
Set!
Bersamaan dengan motor Asril yang berhenti, Ana langsung turun dari motor lelaki itu. Gadis itu sejenak mengginggit jarinya, melihat situasi halaman rumah yang sudah seperti kemarin.
Kedua orang tuanya bertengkar hebat lagi.
Segera, Ana beranjak menuju rumahnya, meninggalkan Asril begitu saja. Tepat pada saat gadis itu berada di tengah pintu, sontak, kedua bola matanya membulat sempurna. Tangannya menutup mulutnya, melihat Gara yang tengah membabi buta menusukkan pisau tepat pada perut Karlina.
Bahkan Mang Tijo yang sedari tadi mencoba menjadi penengah pun kini dibuat syok dengan apa yang dilihatnya.
Buliran bening nyaris menerobos begitu saja membasahi pipi Ana. Terlebih lagi tatkala Karlina perlahan menjatuhkan diri di lantai.
"Mama!"
Suara yang sedari tadi seolah tertahan kini berhasil terlontarkan. Ana berlari mendekat menghampiri Karlina. Menjadi penompang tubuh Karlina yang sudah melemas.
Air mata Karlina perlahan keluar sembari memegang perut yang tengah berlumuran darah itu. Karlina melirik Ana sekilas. Wanita itu tersenyum. Belum sempat berkata apa-apa lagi, perlahan, kedua mata Karlina memejam.
"Mama!"
Ana terus berteriak memanggil mamanya. Tangan gadis itu turut memegang tangan mamanya yang sudah berlumuran darah. Sesekali Ana memeluk mamanya. Bahkan, dia sama sekali tidak memperdulikan seragamnya yang kotor karena lumuran darah sang Mama. Teriakan Ana menggema memanggil mamanya.
"Mama!"
Lain halnya dengan Gara yang kini tangannya perlahan bergetar. Bahkan dia nyaris menjatuhkan pisau yang menjadi alat kejahatan tersebut ke lantai. Dia sejenak menatap ke arah Mang Tijo yang kini turut membantu Ana. Setelahnya, Gara langsung membalikkan badan dan memilih pergi dari tempat kejadian.
Saat dia menapaki halaman rumah, sorot mata lelaki itu bersitatap dengan Asril yang juga baru saja beranjak menuju rumah Ana. Kedua lelaki itu sejenak terdiam.
Namun, Gara memilih langsung memutus kontak penglihatan dengan Asril. Dia bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Asril mengikuti pergerakan mobil yang perlahan keluar dari gerbang rumah Ana. Mata lelaki itu fokus pada pelat mobil milik Gara. Dia menghafalkannya di ingatan. Setelahnya, Asril langsung berlari memasuki rumah Ana.
Sama halnya Ana dan Mang Tijo tadi, lelaki itu dibuat syok dengan kejadian yang baru saja dilihatnya.
"Ambulans. Kita panggil ambulans." Mang Tijo bersuara.
Asril mengangguk cepat. Tangannya dengan gugup langsung menari dengan lincah di atas layar ponsel. Dia mulai menelepon nomor ambulans.
***
Para petugas ambulans dengan penuh cekatan mengeluarkan pasien yang berada di atas brankar. Beralih kepada para suster yang kini membawa pasien tersebut dengan berjalan cepat masuk ke dalam rumah sakit.
Ana berlari. Menyeimbangkan posisi sang Mama yang terpejam di atas brankar. Tangan gadis itu memegang tangan Karlina.
Tepat di depan ruang UGD, salah satu Suster dengan sopan menahan Ana agar gadis itu tetap menunggu di luar. Namun, Ana tetap bersikekeuh. Dia bahkan masih dengan keras kepalanya berada di samping Karlina sembari berjongkok.
"Ma, wake up, please. Ana di sini." Ana berucap pilu.
"Maaf, Mbak. Mama Mbak akan segera ditangani. Mbak tunggu di luar, ya." Dua orang Suster itu memegangi pundak Ana. Menenangkan dan mencoba membujuk gadis itu agar Ana mau menurut.
