About Cloudy Turning Bright

About Cloudy Turning Bright
Kumohon, Tetap di sini



Vero menyalakan ponsel yang tadi sempat dia matikan karena lemah daya, lelaki itu juga menyalakan data dan langsung muncul banyak panggilan ataupun pesan dari Asril dan juga Ana.


Bergegas, Vero langsung menghubungi Ana kembali.


"Sayang, angkat, please ...," ucap Vero. Berulang kali dia mencoba menghubungi kekasihnya, tetapi justru suara operator yang menjawabnya.


"Asril. Gue hubungi dia aja."


Tanpa menunggu lama lagi, Vero langsung menghubungi Asril. Dia juga tidak menaruh curiga apa-apa perihal Asril dan Ana yang menghubunginya di waktu yang bersamaan. Mungkin, mereka ada sesuatu penting yang ingin dibicarakan, begitu pikirnya.


Dua kali panggilan Vero ulang, tetapi lelaki itu tidak kunjung mengangkatnya.


Vero tidak menyerah begitu saja. Dia mencoba sekali lagi dan langsung terhubung dengan Asril saat ini.


Vero tersenyum, lega.


"Lo ada apa ngehubungi gue?" To the point, Vero langsung melontarkan pertanyaan tersebut.


"Maksud lo? Lo sedang bercanda apa gimana?" Vero dibuat terkejut seketika ketika mendapatkan kabar duka dari Asril. Bahkan, dia menyesal karena ponselnya mati, membuat Ana tidak bisa menghubunginya tadi.


"Gue segera ke sana."


Vero mengakhiri sambungan telepon dan bergegas mengambil kunci motor yang dia taruh di laci. Setelahnya, lelaki itu langsung beranjak keluar rumah, tidak lupa mengunci kembali pintu rumahnya, kemudian menuju tempat motor besarnya berada.


Vero memakai helm full face-nya dengan tergesa-gesa. Tanpa membuang-buang waktu, dia menyalakan mesin motor, kemudian melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata.


Vero harus segera menemui Ana.


***


"Sebentar lagi Vero sampai, Na," ucap Asril.


Ana menoleh. Kedua mata sembabnya menatap Asril dengan tatapan tanya, sedangkan Asril yang mengerti maksud dari Ana pun mengangguk, perlahan.


Benar saja, di posisi yang tidak jauh dari mereka, Vero melangkah menuju posisinya.


Lelaki itu langsung mendekat dan berjongkok. Dia terlebih dahulu mengusap batu nisan yang bertuliskan nama 'Karlina'.


"Tante ...," lirih Vero.


Karlina bukan lagi orang asing bagi Vero, melainkan dia sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Karlina begitu menyayangi Vero, sama halnya dengan menyayangi putri semata wayangnya.


Perlahan, Vero mendekat dan memberikan dekapan hangat untuk kekasihnya. Membuat Ana kembali menumpahkan segala isak tangisnya di sana. Seperti halnya tadi, dia membutuhkan Vero, dan saat ini Vero sudah berada di sisinya.


Ana terus meracau. Menceritakan semuanya kepada Vero. Sesuai dugaannya, kekasihnya itu semakin memberikan kehangatan untuk Ana. Dia semakin menenangkan kekasihnya. Membuat Ana, perlahan lega. Rupanya masih ada orang yang benar-benar sayang dengannya.


"Jangan sedih lagi. Kamu punya aku di sini," ucap Vero. Dia mengusap lembut rambut Ana, membuat kekasihnya itu semakin nyaman dalam dekapannya.


Dalam situasi seperti ini, tiba-tiba perut Ana berbunyi, membuat keduanya saling menarik diri dan memandang satu sama lain.


"Kamu belum makan?"


Ana terdiam. Bagaimana mungkin dia sempat makan, sedangkan kondisi membuatnya seolah menguras energi habis-habisan.


"Aku akan membelikanmu makanan," ucap Vero.


"Biar gue yang beli makanan. Lo antar Ana pulang saja. Enggak mungkin, kan, makan di kuburan?" Asril menyahuti, membuat Bimo, Vero, atau bahkan Ana kompak mengalihkan pandang ke arahnya.


Vero sejenak menatap Asril dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun, melihat kondisi saat ini, dia memilih diam dan menyetujui usulan dari lelaki itu.


Asril terlebih dahulu pamit kepada mereka, diikuti Bimo yang turut mengikuti Asril menuju tujuan.


