
Para pemain terus saja fokus dengan aksi mereka masing-masing. Ana tetap berusaha menyemangati Vero. Terlebih lagi ketika mendapati point tim Asril selisih satu lebih tinggi daripada point Vero.
Sementara Vero membiarkan anggotanya mengambil alih bola basket dan memasukkannya ke dalam ring.
Vero mendekati Asril. Lelaki itu menyodorkan tubuhnya mendekat di telinga saingannya.
"Hanya selisih satu. Lo jangan berharap tinggi dulu."
Vero kembali menarik dirinya. Sebelum mendengar sahutan dari Asril, lelaki itu terlebih dahulu beranjak, kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda.
Asril menyeringai. Ini membuatnya lebih semangat dalam memenangkan pertandingan.
"Vero, semangat!"
Teriakam dari Ana nyaris membuat Asril menoleh ke arah sumber suara. Gadis itu tersenyum lebar kepada Vero yang juga tengah menatap ke posisinya.
Asril semakin merasa kasihan sekaligus juga sedih melihat Ana. Dia sudah luka dalam keluarga, dan ini juga Asril tidak akan membiarkan Vero mempermainkan dirinya.
Asril tidak mengapa jika Vero menjadi kekasih Ana. Asal, lelaki itu sama sekali tidak mempermainkan perasaan perempuan. Apalagi Ana benar-benar sayang dengannya.
Asril bertindak seperti itu bukan karena dirinya menganggap Vero adalah saingan untuk mendapatkan Ana. Meski Asril sudah terlebih dahulu menyimpan rasa dalam diam, enggan untuk mengungkapkan.
SMA. Awal pertemuan ketika masa perkenalan siswa-siswi menjadi momen terindah ketika Asril bertemu dengan Ana. Mengamati keuletan gadis itu dalam diam. Keberaniannya, dan juga keistimewaan lainnya yang ada pada diri Ana.
Dahulu, sempat Asril mau mengungkapkan perasaannya ketika mereka menginjak bangku kelas dua SMA. Namun, semua itu terurung, di saat kabar menyebar satu sekolah yang menyatakan bahwa Ana dan Vero menjalin hubungan.
Mereka juga tidak jarang mendapatkan apresiasi dari teman-temannya, karena menjadi pasangan serasi yang di mana keduanya sama-sama berbakat baik dalam bidang edukasi, atau keahlian lainnya yang mereka miliki.
Asril memilih memendam saat itu. Bukan lagi hancur, tetapi melihat raut bahagia Ana bersama kekasihnya itu sudah lebih dari cukup membuat Asril bersyukur.
Bahagia orang disayanginya juga termasuk kebahagiaan yang tiada tara.
Namun, kali ini justru Vero yang menghianati semuanya.
"Asril, awas!"
Suara teriakan dari salah satu siswa nyaris membuatnya tersentak dari lamunan. Terlebih lagi benturan bola basket tepat di kepala yang membuatnya nyaris hampir hilang keseimbangan.
"Argh!" Asril mengerang. Sementara para tim-nya langsung berhamburan mendekat.
"Lo sengaja, kan, ngelempar itu ke Asril? Lo ngambil kesempatan itu, ha?" Tio---salah satu dari tim Asril langsung mendekat tidak terima ke arah gerombolan tim Vero. Lelaki itu menunjukkan tantangan kepada lelaki yang bernotabene menjadi ketua tim itu.
Vero menyeringai, "Sengaja? Lo enggak punya mata apa gimana? Salahin aja ketua lo malah ngelamun enggak jelas! Udah gue bilang sejak lama, dia itu enggak pantas! Tampangnya aja meragukan, apalagi keahliannya, sudah pasti kita yang bakal menang."
"Udah, deh. Lagian, lihat point yang kita dapat di tengah waktu yang ditentukan. Apa kurang jelas kalau itu mengetahui siapa yang kalah dan menang?" Vero perlahan mendorong tubuh lelaki di hadapannya itu.
Tio tanpa banyak mengeluarkan kata, dia langsung memberikan bogeman kepada Vero. Membuat satu lapangan gempar. Para tim keduanya berhamburan saling membalas perlawananan ketidakterimaan.
Pun sama halnya dengan Asril yang kini turut memberikan pelajaran untuk Vero yang baru saja sengaja memberi serangan untuknya.
