About Cloudy Turning Bright

About Cloudy Turning Bright
Menerbangkan Harapan



"Lo baik banget, Na," lirih Asril. Namun, Ana tetap bisa mendengarnya. Gadis itu menghela napas. Kembali merasakan desiran angin yang melambai di wajahnya.


Sore hari membuat pemandangan yang mereka lihat dari rumah pohon nyaris terlihat begitu indah. Apalagi perlahan di depan sana senja sudah perlahan memunculkan wujudnya.


Kedua sudut bibir Ana tertarik membentuk senyuman sempurna, "Gue enggak bisa bohongin perasaan gue sendiri kalau gue masih sayang sama Vero. Vero cinta pertama gue."


Ana sejenak menghentikan kalimatnya.


Memang benar, Vero adalah cinta pertama Ana yang datang ketika gadis itu menginjak bangku SMA. Itu saja mereka menjalankan hubungan diam-diam karena takut ketahuan orang tua Ana. Pasalnya, orang tua Ana saat itu sangat begitu memperhatikan pergaulan Ana. Dia bahkan belum menginzinkan Ana kasmaran karena takut, selain menganggu aktivitas belajarnya, juga karena takut hal yang diinginkan terjadi pada anak gadisnya.


Hingga pada akhirnya. Vero dengan tingkat kepercayaan diri langsung mempetkenalkan dirinya di depan orang tua Ana. Bahkan, lelaki itu berhasil meyakinkan mereka dan mengambil hati mereka. Vero bahkan dipercayakan untuk menjaga dan mengawasi Ana.


Sementara Asril tersenyum kecut. Menatap senja yang hadir dengan tatapan nanar. Seharusnya ini momen yang indah untuk Astil dan Ana bercengkerama di rumah pohon. Namun, mengingat topik yang dibahas Ana, membuat Asril kecewa, tetapi tetap lelaki itu sembunyikan.


"Jadi lo mau ngasih kesempatan sama dia?" Agaknya Asril masih belum puas perihal jawaban Ana.


"Menurut lo?" Ana justru melempar balik pertanyaan itu kepada Asril.


Asril mengangkat kedua bahunya, "Yang ngejalanin kan elo. Gue mana tau, makanya nanya sama lo." Asril kembali menatap Ana.


"Gue enggak ngomong gini bukan berarti semudah itu gue ngasih kesempatan, Ril. Gue hanya ingin ngelihat, seberubah apa sih Vero nantinya."


Asril menyunggingkan senyum. Dia beranggapan bahwa Ana tidak akan semudah itu memberi kesempatan untuk Vero.


"Tapi gue berharap keberubahan Vero menjadi Vero yang gue kenal dulu dan kita bisa bersama lagi."


Senyuman Asril seketika memudar. Dia mengalihkan pandang ke depan.


"Semoga terkabul, Na." Hanya itu yang bisa Asril ucapkan sekarang.


Sementara Ana mengangguk pelan tanpa sepengetahuan lelaki itu, "Lo sendiri enggak ada gitu, Ril, cewek yang lo sukai? Mau, dong, dikenalin juga biar bisa akrab."


Asril berdecak dalam hati. Ingin sekali dirinya bilang, 'Ada, Na. Itu lo sendiri ceweknya.' Tapi Asril sadar. Dia tidak seharusnya mengatakan hal itu di situasi seperti sekarang. Lagipula, ini juga belum waktunya Asril mengungkapkan perasaannya.


"Ada, kok, Na."


Agaknya Ana tertarik dengan jawaban Asril. Kedua matanya bahkan memancarkan kebahagiaan di sana, "Gue turut seneng, Ril. Siapa emangnya?" tanya Ana.


Asril terdiam sejenak. Membuat Ana menanti jawabannya.


"Ada pokoknya. Nanti juga lo bakal tau sendiri," jawab Asril sembari terkekeh menatap Ana.


"Halah, lo mah gitu."


Asri hanya tertawa. Dia mulai bangkit seraya mengambil pulpen dan sebuah kertas di dalam rumah pohon, kemudian kembali menuju tempatnya semula.


"Lo tulis aja harapan lo di sini, Na."


Asril menyodorkan selembar kertas dan juga pulpen untuk Ana. Sementara dirinya juga melakukan hal yang sama. Menulis segala harap, tetapi secepat mungkin Asril melipatnya ketika Ana mendekatkan diri guna untuk melihat apa yang tengah ditulis Asril saat ini.