Kali ini menyisakan Vero dan juga Ana. Keduanya pun sama. Mereka kompak pamit di makam Karlina.


"Ana sayang banget sama Mama," ucap Ana. Gadis itu menatap kosong ke arah makam mamanya.


***


"Lo serius beliin ini?" tanya Bimo seraya menatap sebungkus bubur ayam yang tengah dibawa temannya itu.


Asril mengangguk.


"Biasanya orang kalau males makan tuh buat ngisi perut yang keroncongan jadi terpaksa makan makanan yang ringan. Kek bubur ayam ini misalnya. Kan, lumayan, enggak usah ngunyah lama-lama."


"Serah lo dah." Bimo mengalah.


Keduanya kini kembali menaiki motor mereka masing-masing, kemudian melajukannya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Ana.


***


"Oh, iya, Sayang. Berhubung nunggu makanan dari Asril, aku baru ingat kalau masih nyimpan roti yang tadi pas di sekolah aku beli. Bentar, ya, aku ambil dulu."


Ana hanya terdiam. Menatap Vero yang sudah beranjak menuju motornya. Dia mengambil sebungkus roti cokelat kemudian kembali beranjak ke posisinya semula.


"Aku suapin, ya."


Ana hanya mengangguk, pelan. Dia masih enggan bersuara.


Sedang Vero, lelaki itu tersenyum manis seraya memberikan satu suapan roti kepada kekasihnya. "Jangan terus-terusan sedih. Bagaimana jika Tante Karlina melihat putri semata wayangnya sedih seperti ini? Dia pasti akan ikutan sedih," ucap Vero.


Ana terpaksa menunjukkan senyuman pahitnya. Benar apa yang dikatakan Vero. Mamanya paling tidak suka jika Ana bersedih. Mamanya ingin Ana selalu bahagia.


"Nah, gitu, dong senyum. Meski kepaksa, tapi cantiknya tetap ada."


Ana nyaris mencubit lengan lelaki itu, membuat kekasihnya meringis pelan.


"Vero," panggil Ana.


Vero mengangkat sebelah alisnya.


"Jangan pergi, ya." Ana bersuara dengan serak. Dia menatap Vero dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelahnya, Ana menyenderkan kepalanya tepat di pundak kekasihnya.


"Kumohon tetap di sini," ucap Ana lagi. Dia memejam sejenak, merasakan usapan lembut Vero di rambutnya, "Aku ingin terus-terusan merasakan ketenangan seperti ini."


Vero mengangguk dan tersenyum manis. Dia memberikan kedamaian kepada kekasihnya. Bahkan, tanpa mereka sadari, sedari tadi mereka menjadi objek pacuan dua pasang mata.


Asril yang berdiri di belakang pohon besar pun mulai mencengkram bungkus bubur ayam yang tengah dibawanya. Rahang lelaki itu tiba-tiba mengeras. Terlebih lagi melihat raut damai Ana ketika berada di dekat kekasihnya.


"Gue tau apa yang lo pikirin." Bimo bersuara, membuat temannya itu menatapnya dengan tatapan tanya.


"Lo tau apa?"


Bimo menghela, napas. "Asril ... Asril ... meski gue kenal lo enggak dari kecil, tapi bukan berarti ada kata mustahil jika gue enggak bisa nebak apa yang lo pikirin."


Asril mengangkat sebelah alisnya.


"Lo pasti kesel, kan, dengan si cowoknya temen lo. Padahal dia udah kurang ajar, tapi tanpa merasa bersalah, dia terus-terusan bikin temen lo damai dan nyaman."


Asril semakin heran dengan temannya ini.


"Lo peramal apa gimana?"


"CK! Gini-gini gue peka kali. Lo-nya aja yang ngeremehin gue."


Asril merotasikan bola matanya, malas. Namun, bagaimana pun juga, perkataan Bimo ini benar-benar adanya. Asril emosi melihat lelaki seperti Vero. Terlebih lagi, dia mempermainkan perempuan sebaik Ana.


Sejenak, Asril kembali lagi menatap ke arah posisi mereka. Ana terlihat begitu bahagia di dekat Vero. Senyuman yang sedari tadi belum terlihat, kini bebas Ana tunjukkan di sana.


"Gue harap, sih, cowoknya itu sadar dan tobat. Kasihan temen lo," ucap Bimo yang nyaris membuat Asril kembali menatap ke arahnya.