
"Udahlah, Ril. Kalau lo ngeladenin mereka enggak akan ada habisnya. Lo enggak lapar apa? Lebih baik kita ke kantin. Toh, pasti kita enggak dibolehin masuk kelas karena terlambat hadir." Tio akhirnya bersuara.
"Nah, bener, tuh. Lebih baik memanfaatkan kesempatan ini untuk makan, daripada buang-buang tenaga buat ngeladeni mereka yang udah seperti setan tingkahnya." Kali ini Didit yang menimpali.
"Lo yang kayak setan!" Vero tidak terima. Hal itu semakin membuat mereka tertawa. Seperti usulan dari Tio, kali ini mereka langsung beranjak menuju tujuan, meninggalkan Vero yang terus saja mengeluarkan cacian serta makian.
***
"Berhenti di sini, Pak!"
Dania memberi tahu pengendara ojek yang tengah dia naiki. Memang pulang sekolah kali ini dia sengaja tidak pulang bersama Maya, dia menyuruh gadis itu untuk pulang terlebih dahulu. Alasannya, Dania ingin memastikan, ada keganjalan apa yang disembunyikan sahabatnya itu.
"Ini, Pak, terima kasih." Dania menyodorkan selembar uang sesuai dengan nominal yang disebutkan pengendara ojek. Setelahnya, dia mulai melangkah pelan, bersembunyi di balik tong sampah besar yang kebetulan terletak di depan pagar rumah Maya.
Dari kejauhan dalam gerbang sana, Maya baru keluar dari rumahnya. Dania memicingkan mata. Sahabatnya itu padahal baru pulang sekolah, tetapi cepat sekali sudah tampil rapi saja penampilannya. Dia seolah mau bepergian sekarang.
Sejenak, Maya berhenti tepat di halaman rumah. Dia seolah tengah mengangkat panggilan.
Dania yang melihat itu tentu semakin mendekatkan telinga tepat di pagar rumah sahabatnya. Samar, tapi masih bisa sedikit terdengar.
"Baru siap, Sayang. Bentar lagi juga berangkat."
Kali ini Dania mengernyit, dibuat heran dengan panggilan awal yang disebutkan Maya.
"Dia punya pacar?" tanya Dania seorang diri. Bersamaan dengan Maya yang mulai keluar gerbang, gadis itu langsung lari kecil dan menarik pergelangan tangan sahabatnya.
"Ikut gue!"
Maya merintih kesakitan.
Dania membawanya kembali masuk ke halaman rumah Maya.
"Apa, sih, Dan! Lo ngapain di sini?" tanya Maya. Dia menarik paksa tangannya. Menggerutu kesal, karena tindakan Dania yang kasar.
Sementara Dania masa bodo dengan raut yang ditunjukkan Maya. Dia tanpa aba-aba langsung mengambil alih ponsel yang dipegang sahabatnya itu.
Maya yang tanpa persiapan nyaris terkejut. Dia berusaha mengambilnya kembali, tetapi hal itu tidak mungkin bisa terjadi. Dania yang begitu lihai, pandai mengeluarkan strategi agar ponsel itu tidak direbut Maya kembali.
"Diam! Gue pinjam ponsel lo bentar!"
Maya tentu mengelak, "Lo mau ngapain? Balikin, enggak! Mau nyari apa, sih, Dan?"
"Diam dulu, May. Bentar!"
"Balikin, Dania! Atau gue teriak, nih!"
Mendengar hal itu, nyaris membuat Dania yang baru saja membuka ponsel Maya yang kebetulan tanpa kunci pola, sejenak menatap ke arah sang empunya dengan tatapan penuh selidik. Setelahnya, Dania tersenyum picik, "Kenapa panik, May? Bukannya biasanya kita tukeran ponsel juga enggak masalah?"
"Enggak gitu maksud gue!" Maya masih berusaha membela diri.
"Bahkan, kita juga udah tau privasi dan aib masing-masing. Tetap aman, tapi saat ini kenapa seolah ada yang lo sembunyikan? Lo takut dan panik banget kelihatannya."
