About Cloudy Turning Bright

About Cloudy Turning Bright
Tangkapan Gambar



"Lagian, demen amat ngebut-ngebut. Bosen sama nyawa lo?" tanya Asril dengan menatap datar ke arah Bimo.


Bimo tersentak, kemudian meledakkan tawanya. "Lagi enggak fokus soalnya enggak disuruh fokus sama ayang." Bimo menyahuti dengan kedua mata menatap ke arah langit. Terlihat dari kejauhan sana, rupanya terlihat jelas pergantian matahari yang berubah menjadi senja.


"Kek punya ayang aja lo!" Asril menyahuti sembari menepuk dahi Bimo. Lelaki itu kemudian kembali lagi beranjak menghampiri motornya berada.


"CK! Bikin sedih aja lo ngingetin soal ayang. Lo kek enggak tau aja ayang gue sedang macet di perjalanan sana belum. Jadi belum nyampe ke gue."


"Serah lo, lah, Bambang!"


Bimo meledakkan tawa, "Btw, Ril. Ternyata di sini senjanya ketara banget, ya," ucap Bimo kemudian. Dia juga kini beranjak menghampiri motornya berada. Motor yang tadi hampir saja menjadi korban tahanan warga, kalau saja Asril tidak datang menemui dirinya.


Asril mendongak sejenak. Benar juga apa yang dikatakan Bimo. Perlahan, mata lelaki itu menangkap sebuah objek yang tidak asing lagi di penglihatannya.


Asril memicingkan mata sejenak. "Salah lihat enggak, sih, gue?" Lelaki itu bermonolog seorang diri.


Tanpa menunggu lama lagi, Asril menaiki motornya dan melajukannya dengan pelan-pelan. Sesekali dia memerhatikan lajuan motor seseorang yang perlahan membelok ke arah kanan.


"Enggak salah lagi," gumam Asril lagi. Saat ini Asril meningkatkan sedikit kecepatan lajuan motornya. Bahkan, dia mengabaikan panggilan Bimo yang menggerutu memaki dirinya.


Set!


Tepat di dekat pohon besar, Asril menuruni motor. Dia sejenak melihat dari kejauhan dua manusia dengan gender berbeda itu berjalan bermesraan. Keduanya duduk di kursi taman yang ada di sana. Menikmati senja dengan sesekali seorang gadis itu bersandar di pundak cowoknya.


"Si brengsek berulah rupanya." Entah mengapa, tiba-tiba rahang Asril mulai mengeras. Bahkan, giginya kini mulai bergesekkan nyaris menimbulkan suara pelan.


Puk!


Sontak, Asril menoleh.


"Lo ngapain?" Bimo. Lelaki yang tadi mengikuti gerak-gerik aneh Asril pun kini menatap Asril dengan tatapan tanya. Dia sejenak melihat objek yang sedari tadi menjadi pusat perhatian Asril. Lelaki itu memicing sejenak.


"Malah lihat orang berduaan lagi," sambung Bimo kembali beralih menatap ke arah Asril.


Asril berdecak. "Gue enggak habis pikir sama dua manusia itu."


"Lo kenal sama mereka?" tanya Bimo. Dia kembali lagi fokus ke arah objek yang menjadi pacuan mereka berdua.


"Enggak cuma kenal. Kenal banget malah."


Bimo yang ada di sampingnya pun tidak berkata-kata. Dia memerhatikan Asril yang tengah berkutat dengan ponsel.


"Biar kapok lo," ucap Asril dengan mengambil beberapa tangkapan gambar.


Setelah dirasa cukup, Asril melihat sejenak hasil potretannya. Dia menghapus beberapa gambar yang blur secara tiba-tiba karena cara pengambilannya kurang tepat. Perlahan, Asril kembali lagi menatap ke arah posisi mereka. Namun, saat pergerakan lelaki yang menjadi objeknya perlahan menoleh ke arah posisinya, spontan, Bimo menarik tangan Asril dan mengajaknya untuk berjongkok di balik pohon kotak yang ada di depannya.


"Gila. Hampir aja," ucap Bimo.


Asril mengembuskan napasnya. Untung saja dia sudah menyimpan beberapa potretan yang hasilnya memuaskan.


"Ngapain, dah, malah sembunyi. Kan, masa bodo kalau tau," gerutu Asril.


