
Ana tidak tahu lagi harus mengucapkan kata-kata apa kepada Asril. Lelaki itu sangat bisa sekali membuat Ana perlahan tenang dan bahkan merasa nyaman. Membuat Ana bisa sedikit berdamai dengan keadaan, meski dia tidak tahu jika nanti dia kembali menyalahkan semua hal ketika raganya sudah lelah.
"Ril. Makasih banget. Lo udah banyak banget bantu gue. Lo udah selalu ada buat gue. Bahkan sekarang lo rela-rela cosplay menjadi bijak hingga berhasil membuat gue nyaman dan perlahan mencoba damai dengan keadaan."
Sementara Asril berdecak ketika kata 'cosplay' terlontar dari bibir Ana. Namun, lelaki itu menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyuman sempurna. Apalagi ketika dia melihat Ana sudah kembali tersenyum seperti biasa.
Asril turut bahagia jika orang yang disayanginya bahagia seperti Ana.
"Tapi, Ril."
Asril mengangkat sebelah alisnya, "Tapi?"
"Tapi gue juga minta maaf banget sama lo."
Lelaki itu semakin heran dan mengernyit.
"Gue minta maaf karena bikin lo repot terus-terusan. Gue takut jika lo jadi temen gue, lo bakal ikutan kena masalah. Masalah gue kayak rel kereta, Ril."
"Rel kereta jika sampai tujuan juga berhenti, Na. Begitu juga masalah. Selagi kita hidup di dunia, jangan beranggapan jika mau menghindar dari masalah. Karena sejatinya hidup itu tentu ada yang dilengkapi dengan masalah dan solusi. Tinggal kitanya aja yang harus berpikir keras dan berusaha menyelesaikannya."
"Ibarat masakan, nih, ya. Kalau enggak ada masako, atau bumbu perasa, ya, hambar. Kecuali kalau mau diberi gula baru manis rasanya. Nah, bumbu perasa, gula, atau semacamnya itu ibaratnya pelengkap dalam masakan. Kurang-lebih seperti itu."
"Lo bijak banget, sih, Ril. Biasanya juga tengil," sahut Ana.
Sementara Asril merotasikan kedua bola matanya. Dia kembali meminum kopi buatannya tadi.
"Tapi gue enggak mau lo ikutan kena atau ngerasain masalah gue. Apalagi lo sampai repot-repot bantuin gue. Gue enggak enak triple sama lo." Ana kembali berbicara.
"Triple? Kenapa enggak double?" tanya Asril. Dia meletakkan cangkir kopi yang hanya tersisa sedikit di meja.
"Karena rasa enggak enaknya lebih besar."
Asril mengembuskan napas, "Na, denger, ya. Udah gue bilang berulang kali sama lo. Kalau masalah lo itu masalah gue juga. Jadi jangan terus-terusan bilang enggak enak gitu ke gue."
Ana menarik napas kemudian mengembuskannya pelan.
"Jangan anggap gue orang asing, Na." Asril mengambil cangkir kopi dan dua mangkuk tadi seraya membawanya menuju dapur. Sementara Ana menatap kepergian Asril dengan tatapan terharu. Perkataan lelaki itu juga kembali mengingatkan dirinya kepada Maya dan juga Dania.
Namun, Ana sudah terlanjur kecewa dan sakit hati kepada mereka.
"Na, ikut gue, yuk."
Ucapan Asril nyaris membuat Ana tersentak. Dia bahkan terkejut mendapati Asril yang sudah berada di hadapannya.
"Perasaan lo tadi di dapur, dah," ucap Ana.
"Makanya jangan melamun. Buruan ikut gue." Asril menarik pergelangan tangan Ana. Sementara gadis itu mau tidak mau langsung bangkit dan mengikuti di mana Asril membawanya.
Mereka berhenti tepat di belakang rumah Asril. Kali ini tatapan Ana terpacu kepada rumah pohon yang ada di sana. Terdekorasi dengan begitu cantik dan menarik.
Ana bahkan tidak menyadari kalau senyumnya begitu lepas karena kagum mendapati apa yang dilihatnya.
"Ini milik lo?" tanya Ana sedangkan Asril mengangguk.
