
Ana menangkupkan kedua tangannya seraya menatap Asril dengan penuh permohonan. Lain halnya dengan Asril yang hanya tampak terlihat biasa saja. Seolah masa bodo dengan ekspresi yang Ana perlihatkan sekarang ini.
"Please ...." Kesekian kalinya Ana bersuara dengan tangan yang masih terus saja tertangkup di hadapan Asril. Bahkan saat ini gadis itu memejam diiringi dengan mulutnya yang masih terus saja mengeluarkan suara.
Asril menatap Ana dengan mengangkat sebelah alisnya. "Lo pikir gue enggak ada kerjaan lain apa. Ya kali gue emberin persoalan itu ke orang lain."
Sontak Ana membuka matanya tatkala mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan Asril.
"Jangan samain gue sama ibu-ibu arisan, ya, Ana!"
Kali ini Ana tertawa. Bisa-bisanya lelaki itu membawa ibu-ibu arisan di persoalan seperti ini. Namun, tetap saja, Ana tidak bisa percaya begitu saja terhadap Asril. Apalagi Ana tidak begitu mengenal jauh dan yang pasti gadis itu tidak mengenal bagaimana kriteria seorang Asril yang ada di hadapannya ini.
Ana membuka tangkupan telapak tangannya. Kedua matanya memicing sejenak seraya menatap Asri dengan penuh penyelidikan.
"Gue tau gue ganteng, tapi enggak gitu juga lihatnya," ucap Asril.
Ana berdecak. "PD lo tingkat rata-rata. Ya, gantengan Vero, doi gue-lah, daripada elo!" ketus Ana.
Bukannya marah, justru Asril hanya memperagakan mulutnya membentuk kata-kata yang sempat viral pada masanya. 'Nye-nye-nye'.
"Lo akan tutup mulut, kan?"
Ana kembali memastikan. Kembali lagi tatapan penuh permohonan itu Ana tunjukkan di hadapan Asril.
Asril mengembuskan napasnya. "Gue enggak akan ember, Ana. Lagian, untungnya buat gue apa nyebar-nyebar kehidupan orang lain? Mending gue ngurusin hidup gue sendirilah daripada ngelakuin hal enggak berfaedah itu." Panjang lebar kali tinggi Asril menjelaskan.
Ana menghela napas. Dari pandangan dia tentang Asril kali ini, sepertinya lelaki itu serius dalam mengucapkan kata-kata. Bahkan, saat tadi Ana memicingkan mata menyelidiki Asril, mencari kebohongan dalam kedua mata lelaki itu, tetapi Ana sama sekali tidak menemukannya.
"Thanks," sahut Ana.
Asril hanya mengangguk saja. "Udah?" tanyanya dan dibalas anggukan oleh Ana. Setelahnya, Asril kembali membalikkan tubuhnya. Namun, baru satu langkah, panggilan dari Ana kembali membuat lelaki itu berhenti.
"Gue enggak mau, Ril. Gue enggak mau orang-orang tau persoalan ini," ucap Ana. Bahkan, hal itu berhasil membuat Asril kembali membalikkan badan ke arahnya.
"Gue enggak mau roda kehidupan yang gue alami orang lain mengetahuinya." Gadis itu kembali menyambungi ucapannya.
"Why? Are you okay, Ana?"
Ana menggeleng. "Semesta seolah membuat lelucon kepada gue. Hadirnya orang ketiga dalam rumah tangga orang tua gue, nyaris membuat keluarga gue yang sebelumnya bahagia dan damai, sekarang perlahan retak."
Ana tersenyum sembari menatap sejenak kedua kaki yang terbalut sepatu berwarna putihnya. Namun, Asril bisa mengetahui senyuman yang Ana perlihatkan ini bukan senyum normal biasa.
Perlahan, Ana kembali mendongak, menatap Asril. "Semoga hanya retak, tidak hancur," ucapnya.
"Apa yang retak? Dan hancur?"
Belum juga Asril merenspon ucapan Ana, suara berat dari seseorang nyaris membuat keduanya kompak menoleh ke arah sumber suara.
'V-Vero?' Ana berucap gugup dalam hati. Dia tidak boleh terlihat gugup di hadapan Vero karena terkejut mendapati kedatangannya yang kini tengah berdiri tepat di dekat Asril.
