Alinshy

Alinshy
Bab 16



Setelah selesai pengajian malam pertama kepergian Naomi, Indri nampak hanya duduk sendiri di kamar sang anak sambil melihat foto Naomi.


Indri sangat terpukul dengan kepergian sang anak. Naomi adalah pelengkap kebahagiaannya. Apalagi Naomi anak perempuan satu-satunya. Dia sangat yakin bahwa sang suami sangat menginginkan anak perempuan.


"Kenapa kamu meninggalkan mama secepat itu nak? kamu harapan mama agar kebahagiaan papa lengkap." ujar Indri.


Selama ini Indri sudah melakukan dengan sempurna untuk membahagiakan sang suami. Dia sangat takut jika sang suami meninggalkannya.


Semua impian Indri ketika muda terpenuhi. Dia merasa bahagia menjadi istri dari Aldi Bastian.


Bayangan Indri kembali kepada kejadian tadi sore. Dia teringat dengan kedatangan gadis bernama Alin dengan membawa neneknya.


"Gadis itu harus aku peringatkan agar jangan mencari aku, aku takut jika dia akan menghancurkan apa yang sudah aku bangun." ucap Indri bicara sendiri.


Ceklek


Indri melihat pintu kamar terbuka dan melihat Nori yang masuk ke dalam kamar setelah menutup pintu itu kembali.


"Mama ngapain di sini sendiri, ikhlas kan ma, agar Naomi tenang."


"Mama ikhlas nak, tapi mama masih ingat dengan dia."


"Ayo kita doakan ma agar Naomi tenang di sana, mama istirahat agar mama tidak tumbang, Naomi bisa marah jika mama sakit." bujuk sang anak.


"Mama ingin tidur di sini aja, biar mama merasa bahwa Naomi masih ada."


"Ya sudah biar aku temani ya ma."


"Kamu memang anak yang pengertian." ucap sang mama.


Indri kembali teringat saat dia pertama kali menggendong sang anak tiri. Nori waktu itu masih. berumur 5 bulan. Ibu Nori meninggal ketika melahirkan Nori.


Aldi sang papa Nori kewalahan mengurus anak sekaligus mengurus perusahaan. Dia segera mencarikan ibu untuk anaknya agar mendapatkan kasih sayang yang utuh.


Saat itu Aldi bertemu dengan Indri yang ternyata juga janda. Indri tidak ingin melewatkan kesempatan.


Indri mengaku kepada Aldi saat itu janda tanpa anak. Dia juga mengaku hidup sebatang kara. Aldi yang waktu itu merasa cocok dengan kriterianya lansung menikahinya.


"Kamu memang pembawa keberuntungan bagi mama." gumam Indri kepada Nori.


"Tentunya ma." jawab Nori.


Walaupun Nori tahu bahwa wanita itu adalah ibu tirinya. Akan tetapi wanita itu yang merawatnya dengan baik sejak ia bayi. Wanita itu bahkan sangat menyayanginya sama dengan Kenzu atau Naomi.


Nori merasakan kebahagiaan karena mendapatkan ibu tiri yang baik. Dia tidak merasakan seperti anak tiri yang ada di sinetron - sinetron. Ibu tiri yang hanya mau harta kekayaan papanya.


Sampai sejauh ini mama tirinya selalu memperlakukan dia dengan sangat baik. Mama tirinya juga tidak pernah merugikan dirinya atau keluarganya.


Sedangkan di ruang tamu nampak pelayat yang mengaji sudah pulang satu persatu. Di sana hanya tampak beberapa keluarga besar Aldi. Mereka ada yang mengobrol karena lama tidak bertemu.


Sedangkan Aldi nampak duduk dengan Kenzu. Dia masih penasaran siapa wanita tua yang bersama dengan Alin.


"Papa pasti mikirin nenek tua tadi kan?" tanya Kenzu yang melihat semua apa sedang berpikir.


"Iya, sepertinya mama seperti ketakutan saat melihat kedatangan nenek dan teman Abang." jawab Kenzu.


"Kamu sempat mencuri pendengaran nggak tadi?"


"Tidak pa, cuma mama seperti tidak ingin nenek itu bicara, mama dengan cepat mengusir aku agar kembali ke papa, menurut aku agak mencurigakan pa." jawab anak lelaki yang masih duduk di bangku SMP itu.


"Ada apa dengan Alin itu ya? apa mama marah kepada Alin sehingga mengusirnya?" tanya Aldi.


"Pa menyadari sesuatu nggak pa?" tanya Aldi yang memang hobi melakukan penelitian terhadap sebuah kasus.


"Apa?" tanya sang papa.


"Nenek tua itu terlihat mirip dengan mama." ucap Kenzu.


Aldi segera membayangkan wajah sang nenek Alin. Dia juga baru teringat ketika bertemu dengan Alin merasa melihat wajah gadis itu familiar.


"Papa baru ingat bahwa pertama kali bertemu Alin, wajahnya familiar sekali." ucap papanya.


"Papa melihat sesuatu?"


"Iya, papa tau wajah Alin itu yang papa liat pertama kali bertemu dengan mama kamu, yah itu wajah mama kamu waktu muda, nanti kita cari foto papa saat menikah dengan mama kamu." ucap sang papa membuat Kenzu kaget.


"Apa artinya teman Abang adalah anak mama pa?"


"Tapi mama mengakunya tidak punya anak, bahkan KK mama waktu itu juga sendiri setelah bercerai dengan suaminya."


"Apa hanya kebetulan mirip, atau masih ada hubungan kerabat."


"Mungkin nanti akan papa selidiki diam - diam, akan tetapi kamu jangan memberi tau mama kamu, papa takut mama kamu makin syok karena kita mencurigainya." ujar sang papa.


"Baik pa."


"Oke ada baiknya kita beristirahat, papa mungkin akan tidur di sini aja bersama yang lain." ucap Aldi melihat saudara - saudara sudah ada yang berbaring di atas karpet.


"Ini pada biasa nggak tidur di karpet? nanti pada pegal-pegal." tanya Aldi.


"Ah nggak apa-apa, toh dulu kita sudah biasa tidur di tikar." ucap kakak lelaki Aldi tertua.


Mereka semua tertawa. Di sana ada kakak dan adik - adiknya serta keponakannya yang juga datang. Aldi bersyukur punya keluarga yang selalu mensupport.


Aldi kecil dulu hidup miskin. Sang ayah hanya pedagang keliling sedangkan sang ibu butuh cuci.


Sang kakak lelaki pertama rela untuk tidak sekolah untuk membantu menyekolahkan Kakak kedua Aldi dan Adik yang lain. Setelah kakak kedua tamat Kuliah, barulah dia juga membantu menguliahkan Aldi. Setelah Aldi selesai kuliah, ia sempat bekerja terlebih dahulu. Namun karena kegigihannya dia bisa sukses.


Bahan untuk modal awal membangun bisnis, ia juga di bantu oleh kakak - kakaknya. Sampai akhirnya Aldi menjadi orang sukses. Setelah Aldi berhasil menjadi pengusaha muda, barulah ia menikah. Namun sang istri meninggal saat melahirkan anak pertama mereka.


Karena tinggal di kota yang berbeda dengan keluarga, Aldi merasa kewalahan dalam mengasuh anaknya walaupun Ia telah menyewa baby sister.


Akhirnya Aldi menikahi Indri wanita yang baru saja sebulan ia kenal. Dan setelah menikah, dia melihat kebaikan dan ketelatenan sang istri merawat sang anak.