
Satu persatu makanan untuk sarapan sudah terhidang di meja. Karlina kini mulai duduk sembari mengambil nasi secukupnya diiringi dengan tuangan sup yang aromanya menusuk di indra penciuman.
"Kenapa diam saja? Ana enggak suka menu sarapan pagi ini?" tanya Karlina sembari menatap ke arah anak semata wayangnya.
Ana yang sedari tadi memainkan sendok pun sontak menatap ke arah sang Mama. Bahkan, gadis itu baru menyadari kalau kali ini di meja sudah komplit dengan menu sarapan pagi. Pasalnya, ketika Ana berada di ruang makan ini, di sini masih hanya terhidang nasi, serta peralatan makan.
Sudah terhitung tiga hari semenjak pertengkaran itu terjadi, Ana tidak lagi mengetahui Gara gabung bersama dirinya dan juga sang Mama. Bahkan, yang Ana ketahui juga Gara tidur di sofa ruang utama.
Ana tidak menjawab pertanyaan sang Mama. Dia terlebih dahulu meneguk susu cokelat hangat di sampingnya.
"Suka, kok, Ma." Ana menyahuti.
Di lain posisi, Gara baru saja menuruni satu persatu anak tangga dengan pakaian rapi menuju ruang makan. Untuk kali ini, bukan lagi Gara akan makan bersama Ana atau bahkan Karlina, melainkan, dia hanya berhenti sejenak, kemudian berlalu begitu saja.
"Pa," panggil Ana.
Gara sejenak menghentikan langkahnya. Lelaki itu menoleh ke arah Ana.
Tatapan dingin itu Gara perlihatkan kepada Ana. Sekilas, dia menatap ke arah sang istri yang meski mendengar suara Ana dan mengetahui dirinya yang baru saja melewati ruang makan, tetapi Karlina sepertinya ogah menatap ke arahnya. Dia masih merasa sakit hati dengan perlakuan Gara.
"Papa enggak sarapan?" tanya Ana. "Kita sarapan bareng. Ana juga belum makan, nungguin Papa." Ana beralasan di bagian kalimat terakhirnya. Meski dia memang benar-benar belum sekalipun menyentuh makanan yang tersaji di meja, tetapi sebenarnya Ana tadi hanya tidak fokus saja. Bukan untuk menunggu Gara, papanya.
"Nanti makan di luar." Gara menyahuti. Nada suara dingin itu membuat Ana terdiam sejenak.
"Biasanya juga lebih milih makan di luar. Sekalian sama wanita simpanannya." Kali ini bukan lagi Ana yang menimpali, melainkan Karlina. Wanita itu dengan nada santainya memasukkan suapan sup ke dalam mulutnya. Masih enggan menatap ke arah sang suami.
Gara yang mendengar itu pun nyaris mengeraskan rahangnya. "Pagi-pagi jangan buat orang emosi!" bentak Gara seraya menatap tajam ke arah Karlina. Bahkan, dia seolah melupakan keberadaan Ana yang ada di tengah-tengah mereka.
"Yang buat emosi juga siapa? Toh, ini bicara fakta," sahut Karlina lagi. Dia meraih air putih di sampingnya sembari meneguknya perlahan.
"Ma, udah ...," tegur Ana, pelan.
Karlina sejenak menatap ke arah Ana. Belum sempat menyahuti putrinya, suara tutupan pintu rumah yang begitu keras nyaris membuat keduanya terkejut dan kompak menoleh ke arah sumber suara.
"Jangan tiru kelakuan keras papamu," ucap Karlina.
Ana menunduk, tidak menyahuti ucapan sang Mama.
"Makan sarapannya. Keburu dingin." Karlina kembali berucap. Bahkan, melihat Ana yang sedari tadi tidak bergerak untuk mengambil porsi makanan, dia dengan cekatan mengambilkan porsi makanan secukupnya dan menaruh di hadapan Ana.
"Ayo dimakan, Sayang."
Ana hanya mengangguk, samar. Dia meraih sendok dan garpu. Bahkan, melihat makanan yang biasanya terlihat mengunggah selera pun kini sama sekali tidak membuat Ana nafsu makan. Rasanya, Ana ingin sekali cepat-cepat berangkat sekolah. Setidaknya, berada di tempat selain rumahnya bisa sedikit membuat Ana tenang.
Rumahku surgaku. Ana kerap kali membaca dua kata itu di media sosialnya. Dia pikir, kata-kata itu benar-benar jelas adanya. Namun, ternyata Ana malah merasakan sebaliknya.
