
Elang hanya fokus mengendarai mobilnya. Sesekali ia melihat ke belakang melalui kaca spion. Dia melihat alin sedang duduk dengan berpelukan dengan sang nenek.
Nampak wajah keduanya bersedih. Apalagi sang nenek yang tidak bisa membendung rasa kekecewaannya. Anak yang masih ia lahir kan dan ia besarkan akan tetapi tidak menganggapnya ada.
Nenek teringat saat mama Alin pergi dari rumah. Bayangan itu kembali menghantui pikiran sang nenek. Akibat gagalnya pernikahannya dengan sang suami pertama yang merupakan papa Alin.
Flashback
Indri muda kesal dengan sang suami yang sejak tadi hanya sibuk main game. Bahkan sang suami sama sekali tidak membantunya dalam mengurus anak dan rumah.
Setelah pulang dari kerja, dia juga harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang terbengkalai. Sedangkan sang anak sedang menangis minta di gendong.
"Kamu ini maunya apa sih? bisa nggak di gendong itu anak." ujar Indri dengan emosi.
"Kan kamu sudah pulang, ya kamulah yang gendong."
"Aku ini capek, aku baru saja pulang dari kerja." Indri mengeluh.
"Emang aku nggak kerja? sudah di bilang dirumah saja, tetap aja ngeyel, setelah itu ngomel-ngomel." jawab sang suami.
"Karena kamu nggak cukup kasih uang, jika aku nggak kerja maka kebutuhan rumah ini nggak terpenuhi."
"Bukan nggak cukup, tapi kamu yang nggak pandai bersyukur, buktinya istri teman - teman aku nggak ada yang mengeluh."
"Itu mereka, aku ini kebutuhannya tinggi, belum lagi skincare aku, kamu kasih uang hanya untuk makan saja, itupun kadang aku yang nombok." jawab Indri.
"Pusing aku dengar kamu ngomel, mending aku pergi."
"Sudah - sudah, kenapa ribut terus?" tiba-tiba mama Indri menggendong cucunya.
"Kenapa ribut melulu, ini sudah malam, apa pada nggak malu."
"Anak ibuk tu, cerewet minta ampun." jawab sang suami.
"Gimana nggak cerewet kamu sibuk main game aja."
"Mending game daripada aku main wanita, orang cuma cari hiburan selepas suntuk kerja."
"Kamu pikir aku nggak suntuk kerja?"
"Ah berdebat sama kamu nggak akan ada habisnya."
"Indri benar, kalian sama - sama bekerja, bantulah Indri menyelesaikan pekerjaannya di rumah, dia juga bantu kamu cari uang."
"Aku tidak pernah menyuruh dia kerja buk, dianya Yang nggak bisa bersyukur."
"Tapi memang dengan gaji kamu hanya hidup pas - Pasan, kapan kalian maju, kalian sudah punya anak calon masa depan kalian."
"Ini nih, ternyata ajaran ibu yang tidak benar kepada anak ibu, wajar anak ibu begini."
"Ibu ajari apa? ibu hanya bicara berdasarkan fakta." jawab mama Indri kaget mendengar jawaban dari menantunya.
"Apakah ibu di minta untuk bicara di sini, di sini saya kepala keluarga, jadi omongan aku yang di dengar."
"Jika mau omongan kamu yang di dengar, belikan rumah untuk istri dan anak kamu, di sini rumah ibuk, ibuk berhak berbicara." jawab mama Indri dengan kesal.
"Jika begitu ibu cari saja menantu yang kaya raya." ucap suami Indri mencemeeh.
"Kamu pikir aku tidak bisa." ucap Indri menimpali.
"Coba buktikan."
"Baik, mulai malam ini kamu bukan istri aku." ucap papa Alin.
"Segera kamu urus perceraian aku." ucap mama Alin.
"Dan segera pergi dari rumah ini."usir mama Alin.
