
Kedua tangan Maya mengepal, tetapi gadis itu enggan untuk berbalik ke belakang. Maya kembali melanjutkan langkah dengan tergesa-gesa. Bersamaan dengan ojek yang melintas, dia langsung memberhentikannya dan menaiki ojek itu menuju lokasi tujuan.
"Gue enggak nyangka kalau bakal gini jadinya," gumam Dania. Dia menatap nanar gerbang rumah Maya yang masih terbuka.
***
"Ana!"
Panggilan dari Asril membuat Ana yang tengah ngelamun di teras rumah, spontan menoleh ke arah sumber suara. Lelaki itu lagi-lagi bertingkah konyol untuk menghibur Ana. Bersembunyi di balik pagar rumah, seraya menunjukkan wajah seolah sedang dalam jeruji besi di penjara.
"Lo ngapain di sana?" tanya Ana. Dia tertawa.
Suasana rumahnya memang sudah sepi. Seperti yang dahulu dikatakan Ana, bahwa dia sudah tinggal sendiri. Mang Tijo Ana suruh untuk pulang kampung saja dengan memberikan pesangon sesuai kebiasaan yang diberikan mamanya, sedikit Ana tambahkan versinya sendiri.
Sebab, memang itu yang menurut Ana baik. Mengingat kartu atm diblokir papanya, nyaris membuat Ana hanya menyisakan sekian tabungan yang sebelumnya sempat dia cairkan. Mungkin itu lebih dari cukup untuk membayar uang sekolah hingga kelulusan, lagipula Ana diringankan dengan beasiswa jalur prestasi.
Itu hanya untuk membayar uang sekolah. Perihal kehidupan sehari-hari, Ana harus berhemat ekonomi. Seperti saat ini. Melihat tabungannya hanya tersisa beberapa untuk kehidupan ke depan, meski perutnya dalam keadaan lapar, dia tetap menahan dengan cara mencari udara segar.
Stok di kulkas juga sudah habis. Hanya tersisa cabe, dan beberapa alat dapur yang tidak lengkap.
"Lo lagi ngapain, Na?" Asril bertanya, dia langsung duduk di samping Ana.
"Lagi berusaha damai dengan semesta."
Asril terdiam.
"Sebenarnya, sih, niatnya mau ngajak Vero keluar buat nyari udara segar. Tapi karena Vero daritadi enggak ngangkat panggilan, ya, ngerasain udara segar di teras rumah aja," sahut Ana lagi.
Kali ini Asril menghela napas, "Lo udah makan siang?"
Ana menggeleng.
"Kenapa?"
"Stok menipis. Gue harus berhemat, kecuali kalau besok gue udah enggak ada."
"Heh, ngomongnya!"
"Gue lelah, tapi enggak boleh pasrah."
"Lo bener, Na. Mending kita ke supermarket."
Asril bangkit dari posisi duduknya dan langsung menarik pergelangan tangan Ana. Namun, gadis itu menahannya.
"Gue, kan, bilang kalau gue sedang berhemat!"
"Udah, buruan!"
"Tapi gue enggak bawa uang, Asril! Uangnya ada di dalam!"
Asril tidak peduli, dia terus menarik tangan Ana, meski gadis itu terus meronta.
Dalam perjalanan, senyum Ana semakin leluasa melebar. Dia merasakan kesejukan. Bahkan, tanpa Ana sadari, dia kali ini memeluk Asril dari belakang. Ana menyenderkan kepalanya tepat di punggung lelaki itu. Merasakan kenyamanan dan kehangatan di sana.
Sementara Asril terkejut spontan ketika menyadari Ana memeluknya. Sejenak, Asril menatap kedua tangan Ana yang berada tepat di perutnya, kemudian perlahan menatap ke arah spion. Melihat wajah Ana yang masih terlihat di sana. Gadis itu terlihat memejam, hingga spontan menarik diri dan melepaskan pelukannya tadi.
Asril tentu pura-pura tidak mengetahuinya. Dia kembali fokus mengendarai seperti sedia kala.
"Sorry. Gue ngebayangin lo itu Vero." Ana berujar.
"Santai aja, Na. Gue tau, kok," sahut Asril di tengah-tengah suara angin yang berembusan.
Ana tersipu. Dia tidak lagi menyahuti. Kali ini pandangannya menatap sekitar. Di jarak yang tidak jauh darinya, di sana ada seseorang yang baru saja dia sebut namanya. Dia tidak seorang diri, melainkan dengan orang yang sangat dia kenali.
