
"Pak, pak! Stop, Pak! Berhenti di sini aja."
Dania yang tadi berniatan pulang ke rumah pun seketika terurung sudah, gadis itu terdiam sejenak menatap ke arah area taman yang terlihat ada Ana, dan juga teman-temannya. Di sana juga ada Maya.
"Loh, Neng. Kan, masih jauh."
Dania menggeleng, "Enggak apa-apa, Pak. Di sini aja. Ini, Pak, uangnya. Kembaliannya buat Bapak. Terima kasih, Pak!"
Gadis itu langsung beranjak menuju tempat keramaian di taman. Bersamaan dengan Dania yang hadir. Banyak pasang mata di sana kini mulai tertujua ke arah Dania. Begitu juga Ana, dia turut menunggingkan senyum ketika mendapati kehadiran sahabatnya itu.
"Bagus. Kebetulan Dania juga datang. Gue yakin kalau dia juga udah tau semuanya. Ya, kan, Dan?"
Sementara Dania tidak menjawab. Dia menatap Ana dengan tatapan tanya. Gadis itu belum tahu apa yang dimaksud sahabatnya saat ini. Namun, melihat Ana yang begitu marah dengan Maya, dia bisa menebak kalau sahabatnya itu sudah tahu perihal hubungan dari mereka.
"Dan lo, Ver. Gue nunggu jawaban dari lo. Lo pilih dia, atau gue?" Ana kembali mengeluarkan kalimat pertanyaan yang sama.
"Na, jangan gitu." Vero terus berusaha menenangkan Ana. Mencoba meraih kedua tangan gadis itu, meski kerap kali Ana menepisnya begitu saja.
"Udahlah, Ver. Lo jawab aja pertanyaannya. Lo pilih gue, atau dia yang udah jelas-jelas mutusin lo tadi." Maya menyahuti. Membuat sorot mata Ana menatap tajam ke arahnya. Dia benar-benar geram kepada Maya.
"Gue yakin, Vero pasti lebih milih gue," sahutnya lagi.
Kedua tangan Ana saling mengepal erat. Deru napasnya saling bersahutan. Wajahnya bahkan perlahan memerah menahan amarah.
"Diam dulu, May!" bentak Vero.
Maya menatap kesal ke arahnya.
"Na, aku mohon. Aku enggak bisa milih kayak gini."
"Aku sayang kamu, sama halnya aku sayang sama Maya. Aku enggak mau kehilangan kamu."
Ana menggeleng berulang kali, dia tidak habis pikir dengan jalan pikirannya Vero.
"Gila lo, Ver!" bentak Ana.
"Lo cowok harus bijak! Lo dikasih dua pilihan harus milih salah satu yang sebelumnya udah lo pertimbangkan matang-matang! Jangan maruk jadi orang!"
"Tapi, gue, sih enggak ada niatan buat balik sama lo. Karena gue udah tau, lo cowok kayak gimana. Lo itu sama. Sama seperti kebanyakan cowok lainnya!"
"Pokoknya kita udah enggak ada hubungan apa-apa. Lo jangan ngusik-ngusik hidup gue!"
Ana terus saja mengeluarkan suara, sama sekali tidak mau mendengar setiap kalimat yang akan terlontar dari mulut Vero. Dia sudah benar-benar muak sekarang.
"Dan lo, Dan. Lo pilih dia, atau gue." Gadis itu kembali bersuara, seraya menatap sejenak Maya, kemudian kembali menatap Dania.
Dania tentu berada dalam dua pilihan yang sulit. Keduanya sama-sama berharga dalam hidup Dania. Meski pilihan itu seperti yang dialami Vero, tetapi bagaimanapun juga, tindakkan Vero tentu tidak dibenarkan.
Dania terus menggeleng, membuat Ana berdecak, kesal. Melihat Maya, meski sahabatnya itu salah, tetapi tetap saja kalau Dania tidak bisa meninggalkannya. Begitu juga Ana, dia juga tidak bisa meninggalkan Ana, "Gue enggak bisa, Na! Lo berdua udah gue anggap seperti saudara! Gue enggak bisa milih dua pilihan itu. Kita udah sahabatan lama, Na."
