
Karlina tersenyum. Dia mengusap lembut pipi Ana menggunakan tangan yang tertempel di pipi gadis itu. "Ana, putri Mama," ucap Karlina dengan suara yang teramat lembut di telinga Ana. Bibir pucat itu kesekian kalinya menunjukkan senyuman.
"Mama. Ana khawatir banget tadi pas nunggu kabar dari Dokter. Ana takut, Ma. Ana takut terjadi apa-apa sama Mama."
Karlina bergeming sejenak. Rasanya sedih mendengar setiap kata yang terlontar dari bibir Ana saat ini. Namun, dengan sekuat tenaga, Karlina menyembunyikan rasa sedihnya itu. Dia harus tegar di depan putri semata wayangnya ini. Karlina tidak mau kalau Ana ikutan sedih karena dirinya.
"Big hug, Dear. Mama baik-baik saja." Tangan Karlina dengan bergetar pun seolah tengah menahan sakit, berusaha untuk terentang. Seolah mengode agar putrinya itu segera menghamburkan diri dalam dekapannya.
"Big hug, Mom. I love you." Ana menghamburkan dirinya dalam dekapan sang Mama. Rasa hangat pelukan sang Mama masih terasa seperti biasanya.
"Mama wanita hebat. Mama jangan pernah ada niatan buat ninggalin Ana, ya, Ma," lirih Ana. Namun, jaraknya yang dekat dengan Karlina, nyaris membuat wanita itu bisa mendengarkan perkataannya.
Perlahan, tetesan demi tetesan air mata keluar dan jatuh membasahi pipi Karlina. Hati wanita itu seolah tertusuk mendengar kalimat anaknya. Terlebih lagi tenaganya kali ini sudah mulai melemah. Mengingat dia tidak bisa berjanji untuk tidak meninggalkan Ana, semakin membuatnya terluka.
Karlina tidak bisa lama berada di dunia.
"Mama sayang banget sama Ana." Karlina berucap dengan getaran hebat. Kalimat yang terlontar juga semakin tersendat-sendat.
Sedang sang putri yang masih setia di dekapannya pun mengangguk, "Ana juga sayang sama Mama. Sayang banget malahan," sahut Ana. Rasanya dia tidak mau terlepas dari dekapan Karlina.
"Ana adalah putri Mama satu-satunya. Mama tau Ana gadis yang hebat dan kuat. Nanti kalau Mama udah enggak ada, Ana jaga diri baik-baik, ya." Entah mendapat dorongan dari mana, kalimat itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari mulut Karlina. Hal itu nembuat Ana tersentak dan perlahan menarik diri dari dekapan sang Mama.
Ana menggeleng. Dia menggenggam kedua tangan mamanya erat, "Mama kenapa, sih, ngomong gitu ke Ana? Enggak lucu tau, Ma, bercandanya."
"Mama enggak boleh pergi. Mama enggak boleh ngomong kayak gitu lagi. Ana punya Mama. Ana tidak mau kehilangan Mama."
Karlina mengangguk seraya tersenyum, pahit. Perlahan dia menarik kedua tangannya dan meletakkan tepat di kedua pipi Ana. "Sayang, dengerin Mama."
Ana menggeleng seraya terisak. Semakin ke sini, dia semakin tidak mau mendengar setiap omongan ngelantur yang diucapkan mamanya. Ana benar-benar takut kehilangan mamanya.
"Kamu tau, kan, kalau setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian? Kita dihidupkan Tuhan, kita juga kembali kepada-Nya."
Ana menggeleng dengan air mata yang terus-terusan keluar membasahi pipinya. Dia memegang kedua tangan sang mama yang terletak di kedua pipinya. Ana masih enggan bersuara. Rasanya pilu, meski sekedar membuka mulut, apalagi untuk mengeluarkan kata-kata.
"Biar bagaimana pun juga, Mama tetap harus kembali kepada Sang Pencipta. Tugas Ana hanya berbakti kepada orang tua. Menjaga diri, tidak malu-maluin di dunia ketika Mama enggak ada."
