
Kali ini Ana mengangguk cepat. "Iya. Dia enggak ngapa-ngapain aku. Serius," jawab gadis itu, diiringi dengan gabungan jari telunjuk dan tengah hingga membentuk huruf ' V'. "Dan gue lupa ada jadwal piket. Dania dan Maya pasti udah nunggu di kelas." Akhirnya Ana menemukan alasan yang pas lagi. Kebetulan memang hari ini dia waktunya piket kelas.
Vero yang sudah mengetahui jadwal piket Ana pun mengangguk, faham. Dia tidak menaruh rasa curiga apa-apa mengenai apa yang tengah disembunyikan kekasihnya. Setelahnya, Ana pamit kepada Vero, hanya sekilas menatap ke arah Asril, gadis itu langsung saja meninggalkan kedua lelaki yang masih setia di tempat.
Saat ini hanya menyisakan Asril dan Vero saja.
Vero sejenak melihat ke sekitar. Sudah banyak siswa-siswi yang berlalu lalang. Namun, itu bukan persoalan lagi bagi Vero. Biar saja nanti kalau semisal ada guru yang lewat dan dia mendapat hukuman, karena yang pasti, kali ini Vero ingin memberi pelajaran kepada Asril.
"Belum tanding aja udah berani ngelunjak!" Vero langsung menarik kerah leher seragam Asril. "Tanding nanti, lihat aja, gue pastiin lo kalah! Dan di saat yang bersamaan pula, lo juga akan kegusur menjadi ketua tim basket IPS2! Lo itu enggak pantas jadi ketua tim!"
Asril menyeringai.
"Dan lo jangan coba-coba berani deketin Ana kalau lo masih sayang nyawa! Ana milik gue, lo tau itu, kan?" Vero kembali berujar.
Perlahan, Asril menurunkan paksa kedua tangan Vero yang menarik kerahnya. Dia kemudian merapikan seragamnya. Beralih menatap Vero dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jika gue enggak pantas jadi ketua tim basket, lo juga enggak pantas jadi cowok Ana!" bentak Asril.
Rahang Vero mengeras. Kedua tangannya mengepal erat.
"Maksud lo apa?!"
"Kalau lo mau, gue akan nunjukin Ana semua kebusukan lo. Cewek sebaik Ana enggak pantas dapet cowok sebrengsek elo!"
Bugh!
Satu bogeman mentah mendarat begitu saja di pipi kanan Asril. Siswa-siswi yang sempat melihatnya pun hanya menutup mulut, tidak berani ikut campur urusan keduanya.
Asril perlahan menyentuh sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah kental. Dia mengusapnya sejenak. Kesekian kalinya Asril kembali menyeringai menatap Vero.
"Takut lo?" tantang Asril.
Vero yang semakin dibuat naik pintam pun langsung kembali menarik kerah leher Asril dan mendorongnya ke belakang hingga tubuh lelaki itu terhenti di perbatasan tembok kelas.
"Gue ingetin sama lo, kalau lo buka mulut, lo berarti udah bosan hidup!"
"Emang gue peduli?" tanya Asril. Lelaki itu langsung membuat perlawanan dengan menendang bagian perut Vero.
Vero yang tanpa persiapan pun spontan terlempar mundur seraya memengangi sejenak perutnya.
Asril mendekat.
"Lo lebih pengecut dari yang gue kira," ucap Asril.
"Tanding minggu depan jika gue yang menang, maka gue akan tunjukkin kebusukan lo semua kepada Ana."
Vero semakin mengeratkan rahangnya. "Lo ada rasa sama Ana, ha?" tuduh Vero. Dia sudah benar-benar dibuat semakin naik pitam sekarang.
"Gue ada atau enggak ada rasa sama siapa aja itu jelas-jelas hak gue. Dan kewajiban lo sebagai manusia jangan terlalu kepo urusan sesama!"
Vero sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia langsung memberikan berkali-kali bogeman kepada Asril. Awalnya, Asril kalah karena sama sekali belum persiapan, tetapi akhirnya keduanya sama-sama beradu kekuatan. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah.
Bahkan saat ini suasana lumayan ramai siswi yang melihat pertengkaran mereka. Seperti halnya tadi, mereka hanya menjadi penonton, tidak berani memisahkan mereka. Namun, kali ini beberapa siswa yang mencoba nekat melerai, meski mereka kerap mengalami sasaran pukulan yang dilayangkan salah satu dari mereka.
"Argh!"
