About Cloudy Turning Bright

About Cloudy Turning Bright
Tunggu Waktunya



Asril mendekat, hinnga membuat jarak dirinya dan Maya hanya selisih satu jengkal saja. Sementara Maya perlahan mundur, "Lo mau ngapain?" Dia panik.


Namun, Asril tidak peduli. Lelaki itu menyondongkan tubuhnya tepat di dekat telinga Maya. Membuat kedua bola mata Maya berputar, mengikuti pergerakan kepalanya.


"Gue peringetin. Bangkai busuk, meski disembunyikan di tempat tertutup yang sekiranya aman sekalipun, tetap akan tercium juga."


Asril kembali menarik dirinya. Dia menyunggingkan senyum, "Tinggal tunggu waktunya, kapan bangkai itu akan kecium manusia."


Perlahan, lelaki itu melangkah menyusul Ana dan yang lainnya. Membiarkan Maya masih mematung di tempat. Kepala sekolah pasti sudah menunggu dirinya lama. Jangan sampai Asril hukumannya bertambah karena dirinya telat hadir diruangan kepala sekolah.


Maya meremas rok seragamnya dengan emosi. Bisa-bisanya Asril berkata seperti itu di situasi seperti saat ini.


"Awas aja lo, Ril, kalau sampai lo bongkarin semua," gumamnya menatap kepergian Asril yang perlahan semakin hilang dari pandangan.


***


"Baik, saya bisa toleransi saat ini! Tapi ... jika hal ini kembali terulang lagi, siap-siap saja, DO sudah menanti. Selain itu juga orang tua kalian akan saya undang, biar tau kelakuan anaknya yang melanggar peraturan sekolah."


Siswa-siswi yang tadi turut hadir di ruangan pun menunduk seraya mengangguk. Terlebih lagi para pemain basket tadi yang kali ini berjejer rapi paling depan. Setelah mendapat hukuman yang terkesan ringan---push up---dengan totalan sekian, mereka diperbolehkan kembali keluar dari ruangan.


Ana dan Dania sudah terlebih dahulu berlalu menuju kelas mereka. Sementara Maya, gadis itu belum juga menunjukkan batang hidungnya.


"Gue pikir, lo enggak lupa siapa tadi yang menang." Vero berujar hingga membuat Asril menghentikan langkah tepat di samping koridor kelas IPS 2. Dia dan para timnya membalikkan tubuh. Kompak menatap Vero dan pengikutnya yang kini tengah berjalan menghampiri posisi mereka.


Asril mengangkat sejenak sebelah alisnya. Dia juga turut memberikan kode para tim basket IPS, agar tidak turut ikut campur masalah yang akan keluar saat ini.


"Menang dalam sebuah permainan apa yang perlu dibanggakan jika gagal dalam menjalankan kepercayaan," sahut Asril. Para timnya menyunggingkan senyum. Dia bangga kepada sang ketua.


"Halah sok bijak. Yang terpenting, lo enggak lupa kesepakatan kita sebelum tanding."


"Gue enggak pikun. Tenang aja, tanpa lo ingetin, gue bakal mundur jadi ketua tim."


Mendengar hal itu, nyaris membuat Tio dan teman-temannya membelalak. Mereka kompak menatap Asril dengan tatapan penuh tanya. Tidak jarang dari mereka yang menatap Vero beserta timnya dengan tatapan murka.


"Gue bakal mundur jadi ketua tim, tapi tetap bermain dan tetap ikut segala pertandingan basket." Asril melanjutkan kembali kalimatnya.


"Maksud lo apa? Lo gugur jadi ketua, berarti lo udah bukan bagian dari mereka!"


"Gue belum selesai bicara!"


Vero berdecak. Namun kali ini dia kembali terdiam guna untuk mendengarkan kalimat selanjutnya yang akan Asril lontrakan.


"Jabatan ketua tim basket IPS akan gue pindah alihkan kepada Tio. Lebih tepatnya, gue dan Tio bertukaran posisi."


Tio semakin menatap Asril dengan tatapan tanya. Namun, para teman-temannya yang peka maksud Asril pun langsung memberikan oplosan sebagai apresiasi untuk Tio.


"Gue percayakan jabatan ini kepada Tio."


Vero menggeleng berulang kali. Dia tidak habis pikir dengan Asril kali ini.


"Enggak bisa gini!" Vero memprotes. Dia sudah merasa dipermainkan Asril.


