
"Ril, ke sini, lo ngapain masih di situ. Hujan deras lo enggak lihat?" gerutu Ana ketika melihat Asril yang masih stay di tempatnya semula. Bahkan, dia juga membiarkan air hujan menetes membasahi kakinya.
"Hujannya enggak goib, Na. Ya kali enggak lihat." Asril menyahuti. Namun, tatapannya tidak menoleh ke belakang untuk menatap Ana.
"Ya elo ngapain masih di situ coba? Deres banget ini!"
Asril tidak menyahuti. Bahkan, dia langsung seolah seperti monyet yang tengah bergelantungan di rumah pohon. Asril memegang erat tali kuat yang memang siap sedia berada di sana, kemudian dia merosot begitu saja.
Sementara Ana yang melihat itu spontan terbelalak, panik. Dia bergegas melangkah ke depan guna untuk melihat ke bawah.
Namun, justru lelaki yang Ana panikkan membuatnya semakin kesal.
Asril di bawah sana menunjukkan cengiran tanpa dosa seraya melepas tali yang tadi dia jadikan sebagai sarana turun ke bawah.
"Gila lo!" gerutu Ana.
Asril sejenak meraup wajahnya yang sudah terbasahi air hujan. Dia juga rada menyipitkan mata, sebab percikan air hujan membuatnya sedikit susah mendongak ke atas.
"Gue gila karena lo enggak peka, Na!" Kalimat itu spontan terucap di bibir Asril. Lelaki itu kemudian beranjak menengah di halaman belakang rumahnya. Membiarkan Ana yang menatapnya dengan penuh tanya.
"Cemen lo, Na, masih di sana. Takut air hujan dan jadi mermaid?" tantang Asril.
Mendengar hal itu, Ana langsung berdecak dan membulatkan mata. Enak sekali Asril mengatai dirinya cemen. Dia akan menunjukkan kalau Ana tidak seperti itu.
"Awas aja, gue kejar lo!"
Tanpa mempedulikan sahutan dari Asril, Ana langsung membalikkan tubuh dan bergegas menuruni anak tangga rumah pohon yang sudah terasa licin.
Dia juga masih berhati-hati agar tidak jatuh di sana.
Di saat sudah menapaki anak tangga terakhir, Ana langsung berlari menghampiri posisi Asril. Dia menghajar lelaki itu yang tentunya membuat Asril spontan menjauh dan Ana kembali mengejarnya.
Ana yang kwalahan nyaris terjatuh karena tidak bisa menyeimbangkan diri di halaman belakang rumah Asril yang sudah terasa licin. Namun, Asril yang sudah melihatnya, dia dengan ekstra kecepatan menangkap Ana.
Degup jantung Ana berdetak saling bersahutan. Dia tidak tahu kalau saat ini Asril mendengar suara detak jantungnya atau tidak. Deru napas Ana juga tidak beraturan.
Kedua mata mereka saling bersitatap. Terjeda, tanpa ada pergerakan di antara tubuh keduanya.
Mereka saling memandang satu sama lain, jarak mereka yang dekat membuat Ana bisa merasakan deru napas Asril yang juga memburu, tetapi kehangatan napas itu tidak terasa sebab dinginnya hujan sekarang.
Perlahan, wajah mereka terasa semakin dekat, membuat degup jantung Ana semakin saling bersahutan. Ana memejam.
Di tengah hujan deras saat ini, mungkin ini terkesan sweet jika dalam tontonan drakor atau film remaja yang membuat para penonton baper tingkat dewa. Namun, hal itu tidak berlaku kepada mereka, terutama Asril yang justru menoyor kening Ana pelan, membuat sang empunya itu membuka mata dan terbelalak.
"Lagi ngebayangin apa lo, heh, sampai merem gitu. Pasti ngebayangin gue lagi mau nyium lo?" tebak Asril.
Nendengar hak itu spontan kedua pipi Ana memerah. Namun, bukan Ana jika tidak menyembunyikan rasa malunya.
"Gila! Ya kali. Itu pikiran lo! Lepasin!" pekik Ana, membuat Asril spontan melepaskan dirinya begitu saja.
"Argh!" Ana merintih kesakitan sembari memegang pantatnya yang terasa sakit.
