About Cloudy Turning Bright

About Cloudy Turning Bright
Lebih Baik Papa!



Dengan langkah cepat, Ana berlari menuju tempat sang Mama dibawa. Dia tadi tidak sempat melihat bagaimana proses jenazah Karlina ditangani. Pasalnya, Ana tadi mendadak tidak sadarkan diri.


"Tanpa izin dari Ana, mereka langsung membawa Mama ke sini!" Emosi Ana membabi buta, dia sama sekali tidak memperdulikan sekelilingnya. Kedua tangannya saling mengepal erat. Sejenak, Ana menghentikan langkah, di jarak yang tidak jauh dari posisinya, di sana banyak sekali orang berpakaian serba hitam turut mendoakan mamanya.


Kedua mata Ana perlahan menatap ke arah batu nisan yang bertuliskan nama Karlina.


Air mata Ana sudah tidak lagi dapat terbendung. Ini seolah mimpi buruk yang terasa nyata baginya. Kalau saja Ana saat ini sedang tertidur, maka dia ingin cepat-cepat bangun untuk menyelesaikan mimpi buruk ini. Ana sudah tidak tahan lagi.


"Katakan, kalau gue sedang mimpi, Asril!" Ana menggoyah-nggoyahkan kerah leher jaket yang dipakai Asril. Lelaki itu baru sampai di posisi Ana yang sedari tadi berlari terlebih dahulu meninggalkan dirinya dan juga Bimo.


"Katakan, Asril!" gertak Ana, "Ini gue sedang bermimpi, kan?"


Asril memejam, dia membiarkan Ana bertindak semaunya. Kembali lagi lelaki itu membuka mata dan menatap Ana dengan tatapan iba.


"Katakan kalau gue sedang bermimpi!" Ana kembali bersuara. Dia mendorong Asril kemudian berlari menuju tempat pemakaman mamanya.


Sedang Asril, lelaki itu semakin iba menatap Ana.


Bimo yang ada di dekatnya pun turut merasakan apa yang dirasakan Asril. Dia menepuk pundak temannya itu, seraya menenangkannya.


"Kita ke sana," ajak Bimo dan mendapat persetujuan anggukan dari Asril.


Keduanya beranjak menuju area pemakaman Karlina.


"Turut berduka cita, ya, Ana. Kamu yang kuat dan ikhlas." Salah satu tetangga jauh Ana mengusap lembut pundak gadis itu. Sedang Ana, dia hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata apa-apa.


Perlahan, mereka yang tadi berada di area pemakaman mulai bergantian pamitan kepada Ana. Kini hanya menyisakan Ana, Bimo dan juga Asril.


"Ana masih berharap kalau ini adalah mimpi buruk yang baru Ana alami, Ma." Ana berucap sembari menatap nanar batu nisan Karlina. Perlahan, dia beralih menatap makam mamanya yang sudah tertabur bunga mawar di sana.


Ana yang awalnya berjongkok kini langsung tumbang duduk di tanah. Kedua tangannya dia gunakan menutup mata. Ana semakin sesenggukkan.


Asril perlahan mendekat, berusaha menenangkan Ana.


"Kenapa, sih, Ril. Kenapa lo enggak mau bilang kalau gue saat ini cuma mimpi," ucap Ana yang kini kembali membuka matanya. Kedua mata gadis itu sudah sembab.


"Na ...."


"Apa susahnya, sih, Ril. Apa susahnya bilang kalau gue sedang mimpi? Enggak mungkin Mama ninggalin gue dalam waktu sesingkat ini. Lucu banget, sih, Ril."


Asril sejenak meraup wajahnya dengan kasar. Dia semakin sedih melihat Ana seperti ini. Perlahan, kedua tangannya terulur memegang pundak Ana.


"Na, dengerin gue."


Ana terdiam, tetapi air matanya masih terus saja keluar.


"Lo enggak sedang mimpi, Na. Lo harus buka mata, lo harus nerima kenyataan, mama lo enggak ada." Asril berucap lirih.


Ana menggeleng, pelan. Deru napasnya bahkan semakin naik-turun tidak beraturan. Dia mendorong Asril yang untungnya lelaki itu bisa menahan diri agar tidak tumbang.


Ana memukuli dirinya sendiri. Mungkin hal ini bisa menyadarkan dirinya bahwa ini bukanlah mimpi.