"Peli banget, sih, lo, Ril." Ana menggerutu. Dia kemudian mulai kembali menulis di kertas kosong sana. Kedua sudut bibirnya bahkan tertarik membentuk senyuman sempurna sepanjang dia menulis tiga harap yang ingin terkabul menjadi nyata.


"Udah, kok. Tapi ini bentar gue tambahin gambar love."


Asril mendekat seraya melihat apa yang tengah ditulis Ana. Rupanya gadis itu tengah menulis tiga harap yang tadi diucapkannya di sana. Kembali, Asril menarik dirinya lagi.


"Udah, Ril," ucap Ana yang kini mulai melipat kertas dan turut menggabungkannya ke tali balon.


Setelah semuanya sudah siap, Ana dan Asril kompak memegang erat kelima balon itu terlebih dahulu.


"Gue pandu, ya, Na. Hitungan sampai tiga."


Ana mengangguk. Senyumannya terus terhias di sana.


"Satu." Asril memulai perhitungan awal.


"Dua." Kali ini Ana yang menyahuti.


"Ti ...." Ana dan Asril kompak sejenak saling pandang, "Ga!" seru mereka berdua yang langsung melepaskan balon itu dari genggaman mereka. Membiarkan kelima balon itu terbang ke udara membawa harapan mereka yang tertulis di sana.


Asril dan Ana kini tersenyum. Namun, Asril kali ini sejenak menatap Ana. Gadis di sampingnya terlihat begitu bahagia sekarang.


"Lo bahagia, Na?" tanya Asril. Dia mulai melentangkan tubuhnya. Menjadikan kedua tangan sebagai bantal. Tatapannya kembali mengarah ke arah lima balon yang perlahan semakin jauh dan terlihat kecil. Hingga lama kelamaan balon itu sudah tidak terlihat lagi.


"Banget, Ril. Bahkan gue tuh seolah lupa kalau gue baru saja ngalamin masalah secara bersamaan." Ana menyahuti. Dia turut melentangkan tubuhnya di samping Asril. Perlahan, Ana menoleh menatap Asril.


"Makasih, ya, Ril."


Mendengar itu, Asril langsung menoleh ke arah Ana. Tatapan keduanya saling beradu. Saat ini Asril bisa leluasa melihat lebih jelas raut bahagia Ana.


'Buat apa?"


"Banyak hal, Ril. Makasih pokoknya buat hari ini. Gue seneng banget. Enggak mubazir ingatan gue ngesave nama lo." Ana menyahuti sembari terkekeh. Kalimat akhir yang baru saja diucapnya nyaris membuat Asril kembali bernostalgia pada saat dirinya mulai mendekatkan diri kepada Ana.


"Lo dulu ngeselin banget, Na." Asril mengalihkan topik.


"Sekarang gimana?"


"Makin ngeselin."


Ana membelalak. Dia langsung mencubit perut Asril hingga membuat lelaki itu merintih kesakitan, "Parah lo, Na."


"Suruh siapa." Ana memanyunkan bibir tidak lagi menatap Asril. Dia kembali menatap senja yang masih ada di depan mata.


Sementara Asril dia tidak bisa memungkiri kalau perasaannya kali ini bersatu. Perasaan kecewa, sedih, dan juga bahagia. Mungkin momen seperti ini akan Asril rindukan dan membuatnya candu nantinya.


'Gue harap kita bisa kayak gini terus, Na. Gue juga berharap lo bisa bahagia nantinya. Bahagia lo juga bahagia gue. Meski lo bahagia bukan karena gue nanti, bukan menjadi persoalan bagi gue.' Asril bermonolog seorang diri. Dia kemudian kembali menatap depan. Perlahan, kedua matanya memejam. Menikmati desiran angin sore yang masih terasa nyaris membuatnya hampir terlelap kalau saja suara gemuruh hujan yang tiba-tiba datang tidak terdengar di telinganya.


"Hujan, Ril!" pekik Ana. Dia langsung bangkit dari posisi tidurnya. Msuk ke dalam rumah pohon. Sesekali dia melihat ke arah luar. Hujan begitu deras, padahal tadi keadaan terang benderang.