About Cloudy Turning Bright

About Cloudy Turning Bright
Surat di Bungkus Cokelat



"Enggak makai jas hujan aja, Non?" Lelaki yang bisa dibilang usia paruh baya itu memberi tawaran kepada gadis di hapannya yang kini tengah bernotabene menjadi putri tunggal dari majikan tempatnya dia bekerja. Dia juga dengan cekatan memberikan payung dan langsung diterima dengan senang hati oleh sang lawan bicara.


Ariana Putri Anggara, atau kerap kali disapa dengan panggilan Ana. Gadis itu sejenak mendongak ke arah langit yang hanya menjatuhkan rintikan demi rintikan kecil air hujan. Tidak sederas hujan yang tengah hadir kemarin malam.


"Hanya grimis aja ini, Mang. Enggak perlu makai jas hujan," sahut Ana sembari terkekeh seperti biasanya.


Mang Tijo---sopir pribadi Ana itu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Lelaki paruh baya itu sejenak mengikuti gerakan Ana tadi guna untuk menatap langit yang masih kerap kali menjatuhkan rintikan demi rintikan air hujan. Setelahnya, dia kembali menatap ke arah putri majikannya. Rasanya tidak mungkin juga jika membiarkan Ana hanya menggunakan payung untuk melangkah memasuki area sekolahan.


"Hanya beberapa meter aja ini, Mang. Dah, ah, Ana duluan. Mang Tijo hati-hati baliknya," sambung Ana lagi.


"Tap--"


"Da ... Mamang!"


Tanpa menunggu ba-bi-bu yang keluar lagi dari mulut sopir pribadinya itu, Ana langsung berlari memasuki gerbang sekolah dengan pelindung payung yang ada di atas kepalanya.


Gadis itu berlari penuh kehati-hatian agar bisa segera sampai di koridor kelasnya. Hal itu tentu tidak luput dari pusat perhatian siswa-siswi yang tengah melintas.


Sebagian dari mereka, mereka menatap Ana dengan tatapan lucu karena hanya dia seorang diri yang datang ke sekolah dengan membawa payung seperti sekarang ini. Secara, gerimis kali ini hanya rintikan-rintikan kecil saja, yang tentunya bisa diterobos, meski hanya sekian persen seragam mereka akan sedikit basah.


"Enak banget jadi Ana. Udah cantik, pintar, banyak yang suka sama dia. Udah gitu, kehidupannya juga serba tercukupi," ucap Sasa---seorang siswi berkacamata---dengan nada bisik-bisik kepada Rora---siswi berambut sedikit ikal yang tengah ada di dekatnya. Rora mengangguk seraya membenarkan apa yang baru saja dikatakan Sasa.


"Gue juga mau kali kek dia. Secara, kan, itu impian gue," sambungnya lagi yang kini berhasil mendatangkan jitakan hebat di keningnya.


"Sakit busyet!"


"Lagian, ada-ada saja lo, ah. Syukuri aja kali kehidupan kita," sahut Rora.


"Yee, enggak ada salahnya juga menyelipkan impian seperti itu. Barangkali nanti jadi kenyataan. Gue, kan, bisa nraktir lo bakso terus-terusan," timpal Sasa sembari membenarkan kacamata yang tengah merosot di hidung mungilnya.


Rora hanya menggeleng, heran. Meski begitu, dia membenarkan apa yang baru saja Sasa katakan. Memang, kehidupan mewah, serba tercukupi, serta bahagia seperti Ana itu tengah menjadi impian kebanyakan orang, dan tidak ada salahnya juga menyelipkan impian seperti itu, toh, siapa tahu juga nanti bisa menjadi kenyataan. Doakan saja intinya.


"Ariana Putri Anggara!"


Suara cempreng dari seorang siswi itu membuat Ana yang baru saja menginjak tepat di tengah pintu kelasnya---XII MIPA 1---nyaris menoleh seketika. Gadis itu mengangkat sebelah alis tatkala melihat kedua sahabatnya yang tengah berlari menghampirinya. Maharani Maya dan Arumi Dania. Kalau dilihat-lihat, mereka seorang seperti dikejar-kejar Mbak Kunti di waktu gerimis-gerimis seperti saat ini.


"Suara lo ngalahin toa pecah, tau enggak!" sahut Ana sedikit kesal.