Panitia yang ditugaskan pun berusaha melerai, sementara siswa yang ada di area lapangan juga turut menjadi tengah-tengah di antara mereka. Berusaha melerai, seperti halnya yang dilakukan sang panitia.
"Vero, Asril! Berhenti!" Ana turut melerai di antara tetangga dan juga kekasihnya. Bahkan dia spontan berada di tengah-tengah antara kepalan Vero dan juga Asril yang dilayangkan, tetapi terjeda tiba-tiba.
Perlahan, Vero dan Asril kompak menurunkan kepalan tangannya.
"Kalian itu kenapa, sih. Menjadi saingan dalam suatu tim bukan berarti membuat kalian harus terus-terusan berusaha menjatuhkan satu sama lain! Menjadi saingan sehat, bisa enggak!"
Sementara Maya dan Dania yang masih di area para siswi kini beranjak mendekat ke posisi Ana.
"Na, lo enggak pa-pa?" Dania bertanya panik.
Ana menggeleng, "Otak mereka yang sedang kenapa-kenapa."
Panitia dan para siswa yang sudah berhasil melerai kini membubarkan mereka. Apalagi kali ini kepala sekolah turut hadir dan menyuruh mereka berada di ruangannya.
Mereka akan terima risiko. Sebab, memang sebelumnya hal itu murni keinginan mereka, tanding di area sekolah, tanpa terlebih dahulu bermusyawarah. Terlebih lagi seharusnya saat ini jam pelajaran sudah dimulai.
"Asril dan Vero juga saya tunggu ke ruangan!" tegas kepala sekolah tersebut. Dia kemudian beranjak menuju ruangan.
Sedang Asril dan Vero masih terdiam di tempat.
"Dapat hukuman, kan, sekarang?" Ana berujar sembari menatap Vero yang kini tengah menatapnya.
"Sayang, maaf. Enggak gitu maksud aku. Aku cuma ingin buktiin kalau bisa menang pertandingan."
"Tap--"
"Na, lo bisa enggak, sih, enggak marah-marah terus sama Vero?"
Suara dari Maya yang memutus ucapannya nyaris membuat Ana terkejut. Begitu juga Dania, Vero dan juga Asril yang tidak kalah terkejutnya.
"Gue dari tadi denger lo ngomel-ngomel mulu! Dengerin dulu kek alasannya."
Ana menatap Maya dengan tatapan tidak percaya, begitu juga Dania.
"May." Dania menyadarkan.
"Lo kenapa jadi sewot gini, May? Vero cowok gue. Gue berhak dong ngingetin dan negur dia dengan cara gue sendiri. Kenapa lo sepertinya keberatan?"
Skak mat. Maya langsung tersadar dengan tindakannya yang seolah hilang kendali.
"Na, bukan gitu maksud gue."
"Lo dari tadi udah aneh, May. Lo ada apa sebenarnya? Lo nyembunyiin apa dari gue?" Ana menatap Maya penuh selidik, dia sejenak menatap Vero yang terlihat normal biasa saja, setelahnya, dia kembali menatap Maya.
Gadis itu merasa seolah tersudutkan. Apalagi saat ini tatapannya bertemu langsung dengan tatapan Asril yang sulit diartikan.
"May, gue tanya sama lo," ucap Ana dengan nada merendah.
Maya kembali mengalihkan pandang ke arah sahabatnya, "Enggak gitu, Na. Gue tadi memang bawaannya sensi. Mungkin efek dari dapet."
"Lo enggak gini, May. Lo aneh. Ada yang ganjal. Dan gue enggak akan ngeclaim kalau alasan yang baru saja lo lontarin itu benar."
Dania yang merasa situasi semakin keruh kini berusaha membuatnya kembali terang, "Kepala sekolah pasti sudah menunggu, Na. Lebih baik kita segera menuju ke sana. Meski tadi hanya Asril dan Vero yang diundang, tapi tidak ada salahnya mampir sebentar, barangkali kepala sekolah juga ada keperluan tapi lupa diucapkan."
Asril menjentikkan jari, "Nah, bener. Lebih baik kita ke sana." Dia turut menyahuti. Perlahan, tapi berhasil dengan pasti.
Ana, Vero dan juga Dania sudah terlebih dahulu beranjak meninggalkan Asril dan juga Maya yang masih setia di tempat.