About Cloudy Turning Bright

About Cloudy Turning Bright
Mineral



Sudah terhitung empat hari meninggalnya Karlina nyaris membuat Ana semakin merasakan kesepian dan hampa. Perihal Gara, lelaki itu belum juga memunculkan batang hidungnya di depan Ana. Membiarkan putrinya itu tinggal sendiri di rumah besar nan mewah.


Ana juga tidak lagi memperdulikan papanya. Bagi Ana, Gara adalah lelaki pembunuh dan penghianat.


Ana mengembuskan napas mengamati lalu-lalang siswa-siswi yang baru berdatangan.


"Ana. Lo jangan sedih terus-terusan. Kita pengen lo ceria seperti dulu." Dania bersuara dan mendapat anggukan dari Maya. Keduanya memang hampir setiap hari berkunjung atau bahkan menginap di rumah Ana. Menemani sahabatnya dan berusaha membuat Ana agar kembali ceria.


Meski semua itu tidak terkabul begitu saja. Ana belum bisa ceria seperti dahulu kala.


Ana kesekian kalinya mengembuskan napas. Dia masih belum semangat beraktivitas. Kalau saja hari ini bukan waktu tanding Vero basket, pasti Ana lebih memilih terlebih dahulu di rumah. Ana tidak mau dirinya tidak bisa fokus ketika masuk sekolah seperti saat ini.


Namun mengingat ada prioritas, Ana akan memaksakan diri. Dia ingin melihat Vero tanding dan menyemangati kekasihnya itu.


"Gue enggak sedih, kok, cuman kurang semangat aja," sahut Ana. Dia tersenyum samar menatap Maya dan juga Dania secara gantian.


Kedua sahabatnya langsung menghamburkan tubuh mereka. Memberikan dekapan hangat untuk Ana. Mereka saat ini berada di tempat penonton yang disediakan untuk menyaksikan tanding basket.


"Nah, itu dia Vero!" Dania berseru ria mendapati Vero yang sudah menampakkan batang hidungnya. Lelaki itu mendekat ke posisi mereka, membuat Ana menarik kedua sudut bibirnya, membentuk senyuman nyaris sempurna.


"Nah, gitu, dong, giliran ada Vero senyum-senyum. Berarti Vero harus dua puluh empat jam di dekat Ana, biar bisa bikin Ana terus-terusan senyum kayak gini." Maya menimpali.


Dania mengangguk seraya mengacungkan sejenak jempolnya. Gadis itu terlebih dahulu menyeruput lemon tea yang tadi dia pesan di kantin ketika baru istirahat, "Enggak salah lagi!" sahutnya.


Vero terkekeh. Dia kali ini berjongkok dan mendongak menatap wajah kekasihnya. Lelaki itu menunjukkan senyum manisnya.


"Apa, sih, senyum-senyum?" tanya Ana.


Namun, Vero masih enggan menjawab. Dia tetap menunjukkan senyuman hingga nyaris membuat Ana mencubit hidungnya, gemas. Vero meringis, pelan.


"Sakit, Sayang," gerutu Vero.


"Lagian, enggak ada mendung, enggak ada hujan, tiba-tiba senyum kayak orang kesetanan."


Vero membelalak, "Kan, biar kamu ikutan senyum. Aku mau lihat senyum kamu. Biar makin semangat sebelum tanding. Coba tunjukin senyumnya."


Ana menggeleng.


"Ya udah kalau gitu aku enggak semangat, nih."


"Senyum aku mahal."


"Mau dibayar pakai apa?" goda Vero.


"Mau dibayar pakai rasa sayang."


Mendengar jawaban dari Ana, nyaris membuat Maya dan juga Dania pura-pura batuk disengaja.


"Udah, ke sana buruan. Nanti telat, loh. Tuh, temen-temen kamu pada ngumpul."


Kali ini Vero yang menggeleng.


"Enggak, deh. Sebelum lihat senyum kamu, aku tetap di sini."


Ana menatap datar ke arah kekasihnya, sedangkan yang ditatap malah menunjukkan cengiran tanpa dosa. Perlahan, Ana menghela napas. Dia mengalah saja. Gadis itu mulai menunjukkan senyuman paksa.


"Dih, enggak ikhlas," gerutu Vero.


"Sayang, denger, ya. Perihal ikhlas ... tidak harus bilang ikhlas. Sebab sejatinya ikhlas itu letaknya di hati. Bukan diumbar sana-sini."