Sementara Asril tersentak. Dia langsung mendekati Ana dan berjongkok di sana, "Lo enggak pa-pa, Na?"
Pertanyaan bodoh itu membuat Ana semakin kesal, "Lo enggak lihat gue kesakitan, ha?! Ngeselin lo!"
Ana spontan menoyor kening Asril hingga membuat sang empunya itu menggerutu ke arahnya.
"Lo yang ngelepasin gue tadi!"
"Lah, nyalahin gue. Kan, lo yang minta dilepasin? Salah gue di mana? Gue udah matuhin permintaan lo. Eh, pas jatuh malah gue diomelin." Asril mengembuskan napas. Dengan tampang tanpa dosa, dia bangkit dan berkacak pinggang. Menatap Ana, dengan bibir yang tengah menahan tawa.
"Tapi enggak gitu juga! Lo mah enggak ada romantis-romantisnya jadi cowok! Gue kasihan sama cewek lo entar kalau diperlakuin kayak gini. Momen hujan mah romantis dikit napa."
Panjang lebar Ana mendumal. Namun, Asril malah mencibir dengan raut menyebalkan. Perlahan, Ana bangkit kemudian mencubit lengan Asril.
"Sakit, Ana!"
Ana gantian mencibir tanpa menyadari kalau Asril sudah mendekat ke arahnya. Mereka sudah semakin dekat. Hingga Asril sedikit mencondongkan tubuhnya, dan ....
Cup!
Asril mengecup bibir Ana sekilas kemudian menyeringai ketika menatap Ana yang cengo tiba-tiba.
"Romantis kan itu?"
Seolah ada obat yang membuat Ana diam seribu bahasa, gadis itu terdiam tanpa mengeluarkan sahutan apa-apa. Kedua pipinya bahkan kembali memanas membuat Ana memegangnya sejenak.
Dengan langkah santai, Asril meninggalkan Ana yang masih memaku di tempat. Hingga beberapa detik, Ana tersadar. Dia memegangi sejenak bibirnya.
"Ril, tanggung jawab! Bibir gue lo apain barusan!" pekik Ana.
Sementara Asril sudah duduk di ayunan yang ada di sana. Dia meledakkan tawanya ketika melihat dari kejauhan, Ana yang masih terus menggerutu di tempatnya.
Bahkan, Asril mengamati Ana yang terlihat semakin menggemaskan ketika seperti itu.
"Perasaan gue salah mulu dah, Na. Tadi bilang enggak romantis, dikasih kiss malah ngedumal," sahut Asril. Dia mengayunkan ayunan yang dia duduki dengan pelan-pelan.
"Enggak waras lo. Sakit." Ana menyahuti. Dia kemudian menerjang hujan menuju posisi Asril berada.
Embusan angin kencang semakin membuat hawa dingin di sekitar mereka. Ana yang sudah duduk di ayunan samping Asril juga semakin mengginggil.
"Ini momen pertama lo main hujan-hujanan apa udah sering, Na?" tanya Asril, tetapi tatapannya masih menatap ke arah depan.
"P--pertama."
Mendengar sahutan terbata dari Ana membuatnya perlahan menoleh. Lelaki itu baru menyadari kalau Ana mengginggil dan wajahnya terlihat pucat sekali. Bahkan kedua telapak tangannya juga sudah memutih pucat.
"Na, lo--wait!"
Asril panik, dia bergegas merobek daun pisang yang ada di belakangnya, kemudian menjadikannya sebagai payung untuk sementara.
Dia membangkitkan tubuh Ana. Merangkulnya seraya melangkah dengan daun pisang yang menjadi penutup atas mereka.
"D--dingin." Ana bersuara lirih. Membuat Asril semakin panik. Dia langsung menompang tubuh Ana menggunakan kedua tangannya. Dia berlari dengan menjaga keseimbangan hingga mereka sampai di pintu belakang rumah Asril.
Asril perlahan menurunkan Ana, dia berlari cepat menuju kamarnya untuk mengambil handuk, kemudian kembali ke tempatnya semula.
Asril membalut tubuh Ana dengan handuk dan mendekapnya, kemudian kembali menuntunnya masuk ke dalam rumah.