
Hanya kisaran membutuhkan waktu dua puluh menitan mereka sudah berada di parkiran rumah sakit. Asril menuruni motornya, begitu juga sama halnya dengan Bimo.
Keduanya melangkah memasuki rumah sakit. Dari posisi yang tidak terlalu jauh, terlihat Ana tengah mondar-mandir sembari sesekali mengginggit jarinya. Raut wajah gadis itu juga terlihat begitu cemas. Pun, Mang Tijo yang berdiri cemas di samping kursi tunggu.
"Kita ke sana." Asril bersuara kepada Bimo.
Bimo mengangguk. Mengikuti langkah Asril menuju depan ruang UGD.
"Na," panggil Asril.
Ana yang mendengar panggilan itu pun sontak menoleh. "Ril. Lo pas keluar tadi lihat Vero enggak? Dia gue hubungi enggak bisa." Ana langsung saja bersuara. Dia menatap Asril, menanti jawaban dari lelaki itu.
"Padahal, gue udah percaya diri buat curhat dan terbuka kepada Vero. Gue ingin dia di sini ada buat gue." Ana menyeka sejenak buliran beningnya. "Gue butuh Vero ...," sambung Ana lagi dengan suara parau.
Bimo yang mendengar itu pun sontak menatap ke arah Asril yang hanya terdiam menatap Ana. Bahkan, dia kembali teringat perihal dua manusia yang tadi sempat mereka jadikan sebagai objek pada saat di taman.
"Ril. Lo denger gue, kan?" tanya Ana sembari menggoyah-nggoyahkan lengan Asril.
Asril mengangguk. Dia memang mendengar setiap kata yang sedari tadi Ana lontarkan. Asril terdiam bukan karena dia melamun, melainkan karena Asril belum tahu harus jujur bagaimana kepada Ana.
Dia tidak tega melihat keadaan Ana yang kemungkinan akan semakin sedih nantinya.
"Gue tadi jemput Bimo---temen gue. Terus kita ke sini."
"Tapi lo enggak lihat Vero? Siapa tau dia lagi jalan atau apa gitu," tanya Ana lagi. Dia begitu antusias menanyakan keberadaan kekasihnya, sedang Vero---lelaki yang ditanyainya malah sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan yang tengah dirasakan Ana.
Asril berdecak dalam hati. Dia semakin tidak habis pikir dengan Vero yang melakukan hal seperti itu, terlebih lagi di saat Ana dalam masa sedih dan benar-benar menginginkan dia ada di dekatnya.
"Lo tenangin diri dulu, Na." Asril tidak menjawabi pertanyaan Ana. Lelaki itu tidak mau berbohong. Jadi, lebih baik dia berusaha menenangkan dengan sedikit perlahan memindahkan topik saat ini.
Perlahan, terdengar suara pintu UGD terbuka. Hal itu tentunya membuat banyak pasang mata yang ada di posisi UGD beralih menatap ke arah pintu tersebut.
Segera, Ana berlari mendekat ke arah Dokter pun dua Suster yang kini keluar dengan menatap secara bergantian ke arah para rombongan pasien.
"Keluarganya pasien ada?" tanya Dokter tersebut sembari menatap secara bergantian ke arah mereka berempat.
Secepat mungkin Ana langsung mengacungkan jari telunjuknya. "Saya putrinya." Ana bersuara, membuat banyak pasang mata kompak beralih ke arahnya.
Perlahan, Ana kembali menurunkan tangannya. Dia menatap ke arah Dokter, menunggu sahutan yang keluar dari bibir wanita yang bisa dikatakan seusia mamanya itu.
Terlihat sudut bibir Dokter itu tertarik membentuk senyuman simpul. "Ariana Putri Anggara?" Dokter itu memastikan dan kali ini langsung mendapatkan anggukan dari Ana.
Mendengar hal itu nyaris membuat kedua sudut bibir Ana yang tadi tertarik membentuk senyuman sempurna pun kini langsung luntur kembali. Ana menggeleng. Matanya yang tadi mengembun berhasil mengeluarkan air mata. "Mama," ucap Ana.
