About Cloudy Turning Bright

About Cloudy Turning Bright
Awal Mula



"Hai, Dear. Come here!"


Ana mengangguk sembari tersenyum menunjukkan lesung pipi di sebelah kanannya. Meski tidak sedalam jurang, tetapi lesung itu cukup berhasil menambah kesan berbeda di wajah Ana. Ana terlihat semakin manis.


"E-eng, kita balik dulu, Bro," ucap seorang siswa yang berbadan ideal, sama tingginya dengan Vero.


"Menghindar, sebelum menjadi obat nyamuk," timpal satu temannya lagi yang juga memiliki tubuh ideal yang sama.


"CK! Sa ae lo!" sahut Vero. Kedua temannya itu hanya meledakkan tawa mereka. Setelahnya, mereka beranjak begitu saja. Seperti yang salah satu dari mereka katakan, menghindar sebelum mereka harus menjadi obat nyamuk di antara Vero dan Ana.


Ana yang melihat itu pun hanya terkekeh geli. Gadis itu kemudian menghamburkan tubuhnya dalam dekapan Vero. "Thank you very much, Dear. You know? Gue kira tadi cokelat ini dari fans-fans gue," ucap Ana yang kini perlahan melepaskan dekapannya.


Vero yang mendengar itu pun memasang ekspresi manyun, andalannya. "Pikirin fans-nya aja mulu. Lagian, kertas sewangi itu enggak ada kali yang nandingi," sahut Vero sembari menyenderkan tubuhnya di tembok.


"Dih, gitu aja ngambek. Makin jelek tau!"


"Tampan gini dibilang jelek. Meski jelek sekalipun kamu juga sayang banget, tuh sama aku," sahut Vero seraya merotasikan kedua bola matanya barang untuk sejenak.


Merasa tidak ada sahutan dari Ana, lelaki itu beralih lagi menatap ke arah kekasihnya yang rupanya tengah sibuk membuka bungkusan cokelat batang. Tangan putih dan lembut gadis itu bahkan mulai mematahkan sedikit cokelat batang dan memasukan ke dalam mulutnya sendiri.


Vero tersenyum samar seraya memerhatikan Ana memakan cokelat favoritnya dengan begitu lahap.


"Mau?" tanya Ana sembari menyodorkan patahan cokelat itu di hadapan Vero.


Vero spontan mengangguk sembari membuka mulutnya. Berharap kalau Ana menyuapi cokelat batangan itu seperti biasanya.


"Makan aja sendiri. Kalau enggak mau ya udah," ucap Ana yang nyaris membuat Vero membelalak.


Vero berdecih sembari memasukan sendiri patahan cokelat batangan itu ke dalam mulutnya. "Untung sayang," ucapnya.


"Oh, ya, Dear. Seminggu lagi kelas MIPA sama IPS tanding basket, loh."


Ana menghentikan sejenak kunyahannya. "Oh ya?"


Vero mengangguk antusias.


"Kenapa aku enggak tau? Bukannya setiap ada tanding yang akan diadakan itu rapat antar OSIS dulu? Musyawarah," tanya Ana sembari menelan cokelat yang sudah halus di lidahnya.


"Iya, soalnya, kan, ini tandingnya kita yang adain sendiri. Tadi aku sama siswa lainnya juga rundingan pas itu. Ini tanding hanya untuk hiburan, kok," sahut Vero.


Ana manggut-manggut. "Okey, keep spirit. Good luck, Dear!" ucap gadis itu sembari memperagakan tangannya guna untuk menyemangati seorang Vero Yudhistira.


Vero mengangguk, seraya memperhatikan Ana yang kembali fokus dengan aktivitasnya. Sebelah sudut bibir lelaki itu tertarik sedikit. Dia menyunggingkan senyumnya. 'Sebenarnya bukan tanding hiburan, tapi tanding pembuktian kekalahan.'


***


Ana mondar-mandir di depan gerbang, sesekali gadis itu melihat benda yang melingkar di pergelangan tangannya. Bel pulang sekolah juga sudah berbunyi beberapa puluhan menit yang lalu, tetapi Mang Tijo juga sampai sekarang belum juga kelihatan batang hidungnya. Tidak seperti biasanya.


"Tau tadi, gue pulang dianter Vero," gerutu Ana tatkala mengingat tawaran Vero yang tengah dia tolak, dengan alasan kalau sebentar lagi sopir pribadinya akan menjemput seperti biasa.


"Telepon Papa aja kali, ya, buat nanyain Mang Tijo ke mana." Ana bermonolog lagi sembari mulai kembali menyalakan ponselnya.


"Hei!"


Baru saja Ana mau menekan tombol panggilan di room chatnya dengan sang Papa, suara berat dari seseorang nyaris membuat Ana mengurungkan niatnya. Gadis itu menoleh ke arah sumber suara.


Ana memicingkan matanya. Dia seolah mengenal siswa yang kali ini ada di hadapannya. "Kita pernah ketemu enggak, sih?" tanya Ana. Percaya saja, kalau Ana memang type orang yang mudah lupa-lupa ingat sama orang asing atau tidak akrab dengannya.


