
"Ini Non Ana, makanannya sudah siap. Bibi buatin mie mrecon kesukaan Aden." Bi Ijah menaruh dua mangkuk mie buatannya di meja makan. Dari aromanya nyaris membuat nafsu makan Ana semakin meningkat.
"Ini kesukaan Asril, Bi?" Ana bertanya. Dia kemudian mengucapkan terima kasih kepada Bi Ijah karena sudah memasakkannya saat ini juga.
Bi Ijah mengangguk, "Bener, Non. Aden suka banget mie ini. Malahan suka sekali jika Bibi memasakkannya level tinggi," jawab Bi Ijah.
"Oh iya? Suka pedes berarti, ya, Bi?"
Kesekian kalinya Bi Ijah mengangguk, "Suka banget, Non."
Ana manggut-manggut sembari tersenyum simpul. Sementara Asril yang baru saja keluar dari dapur pun kini langsung menuju meja makan, meletakkan kopi yang tadi dibuatnya di sana. Setelahnya, Asril terlebih dahulu duduk di kursi, kemudian menyambar makanan.
"Lagi bicarain gue, ya!" tuduh Asril. Namun, lelaki itu sudah fokus ke arah makanannya. Mulai menyantapnya dengan lahap.
"Lihat, Bi. Geer banget, kan, dia?" Ana menatap Bi Ijah mencari pembelaan, sementara Bi Ijah nyaris tertawa pelan. Dia kemudian berpamitan menuju ruangan belakang.
Kali ini di meja makan hanya ada Ana dan Asril saja. Keduanya sibuk dengan makanan masing-masing. Ana bahkan kalau saja disuruh menilai rasa masakan ini, maka gadis itu akan memberikan bintang sepuluh jika ada, sebab masakan Bi Ijah yang tengah dimakannya saat ini rasanya samgat luar biasa.
Bahkan, pedasnya juga terasa sekali seolah membuat kepala Ana akan mengeluarkan asap di sana.
"Enak banget sumpah, Ril," puji Ana. Dia masih melanjutkan makannya.
"Ini seolah gue sedang makan di restoran bintang lima. Bintang sepuluh deng, enak banget ini soalnya!"
Asril meledakkan tawanya. Namun, karena dia yang tadi sedang mengunyah, nyaris membuatnya terbatuk seketika.
"Nih, minum," ucap Ana seraya menyodorkan segelas air putih untuk Asril.
Sementara lelaki itu menerimanya kemudian meneguknya hingga tersisa setengah, "Thanks, Na." Asril kembali meletakkan minuman itu di meja.
Ana mengangguk
"Gue bilang juga apa, Na. Lo makan masakan Bi Ijah mah bakal lupa dengan yang namanya kenyang."
"Bener. Gue jadi kangen masakan Mama."
Raut Ana perlahan berubah drastis. Untung saja makanannya sudah terlebih dahulu habis. Sebab bisa-bisa Ana tidak akan memakannya lagi jika sudah berubah mood seperti ini.
"Seperti masakan Bi Ijah. Masakan Mama juga tak kalah enaknya," ucap Ana tersenyum pahit. Mengingat segala menu yang kala itu dimasakkan sang Mama. Selalu terasa nikmat bagi Ana. Bahkan makanan gosong pun akan terasa luar biasa jika buatan sang Mama.
Ana merindukannya.
Sementara Asril perlahan menumpuk mangkuk miliknya yang sudah habis isi di atas mangkuk milik Ana. Lelaki itu kemudian kembali menatap Ana.
Asril perlahan meraih kopinya, "Na." Dia memanggil, membuat Ana menatapnya dengan tatapan tanya.
"Gue cuma pengen balik lagi ke kehidupan gue yang dulu, Ril. Gue kangen banget masa lalu," sambung Ana lagi.
"Na, seperti yang lo bilang. Kehidupan dunia itu layaknya roda berputar. Ada saatnya di bawah, ada saatnya di atas. Hidup juga bagaikan aspal jalanan. Ada yang halus mulus, ada yang penuh keterjalan, bahkan tidak jarang membuat orang yang melewatinya kecelakaan di sana."