"Ana tetap menjadi putri Mama satu-satunya. Mama sangat berharap Ana terus mendoakan Mama ketika Mama sudah tidak ada nanti."
"Ana putri Mama yang baik dan ceria. Jangan nangis lagi, ya, Sayang."
Perlahan, jemari kanan Karlina tergerak, seraya mengusap air mata Ana dengan pelan. Namun, percuma saja. Air mata itu terus bergantian keluar. Ana semakin terisak.
"Mama enggak boleh ngomong kayak gitu!"
"Mama katanya sayang sama Ana. Tapi kenapa Mama mau ninggalin Ana?"
"Mama enggak boleh ninggalin Ana. Mama tetap ada di dekat Ana!"
Perlahan, Karlina mulai kejang-kejang. Kedua tangan yang tadi dia taruh di anggota tubuh Ana pun terlepas begitu saja.
"Mama!"
Ana berteriak histeris memanggil mamanya. Membuat Mang Tijo, Asril dan juga Bimo yang berada di luar pun spontan masuk ke dalam seraya melihat apa yang sedang terjadi di sana.
"Nyonya," panggil Mang Tijo. Sang sopir pribadi itu langsung cekatan keluar memanggil Dokter ataupun Suster.
"Mama enggak boleh gini!"
"Mama jangan bercanda! Enggak lucu, Ma!"
"Mama!
"Mama, Ana, mohon. Ana sedang tidak mau bercanda!"
Asril mendekat, mencoba menenangkan Ana. Bersamaan dengan Dokter dan Suster yang sudah masuk ke dalam, keduanya diperintahkan mundur, menjauh sedikit dari tempat penanganan.
Ana tentu meronta. Terlebih lagi melihat kondisi sang Mama yang tidak biasanya. "Kalian jangan larang-larang! Saya cuma mau sama Mama!" bentak Ana.
"Na, Mama lo perlu ditangani. Lo harus tenang dulu," ucap Asril. Lelaki itu langsung membawa Ana perlahan mundur.
Sejenak, Ana menoleh menatap sang lawan bicara, sedang Suster dan Dokter tadi tidak lagi memperhatikan Asril ataupun Ana. Mereka sudah sibuk dengan tugasnya. Mengejar waktu, seraya menangani pasien, dan meminta bantuan Tuhan, agar pasien bisa terselamatkan.
"Lo tau apa, Ril? Lo enggak tau apa-apa. Gue cuma mau Mama!"
"Gue tau maksud lo. Tapi lo lihat sendiri Mama lo. Dia butuh segera ditangani. Lo bisa lihat, Na."
Ana terdiam. Mencoba mengatur napasnya yang tersenggal-senggal. Kedua matanya kesekian kali mengeluarkan buliran bening yang terus menerobos begitu saja. Menyaksikan Karlina yang sudah lagi ditangani di depan mata.
Dokter dan Suster di sana terlihat begitu cekatan melakukan tugasnya masing-masing. Mereka pantang menyerah, dan terus mencoba berbagai macam alat medis yang disiapkan.
"Alat pacu jantungnya," ucap Dokter. Dia sejenak menyeka keringat.
Kedua Suster itu langsung bergantian menuruti berbagai macam perintah Dokter. Sedang sang Dokter kembali melanjutkan penangannya. Penanganan yang juga sebagai tindakan terakhir.
Ana yang tengah menyaksikan itu pun semakin berderaian air mata. Terlebih lagi ketika mendengar suara monitor hermodinamik yang membuat Ana semakin bercampur aduk perasaan. Perlahan, Ana tersenyum lega saat garis di monitor hermodinamik itu tidak lurus, tetapi juga tubuhnya melemas dan pandangannya mengabur saat bersamaan garis itu berubah menjadi datar.
Raut wajah Dokter terlihat begitu sedih dan kecewa. Sangat berat rasanya jika harus menyampaikan kabar ini kepada keluarga pasien, apalagi Ana, putri dari Karlina.
"Mama!" Ana berteriak. Namun, tubuhnya sudah terlebih dahulu melemah. Pandangannya semakin mengabur. Perlahan dia tidak bisa menyeimbangkan diri dan tumbang dalam tangkapan Asril.
"Na!"