Nadia semakin murka. Sedangkan Elang tersenyum dalam hati melihat Alin melawan dua wanita yang memang rasa - rada eror menurut Elang.
"Kamu bicara tanpa data dan bukti." jawab Mawar tidak terima di permalukan di depan Elang.
"Mau bukti, saya tahu jika kamu selalu bilang ke teman-teman bahwa kamu adalah pacarnya Elang Maheswara, para siswa di sekolah ini percaya Karena kamu selalu ngintilin Elang ke mana-mana." ucap Alin.
"Kami berbarengan karena satu misi di OSIS, kamu jangan ngarang cerita ya, mereka aja yang berasumsi bahwa aku pacar Elang, aku tidak pernah ngomong apa-apa." jawab Mawar.
"Berasumsi? lucu deh alibi kamu, dan elang Maheswara." ucap Alin memandang Elang.
Elang yang tadinya sedang menikmati sebuah drama menjadi terganggu karena namanya di panggil oleh Alin.
"Jika anda ingin tau siapa wanita yang murahan, itu ada pada Mawar dan Nadia sepupu anda." ucap Alin.
"Kamu jangan kurang ajar." ucap Mawar emosi hendak menyerang Alin. Begitu juga dengan Nadia. Akan tetapi Elang segera menahan mereka.
"Saya bicara fakta, silahkan kamu analisis sendiri ucapan saya ini,Mawar seolah menjadi wanita setia yang mau menunggu kamu, padahal dia adalah wanita murahan sesungguhnya, menyodorkan diri kepada lelaki yang sudah tau biasa saja, sedangkan sepupu kamu Nadia juga sibuk akhir - akhir ini mengejar Nori, walaupun Nori playboy akan tetapi Nadia bukan tipe Nori, tapi tetap saja datang ke rumahnya." ucap Alin tersenyum.
"Hey mama Nori itu lebih setuju Nori bersama dengan aku, kamu liat aja nanti, Nori dan keluarganya hanya memanfaatkan kamu karena adiknya mau belajar bersama kamu." ucap Nadia tidak mau kalah.
"Hahahaha, silahkan kamu analisis ya Elang Maheswara ketua OSIS yang terhormat, permisi." ucap Alin meninggalkan mereka.
"Kamu kira masalah Kita udah selesai, sini kamu biar aku Jambak kamu." ucap Nadia.
"Jambak aja dia Nad, memang layak." Mawar memanasi.
"Sudah Nadia, sudah mawar, kembali ke aktivitas kalian masing-masing." perintah Elang.
"Kamu bela dia lang?" tanya Mawar dengan manja.
Mendengar Mawar bertanya dengan cara manja begitu membuat Elang merasa jijik. Elang memang tidak menyukai wanita seperti itu.
"Analisis Alin benar, aku yang salah menganggap Mawar tulus, dia manfaatkan semuanya." ucap Elang.
"Kamu membela dia lan" tanya Nadia.
"Tidak, mengurus dia hanya membuang energi kalian dan merusak nama baik kalian, urusan dia biar menjadi urusan aku." ucap Elang meninggalkan kedua wanita itu.
Nadia dan Mawar tersenyum karena Elang berada di pihak mereka.