About Cloudy Turning Bright

About Cloudy Turning Bright
Rumah Disita



Ana menyenderkan tubuhnya di senderan kursi yang ada di teras rumah. Kening gadis itu tiba-tiba berdenyut sakit seketika. Ingatannya kembali terngiang kejadian pada saat di taman.


"Gue hanya enggak nyangka gitu aja pada mereka." Ana bersuara, membuat Asril yang juga duduk di kursi sampingnya pun menoleh sejenak ke arah Ana.


"Vero yang gue pikir adalah rumah ternyata hanya menampung gue singgah, tidak untuk menetap. Maya juga sama. Mereka semua sama. Tapi gue lebih enggak nyangka dengan dia."


"Ternyata orang yang kita percaya tidak menjamin selalu amanah dengan kita. Tidak menjamin selalu baik."


"Bisa jadi orang yang kita percaya lebih bahaya dan munafik."


Ana sejenak memejam. Rasa lapar dan pikiran yang kacau kembali bersatu sekarang.


"Yang terpenting saat ini lo udah tau, Na."


Ana membuka kembali matanya. Menatap kosong gerbang rumahnya yang masih sengaja terbuka, "Benar, yang terpenting gue udah tau. Lagipula gue enggak menyesal tahu kebenaran, justru gue bangga, gue senang karena dengan itu gue tau siapa mereka sekarang."


Ana perlahan membenarkan posisi duduknya. Dia menatap Asril dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Mereka semua sama seperti Papa! Sama-sama brengsek!" pekik Ana.


"Memang, ya, Ril. Memang kebanyakan manusia itu gudangnya brengsek semua!"


Asril menggeleng.


"Na, dengerin gue." Asril menyahuti Ana. Dia membenarkan posisinya, menghadap ke arah gadis itu.


"Lo boleh saja mengatakan bahwa gudangnya manusia itu sama brengseknya, Na. Tapi jika gue melarang lo menyamakan gue dengan mereka, lo mau membantah apa?"


"Dari kata kebanyakan yang lo sebutin tadi, gue bukan termasuk dalam kategori itu."


"Terserah, Ril. Yang terpenting dengan kejadian ini gue harus berhati-hati mengenal manusia, apalagi untuk menilainya. Banyak topeng tak kasat mata yang bisa saja membuat kita tertipu begitu saja. Yah, kurang-lebih seperti hipnotis. Heran, manusia zaman sekarang."


Ana mengembuskan napasnya. Dia kembali menatap ke depan.


"Itu hak lo, Na. Hak lo mau bersikap atau menanggapi itu semua seperti apa. Tapi kewajiban gue adalah membuktikan kalau gue tidak seperti kebanyakan manusia seperti yang lo katakan."


Ana kembali menoleh menatap Asril.


Sementara lelaki itu masih membuka mulut, melanjutkan kalimat-kalimat selanjutnya.


"Lo pasti heran dan bertanya-tanya, kenapa gue segitunya sampai bilang sebagai kewajiban."


"Benar," sahut Ana.


"Karena gue enggak mau, Na. Gue enggak mau lo menilai manusia itu hampir sama rata. Padahal masih ada banyak, meski masih tertutupi dengan manusia munafik yang menjadi-jadi."


Ana bergeming, dia berusaha memahami setiap perkataan yang keluar dari mulut Asril saat ini.


"Maaf, selamat sore!"


Suara berat dari seseorang nyaris membuat Asril dan Ana kompak mengalihkan pandang. Mereka kompak melihat ke arah dua orang berjas hitam dengan celana hitam pula tengah berdiri posisi depan rumahnya. Ada satu orang lagi dengan berpakaian biasa.


"Lo ada janji temu, Na?" tanya Asril, berbisik.


Sementara Ana menggeleng. Tanpa mengeluarkan suara, dia perlahan bangkit dan mendekat ke posisi mereka.


Asril pun sama. Dia turut menyusul Ana.


"Iya, sore? Ini kalian siapa, ya? Sedang nyari siapa?" tanya Ana. Kedua matanya mengamati satu persatu dari ketiga orang yang ada di hadapannya. Wajah dari ketiganya tidak familiar. Mereka begitu asing di indra penglihatannya.


"I--iya benar. Tapi dia tidak ada di sini."