Maya menggeleng, "Gue enggak takut atau panik sekalipun! Dan gue juga enggak ada nyembunyiin apa pun, Dan. Baliki ponsel gue cepetan, gue mau pergi, Dan!"
"Kalau enggak ada yang lo sembunyiin makanya dia aja! Bentar, May. Lagian gue cuma pinjem doang. Enggak bakal ada yang hilang, tenang aja."
Maya menggerutu kesal. Dia sudah kehilangan akal. Menatap raut Dania yang kali ini menganga lebar.
Perlahan, Dania mulai meremas ponsel yang dipegangnya. Dia kembali beralih menatap Maya dengan tatapan kecewa, "Lo jahat, May."
Maya terlebih dahulu merebut paksa ponselnya, "Lo ngomong apa, sih!"
"Kurang baik apa, May, Ana sama lo? Kenapa lo tega, seolah enggak ada cowok lain selain merebut cowok Ana. Sahabat lo sendiri, May!"
"Dan--Lo lihat--"
"Akhirnya gue tau semuanya. Gue udah nyadar dari awal ada keganjalan. Lo bener-bener, May. Lo jahat tau, enggak! Kita sahabatan udah lama, May. Dan lo mau ngehancurin persahabatan kita hanya karena cinta? Lucu, May!"
Maya awalnya terkejut dengan semua yang diketahui Dania. Namun, perlahan, dia tertawa sejenak.
"Gue juga berhak kali, Dan, bahagiain diri gue sendiri. Kalau gue suka sama Vero, kenapa harus mikirin Ana? Lagian, Vero yang deketin dan nembak gue. Gue enggak salah, dong."
Plak!
Satu tamparan dari Dania mendarat begitu saja tepat di pipi kanan Maya.
"Ana itu sahabat lo, May! Sahabat kita! Kita udah seperti saudara! Kenapa lo tega dan jahat banget nusuk Ana dari belakang! Ana bahkan enggak ada sekalipun niat buruk sama lo. Dia baik banget, tapi balasan lo malah kesan banget munafik!"
Maya memegang pipinya seraya menyunggingkan senyum.
"Lo bilang apa tadi? Kita sahabat? Iya! Itu dulu, sekarang gue udah bukan lagi sahabat lo, ataupun Ana."
"Kenapa lo ngomong gitu, May?"
"Lo lebih mentingin Ana daripada gue! Apa itu yang namanya sahabat? Dunia seolah berpihak kepada Ana. Semua perhatian tertuju pada Ana. Semua Ana, Ana, dan Ana!"
Dania menggeleng berulang kali, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Maya saat ini. Sahabatnya itu seolah sudah terbutakan dengan rasa iri-dengki.
"Lo iri sama Ana?"
"Kalau iya kenapa? Salah?"
"Tentu salah, May! Kita deket sama Ana seharusnya lo tau, Ana enggak sebahagia apa yang orang lain kira! Bahkan kehidupannya, justru hidup lo lebih beruntung! Hanya saja Ana menyembunyikan itu semua dengan raut cerianya. Dia seolah enggak mau, dunia tau kalau dia sedang tidak baik-baik saja!"
Maya sejenak terdiam. Dia akui selama ini memang apa yang dikatakan Dania benar adanya. Namun, Maya menggeleng tegas, dia segera menepis semua rasa itu.
"Terserah! Gue mau pergi!"
"Lo gitu, May," ucap Dania, pelan. Dia semakin sedih dan kecewa dengan Maya.
Namun, Maya enggan menyahutinya, dia beranjak begitu saja meninggalkan Dania.
"Lo mau pergi sama Vero, kan, May?"
Langkah Maya spontan terhenti ketika mendengar suara Dania kembali. Dia tidak langsung membalikkan tubuhnya, tetapi masih setia mendengar perkataan Dania.
"Lo tau enggak, May? Gimana butuhnya Ana di rumah sana? Dia sendirian. Dia masih terpukul dan membutuhkan dukungan orang yang dia sayang."
"Sedang lo malah mau jalan sama Vero. Orang yang Ana harapkan kehadirannya."
"Gue harap, lo bisa senang-senang, May. Gue harap lo segera sadar. Satu hal yang lo tau, lo tetap jadi sahabat gue."