About Cloudy Turning Bright

About Cloudy Turning Bright
Cemas



Ana mendekat ke arah Vero dengan menahan kedua pipinya yang sudah memanas. Dia mencubit lelaki itu dengan gemas. "Bisa, enggak, sih, kalau ditanya nanggepinnya tuh serius?"


Vero terkekeh. "Ya elah, Dear. Hidup kalau terlalu serius, ya, bisa-bisa kurus. Mikirin apa-apa selalu bikin tertekan batin. Ya, sesekali, kek, jadi badut biar badan menjadi gendut."


Ana menatap datar ke arah kekasihnya. "Enggak ada sangkut pautnya ini, mah," gerutu Ana. "Orang lagi panik juga."


Meski terus saja berceloteh, tetapi kedua tangan Ana tetap kompak bekerja sama pelan-pelan mengobati Vero dengan telaten. Dia juga berhati-hati agar tidak sampai menambah rasa sakit yang Vero rasakan.


"Dibilang enggak pa-pa. Ini cuma luka kecil. Udahlah, santai aja," sahut Vero.


Ana mengembuskan napasnya. Dia sejenak kembali memasukkan obat tetes merah ke dalam kotak P3K, kemudian kembali menatap Vero lagi.


"Lagian berantem sama siapa, sih?"


Pertanyaan Ana nyaris membuat Vero terdiam sejenak. Mata keduanya saling beradu tatapan dengan makna yang bertolak belakang.


"Biasa masalah cowok," sahut Vero.


Ana mengangkat bahunya. Dia bangkit seraya kembali meletakkan kotak obat di tempat semula. "Jadi, aku enggak boleh tau, nih, apa masalahnya?" goda Ana. Dia kembali duduk di tempatnya semula.


Kring!


Bel masuk berbunyi. Hal itu tentunya membuat Vero menghela napas, lega. Terlebih lagi ketika mendapati Ana yang tengah melihat jam di pergelangan tangan putihnya.


"Yaah, udah bel aja," gerutunya.


"Yuk, masuk kelas bareng."


"Kamu serius enggak pa-pa? Enggak mau istirahat dulu?"


Vero tersenyum sembari mencubit pipi Ana dengan gemas. "Enggak pa-pa, sayangku. Semakin enggak pa-pa karena kamu habis ngobatin tadi. Dahlah, nanti keburu ada guru yang masuk," sahut Vero seraya merangkul pundak Ana dan beranjak bersama menuju kelas mereka.


***


Bel pulang berbunyi dengan nyaring. Membuat siswa-siswi kelas 12 MIPA 1 yang seolah baru saja dalam masa penjajahan Fisika, sekarang bisa terbebas dari penjajahan tersebut.


Ana memasukkan semua barang-barangnya di dalam tas. Gadis itu menyandangkan tasnya.


"Udah belum, May? Lama banget, aelah!" gerutu Dania.


Maya yang mendengar itu pun berdecak. Saat dirasa semuanya sudah rapi, tidak ada yang kurang, dia langsung menyandangkan tasnya dan menghampiri posisi kedua sahabatnya berada.


Tanpa menunggu lama lagi, keduanya mulai beranjak keluar kelas. Di waktu yang bersamaan, Vero dengan senyuman merekah di bibirnya muncul begitu saja sembari menyapa Ana. Hal itu tentunya membuat Dania dan juga Maya bersiul menggoda.


"Wih, jagoannya babak belur," goda Dania.


"Dan yang paling penting, mah, kita bakal jadi obat nyamuk lagi, nih!" sahut Maya.


"Tau, tuh!" Dania kembali menimpali.


Ana dan Vero saling pandang sembari kompak terkekeh sejenak.


"Duluan, ya, Na!" ucap Maya dan Dania kompak.


Ana mengangguk. Setelah memberikan pelukan persahabatan sejenak, Maya dan Dania kemudian melambai kepada Ana, tidak lupa juga pamit kepada Vero.


