About Cloudy Turning Bright

About Cloudy Turning Bright
Sulit untuk Percaya



"Pa! Jawab Ana! Kalian itu kenapa, sih? Kalian enggak capek apa berantem setiap hari?"


Ana kembali mengeluarkan suara saat dia merasa Gara tak kunjung menjawab pertanyaannya. Gadis itu mengusap kasar buliran bening yang menetes membasahi pipinya. Netranya yang mengembun, menatap secara bergantian ke arah Mama dan juga sang Papa.


Keduanya terdiam. Selalu seperti itu jika Ana menuntut jawaban. Ana juga berhak untuk tahu apa masalah yang tengah diderita keluarganya. Bukan hanya melakukan pertengkaran saja di depan Ana.


"Ana capek, Pa, Ma! Ana capek selalu menyaksikan kalian bertengkar seperti ini! Setiap Ana tanya, ada masalah apa, kalian selalu tidak menjawab!" Ana mulai menggeram. Air mata yang terus saja lolos membasahi pipi gadis itu, membuat Ana merasa terganggu dan mengusapnya dengan kasar.


"Papamu main wanita, Ana!"


Kali ini Karlina yang menyahuti. Wanita yang meski usianya sudah puluhan tahun itu wajahnya masih terlihat awet muda dan sama cantiknya dengan Ana. Karlina kini perlahan bangkit. Dia kembali menatap ke arah sang suami dengan penuh penekanan.


"Jaga mulut kamu di depan Ana, ya!" Gara tidak terima sembari menekankan jari telunjuknya ke arah sang istri.


"Apa? Apa yang perlu dijaga? Semua sudah benar kalau kamu itu sudah main wanita! Notifikasi kemarin dan di cafe minggu lalu juga sudah semakin memperkuat dugaanku selama ini!" sahut Karlina dengan intonasi yang tidak kalah tingginya.


"No! Dia asistenku, tidak lebih!" Gara tidak mau kalah. Bahkan rahang lelaki itu sudah semakin mengeras.


"Asisten tapi mesra? Bahkan di cafe, romantis-romantisan, apa itu dianggap membahas pekerjaan, ha?"


Ana masih terus terdiam sembari melihat secara bergantian ke arah kedua orang tuanya yang terus saja beradu mulut. Dia juga sama sekali tidak menyangka perihal apa yang baru saja lolos dari mulut sang Mama. Dia tidak bisa percaya lalau sang Papa melakukan hal seburuk itu.


"Apalagi notifikasi kotor yang ada di ponselmu itu--"


Plak!


Satu tamparan mendarat tepat di pipi Karina. Wanita itu menutup pipinya dengan telapak tangan. Perih. Meski ini bukan kali pertama Karlina mendapat perlakuan seperti ini.


"Ma." Ana bersuara. "Papa enggak seharusnya nampar Mama!" geram Ana menatap murka ke arah Gara.


"Kamu anak kecil, Ana. Kamu enggak tau urusan Papa!"


"Dan kamu!" Gara kembali lagi beralih menunjuk sang istri. "Kamu itu memang istri enggak becus! Suami lagi ada masalah, kantor mengalami kebangkrutan, ini malah ngajak bahas yang enggak penting!" lanjut Gara dengan penuh kegeraman.


"Masalah yang terjadi juga karena ulahmu! Mungkin saja semua uang perusahaan kamu gelapkan hanya untuk bersenang-senang dengan wanita itu!" geram Karlina.


Sedang Gara yang mendengarnya pun napasnya mulai menggebu-nggebu. Istrinya itu sudah benar-benar membuat amarahnya semakin menggelora. Tangannya bahkan kembali lagi melayang.


"Pa!" teriak Ana.


Gara menghentikan aktivitasnya. Kembali juga dia menurunkan tangan dan melampiaskannya dengan cara mengepalkannya erat. Setelahnya, dia langsung menendang meja yang ada di dekatnya kemudian beranjak keluar menuju mobilnya berada dan mengabaikan panggilan dari Ana.


"Papa!"


"Pa! Masalah harus diselesaikan! Tidak pergi begini caranya!" Ana terus saja berteriak sembari mengetuk-ngetuk mobil yang tengah dimasuki Gara. Perlahan, mobil itu mulai melaju.


Ana berlari sembari terus mempertahankan ketukan demi ketukan di mobil itu. Namun, tetap saja dia tidak bisa menyeimbangkan diri dan menyerah tersungkur di tanah depan gerbang rumahnya.