"Busyet, dah." Bimo menepuk jidatnya sejenak. Dia kemudian turut beranjak menyusul Asril.


"Wah, keren banget, ya, lo jadi cowok. Pengecutnya makin kelihatan tau, enggak?"


Vero. Lelaki yang tadi menjadi objek Asril dan juga Bimo pun nyaris terkejut melihat dua lelaki yang kini datang tepat di hadapannya. Sama halnya dengan gadis yang tadi bersama Vero. Gadis itu juga tak kalah terkejutnya. Bahkan, dia menutupi wajah dengan tas slempang, ketika Asril menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Seandainya Ana tau manusia kayak kalian berdua." Asril kembali berujar. Hal itu berhasil membuat pancingan kepada Vero yang kini sudah bangkit dan menunjukkan ekspresi menantang.


"Gampang. Udah tersimpan semua. Pake kamera real. No edit-edit." Asril menunjukkan beberapa foto yang tadi baru saja diambilnya.


Kedua tangan Vero mengepal erat. Rahangnya turut semakin mengeras. Dia berusaha mencoba mengambil alih ponsel Asril. Namun, sia-sia.


"Hapus, enggak!" gertak Vero.


Asril tertawa sinis.


"Bener-bener kurang ajar lo!" Bersamaan dengan kata yang terlontar dari mulut Vero, lelaki itu langsung melayangkan satu bogeman mentah di pipi yang sama saat tadi di sekolah mereka berkelahi.


"Dih, main tangan!" Kali ini Bimo yang bersuara. Bahkan, dia sudah bersiap untuk memberi pelajaran balik kepada Vero, tetapi Asril langsung saja mencegahnya.


"Ponsel gue bunyi," ucap Asril.


Bunyi notifikasi pesan dari aplikasi hijau membuat Asril sejenak menatap ke arah tampilan atas ponselnya. Pesan dari nomor tidak terdaftar di kontaknya. Tanpa menunggu lama lagi, dia kemudian menekan notifikasi yang langsung mengantarkannya ke room chat dengan nomor asing tadi.


[Gue tadi minta nomor lo di anak IPS. Gue mau ngabarin, kalau tadi Suster bilang, Mama masih ditangani. Gue takut terjadi apa-apa sama Mama.]


Asril yang membaca pesan itu pun langsung bisa menebak kalau orang yang mengirim pesan ini adalah Ana. Dengan secepat mungkin, Asril mengetikkan balasan.


[Gue segera ke sana.] Satu kalimat itu Asril klik tombol send. Dia bangkit dan menaiki kembali motornya.


"Mending kita cabut. Karena yang jelas, sedalam apa pun menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga. Jadi santai aja, kalau saat ini belum saatnya, pasti akan ada waktunya," ucap Asril.


"Rasain, tuh!" Meski belum sepenuhnya tahu permasalahnnya, tetapi Bimo turut membela temannya.


"Lo tau apa, sialan! Kenal aja enggak!" geram Vero.


"Amit-amit kenal manusia model kek elo!" sahut Bimo. Bahkan dia juga menunjukkan raut menyebalkan andalannya.


Vero langsung mendekat seraya menarik kerah leher kemeja lelaki yang ada di depannya. "Lo kalau ngomong dijaga!"


"Terima kasih atas perhatiannya. Tapi karena omongan gue sudah mandiri, jadi enggak butuh lagi penjagaan." Bimo dengan tingkat kesantaiannya langsung melepas kedua tangan Vero yang menarik kerah leher kemejanya.


Asril meledakkan tawanya. Kadang dia bertanya-tanya kenapa punya teman random seperti Bimo, tetapi tidak masalah juga, karena Bimo juga teman yang pantas dianggap teman dari kebanyakan manusia yang hanya menyandang status teman, tetapi karakteristiknya bertolak belakang.


Sedang Vero kembali dibuat emosi yang tiada tara. Apalagi ketika Asril dan temannya yang langsung beranjak begitu saja menuju motor mereka seraya kompak melajukannya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Sialan! Lihat saja nanti!" sahut Vero dengan intonasi yang tinggi. Meski dia tahu kalau Asril dan temannya sama sekali tidak peduli, tetapi setidaknya Vero mengingatkan mereka, kalau dirinya tidak akan pernah main-main dengan ucapannya.