"Kenapa enggak bisa? Kesepatan kita sebelumnya hanya perihal ketika gue kalah, maka gue gugur jadi ketua, bukan gue tidak lagi menjadi bagian dari mereka."


Kedua tangan Vero perlahan mulai mengepal erat, "Lo memang bener-bener ...." Lelaki itu tidak melanjutkan kalimatnya. Namun, sesaat, dia kemudian tertawa dengan nada yang sulit diartikan.


"Okay, its no problem. Lo tetap jadi bagian dari mereka, tapi tetap harus kalian semua ingat. Terutama lo!" Vero mendekat seraya mendorong dengan telunjuk tepat di pundak Asril. Sementara lelaki itu langsung menghempaskan bekas sentuhan dari Vero.


"Lo pantas mendapatkan ini!"


Seperti yang kala itu dikatakan Vero, lelaki itu langsung memberikan ludahan tepat di wajah Asril. Membuat sang empunya itu sejenak memejam. Para timnya tentu tidak terima dengan apa yang barusan mereka lihat. Mereka ingin memberikan pelajaran habis-habisan kepada Vero, tetapi Asril terlebih dahulu menahannya.


"Itu balasan buat lo karena udah ngeludah tepat di dekat kaki gue!"


Asril tidak peduli. Dia menerima selembar tisu dari Didit. Lelaki itu memang selalu siap siaga tisu karena flu yang katanya tetus-terusan mengganggu.


Perlahan, Asril mengusapkan tisu di area wajah yang tadi menjadi sasaran Vero. Setelahnya, dia melempar bekas tisu itu hingga mendarat di dada lelaki di hadapannya, kemudian terjatuh di lantai.


Vero tertawa sinis.


"Kalian semua harus ingat kalau kalian enggak akan bisa ngalahin kita dalam setiap pertandingan," ucapnya. Dia perlahan mundur beberapa langkah.


Setelah itu, dia dan para timnya langsung membalikkan tubuh dan melangkah meninggalkan Asril dan yang lainnya.


"Lo juga harus ingat, Ver!"


Bersamaan dengan Asril yang bersuara, langkah mereka nyaris terhenti seketika.


Mereka tidak membalikkan tubuh begitu saja, tetapi pendengaran mereka kompak mereka tajamkan.


"Lo harus ingat, waktu terus bergulir maju! Bangkai juga meski disembunyikan dalam-dalam, aromanya tetap perlahan tercium dan menyerbak keluar!"


"Lo tunggu aja waktunya. Tinggal tunggu tanggal mainnya!"


Kesekian kalinya kedua tangan Vero mengepal erat. Rahangnya bahkan mulai mengeras. Gigi atas dan bawahnya juga mulai bergesekkan hingga nyaris menimbulkan suara pelan.


"Ini bukan tentang kesepakatan kekalahan. Tapi tentang, kepercayaan yang sudah lo permainkan."


"Gue enggak bilang kalau gue yang akan bongkar. Tapi gue tetap diam, sampai kebenaran yang akan menunjukkan wujudnya sendiri."


Deru napas Vero semakin naik-turun tidak beraturan. Wajahnya kini juga memerah. Dia sudah kehilangan kesabaran. Namun, perlahan, Vero menarik napas, kemudian mengembuskannya perlahan.


Kedua tangan yang tadi dia kepalkan juga perlahan kembali normal.


Vero membalikkan tubuh, diikuti dengan para timnya. Mereka kompak menatap Asril dengan tatapan yang berbeda-beda.


Saat ini, Vero menunjukkan senyuman penuh arti. Dia tidak menunjukkan keemosiannya di hadapan Asril.


Sementara Asril dan para timnya pun sama. Mereka menatap Vero dengan tatapan santai.


Vero menyeringai, "Asril ... Asril ... segitu hebohnya lo nyeramahin gue."


"CK! Ge'er banget lo jadi manusia," sahut Asril. Perkataan dengan nada ceplas-ceplos di atas rata-rata pun spontan membuat para timnya meledakkan tawa. Bahkan salah satu dari tim Vero ada yang nyaris ikutan tertawa, tetapi langsung berekspresi normal ketika mendapat teguran dari temannya.


"Gue enggak lagi nyeramahin lo. Gue cuma melakukan timbal balik. Lo bisa ngingetin gue, gue juga bisa ngingetin lo. Begitu juga seterusnya."