"Da!"


Mereka berdua beranjak meninggalkan Vero dan juga Ana di depan koridor.


"Gue anter pulang, ya?" tawar Vero.


Seperti biasa, Ana menggeleng. "Mang Tijo nanti jemput, kok. Kamu duluan aja."


"Tapi Mang Tijo masih lama, kan?"


Ana sejenak melihat benda yang melingkar di pergelangan tangannya. "Bentar lagi nyampe," ucapnya.


Vero manggut-manggut. Lelaki itu merangkul pundak Ana dan mengajaknya berjalan menuju lapangan.


"Serius aku balik dulu?" tanya Vero.


Ana mengangguk. "Iya, wee. Mau ngelumut di sini?"


"Kalau sama kamu, mah, enggak masalah." Vero menyahuti dengan kekehannya.


Ana berdecak. "Udah, sana balik."


"Ngusir, nih, jadinya?"


"Ya, enggak gitu, Sayang!" Ana berucap manja. Bahkan hal itu nyaris membuat Vero kesekian kalinya terkekeh. Kekasihnya ini memang benar-benar pintar sekali membuatnya terhibur dengan tingkah menggemaskannya.


Ana mengangguk. Dia memerhatikan Vero yang tengah berkutat memakai helm full face-nya. Diikuti dengan memasang jaket hitam di tubuhnya.


Perlahan, Vero menyalakan mesin motornya. Setelah berpamitan kepada Ana, dia langsung melajukan motornya dengan kecepatan seperti biasa.


Ana mengembuskan napasnya. Dari kejauhan, di gerbang sana dia belum juga mendapati Mang Tijo menjemput dirinya. Padahal ini sudah melewati beberapa menit yang lalu.


Dengan cekatan, Ana mulai merogoh ponsel di saku seragamnya. Kalau saja Mang Tijo menggunakan ponsel, maka lebih mudah Ana menanyakan keberadaannya sekarang yang belum juga menjemput dirinya.


"Telfon Mama aja kali, ya. Papa pasti masih enggak bisa diganggu." Ana bermonolog seorang diri. Tanpa menunggu lama lagi, Ana langsung menekan nomor sang Mama dan mulai menekan pula tombol telepon hijau di sana.


Dering.


Satu kata itu muncul di ponsel Ana. Menandakan kalau ponsel sang Mama datanya tengah menyala.


Namun, sampai dering berakhir, Karlina tidak juga kunjung mengangkat panggilannya. Ana menghela napas. Benar dugaannya. Ana sangat mengetahui mamanya itu bagaimana, dia jarang sekali bermain ponsel dan selalu menyimpan ponsel itu di lemari dengan nada dering yang dimode diamkan.


"Woi!"


Suara berat dari seseorang nyaris membuat Ana menoleh ke arah sumber suara. Gadis itu spontan berdecak.


"Belum dijemput?" tanya Asril.


Ana menggeleng. "Belum."


Asril sejenak menatap Ana yang terlihat begitu cemas. "Oh, ya, persoalan cermin tadi. Lo bisa dapat ide itu gimana, busyet?" Asril mencoba menepis pikiran buruk Ana. Setidaknya berusaha untuk membuat gadis itu lupa dengan kecemasannya sejenak.


"Ah, iya!"


Berhasil. Ana kali ini mulai kembali menunjukkan cengiran kudanya. "Untung saja pas itu kemarin, cermin yang gue bawa ke toilet jatuh. Untung juga enggak gue buang dan tetap gue simpan, jadi, gue manfaatin itu buat alasan." Ana menjelaskan dengan santainya.


Asril manggut-manggut. "Bakat jadi pemain sinetron ikan terbang lo!" sahut Asril. "Jadi pameran yang suka sekali buat alasan. Biasanya, sih, antagonis."