Sama halnya dengan Asril yang kini melangkah mendekat ke arah Ana. Lelaki itu berjongkok, menyeimbangkan posisi Ana.
"Na, kita tunggu di luar dulu, ya. Benar kata Suster, nyokap lo harus segera ditangani. Lo enggak mau terjadi apa-apa, kan, sama nyokap lo?
Mereka membiarkan para Suster pun Dokter itu membawa pasien masuk ke dalam ruang UGD.
"Lo duduk di sini, Na."
Ana tidak menyahuti. Tatapan gadis itu mendadak kosong seketika. Pikirannya kini mengarah lagi ke arah pada saat Gara menancapkan pisau itu ke arah perut sang Mama.
Kedua pundak Ana bergerak. Dia menangis sesenggukan ketika harus kembali lagi mengingat kejadian itu.
"Na. Lo tenangin diri lo dulu."
Perlahan, Asril mendudukkan tubuh Ana di ruang tunggu. Seperti halnya tadi, gadis itu menurut begitu saja.
"Gue beliin lo minum dulu. Lo di sini dulu sama Mang Tijo," ucap Ana.
"Anu, Den, biar saya saja yang beliin. Sekalian saya mau ke toilet. Aden jagain Non Ana saja."
Asril menatap Mang Tijo sejenak. Rasanya tidak enak juga jika Mang Tijo yang harus membelikan minuman saat ini.
"Enggak pa-pa, Mang?" Asril memastikan.
Mang Tijo sejenak tersenyum sembari mengangguk ke arah Asril. "Santai aja, Den. Mamang minta, Aden tenangin Non Ana, ya." Mang Tijo menyahuti.
Kali ini Asril yang mengangguk. "Hati-hati, Mang."
Kesekian kalinya Mang Tijo tersenyum. Tanpa menunggu lama lagi, dia kini langsung pamit dan beranjak menuju tempat tujuan.
Perlahan, Asril menatap ke arah Ana yang kini masih saja menangis sesenggukan dengan kedua tangan yang menutup wajahnya.
"Na, nyokap lo pasti baik-baik aja." Asril bersuara.
Ana bergeming sejenak. Perlahan, gadis itu membuka telapak tangannya dan menatap Asril dengan mata yang sembab. "Papa semakin lama semakin enggak waras, Ril!" Ana akhirnya bersuara.
"Papa selalu kasar sama Mama semenjak katanya mama dia punya wanita simpanan. Pertengkaran hebat yang selalu ada di depan gue, kalau saja gue enggak bisa ngontrol diri, gue juga akan trauma dengan yang namanya lelaki."
Ana sejenak menahan ucapannya. Kesedihan yang tadi sempat singgah dalam dirinya kini seolah perlahan memudar, diganti dengan amarah yang kian memuncak.
"Papa kasar, jahat, dan enggak waras!" Gadis itu kembali menyambungi ucapannya.
"Stt. Lo enggak boleh ngomong seperti itu." Asril menyahuti.
Ana tidak meperdulikan perkataan Asril.
Asril yang melihat itu pun terdiam. Lelaki itu sejenak menatap ke arah pintu ruang UGD yang tertutup. Dia juga ikut merasakan cemas seperti apa yang Ana rasakan sekarang. Banyak harap yang Asril ucapkan dalam hati. Salah satunya ; semoga mamanya Ana baik-baik saja.
"Mama, Ril." Ana berucap, lirih. Bahkan, nyaris pelan sekali. Untung saja Asril bisa mendengarnya.
Lelaki itu perlahan mengalihkan pandang ke arah Ana. Gadis itu menunduk sembari memainkan jemari-jemarinya.
"Gue yakin Mama lo kuat, Na. Mama lo bakal baik-baik aja." Asril berucap kemudian, sembari mencoba untuk menenangkan Ana. Meski, sebenarnya dia bisa menebak kalau di dalam sana pasti mamanya Ana sedang dalam masa kritis. Kejadian yang begitu memilukan sontak kembali terngiang di benak Asril.
Dia menggeleng pelan. Seperti halnya Ana, Asril juga tidak habis pikir terhadap tindakan Gara.