
Elang terdiam berdiri di pojok ruangan perpustakaan melihat Alin menangis. Dia melihat bagaimana wanita itu menghapus air matanya dengan cepat.
Tidak ingin terlihat oleh Alin, akhirnya Elang berjalan meninggalkan tempat itu. Dia tidak ingin wanita itu tau bahwa dirinya mengikuti wanita itu sejak tadi.
Elang berjalan dengan tatapan dingin meninggalkan kantin. Dia berjalan menuju ruangan OSIS.
Saat ini tempat yang paling tepat bagi Elang adalah ruangan OSIS. Dia bisa menghilangkan semua yang ada di kepalanya.
Elang sendiri mendengar bagaimana Alin mengatakan bahwa dia tidak menyukai dirinya. Elang mendengar bahwa wanita itu sedang menyukai Nori lelaki Playboy.
Elang sangat tau bagaimana Nori, Nori tidak pernah pacaran jika bukan berakhir di hotel. Elang sangat tau bahwa Nori bisa saja merusak wanita itu.
"Kenapa kamu harus menyukai dia Alinshy?" ucap Elang sambil. mencoret - coret kertas yang ada di meja.
"Aku akan lebih rela jika kamu menyukai lelaki lain, Nori bukan lelaki yang baik." ucap Elang lagi.
Elang menyibukkan dirinya saat Mawar masuk keruangan itu. Mawar nampak tersenyum menghampiri dirinya dengan tentengan di tangannya.
"Ini aku beli dua rice box, ayok kita makan bersama."
"Aku lagi malas makan, masih kenyang."
"Ayolah Lang,aku tau kamu tadi nggak sempat sarapan, jangan ngaku - ngaku kenyang." jawab Mawar yang sudah tau karena ia tadi sempat menghubungi mama Elang.
"Mawar aku...."
"Apa? jika kamu malas biar aku siapkan." ucap Mawar membuka rice box yang di bawanya.
"Kenapa kamu begitu peduli sama aku mawar?" tanya Elang penasaran terhadap wanita itu.
"Kamu tau jawabannya tanpa harus bertanya, kamu tau bahwa aku menyukai kamu, hanya kamu selama ini berpura-pura tidak tahu." ucap Mawar menatap Elang dengan inten.
"Kamu tau bahwa aku tidak pernah menyukai kamu, yang menyukai kamu itu adalah Langit sahabat aku." Ucap Elang.
"Kamu beri aku kesempatan, aku yakin suatu saat nanti kamu akan mencintai aku, aku tidak mencintai Langit" ucap Mawar menjelaskan kepada Elang.
"Bagaimana dengan Langit?"
"Dia sudah dewasa, dia harusnya bisa menerima bahwa aku tidak pernah mencintai, dan aku tau jika tidak ada langit di antara kita, mungkin kita telah bersama sejak dahulu." jawab Mawar.
"Kamu jangan begitulah elang, aku tahu bahwa kamu juga menyukai akuz aku tau kamu seperti ini hanya karena Langit,asal kamu tahu bahwa langit telah rela jika kita bersama." ucap Mawar.
"Tetap aja ini salah."
"Lalu bagaimana dengan Nadia sepupu kamu, dia sangat mencintai Langit sejak dulu, apa kamu senang Nadia menderita jika aku bersama Langit, kamu tau bahwa hati aku tidak bisa menerima Langit, tolong pahami aku, jangan berkorban lagi demi kebahagiaan orang lain."
"Baiklah, beri aku kesempatan untuk berpikir."
"Berapa lama?" tanya mawar.
"Setelah pulang Study wisata aku akan memberi tau jawabannya."
"Baik, tapi sampai waktu itu tiba kita harus tetap tidak terjadi apa-apa." ucap Mawar.
"Iya." jawab Elang dengan lembut.
Elang mengakui bahwa dulu dia sempat menyukai wanita itu. Namun dia harus memendam cintanya karena sahabatnya menyukai wanita itu.
Setelah masuk Sekolah Menengah dia bertemu dengan Alin. Alin mengalihkan pandangannya dari Mawar.
Akan tetapi dia merasa belum bisa membuang rasa itu kepada Mawar terlalu jauh. Apalagi dia tau bahwa kedua orang tua mereka adalah sepakat untuk menjodohkan mereka di kemudian hari.
Elang menatap Mawar yang sedang menyuap makanannya. Nampaknya sangat enak ketika Mawar mengunyah makanan tersebut.