Asril menyunggingkan senyumnya, "Gue ngajak lo di sini karena gue ingin lo numpahkan segala kesedihan lo dan berganti bahagia, Na. Gue ingin lo lupakan hal yang menyakitkan. Meski enggak mudah, tapi setidaknya bisa perlahan membuat lo lupa."
Asril mulai beranjak menghampiri rumah pohonnya. Dia menaiki tangga yang kemudian memasuki rumah itu.
Ana yang masih berada di bawah pun semakin terharu dibuatnya. Terlebih lagi melihat Asril di atas sana tengah melambai sembari menunjukkan lima balon yang dibawanya.
"Buruan naik, Na," ajaknya.
Agaknya Ana semakin tertarik. Dia kemudian setengah berlari menuju rumah pohon dan menaiki tangga dengan hati-hati.
Perlahan, Ana memasuki rumah pohon yang sudah ada Asril di sana.
Ternyata dalamnya lumayan luas. Bisa lebih dari cukup untuk istirahat.
"Ril, lo yang buat ini?" tanya Ana. Dia mencoba melihat keadaan luar dari atas. Awalnya sedikit merinding sebab dia baru kali pertama berada di rumah pohon seperti ini.
"Iyalah. Siapa lagi yang buat." Asril mulai duduk. Membiarkan kedua kakinya bergelantungan ke bawah.
Memang benar. Rumah pohon ini Asril buat sendiri sudah sejak dia kelas sebelas. Dia bahkan sangat berharap saat itu. Berharap kalau rumah pohon ini bisa dia gunakan dengan Ana. Menjadi tempat prioritas bagi keduanya.
Namun, saat itu Ana masih berstatus menjadi kekasih Vero. Rasanya Asril menjadikan itu hanya sebagai angan-angan belaka, hingga akhirnya salah satu harap yang tersemat itu terkabul menjadi nyata.
"Ini serius, kan, Ril, enggak roboh?" tanya Ana. Dia perlahan ikut duduk di samping Asril.
Sementara Asril tertawa, "Tenang aja. Kuat, kok, Na." Asril menyahuti, 'Seperi perasaan gue ke lo,' sambungnya dalam hati.
Ana turut menggantungkan kedua kaki seperti halnya Asril.
"Na, kalau ada harapan. Lo mau harapan apa yang ingin lo wujudin?" tanya Asril dengan membenarkan tali kelima balon yang dibawanya.
"Harapan?" Ana menatap Asril dan mendapat anggukan dari lelaki itu.
Perlahan, Ana kembali menatap ke depan dengan tatapan menyerawang. Dia mulai memejam. Menikmati embusan angin di sore hari seperti sekarang. Membiarkan angin itu menerbangkan anak-anak rambutnya.
"Gue ingin ...." Ana terlebih dahulu menggantungkan ucapannya. Dia masih tersenyum. Membayangkan segala harapnya seandainya terkabul menjadi nyata.
"Gue ingin keluarga gue yang dulu kembali lagi. Keluarga harmonis dan bahagia. Gue ingin Vero kembali menjadi Vero yang gue kenali. Gue juga ingin Maya dan Dania kembali menjadi sahabat yang gue kenal." Ana mulai membuka mata.
"Intinya gue ingin, keluarga, percintaan, dan persahabatan gue kembali balik menjadi baik seperti sedia kala." Ana melanjutkan kalimatnya seraya menatap Asril.
Tanpa Ana sadari bahwa Asril yang mendengarnya merasakan rasa sedih dan kecewa yang dia sembunyikan, ketika dirinya mendengar salah satu harap yang tadi Ana lontarkan.
"Lo berharap Vero balik lagi?" tanya Asril. Dia menyembunyikan rasa yang dia pendam tadi di depan Ana.
Sementara Ana mengangguk, "Gue ingin Vero balik tetapi menjadi Vero seperti yang gue kenal awal. Bukan seperti sekarang."
"Lo masih sayang sama dia?"
Mendengar pertanyaan itu, sejenak Ana terdiam, kemudian mengangguk, perlahan.
Dari anggukan kepala Ana sudah jelas sekali jawabannya. Namun bukan berarti Asril menunjukkan rasa sedih dan kecewanya itu kepada Ana. Dia akan berpura-pura. Berpura-bura biasa saja dan seolah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.