Ana yang mendengar itu pun membelalak. "Enak aja!" Perlahan Ana baru menyadari kalau ada yang berbeda dari penampilan Asril. Lebih tepatnya di bagian wajah lelaki itu. Sama seperti kekasihnya tadi. Asril juga babak belur.


Asril yang baru menyadari kalau sedari tadi Ana memerhatikan dirinya pun mengernyit, "Kenapa lo?" tanya Asril.


"Lo sama babak belurnya dengan Vero," jawab Ana. "Atau jangan-jangan, kalian memang berantem tadi?" tebaknya.


Asril yang peka maksud Ana pun nyaris terkekeh. "Ah, ini. Biasa soal basket."


"Gara-gara basket berantem?" tanya Ana.


Asril bergeming. Sebenarnya bukan persoalan basket yang membuat mereka berkelahi, tetapi ada hal lain lagi.


"Halah, Na. Lo kek enggak tau cowok aja."


Ana berdecak, "Vero juga sama. Bilang gini ke gue. Heran sama cowok. Baku hantam demen banget."


Ana merotasikan kedua bola matanya. Namun, dari raut wajahnya, gadis itu ketara kalau sedang kembali cemas. Asril bisa menebak kalau saat ini Ana sedang mencari keberadaan Mang Tijo, sopir pribadinya dari pergerakan Ana yang kerap menoleh menatap ke gerbang sekolah.


"Lo nyemasin apa?" tanya Asril.


Sontak, Ana mengalihkan pandang ke arah Asril. Gadis itu sejenak menatap ke arah lelaki yang juga kini tengah menatap ke arahnya. "Gue cemas kalau terjadi apa-apa lagi seperti kemarin." Ana menjawab spontan. "Coba lo ingat, Mang Tijo kemarin juga jemput telat, tapi pas lo nganterin gue pulang, apa yang terjadi? Mama dan Papa bertengkar hebat."


Asril bergeming.


"Gue cemas kalau hal itu terulang lagi. Apalagi kalau sampai Papa udah membabi buta pasti lupa semuanya. Gue takut terjadi apa-apa sama Mama." Ana kembali menyambungi ucapannya. Entah mengapa, dia juga tidak tahu kenapa bisa seterbuka ini kepada Asril.


Asril tidak berkata-kata untuk menyahuti ucapan Ana. Lelaki itu langsung mengode agar Ana segera menaiki motornya. "Gue anter lo pulang."


Ana menggeleng. "Gue mending pesen ojol aja," ucap Ana.


Asril mengernyit. "Kenapa? Lo takut doi lo marah? Gue cuma nganterin lo pulang. Lagian, dia sebagai cowok lo harusnya enggak mungkin ninggalin lo di sini."


"Gue yang nyuruh dia balik duluan!" sahut Ana, mencoba membela Vero. Toh, memang begitu faktanya. Ana yang menyuruh Vero untuk balik duluan.


Asril berdecak. "Lo kalau masih di sini nungguin ojol bisa-bisa lumutan, Na."


Ana terdiam. Setelah banyak menimbang, akhirnya tanpa ada pilihan lain, Ana mengangguk. "Iya gue ikut lo," ucap Ana sembari membonceng di motor besar Asril.


Tanpa menunggu lama lagi, motor besar itu Asril lajukan dengan kecepatan seperti biasa. Secemas apa pun situasi saat ini, memikirkan keselamatan itu tetap harus berada dalam nomor urut depan.


Asril mulai membelokkan motornya dan memasuki jalan pintas, hingga hanya membutuhkan waktu lima belas menit, motor yang mereka tumpangi sudah berhasil memasuki perumahan yang dekat dengan rumah Ana.


Ana semakin mengginggit bibir bawahnya. Bahkan, kedua telapak tangannya pun Ana pautkan menjadi satu. Hal itu biasa Ana lakukan ketika dia sedang situasi seperti sekarang.


Semakin dia mendekati jarak rumahnya, semakin pula kecemasan itu berada di atas rata-rata.