Alin yang masih berumur dua bulan itu belum paham apa - apa. Dia hanya menangis di pelukan neneknya sejak tadi.
"Susui dulu anak kamu."
"Kasih susu bantu aja buk, aku capek." jawab mamanya sang bayi.
Papa lain segera mengemas bajunya untuk meninggalkan rumah itu. Sedangkan mamanya lansung duduk di ruang tengah.
Sang nenek yang berumur 48 tahun itu dengan sigap membuat susu formula untuk sang cucu satu - satunya.
"Kasihan sekali kamu nak." ucap sang nenek sambil berlinang air mata melihat penderitaan sang cucu.
Papa Alin pergi tanpa berpamitan dengan siapapun. Dia juga tidak melihat anaknya untuk terakhir kalinya.
Setelah malam itu, papa Alin mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.Perceraian mereka berlangsung dengan lancar tanpa ada hambatan sama sekali.
Setelah resmi bercerai, Indri hanya sibuk bekerja, setelah pulang dari bekerja dia menghabiskan waktunya bersama teman - temannya.
Terkadang mamanya selalu mengingatkan sang anak untuk mendaftarkan Alin ke dinas kependudukan dan catatan sipil. Namun mamanya selalu enggan dengan alasan tidak ada waktu.
Hari berlalu begitu saja. Nenek Alin yang bekerja sebagai pedagang baju harus membawa sang cucu berjualan.
Nenek Alin menganggap sang cucu sebagai anak bungsunya. Di umur yang sudah hampir 50 tahun, dia masih harus membiayai sang cucu. Namun hal itu tidak menjadi kendala bagi sang nenek karena penghasilan beliau yang mencukupi semua itu. Bahkan ada saja rezeki yang datang sehingga toko bajunya selalu ramai.
Setelah 4 bulan perceraian tiba - tiba sang anak yaitu Indri tidka pulang kerumah.Dia pergi hanya dengan berpamitan melalui pesan SMS.
[buk jangan cari aku, aku sudah menemukan kebahagiaan, aku ingin merantau, nanti aku akan kembali suatu saat]
Itulah yang teringat oleh neneknya saat mama Alin pergi meninggalkannya dengan sang cucu. Semenjak itu sang nenek semakin giat untuk memperbesar toko bajunya. Sehingga beliau bisa hanya di rumah di saat usia senja seperti saat ini.
Flashback end
"Mungkin itu kebahagiaan yang di maksud mama kamu." ucap sang nenek di tengah keheningan.
"Maksud nenek?" tanya Alin.
"Saat Mama kamu pergi dia hanya mengirimkan pesan singkat yang isinya dia ingin mengejar kebahagiaannya, dia minta nenek jangan mencarinya."
Alin paham pasti neneknya tidak punya uang untuk mencari sang ibunya.
"Nenek tidak mencari mama karena tidak punya uang ya nek?"
Nenek Alin nampak menggelengkan kepalanya. "Nenek yakin bahwa mama kamu punya alasan yang kuat, dan nenek percaya dia akan kembali."
"Aka tetapi setelah kamu berumur segini, mama kamu juga tidak kembali, makanya ketika kamu sebutkan kamu menemukannya, nenek ingin bertemu." sang nenek nampak memikirkan kata berikutnya.
"Dan benar, di lihat dari rumahnya dia nampak bahagia, Apalagi wajahnya dan tubuhnya yang sehat, nenek yakin bahwa mama kamu punya alasan yang kuat untuk tidak menemui kita." jawab sang nenek.
Alin tidak mengerti dengan pemikiran sang nenek. Jika ia di posisi neneknya maka ia akan mencari tau kemana sang anak walau di minta untuk tidak mencarinya.
Elang yang mendengar sambil menyetir menjadi kasihan dengan Alin. Dia ternyata tidak sendirian. Alin malah di tinggal oleh kedua orang tuanya. Sementara walaupun papanya Sibuk setidaknya papanya masih sendiri sampai sekarang.