Ana mengembuskan napas, "Untung ... sayang," ucapnya. Setelah itu dia langsung menunjukkan senyuman manis di hadapan kekasihnya. Membuat lesung pipinya nyaris kelihatan sempurna.


Vero turut tersenyum. Bersamaan dengan teman-temannya yang memanggil dirinya dari kejauhan karena tanding akan segera dimulai, lelaki itu mengubah posisinya, membungkuk, kemudian mengecup kening Ana sekilas. Dia kemudian mengusap lembut pucuk kepala kekasihnya itu, "Aku ingin kamu tetap tersenyum seperti ini. Aku menyayangimu."


Ana hanya diam mematung, tanpa menyahuti kata apa-apa, sampai kekasihnya itu sudah menjauh dan berada di lapangan sana.


"Gerah!" Dania berujar seraya membuat kedua telapak tangannya menjadi kipas.


Kali ini membuat Ana menoleh ke arah sahabatnya itu.


"Padahal ini, tuh, enggak panas, bisa gerah gini," gerutu Dania. Bahkan dia memaju-majukan mulutnya nyaris membuat Ana tertawa.


Dania mendekatkan tubuhnya kepada Ana, "Enggak hanya Vero, Na. Tapi gue juga ingin lo tetap senyum dan tertawa bahagia seperti ini. Gue juga sayang sama lo. Lo udah bukan lagi sahabat gue, melainkan udah seperti saudara kandung sendiri," ucap Dania.


Ana semakin terharu mendengarnya. Belum juga menyahuti perkataan dari sahabatnya, suara peluit di lapangan sana sudah membuatnya harus fokus menatap objek di depan.


Para tim Vero dan juga Asril sudah berhamburan menjalankan tugas mereka masing-masing.


Pandangan Ana tidak teralihkan ke mana saja. Dia fokus menatap kekasihnya yang begitu lincah memainkan bola basket dan berhasil memasukkannya ke dalam ring sudah terhitung dua kali. Padahal, tanding baru saja dimulai, tetapi Vero terlihat begitu lihai.


Namun, kali ini pandangan Ana teralih ke arah Aril yang berhasil mengambil alih bola basket. Lelaki itu terlihat sama lincahnya dengan Vero.


"Yey!"


Bersamaan dengan Aril yang berhasil memasukkan bola ke dalam ring, teriakan dari siswa-siswi kelas IPS nyaris begitu menggelora di lapangan basket.


"Tenang, baru satu banding dua," ucap Maya.


Dania mengangguk, membenarkan.


Mereka kembali fokus ke arah lapangan. Para pemain seolah tidak kenal lelah sama sekali. Mereka begitu lihai dan lincah untuk mendapatkan point.


Tepat di waktu yang sudah ditentukan, peluit kembali dibunyikan. Memberi kode para pemain terlebih dahulu istirahat sebelum kembali melanjutkan permainan untuk menentukan tim siapa yang menang.


Ana dan juga kedua sahabatnya langsung berlarian menuju di mana para tim Vero istirahat. Di jarak yang tidak jauh dari posisi mereka, di sana ada Asril dan juga timnya yang tengah menyeka keringat.


"Ini mineralnya!"


Tanpa janjian atau terlebih dahulu dirundingkan, dua kata itu kompak dilontarkan Ana dan juga Maya. Membuat Dania dan juga Vero saling heran dengan kekompakan mereka.


Ana juga tidak kalah herannya. Dia sejenak menatap mineral Maya yang tersodor di hadapan kekasihnya, setelahnya, dia beralih menatap Maya dengan tatapan tanya.


Maya perlahan menurunkan mineral yang tadi dia sodorkan.


"Sorry." Maya berucap, "Gue refleks karena ngelihat Vero dan timnya terlihat begitu kehausan. Jadi gue ngasih mineral ini, siapa tau timnya Vero ada yang butuh dan mau meminumnya."


Ana terdiam sejenak. Sesaat kemudian, dia mengangguk dan tersenyum. "Enggak pa-pa. Sini, biar Vero yang kasih ke mereka."


Maya kembali menyodorkan mineralnya yang langsung diterima oleh Ana, "Thanks, Na."


Kesekian kalinya Ana mengangguk. Dia kemudian terlebih dahulu beranjak bersama Vero menghampiri tim lelaki itu. Keduanya sesekali bercengkrama dan bercanda ria.


Dania sejenak menatap ke arah Maya, begitu juga Maya yang kini menatap ke arahnya.


"Lo ngapain lihat gue kayak gitu? Kesambet lo?" tanya Maya, tetapi Dania tidak langsung menjawabnya begitu saja.