"Na?"
Ana sontak terkejut melihat Karlina yang sepertinya sedari tadi memperhatikan gerak-gerik dirinya.
"Maafkan Mama membuat kerusuhan di depan kamu. Mama mohon, kamu jangan banyak pikiran, apalagi tentang itu. Jangan sampai kamu tidak bisa fokus sekolah hanya karena Mama dan juga papamu, Ana."
Ana tersenyum. Dia membalas usapan tangan sang Mama.
"Tidak apa-apa, Ma. Mama tidak salah sama Ana. Tidak perlu minta maaf."
***
"Terima kasih Mang Tijo, udah nganterin Ana," ucap Ana sembari tersenyum ramah ke arah Mang Tijo.
Mang Tijo tersenyum dan mengangguk patuh. "Non Ana yang kuat, ya."
Kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Mang Tijo nyaris membuat Ana tersenyum getir. Namun, gadis itu langsung saja menepis kesedihan yang baru saja kembali hinggap di benaknya.
"Siap, Mang," ucap Ana dengan antusias.
Tanpa menunggu lama lagi, Mang Tijo langsung buru-buru beranjak keluar dari mobil dan menghampiri pintu mobil sebelah kiri. Dengan cekatan, Mang Tijo membuka pintu itu seraya mempersilakan Ana untuk keluar dan beranjak menuju ke area sekolahnya.
Seperti biasanya, lalu-lalang manusia yang melihat Ana lewat pun tersenyum sembari menyapa gadis itu. Ana hanya tersenyum dan membalas sapaan mereka sewajarnya saja. Berada di sekolah seperti saat ini, setidaknya sedikit berhasil membuat Ana menghibur diri.
Saat baru saja melewati dua koridor, langkah gadis itu terhenti tatkala melihat seorang yang sudah tidak asing lagi di indra penglihatannya.
Ana memicing sejenak. Setelah berhasil meyakini diri sendiri kalau dia tidak salah lihat, tanpa menunggu lama lagi, Ana langsung berlari menuju titik pacuan tersebut.
"Hai!" Ana memberikan sapaan penuh antusias ke arah lelaki yang tengah berdiri bersender di tembok kelas IPS 2 sembari menyilangkan kakinya.
Ana mengernyit tatkala sama sekali tidak mendapat respon dari lelaki itu. Menyebalkan sekali.
Perlahan, kedua mata Ana nyaris menangkap ke arah telinga lelaki itu. "Owalah, pantesan," ucap Ana. Dengan sikap kejailan yang sudah muncul pada dirinya, tanpa menunggu lama lagi, Ana langsung melepas earphone yang tengah menempel di telinga kiri lelaki itu.
Tentu saja, Asril---lelaki yang tadi tengah bersandar di tembok sembari memejam karena menghayati alunan musik yang menggema di indra pendengarannya---pun sontak membuka mata dan menatap kesal ke arah Ana. Gadis yang sudah mengganggu aktivitas santainya.
"Lo ngapain, sih, ah!" gerutu Asril sembari melepas earphone yang masih terpasang di telinga sebelah kanannya. "Ganggu aja tau, enggak," sambungnya lagi.
Bukannya menjawab, justru Ana malah meraih pergelangan tangan lelaki itu dan mengajaknya berdiri di samping koridor kelas.
Ana sejenak melihat suasana kali ini. Aman.
Asril yang tidak mengetahui apa-apa pun hanya mengikuti pergerakan Ana, melihat sekitar. Setelahnya, dia menatap ke arah Ana dengan mengangkat sebelah alisnya, heran.
"Gue tanya sama lo. Lo harus jawab jujur."
Asril yang mendapatkan kalimat itu pun mengernyit.
"Lo kemarin denger, kan, semua keributan yang ada di rumah gue?" tanya Ana. Gadis itu berbicara pelan sembari menatap ke arah Asril dengan tatapan serius. Sesekali dia juga menatap sekitarnya, memastikan keadaan aman, barangkali ada siswa-siswi yang tengah melintas, maka Ana akan segera memindahkan topik pembicaraannya.
"Jawabnya jangan keras-keras." Ana memperingati Asril tatkala dia melihat mulut lelaki itu yang seolah akan bergerak, menjawab pertanyaannya.
Asril mengangguk. "Ya. Gue, de--"
"Gue mohon lo tutup mulut persoalan itu semua."