"Yee, cantik-cantik pikun," sahut siswa itu, lirih. Namun, Ana cukup bisa mendengar suaranya. Buktinya, kali ini gadis itu melotot begitu saja.


"Enggak pikun, ya, gue. But, gue cuma lupa-lupa ingat. Lagian, enggak penting juga kalau misalnya gue ngesave wajah lo di ingatan gue," timpal Ana.


"Gue Asril Mahardika, tetangga lo. Anak kelas IPS, ketua tim basket."


Ana sejenak terdiam. Mendengar jawaban tersebut, nyaris spontan membuat ingatannya berputar. "Oh, iya! Gue ingat," ucap Ana penuh antusias.


"Lagian, tetangga seganteng ini masa enggak kenal," sambung Asril lagi sembari berlagak sok ganteng di depan Ana.


Ana berdecak.


"Lo yang selalu jadi saingan basket doi gue, kan?" tanya gadis itu dengan judesnya.


Asril mengangkat sebelah alisnya. Lelaki itu memicing sejenak. "Vero Yudhistira maksud lo?"


"Right!"


Asril mengangkat kedua bahunya. "Gass, naik," ucap Asril sembari mengode agar Ana segera menaiki motor besarnya.


Ana mengangkat sebelah alisnya. "Ngapain?" tanya gadis itu.


"Pulanglah. Lo mau semaleman ke sini? Lagian sopir lo juga enggak lagi jemput. Mungkin mager kali."


Ana mendelik. "Enak aja. Sopir gue enggak mageran, ya!"


"Serah lo. Buruan naik."


Ana terdiam sembari memicingkan matanya ke arah Asril. "Lo ada niat buruk, kan, sama gue? Atau lo mau nyogok gue biar nanti pas tanding basket gue dukung lo. Atau--"


"Kebanyakan nonton ikan terbang lo! Kalau enggak mau ya udah, gue tinggal. Satpamnya aja udah mau pulang."


Ana sejenak melihat ke arah sekitar. Benar juga, semuanya sudah pada pulang berlalu-lalang. Sejenak, gadis itu melihat benda yang melingkar di pergelangan tangannya, setelahnya dia melihat informasi room chatnya dengan sang Papa. Di sana menunjukkan kalau papanya terakhir online jam tujuh pagi.


Ana kini menghela napas. Dia sejenak menatap tajam ke arah Asril. "Awas lo kalau macem-macem!" ketus Ana sembari duduk di boncengan motor besar milik Asril.


***


"Macem-macem enggak gue tadi? Buktinya selamat, kan, sampai tujuan?" tanya Asril dengan wajah santainya.


Ana berdecih. Gadis itu langsung menuruni motor Asril. Meski begitu, dia membenarkan apa yang baru saja dikatakan lelaki itu, buktinya, sekarang saja mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Ana dengan selamat.


"Than--"


Pyar!


Suara pecahan yang begitu keras nyaris membuat keduanya terkejut dan spontan menoleh ke arah bunyi asal suara. Bunyi itu berasal dari dalam rumah Ana. Mereka bahkan melihat dari depan gerbang, beberapa benda terlempar keluar hingga tepat di halaman rumah.


"Nyonya!" teriak seseorang dari dalam rumah Ana.


"I-itu suara Mang Tijo?" Tanpa menunggu lama lagi, Ana langsung bergegas menuju rumahnya. Tepat di tengah pintu, gadis itu terkejut tatkala melihat isi dalam rumahnya yang begitu berantakan. Ana bahkan langsung menatap ke arah sang Karlina---mamanya---yang tengah berlutut di lantai sembari menangis tersedu-sedu. Luka lebam di tulang pipi mamanya berhasil membuat Ana menatap murka ke arah Gara--sang Papa.


"Udah masalah kantor, hutang ke mana-mana, semuanya ludes tak tersisa! Punya istri juga sama sekali enggak becus!" Suara keras yang berasal dari Gara nyaris membuat Ana perlahan memejam. Gadis itu kemudian berlari menghampiri mamanya. Dia ikutan berlutut dan sejenak memberi dekapan hangat kepada sang mama. Setelahnya, Ana kembali beralih menatap Gara yang kini masih saja mengeluarkan banyak amarah dan cacian-cacian untuk Karlina.


"Papa kenapa, sih, ngomong gitu sama Mama?" tanya Ana dengan intonasi yang tinggi. Gadis itu bahkan kemudian bangkit menghadap ke arah papanya. Dia sudah berani menerima apa pun risiko nantinya. Entah itu dia harus merasakan hal yang sama seperti Karlina.


Sejujurnya, ini bukan yang pertama kali Ana berada dalam situasi seperti saat ini. Pertengkaran hebat yang berasal dari kedua orang tua mereka bahkan seolah sudah menjadi makanan Ana setiap hari.


Memang, kehidupan Ana jauh-jauh ini terlihat sempurna di mata kebanyakan orang, tetapi sebenarnya kehidupan Ana tidak sesempurna apa yang mereka kira.


Di setiap kebihan pasti terselip kurang dan cela, begitu juga dalam kehidupan Ana. Gadis itu kerap kali mendengarkan dan menyaksikan pertengkaran yang tengah dialami kedua orang tuanya.