"Ril, berhenti!"
Tanpa banyak bertanya, Asril menuruti perintah Ana.
Bersamaan dengan motor Asril yang berhenti di tepi jalan, Ana langsung turun dan masuk area taman.
Plak!
Satu tamparan mentah mendarat tepat mengenai pipi Vero.
Vero dan Maya yang tengah duduk di kursi taman pun nyaris terkejut. Terlebih lagi Vero yang tiba-tiba mendapat tamparan dari Ana.
Namun, rasa terkejutnya itu tidak sebanding dengan rasa panik ketika mendapati Ana yang memergoki dirinya bermesraan dengan Maya. Sahabatnya.
"Na."
Vero berusaha menggenggam kedua tangan Ana, tetapi gadis itu langsung menarik kembali tangannya.
"Jadi gini. Kepercayaan dibalas penghianatan." Ana menatap secara gantian, Maya dan juga Vero.
"Gue tadi butuh lo, Ver! Gue butuh lo! Gue ngehubungi lo, tapi lo enggak ngangkat. Rupanya senang-senang dengan ...." Ana sengaja menggantungkan ucapannya, dia menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejenak, Ana menyunggingkan senyum, "Dia."
Bahkan, panggilan aku-kamu, sudah tidak lagi berlaku bagi Ana.
"Sayang, dengerin aku. Aku bisa jelasin semuanya."
"Jangan panggil gue dengan sebutan itu!"
"Okay, Ana. Dengerin aku."
"Enggak ada yang perlu didengerin! Kecurigaan gue memang bener-bener sesuai realita. Gue kecewa dengan kalian berdua. Tapi gue seneng, sih, dengan ini semua, gue juga jadi tau, kebusukan yang selama ini kalian sembunyikan."
Vero menggeleng, pelan. Perlahan kedua matanya bersitatap dengan Asril yang ada di dekat Ana, "Apa karena Asril yang ngompor-ngompori semua?"
Ana mengangkat sebelah alisnya. Dia jadi semakin bisa menduga kalau hubungan mereka sebenarnya sudah berjalan lama tanpa sepengetahuan Ana.
"Lelaki itu yang ngasih tau semuanya ke kamu, kan, Na? Lewat potretan gambar?" Vero tanpa berpikir panjang langsung melontarkan kata itu.
"Potretan gambar?" Ana bertanya, tetapi dia kembali menatap Asril, "Apa yang dia maksud, Ril. Lo enggak mau tunjukin ke gue?"
Asril mengembuskan napasnya. Rupanya dia turut disangkutpautkan dalam masalah mereka, "Berhubung karena kebenaran sudah tetlihat di depan mata, jadi gue kasih tau ke Ana. Bukan berarti gue ingkar tentang kesepakatan gue yang jika lo yang menang tanding, maka gue akan diam dan tergusur dari ketua tim."
Ana tidak lagi memperdulikan berbagai alasan itu semua. Sebab yang jelas adalah gambar potretan yang dimaksud mereka.
Gadis itu dengan cekatan menerima ponsel dari lelaki di dekatnya.
Sementara Vero berdecak. Merutuki dirinya yang bisa-bisanya keceplosan seperti ini.
"Gila! Gue enggak nyangka kalian sejahat itu sama gue!" geram Ana, dia menahan buliran bening yang hampir lolos membasahi pipinya. Ana tidak boleh menangis, "Kita end! Selesai!"
Kesekian kalinya Vero menggeleng.
"Bagus kalau gitu, Na. Vero bisa leluasa milik gue. Lagian, dia udah bosan kali sama lo." Tanpa merasa bersalah, Maya turut mengeluarkan suara.
Ana semakin terpancing emosinya.
"Na, enggak gitu. Aku sayang kamu, Na. Sayang banget. Aku enggak mau kita selesai."
Kali ini Ana menggeleng, "Lo enggak sayang gue, Ver. Bullshit. Lo udah dapet dia. Dan kita selesai!"
"Enggak, Na. Aku enggak bilang kita selesai. Aku sayang kamu, Na."
Sejenak, Ana menyunggingkan senyum, "Kamu sayang aku, juga sayang dia, kan?"
Pertanyaan Ana nyaris membuat Vero terbungkam. Ana tidak salah dalam melontarkan pertanyaan.
"Gue udah tau jawabannya, Ver. Dari mata lo itu enggak bisa bohong."
"Tapi aku enggak mau kita selesai, Na."
"Gini, deh, Ver, lo lebih milih dia, atau gue?"