Maya dan Dania selaku pelaku itu hanya terkekeh sembari menunjukkan cengiran tanpa dosanya. Bahkan, tanpa menunggu aba-aba lagi, keduanya langsung kompak menghamburkan tubuhnya dan memeluk Ana. Jika sudah sudah seperti ini, mereka terlihat sudah seperti teletubis saja.


"Hei, are you okay, May, Dan?" tanya Ana.


Maya dan Dania perlahan melepaskan pelukan mereka. Kedua gadis itu kemudian menarik pergelangan tangan Ana dengan pelan menuju tempat duduk sahabatnya. Di barisan kedua.


"Why?"


"Biasa. Ada PR Matematika, Na. Gue lupa. Si Dania sih enggak ngasih tau gue," sahut Maya sembari menatap ketus ke arah Dania.


Dania berdecak. Bisa-bisanya dia disalahkan. Secara, dia juga semalam sama sekali tidak membuka buku mata pelajaran Matematika. "Semalam gue enggak buka, cuy!"


Kali ini Ana yang merotasikan kedua bola matanya, malas. Sudah menjadi hal biasa kedua sahabatnya kalau perihal mata pelajaran Matematika. Jangankan mengerjakan PR Matematika tepat waktu, mencatat materi Matematika yang tertulis di papan saja sering sekali mereka tunda.


"Wait!"


Ana terlebih dahulu melepas tas punggung dan menyandangkan di punggung kursi. "Pulpen gue kemarin ketinggalan di kolong meja."


Ana kini terlebih dahulu memasukkan tangan kanannya di kolong meja. Gadis itu meraba-raba guna untuk menemukan benda yang dicarinya.


"Apa, nih," ucap Ana, membuat Dania dan Maya yang tadi berdebat pun kali ini beralih menatap ke arah Ana dengan tatapan tanya.


Ana mulai mencondongkan tubuhnya dan melihat ke arah kolong meja. "Cokelat?" Tanpa menunggu lama lagi, dia langsung mengambil cokelat dengan bungkusan buket indah di sana. Sekarang bahkan, dia lupa tujuannya meraba-raba kolong meja adalah untuk mencari pulpen yang tertinggal kemarin.


"Busyet, dapat cokelat. Dari siapa, tuh," goda Dania sembari menaik-turunkan alisnya.


"Dari doi, dong!" Kali ini Maya yang menimpali. Keduanya kemudian meledakkan tawanya sembari terus menggoda Ana.


"Dih."


Ana membuka bungkusan buket cokelat itu. Gadis itu memicingkan matanya tatkala mendapati sebuah lipatan kertas yang terselip di sana. Dia kini menaruh kembali bungkusan cokelat itu di meja dan mulai mengambil lipatan kertas.


"Wangi," ucap Ana. Aroma parfum yang begitu wangi itu tentu saja Ana bisa mengenali orang pemberi cokelat ini.


Perlahan, Ana membuka surat itu.


[Good morning, Dear. Keep spirit today. Don't forget to have breakfast, okay. I love you so much.


From : Vero gans sejagat raya.]


Bersamaan dengan Ana yang membaca dalam hati, kedua sudut bibir gadis itu tertarik membentuk senyuman sempurna. Memang kekasihnya itu tingkat kepercayaan dirinya selalu di atas rata-rata.


"Yee, malah senyum-senyum. Ini MTK-nya gimana, Ana ...." Lagi-lagi suara cempreng dari Dania itu membuat lamunan Ana terbuyar seketika.


Ana berdecih. Dia kemudian menyodorkan buku Matematika kepada Maya dan Dania. "Tulas-tulis aja, enggak usah banyak tanya. Gue mau pergi dulu. Bentar!"


"Eh, t--"


Ana tidak lagi memedulikan teriakan Dania yang menggelora. Gadis itu berlari keluar kelas sembari membawa bungkusan cokelat serta lipatan kertas yang sudah dia masukkan ke dalam saku seragamnya. Tujuannya saat ini adalah ingin menemui Vero---sang kekasih. Dia mau mengucapkan terima kasih kepada lelaki yang sejak menginjak bangku SMA kelas sebelas itu sudah menjadi kekasihnya.


"Hai!" sapa Ana sembari melambai dan menunjukkan cengiran kudanya---tepat pada saat dia melihat Vero yang tengah bercengkrama dengan teman-temannya.