"Udah, deh, Dan. Jangan melodrama! Jawab aja pertanyaannya. Lo pilih gue atau dia!" Maya turut menimpali.
Dania menatap Maya dengan tatapan marah, "Lo gila, May! Gara-gara cowok lo rela gitu persahabatan gita pisah?"
"Gue, sih, enggak rela, May!"
Ana terdiam. Dia juga sebenarnya tidak mau seperti ini, tetapi bagaimanapun juga Ana sudah terlanjur kecewa dan sakit hati.
"Gara-gara cowok, persahabatan kita yang jadi korban. Lo berdua rela gitu aja?" Dania menatap tegas ke arah Ana dan Maya secara bergantian. Dari sorot mata kedua sahabatnya itu ketara jelas kalau mereka tidak rela seperti halnya Dania. Tetapi ego dan gengsi mengalahkan segalanya.
"Gue enggak punya waktu lama di sini, Dan. Gue kasih lo waktu buat nentuin pilihan lo."
"Biar pun persahabatan kita yang jadi korban, gue udah enggak peduli."
Dania menggeleng terus-terusan setiap Ana mengeluarkan kalimat.
"Dan meski nanti lo pilih dia, gue juga enggak merasa keberatan. Begitu juga jika lo milih gue, gue harap lo bukan termasuk dari golongan penghianatan."
"Secara, hari ini gue udah komplit ngerasain penghianat. Karena percintaan, dan bahkan orang yang gue percaya yang justru merusak segalanya." Ana mengakhiri kalimatnya dengan tawa pahit.
Sementara Maya hanya terdiam. Bibir gadis itu rasanya kelu meski sekedar menyahuti ucapan.
"Na! Jangan gini. Gue enggak mau kita berakhir, tapi gue lebih enggak mau persahabatan yang kalian jalin pisah!" Vero bersuara. Kali ini membuat Ana beralih menatap ke arahnya.
"Itu karena lo!" geram Ana.
"Lo itu jadi cowok jangan plin-plan, Ver! Lo udah jelas-jelas milih dia daripada gue! Lo enggak usah ngurusin gue, apalagi persahabatan gue! Enggak ada yang perlu dipertahanin dari sini, ngerti!"
Asril yang sedari tadi terdiam kini turut menenangkan Ana. Apalagi gadis itu sudah benar-benar naik pitam sekarang.
"Dan, gue tunggu jawaban dari lo!"
Dania kembali merasa tersudutkan. Dia menatap Ana dengan tatapan permohonan. Dia menggeleng, pelan.
"Gue tau jawaban lo," ujar Ana.
"Lo tentu milih dia daripada gue! Okay, fine. Thanks atas semuanya."
Setelah melontarkan itu, Ana langsung beranjak menarik pergelangan tangan Asril.
"Gue milih lo!"
Langkah keduanya nyaris terhenti. Perlahan, Ana kembali membalikkan tubuh. Sementara Maya menatap Dania dengan tatapan tanya.
"Gue milih lo, Na!"
Ana memicingkan mata, "Gue salah denger?" Dia memastikan.
"Gue milih lo!" Kesekian kalinya Dania mengulang kalimat yang sama.
'Tapi gue juga milih Maya. Gue milih kalian berdua.' Batin Dania bermonolog seorang diri. Mungkin dia pikir dengan ini dirinya tetap merasakan persahabatan dengan mereka. Meski saat ini dia terang-terangan memutuskan pilihan dengan memilih Ana. Padahal, Dania sangat tidak mau kehilangan mereka berdua. Seperti yang gadis itu katakan, bahwa mereka sudah tidak lagi sahabat, tetapi sudah seperti saudara kandung bagi Dania.
"Gue milih lo, Na." Dania kembali berucap ketika dia sudah tepat di dekat posisi Ana.
Ana menatap Dania dengan tatapan yang sulit diartikan, "Gue enggak maksa dunia berpihak ke gue."
Ana sudah mengerti niatan Dania. Dia mengenal Dania sudah sangat lama. Tanpa mendengar sahutan dari Dania, gadis itu kembali mengajak Asril bergegas pergi dari taman ini.