"Hei!" Vero kembali bersuara. Dia bahkan kini melangkah mendekat ke arah Ana, melambaikan tangan tepat di depan wajah gadis itu.
Ana tersentak.
Ana meneguk salivanya, samar. Dia yakin hal itu tidak diketahui oleh Vero. Kali ini Ana bertarung hebat dengan otaknya. Keduanya harus bisa bekerja sama untuk menemukan alasan yang sekiranya logis.
"Dia!"
Ana mulai menunjuk Asril dengan raut wajah kesal.
Melihat hal itu, tentu membuat Vero perlahan beralih menoleh ke arah Asril. Berbanding balik dengan Asril yang kini menatap Ana dengan tatapan tanya. Dia tidak mengerti apa alur cerita yang akan dimainkan Ana saat ini.
"Dia yang tadi nabrak gue! Membuat cermin yang biasa gue bawa jatuh, alhasil retak!" Ana kembali bersuara. Gadis itu mengedip-ngedipkan mata guna untuk mengode agar Asril peka terhadap ucapannya.
Perlahan, Vero kembali mengalihkan pandang ke arah sang kekasih. Bertepatan dengan itu, Ana langsung merogoh cermin yang ada di dalam tempat minum di tas punggungnya.
"Lihat, nih. Ngeselin banget, kan, dia." Ana menunjukkan cermin berbentuk kotak berukuran minim itu ke arah sang kekasih.
"Untung cuma retak, enggak hancur," sambung Ana lagi.
Vero kembali menatap ke arah Asril. "Makanya jalan jangan sambil merem! Kan, jadi nabrak Ana," ucap Vero dengan sorot tajam ke arah Asril.
Asril berdecak. Namun, dia harus bisa-bisa ngontrol diri. Kasihan juga Ana sudah capek-capek bikin alur cerita kalau dia gagalkan begitu saja.
"Ya, sorry. Gue buru-buru." Asril memilih untuk mengalah saja.
Vero menatap tajam ke arah Asril, setelahnya, dia beralih lagi menatap ke arah Ana.
"Kamu sejak kapan di sini?" tanya Ana.
"Baru tadi pas denger ada suara kamu nyebut retak dan hancur dengan cowok di sini, jadi aku samperin," jelas Vero.
Ana menghela napas, lega. Rupanya Vero tidak menguping atau mendengar topik yang Ana bicarakan dengan Asril sedari tadi.
Asril memasukkan kedua tangan di saku celananya. Sepertinya dia harus menjadi penonton antara Ana dan Vero saat ini.
"Kamu enggak diapa-apain sama dia?" tanya Vero.
Ana bergeming sejenak. Gadis itu perlahan merasa bersalah dengan kekasihnya. Dia sudah menutupi persoalan keluarganya dengan alasan yang seperti ini.
Bahkan, dia juga merasa bersalah kepada Vero, dahulu keduanya pernah berjanji untuk saling terbuka dan melengkapi, tetapi justru Ana yang mengingkari untuk saat ini. Bukan apa-apa, Ana hanya belum siap kalau persoalan itu Ana ceritakan kepada Vero, meski sebenarnya dia juga membutuhkan teman cerita yang bisa sedikit membuat hati tenang.
Jangankan Vero, bahkan, kedua sahabatnya saja enggan Ana bercerita perihal seperti itu. Paling-paling kalau bercerita, mereka akan membahas hal-hal layaknya para kaum hawa pada umumnya. Atau, cerita permasalahan perbucinan Ana dan juga Vero yang kalau bucin suka sekali bikin mereka harus selalu siap sedia membawa kipas banyak-banyak agar suasana masih terasa sejuk.
"Hai, Dear?" Kesekian kalinya Vero melambaikan tangan tepat di wajah Ana hingga nyaris membuat Ana kesekian kalinya tersentak pula.
"Are you okay, Dear? He doesn't bother you, right?"
Secepat mungkin Ana menggeleng. Terlebih lagi ketika dia mendapati rahang Vero yang sudah mengeras seraya menatap tajam sejenak ke arah Asril.
"Big no! He doesn't bother me," sahut Ana.
Vero beralih menatap ke arah kekasihnya. "Are you serious?"