
Drt ... drt ... drt ....
Getar lama notifikasi di ponsel Asril sontak membuat lelaki itu terbuyar dari lamunannya. Perlahan, Asril merogoh ponsel dari saku celananya.
"Bimo?"
Asril bermonolog sendiri tatkala membaca nama kontak 'Bimo'---teman dekat Asril sekaligus tetangga jauhnya. Sejenak, Asril mengernyit. Tumben-tumben sekali Bimo mengirimi panggilan sore-sore begini.
"Angkat aja."
Suara dari Ana nyaris membuat Asril menoleh ke arahnya. Lelaki itu mengangguk, kemudian menerima panggilan dari Bimo.
Bertepatan dengan layar ponsel yang Asril geser tepat di tombol hijau, di sana sudah terdengar suara riuh gaduh khas telepon.
'Hallo, Ril!'
Suara Bimo yang terdengar seolah panik membuat Asril mengernyit. "Lo kenapa, Bim?" tanya Asril to the point.
'Anu, lo bisa dateng ke sini enggak? Gue kena sial, nih.'
Asril semakin dibuat bingung dengan jawaban temannya itu.
"Lo kenapa? Ngomong yang jelas, Bambang!"
'Gue nabrak orang! Gue ditahan warga di sini. Sedang gue enggak bawa uang buat ganti rugi. Lo bisa bantu gue?'
Asril menepuk jidatnya. Kalau persoalan seperti ini, dia sudah bisa memahami perihal kebiasaan Bimo yang suka main motor asal gass saja.
Namun, perihal Asril yang akan datang di lokasi kejadian Bimo, rasanya dia enggan untuk beranjak. Mengingat dia sedang harus menemani Ana dan menghibur gadis itu agar tidak larut dalam kecemasan.
Sejenak, Asril menoleh lagi ke arah pintu ruang UGD yang masih juga tertutup. Suster atau Dokter tidak juga ada satu pun yang keluar. Mereka pasti saat ini sedang berlomba-lomba mengejar waktu dan dengan cekatan menangani mamanya Ana.
'Ril, woi! Lo bisa kagak? Gue udah kek maling ketangkap basah aja nih ditahan warga!'
Lagi, suara dari seberang sana memecahkan lamunan Asril. Untung saja telepon yang terhubung saat ini tidak Asril tekan mode speaker. Kalau saja mode speaker, pasti suara Bimo tadi terdengar sangat membahana.
Namun, benar juga apa yang tadi dikatakan Bimo. Terdengar dari seberang sana lelaki itu seolah tengah mencoba berbicara dengan para warga. Bahkan, riuh gaduh saling sahut menyahut yang berasal dari warga itu terdengar di telinga Asril.
"Kalau ada urusan, lo balik aja. Enggak perlu sungkan." Ana mulai bersuara tatkala sedari tadi dia memerhatikan Asril yang terdiam. Sembari tangan kanan yang masih saja menempelkan ponsel di telinga. Seolah tengah ada hal yang penting, tetapi lelaki itu enggan untuk berkata apa-apa.
"E-eh." Asril glagapan, dia sejenak menjauhkan ponsel darinya. Akan berbicara kepada Ana. "Ini, temen gue ngabarin kalau dia nabrak orang." Asril sejenak menghentikan ucapannya.
Ana menatap Asril dengan kedua mata yang masih saja sembab.
"Gue disuruh ke sana. Dia ditahan warga, katanya." Kembali lagi, Asril menyahuti ucapannya.
"Ya, enggak pa-pa. Lo ke sana aja," sahut Ana.
Asril bergeming.
"Santai aja. Nanti Mang Tijo juga balik, kok--nah, itu dia!" Ana menunjuk ke arah sopir pribadinya yang tengah membawa satu kresek hitam di tangan kanannya.
"Ini, Non. Maaf lama." Mang Tijo bersuara.
Ana tersenyum dan mengangguk.
Asril yang mendengar itu pun kembali mengingat ke arah ponsel yang tadi sengaja dia jauhkan. Kembali lagi Asril mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
'Ril!'
Tepat sekali, suara membahana itu langsung saja masuk ke dalam indra pendengaran Asril.