Dokter itu hanya tersenyum menahan rasa sedih di hatinya. Dia mati-matian mencoba menyembunyikannya. Terlebih lagi ketika mengingat permintaan sang pasien dengan nada yang bergetar dan terjeda-jeda. Meminta untuk menyembunyikan riwayat penyakit yang merenggut nyawanya ketika tadi Dokter memeriksa dan mendapati penyakit mematikan itu di sana.
'Tolong. Saya tidak mau ditangani untuk diobati penyakit saya. Kalau seandainya saya meninggal saat ini pun saya terima, asalkan saya bisa terlebih dahulu melihat dan memeluk putri saya. Setelah itu, saya ingin istirahat dengan tenang, saya tidak mau terus-terusan membuat putri saya merasakan penderitaan.'
'Saya tidak pernah menceritakan tentang penyakit saya kepada keluarga saya. Baik suami, atau putri saya sendiri.'
'Saya ingin putri saya bahagia bersama orang-orang yang sayang dengannya. Karena saya tahu, meski ditangani sekali pun, saya akan tetap sakit-sakitan. Dan saya tidak mau hal itu semakin membuat putri saya banyak pikiran mengenai kondisi saya.'
'Meski pada dasarnya saya juga tahu, seorang anak pasti ingin hidup dengan orang tuanya. Tetapi bagaimana dengan saya yang justru jika hidup akan semakin menambah penderitaan putri saya?'
'Meski saya juga tahu jika hampir semua anak sama sekali tidak menganggap orang tuanya adalah bahan penderitaan, bahan beban, tetapi saya sebagai orang tua tetap tidak mau kalau putri saya merasakan hal yang seperti saya katakan tadi.'
'Jadi, saya mohon sama Dokter, rahasiakan ini, meski saya sudah meninggal nanti.'
"S-saya boleh masuk, Dok?" tanya Ana penuh antusias hingga membuat ingatan Dokter itu terbuyar seketika.
Dokter itu mengangguk. Dia mempersilakan Ana ataupun para rombongan pasien yang lainnya masuk ke dalam. Setelahnya, Dokter itu pamit untuk kembali bertugas, diikuti para Suster yang tengah berjalan di belakangnya.
Cklek!
Perlahan, Ana membuka pintu ruang UGD. Bahkan, dia nyaris mengabaikan Asril atau bahkan Mang Tijo yang masih ada di luar. Saat ini pikiran Ana adalah mamanya. Dia sudah sangat bahagia dan tidak sabar bertemu dengan Karlina.
Ana mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruang UGD. Terlebih lagi ke arah posisi mamanya terbaring di posisi yang tidak jauh darinya. Dengan berbagai macam alat-alat medis menempel di tubuh sang Mama.
Ana melangkah dengan senyuman yang mengembang.
Saat berada di posisi mamanya terbaring. Gadis itu tidak langsung memanggil Karlina yang tengah memejam saat ini. Ana perlahan mengamati wajah mamanya terlebih dahulu. Wajah yang kerap menjadi pelampiasan amarah Gara ketika keduanya sedang bertengkar.
Ana mengembuskan napasnya. "Papa jahat banget sama Mama." Ana bergumam, lirih.
Ana sedari tadi masih menatapi wajah mamanya. Sesekali dia menyeka buliran bening yang entah sejak kapan keluar tanpa permisi begitu saja. Dia bahkan sempat menutup mulutnya. Tidak mau suara isaknya keluar dan sampai membuat mamanya bangun karenanya.
Perlahan, jari jemari Karlina tergerak. Ana yang melihat itu pun langsung menarik kedua sudut bibirnya hingga nyaris membentuk senyuman sempurna. Gadis itu semakin mendekat ke arah posisi mamanya. Memegang tangan lembut milik sang Mama dan menempelkannya tepat di pipi Ana.
"Ma, Ana di sini."
Bersamaan dengan Ana yang bersuara, Karlina perlahan membuka mata. Wanita itu sejenak menatap ke arah depan, setelahnya, dia mengalihkan pandang ke arah Ana.