Asril kembali mendekat, menahan kedua tangan Ana yang terus saja bergerak lincah memukuli dirinya sendiri, "Lo jangan kayak gini, Na. Jangan sakiti diri lo sendiri."


Asril terdiam.


"Ini memang bukan mimpi. Tapi gue enggak bisa terima dengan semua ini."


"Kenapa harus Mama, Ril. Kenapa harus Mama yang ninggalin gue?" tanya Ana. Dia menatap Asril dengan penuh penekanan. Sedang lelaki yang ditanya itu hanya mampu terdiam.


"Kenapa bukan Papa aja. Lelaki itu tidak pantas berada di dunia! Dia jahat! Dia pembunuh!"


"Lebih baik Papa yang meninggal!" Kedua tangan Ana memukul dada bidang Asril. Saat dirasa sudah lelah, dia kemudian tumbang dalam dekapan lelaki itu. Ana lelah. Ana menumpahkan segala isak tangisnya di sana.


"Lo bisa hubungi Vero enggak, Ril?" Ana kembali bersuara dalam dekapan Asril. Dia seolah sudah kehabisan tenaga. Suaranya bahkan terdengar begitu pelan, nyaris hampir tidak terdengar.


Mengingat Vero, seharusnya lelaki itu berada di sini seperti halnya Asril. Seharusnya lelaki itu seperti Asril, memberikan dekapan hangat dan ketenangan untuk Ana. Namun, Ana sendiri tidak mengetahui keberadaan kekasihnya itu di mana.


Saat berada di rumah sakit, dia sudah sangat membutuhkan Vero. Lelaki itu juga tidak bisa dihubungi saat itu.


"Gue mau ngasih tau dia, kalau Mama enggak ada," lirih Ana. "Gue butuh dia," sambung gadis itu lagi.


Perlahan, Ana menarik dirinya. Dia kembali mendekat ke arah pemakaman sang Mama. Mengusap lembut batu nisan mamanya. Berbicara seorang diri di sana.


Asril bangkit sembari mengacak rambutnya, emosi. Dia benar-benar emosi dengan Vero yang sama sekali tidak tahu kondisi Ana di sini. Gadis itu sangat membutuhkan ketenangan darinya.


Asril merogoh saku celana guna untuk mengambil benda pipih di sana. Dengan cekatan, dia mulai menghubungi Vero.


"Angkat, pengecut," gerutunya. Namun, percuma saja, justru suara operator yang langsung menjawabnya.


Sejenak, Asril menatap ke arah Ana yang masih setia berada di dekat makam Karlina. Gadis itu terlihat begitu sedih dan tersiksa.


"Ril. Lo ngehubungi cowoknya dia?" tanya Bimo.


Asril mengangguk, "Cuman enggak ada jawaban. Malah operator yang menjawab."


"Lo kenapa enggak terus terang sama dia kalau cowoknya udah kurang ajar?" Bimo menatap Asril dengan tatapan kesal. Bisa-bisanya temannya itu diam saja terhadap masalah yang tadi dilihatnya. "Lo enggak kasihan apa sama tu cewek?" sambung Bimo lagi.


Asril berdecak. "Lo ngelindur apa gimana?" tanya Asril. Bahkan, lelaki itu juga menempelkan telapak tangan tepat di dahi Bimo. Seolah memeriksa kalau keadaan lelaki itu baik-baik saja atau tidak. "Panas juga enggak. Tapi ngomongnya ngelantur gini,"sambung Asril sembari menurunkan kembali tangannya.


"CK! Gue serius. Lo itu harus ngomong sama dia."


"Lo enggak lihat Ana gimana keadaannya? Dia terpuruk. So, untuk masalah ini sepertinya enggak dulu diomongin." Asril sejenak menahan ucapannya. "Gue enggak mau lihat dia semakin sedih nantinya. Apalagi dia butuh cowoknya."


Bimo yang mendengar itu pun kali ini bergeming. Dia mencoba mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut temannya itu.


"Gue harap lo enggak keceplosan ngomongin ini," ucap Asril dengan menatap dalam ke arah Bimo.


"Ril."


Panggilan dari Ana nyaris membuat Asril menatap ke arah Ana yang masih saja membelakangi dirinya. Lelaki itu menatap sejenak ke arah Bimo, kemudian beranjak mendekat ke posisi Ana.


"Iya, Na?"


"Lo enggak bisa ngehubungi Vero? Ponsel gue mati," ucap Ana, sedang Asril terdiam.