"Iya, sharelok. Gue OTW!" Asril akhirnya menyahuti. Tanpa menunggu lama lagi, panggilan itu Asril putuskan. Dia terlebih dahulu pamit kepada Ana dan juga Mang Tijo. Tidak lupa juga berpesan kepada Ana, agar gadis itu memberitahunya, kalau ada kabar terkait mamanya Ana.
Setelahnya, Asril langsung bergegas menuju ke tempat parkiran. Untung saja tadi dia menuju ke rumah sakit tidak turut menumpangi ambulans, tetapi menggunakan motor pribadinya sendiri. Jadi, saat ini Asril bisa leluasa mengendarai motor itu dengan kecepatan mengejar waktu. Dia bahkan masa bodo dengan seragam sekolahnya yang sedari tadi membalut tubuhnya. Rasanya tidak sempat juga jika harus berganti pakaian terlebih dahulu.
Di tengah perjalanan, sesekali Asril menatap ke arah layar ponselnya. Melihat peta lokasi yang tengah dikirimkan Bimo tadi. Rupanya lumayan dekat dengan rumah sakit tempat mamanya Ana tadi dibawa.
Dari jarak kurang lebih sepuluh meteran, terlihat Bimo tengah menangkupkan kedua tangan ke arah para warga yang tengah terlihat memarahi dirinya. Sesekali Bimo juga menyatukan jari telunjuk dan tengah hingga membentuk huruf 'V'.
Kalau dalam ekspresi seperti itu, rasanya kasihan juga Bimo. Meski lelaki itu biasanya tengil dan menyebalkan kalau sudah bersama teman akrabnya.
Set!
Asril menghentikan motornya tepat di dekat area kejadian. Lelaki itu melangkah, mendekat.
"Nah, itu teman saya. Saya bilang juga apa. Saya enggak ada bohong-bohongan!" Dengan penuh rasa percaya dirinya Bimo menunjuk ke arah Asril. Bahkan, hal itu berhasil membuat banyak pasang mata kompak mengalihkan pandang ke arah objek yang dituju Bimo saat ini.
"Lagian, cowok keren kayak saya, mana ada ngibulin orang," sahut Bimo lagi.
Asril berdecih. Kalau saja dia berhati psikopat, maka saat ini Asril tidak akan mengakui Bimo sebagai temannya. Bahkan, dia akan memojokkan lelaki itu sebagai tersangka.
"Gimana?" tanya Asril dengan datarnya.
"Jadi gini, Ril. Gue tadi ngebut dan kaget banget lihat ada Bapak-bapak bawa gerobak nyebrang gitu aja. Gue dengan secepat mungkin membelokkan motor, tapi tetep aja, gerobak itu masih kena tabrakan. Endingnya roboh dan tumpah semua dagangannya." Bimo menjelaskan panjang kali lebar, bahkan dia juga sempat menunjuk ke arah gerobak yang ada di dekatnya.
"Makanya kalau bawa motor yang bener!" Bapak-bapak penjual gorengan itu menatap kesal ke arah Bimo.
"Pokoknya saya enggak mau tau. Ganti rugi!" sambung Bapak itu lagi.
"Iya, Bapak yang terhormat. Ini teman saya datang juga mau ganti rugi, kok. Saya tadi memang enggak bawa uang buat ganti rugiin jualan Bapak," sahut Bimo dengan nada penuh kesopanan di atas rata-rata.
"Kalau boleh tau, berapa ganti ruginya, Pak?" Kali ini bukan lagi Bimo yang bersuara, melainkan Asril.
"Seratus ribu!" tegas Bapak itu.
Asril bergeming sejenak. Perlahan, lelaki itu merogoh saku celanannya dan kebetulan ada satu lembar uang di sana.
Segera, Asril mengeluarkan uang itu. "Ini, Pak." Asril menyodorkan uang sesuai nominal yang disebutkan kepada Bapak penjual gorengan.
Meski uang itu sebenarnya akan dia pakai untuk membeli keperluan, tetapi ada yang lebih penting. Menolong temannya saat ini.
"Baik. Urusan ini selesai." Bapak itu bersuara. Dia mengajak para warga yang lainnya untuk bubar dari area kejadian.
Bapak penjual gorengan itu kemudian pamit dan beranjak sembari mendorong gerobaknya.
"Untung lo mau ke sini. Thanks banget, Ril. Gue akan ganti uang lo."