"Saya mengetahuinya. Apakah benar kamu Ana, putrinya?" Dia bertanya lagi.


Ana semakin bingung dibuatnya. Orang yang berpakaian biasa itu bertanya, seolah dia sudah mengenal Gara---papanya.


"I--iya saya sendiri. Sebentar, kalian semua ini siapa? Ada keperluan apa ke mari? Dan jika sudah tau kalau Bapak Gara tidak ada di sini, seharusnya kalian tidak perlu menghampirinya ke mari."


Panjang kali lebar Ana memborong pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Bahkan, dia sudah tidak lagi menyebut Gara dengan panggilan 'Papa'. Seolah orang asing, dia menyebutnya dengan panggilan 'Bapak Gara'.


"Baik, maaf, saya menganggu anda. Jadi begini, Gara, alias Papa anda memiliki hutang besar kepada saya dengan jaminan rumah ini."


Ana tersentak sejenak. Namun, sesaat kemudian, dia masa bodo dengan itu semua.


"Tagih saja ke orangnya. Urusan dia, bukan urusan saya."


"Tapi dia menyuruh untuk kami ke sini dengan menyita rumah ini. Sebab sesuai perjanjian, apabila dalam waktu yang sudah ditentukan papa anda tidak bisa melunasinya, maka rumahnya disita, diberi waktu satu minggu, jika tidak kunjung lunas juga, maka terpaksa, semua sertifikat rumah ini menjadi hak saya."


Untuk yang kali ini membuat Ana membelalak. Apa-apaan ini. Kenapa masalah papanya harus dia yang kena juga. Padahal Gara sudah begitu membuat hidup Ana jauh berbeda semenjak dia membuat mamanya meninggal, dia pergi tanpa mau bertanggung jawab. Namun, ini malah menambah masalah di kehidupan Ana.


"Jika rumah ini diambil, bagaimana dengan saya!" geram Ana.


Sementara Asril turut iba dengan Ana, dia tidak bisa diam begitu saja.


"Memang berapa hutangnya, Pak?" tanya Asril.


"Kurang lebih satu miliar belum terhitung dengan bunganya."


Kesekian kalinya Ana membelalak, "Sebanyak itu buat apa?!" Dia sudah hilang kesabaran sekarang.


"Pokoknya saya tidak mau tau, urusan dia bukan berarti saya yang menanggungnya!"


"Tapi, maaf, Nona Ana. Ini sesuai perjanjian. Rumah ini tetap akan saya sita. Silahkan kalian kemasi barang-barangnya," ucapnya seraya memerintahkan dua orang berpakaian serba hitam tadi yang ternyata adalah anak buahnya.


"Okay! Memang benar-benar tidak puas membuat hidup orang menderita!"


"Biar saya sendiri yang mengemasinya!"


Ana bergegas masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.


Dia meraih koper seraya memasukkan semua pakaiannya di sana. Dia juga mengambil semua barang-barang miliknya agar rurut dia bawa.


Saat mendekat di laci, kedua matanya menatap ke arah lembaran foto yang ada di sana. Ana meraihnya. Sudut bibir kanan tertarik, dia menyunggingkan senyum.


"Seharusnya kamu tidak ada di antara aku dan Mama." Ana merobek bagian foto posisi Gara berpose di sana. Menyisakan foto dirinya dan Karlina berdua. Ana memasukkannya di dompet, sedang foto Gara yang tadi dia pisahkan kini Ana kembali robek-robek.


Ana membuangnya tepat di sampah luar, lewat jendela kamarnya yang terbuka.


Setelah semuanya siap, Ana menutup kopernya dan mendorongnya keluar dari kamar. Sejenak, dia menutup pintu kamarnya. Mengusap pintu kamar itu yang bertuliskan nama 'Ana'.


"Ana bakal rindu dengan kamar ini." Ana tersenyum. Mengingat kamar itu adalah kamar penuh kenangan bagi Ana. Saksi bisu untuk Ana yang kerap menumpahkan segala isak tangis dan bahagianya di sana.


Namun, mengingat rumah ini bukan milik Ana atau Karlina, dia tidak punya hak untuk tetap berada di sini.


Ana cukup sadar diri. Lebih baik dirinya mengalah untuk pergi.