Ana terdiam sejenak. Gadis itu menatap ke arah sebuah tangan yang tengah terulur di hadapannya. Setelahnya, dia mendongak dan segera mengusap bekas air mata tatkala menyadari siapa orang yang tengah mengulurkan tangan kanannya itu.


Asril. Bahkan melihat kedatangan lelaki itu saat ini membuat Ana tersadar perihal Asril yang tadi pulang bersamanya. Lelaki itu pasti tadi sudah mendengar perdebatan hebat yang tengah dilakukan Mama dan papanya.


"N-ngapain lo ke sini?" tanya Ana, berusaha untuk kelihatan biasa saja. Tanpa menerima uluran tangan dari Asril, gadis itu langsung bangkit dan membersihkan rok sekolahnya yang terkena sedikit tanah.


"Gue mastiin keadaan lo. Lo enggak pa-pa?"


Ana terdiam sembari menatap sendu ke arah Asril. Pertanyaan yang baru saja terlontar dari bibir Asril berhasil kembali mengingatkan Ana perihal apa yang diucapkan sang Mama pada saat dia berada di dalam rumah. Menyatakan kalau Gara tengah main wanita.


"Hei!"


Asril melambaikan tangan tepat di wajah Ana. "Ngelamun?" tanya Asril.


Ana menggeleng. "G--gue masuk ke dalam dulu," pamit Ana kemudian membalikkan tubuhnya. Gadis itu langsung berlari masuk ke dalam rumah. Mencari keberadaan mamanya yang tidak ada di ruang depan.


Asril menghela napas sembari mengangkat kedua bahunya. Dia bisa memaklumi Ana. Secara, Ana juga kelihatan sekali baru tadi mengenal dirinya, atau mungkin lupa-lupa ingat seperti apa yang tadi gadis itu katakan.


Ana terus melangkah menaiki satu persatu anak tangga. Netra gadis itu langsung menangkap ke arah pintu kamar mamanya yang terlihat sedikit terbuka. Tanpa menunggu lama lagi, Ana langsung beranjak dan membuka secara perlahan pintu kamar mamanya.


Di dalam sana, Karlina tengah menangis tersedu-sedu. Sesekali dia memegang pelan tulang pipinya yang terasa nyeri akibat pukulan serta tamparan dari suaminya itu. Dia kini menatap ke arah pigura pernikahan yang tengah terpampang jelas di laci sana.


Bertahun-tahun pernikahan, semenjak suaminya selingkuh di belakangnya, rumah tangganya retak seketika. Bahkan Gara tidak jarang sekali main tangan kepada Karlina.


"Ma ...," panggil Ana, lirih.


Karlina yang menyadari kehadiran putri semata wayangnya pun spontan mengusap bekas air matanya.


"Enggak usah dihapus, Ma. Ana tau kalau Mama lagi nangis," ucap Ana tatkala melihat tangan sang Mama yang begitu cekatan menghapus bekas air mata di pipi mulusnya itu.


Ana kini beranjak mendekat ke arah Karlina. Tanpa menunggu lama lagi, gadis itu menghamburkan dirinya dalam dekapan mamanya.


"Kamu kenapa ke sini, Sayang?" tanya Karlina.


Mendengar pertanyaan sang Mama, kini membuat Ana mengingat tujuan awal dia menghampiri mamanya adalah untuk memastikan omongan mamanya yang sulit dipercaya tadi. Ana perlahan menarik dirinya seraya melepaskan dekapannya kepada sang Mama.


Dua pasang bola mata yang sama bulatnya itu saling bersitatap.


"Ana mau nanya sama Mama," ucap Ana yang langsung saja mendapatkan tatapan tanya dari Karlina. "Perihal Papa," sambung Ana.


Kali ini Karlina langsung membuang mukanya. Terlihat dari getaran pundak Karlina saat ini menunjukkan kalau dirinya tengah menangis sesenggukan. Ana menutup mulutnya. Dia mengira kalau dia salah dalam berucap hingga kembali membuat mamanya seperti saat ini.


"Ma ...." Ana perlahan menyentuh pundak sang Mama yang sudah tidak lagi bergetar. Hanya saja tangan wanita itu tergerak seolah tengah mengusap bekas air mata di sana.


"Maaf," ucap Ana penuh kehati-hatian. "Ana cuman mau mastiin kalau omongan Mama tadi saat di ruang utama itu ralat. Iya, kan, Ma? Papa enggak mungkin melakukan hal seburuk itu." Akhirnya pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Ana. Memang sudah kerap dia menyaksikan pertengkaran orang tuanya, tetapi dia baru kali ini mengetahui salah satu penyebab pertengkaran itu dari mulut sang Mama tadi.