"War suapin aku dong." ucap Elang yang memang sudah terbiasa seperti itu dengan Mawar.
Mereka makan berdua sambil tatap menatap. Elang melupakan apa yang terjadi sebelumnya.
"Jika dulu tidak ada langit diantara kita mungkin kita sudah pacaran, tapi bukannya pada akhirnya kami akan tetap bersama, apa aku melupakan Alin saja, toh dia juga menyukai Nori, aku nggak yakin bahwa dia belum diapa - apain sama Nori." ucap Elang dalam hatinya.
...****************...
"Alin." Alin berhenti karena seseorang memanggilnya.
"Ada apa ri?" tanya Alin ketika sudah dekat dengan Nori.
"Aku menjemputmu."
"Buat apa?"
"Nanti aku jelasin, ayo ikut aja dulu tanpa bertanya."
"Tidak bisa seperti itu, bagaimana kamu menipuku?"
"Hey apa aku ini ada tampang penipu seperti itu?" tanya Nori mendebat Alin.
Dia memang penjahat wanita Alan tetapi dia tidak pernah menipu mereka. Merekalah para wanita yang datang menawarkan diri mereka sendiri.
"Baiklah, ada apa???????" tanya Alin.
"Kamu bisa bertanya di dalam mobil saja." ucap Nori meminta pengertian.
"Baik." akhirnya Alin menyerah.
Walaupun di mata orang lain Nori adalah lelaki yang bejat, akan tetapi Alin tidak melihat itu pada diri Nori selama bersamanya.
"Ada apa?" tanya Alin ketika Nori sudah melajukan mobilnya.
"Aku minta bantuan kamu, aku mau kamu membantu seseorang." jawab Nori.
"Bantu apa dan siapa?"
"Nanti kamu juga akan tau setelah sampai di sana."
"Bagaimana Jika kamu menipu aku? aku tidak mau pergi Jika kamu tidak jujur sama aku." ancam Alin kepada Nori.
Karena merasa diancam akhirnya Nori mau tidak mau harus memberitahu Alin terlebih dahulu.
"Aku punya seorang adik yang sedang berjuang melawan sakitnya, aku ingin kamu menyapanya dan mengajarinya belajar."
"Di ajarin belajar? orang sakit mau belajar juga?" tanya Alin mengurutkan dahinya.
"Dia terkena kanker otak, akan tetapi dia mempunyai semangat belajar, aku mau kamu mau membantunya agar dia tidak ketinggalan pelajaran di sekolah, awalnya kami ingin maunya dia home schooling, akan tetapi dia tetap mau bersekolah di sekolah umum." jawab Nori menjelaskan.
Mendengar cerita Nori membuat Alin terharu. Lelaki yang di katakan bejat dan playboy ternyata punya sisi lain. Lelaki itu sangat menyayangi adiknya. Itu yang Alin lihat dari lelaki itu.
"Kenapa kamu membawa aku?"
"Karena hanya kamu teman aku yang pintar dan tidak akan pernah naksir sama aku, jika wanita lain kesempatan ini lalu menukarnya dengan apa yang mereka inginkan." jawab Nori.
"Kenapa kamu berpikir bahwa aku baik banget, bisa jadi aku mau memanfaatkan kamu."
"Tidak akan mungkin, kamu itu tulus, dulu aku pernah membawa seorang wanita terdekat aku, akan tetapi dia tidak benar tulus terhadap adikku." jawab Nori.
"Bagaimana aku meminta sesuatu?"
"Kamu tidak akan mau jadi pacar aku, karena aku bukan tipe kamu sama sekali."
"Kan aku memang bukan mau itu." jawab Alin tersenyum.
"Jika kamu mau uang aku akan berikan berapapun yang kamu mau asal adikku senang." jawab Nori.
"Benar, aku mau seluruh kekayaan kamu." jawab Alin tertawa.
"Jika kamu ambil seluruh hartaku maka aku tidak punya modal untuk merayu wanita lagi." jawab Nori tersenyum senang.
Mereka telah sampai di sebuah ruang yang nampak mewah. Alin nampak terpesona dengan rumah mewah yang ia pandang.
"Udah ayo masuk." ucap Nori menarik tangan Alin.
Dari balik pagar ada sebuah mobil berhenti melihat semuanya.
"Dengan begini tidak mungkin mereka tidak punya hubungan, Nori sudah terbiasa membawa wanita manapun untuk di bawa kerumahnya." ucap Elang menggempalkan kepala tinjunya di atas stir mobil.