"Itu hidup, Na. Jika bagaikan aspal yang terjal, ibarat kita sedang mengalami ujian. Kalau kita tidak bisa berdamai dengan keadaan, maka alamat saja. Sebab kita bisa saja memilih jalan untuk berdamai dengan diri sendiri. Bunuh diri. Dengan itu memang berhasil menjauh dari ujian dunia yang didapati, tapi tidak di alam akhirat, Na. Kita hidup tidak untuk di dunia saja."
"Tapi gue capek, Asril. Gue capek!" Ana menatap nanar ke arah lelaki yang ada di hadapannya.
"Gue kangen masa-masa sebelum papa kenal orang ketiga."
"Lo enggak tau rasanya. Coba, deh, sekali aja lo jadi gue, Ril. Lo akan ngerasain begitu banyak keseruan. Keseruan berteman dengan tangis tiap malam. Keseruan mendengar banyak benda-benda pecah pun suara toxic yang berisik di rumah. Keseruan melihat drama gratis dari orang tua yang kerap kali bertengkar tiap harinya. Belum lagi keseruan perihal keadaan lingkungan di luaran sana. Dan ... masih ada banyak lagi. Coba aja, deh, jadi gue. Hidup seru di kehidupan gue."
"Apalagi sekarang gue udah enggak punya siapa-siapa lagi."
"Na. Lo ada gue. Gue lo anggap apa, sih? Gue temen lo, Na. Lo jangan beranggapan kalau lo enggak punya siapa-siapa."
"Enggak hanya gue, Na. Sebenarnya banyak. Banyak orang yang sayang sama lo, peduli sama lo. Hanya saja mereka kadang enggak nunjukin kalau mereka ada di dekat lo. Tapi diam-diam merhatiin lo."
Asril menatap kedua mata Ana yang begitu sendu. Sebenarnya kata 'mereka' pacuannya bukanlah orang lain, tetapi alibi Asril yang sebenarnya menyatakan bahwa subjek tersebut adalah dirinya sendiri.
Hanya saja akhir-akhir ini Asril perlahan terbuka, dengan menyangkut pautkan kata 'teman' agar Ana tetap mengingat dirinya, serta menganggap Asril ada.
"Dan perihal kehidupan yang tidak luput dari lalu-lalang rintangan. Lo tau, kan, kalau tidak selamanya langit itu mendung dan hujan?"
Ana mengangguk, pelan.
"Pasti akan berganti dengan awan yang cerah, bahkan diiringi dengan pelangi yang hadir dan menyapa indah di sana. Begitu juga dengan kehidupan, Na, kita tidak selamanya terus-terusan larut dalam kepahitan."
Ana tersenyum kecut. Gadis itu menghela napasnya. "Tapi itu tidak berlaku kalau langitnya terus-terusan mendung dan hujan. Begitu juga dengan kehidupan yang jika memang sudah terus-terusan berada dalam zona kepahitan."
Asril berdecak. "Kata siapa? Kita pasti bisa mendapatkan kebahagiaan itu, Na. Kita pasti bisa berpindah dari zona itu. Meski kita merasa enggak sekarang. Tapi akan bisa. Jangan pesimis begitu."
Perlahan, Asril mengaduk kopi yang tersaji di hadapannya.
"Sama halnya seperti kopi ini, Na. Kopi yang kalau tanpa gula akan terasa pahit, jika orang itu tidak suka dan tidak mau menikmatinya. Namun, apabila orang itu mau menikmatinya, kopi itu lambat laun akan terasa biasa di lidahnya. Terlebih lagi ketika gula ikut larut di sana. Pasti rasa yang awalnya biasa saja akan menjadi luar biasa."
"Begitu juga hidup, Na. Jika mendapat ujian dan kita tidak menerimanya, maka hidup itu akan terasa hampa dan bahkan menyakitkan. Namun, jika mulai berdamai dengan keadaan, perlahan bisa menerima dengan lapang dada, maka kita tentu akan merasa tentram, meski tidak jarang hati berteriak lelah, tetapi tetap mencoba pasrah."
"Hidup itu harus dinikmati, meski sebenarnya diri ini kadang ingin mengakhiri hidup sendiri." Asril mengakhiri kalimat seraya mulai meminum kopi buatannya.