Vero mengerang memegangi bagian tangannya yang diputar Asril dari belakang.
"Lepasin, sialan!" Vero melayangkan tendangan dari arah belakang, tepat mengenai perut Asril. Keduanya sama-sama menghentikan aksinya. Namun, tatapannya masih saling beradu tajam. Amarahnya masih belum bisa direndam.
"Lihat saja. Jika gue yang menang, selain lo kegusur dari tim basket. Gue akan buat lo menyesal karena udah ikut campur urusan gue!" Vero berujar dengan sebelah sudut bibir yang tertarik membentuk senyuman picik.
"Wah, ngeri. Tapi gue sama sekali enggak peduli." Asril meledekkan tawanya. Dia kemudian meludah tepat di dekat sepatu Vero.
Belum juga Vero kembali melakukan aksinya, tetapi Asril sudah terlebih dahulu beranjak meninggalkan Vero begitu saja.
"Inget aja. Gue akan bikin perhitungan sama lo, Ril," gumam Vero. Lelaki itu tersenyum sinis menatap ludah Vero. "Gue juga akan melakukan hal yang sama. Tapi di muka lo," sambungnya lagi.
***
Sepanjang Ana menjalani tugas piket, gadis itu merasa ada sesuatu yang ganjal di hatinya. Perasaan tidak enak mulai muncul begitu saja.
"Na!"
Salah seorang siswi berteriak memanggi Ana di tengah pintu kelas.
Ana yang baru saja membersihkan papan tulis pun langsung menghentikan aktivitasnya.
"Apa, May?" tanya Ana kepada Maya. Dia juga menatap ke arah Dania yang terlihat panik seketika.
Ana mengernyit, menatap kedua sahabatnya seolah menuntut jawaban.
"Si Vero babak belur, tuh!"
Mendengar nama 'Vero' yang diucapkan, nyaris membuat Ana mendekat ke arah sahabatnya berada.
"Kalian bercanda apa bagaimana?" tanya Ana.
"Ya elah, Na. Kita berdua dari kantin seperti biasa sebelum bel berbunyi, terus pas balik tiba-tiba ada kerumunan. Nah, kita samperin udah dapet Vero dengan wajah babak belurnya." Dania menjelaskan. Tidak mungkin juga gadis itu berbohong, sedang raut wajahnya yang Ana kenal sebagai pelawak ini tiba-tiba serius begitu saja.
Tanpa banyak mengeluarkan tanya, Ana langsung berlari melewati berbagai koridor. Benar saja, di tempat yang tadi menjadi pembicaraan Ana dan Asril, di sana ada sisa-sisa kerumunan siswa-siswi.
Ana semakin mendekat. Memecah sebagian kerumunan yang ada dan berpas-pasan dengan Vero yang hendak beranjak.
"Kamu kenapa, sih?"
Vero yang mendapati kehadiran Ana pun nyaris terkejut.
"Kamu ngapain di sini? Udah piket?"
"Aku nanya kamu kenapa? Jangan kebiasaan, deh, ngalihin pertanyaan mulu." Ana menyahuti. Perlahan tangan gadis itu terulur menyentuh kedua sudut bibir Vero. "Ini juga banyak darah."
Vero perlahan melepaskan kedua tangan Ana dan beralih menggenggamnya. "Udah biasa ini mah. Cowok."
Ana berdecak. "Berarti cowok harus banget gitu dengan yang namanya baku hantam? Heran."
"Bukan gitu. Melawan kejantanan dengan cara jantan," sahut Vero dengan terkekeh. "Dahlah, cuma luka kecil ini. Bentar lagi udah bel."
"Enggak. Kita ke UKS. Biar aku obatin lukanya."
"Kalau ngobatin kerinduanku sama kamu, mau?" goda Vero.
Ana spontan mencubit pelan lengan kekasihnya. Bahkan mereka nyaris hampir lupa kalau mereka masih berada di area kerumunan. Segera, keduanya menuju ruang UKS.
"Kebetulan enggak ada petugasnya. Kamu duduk di sini. Biar aku cari kotak obat."
Ana beranjak mendekat rak bagian obat-obatan. Sesaat kemudian, dia kembali lagi membalikkan badan dan mengernyit tatkala melihat Vero yang terus menatapnya.
"Kenapa, sih? Ada yang aneh sama penampilan aku?" tanya Ana.
Vero mengangguk. Hal itu semakin membuat Ana mengernyit.
"Di bagian mana?"
"Anehnya itu di bagian, kenapa kamu tiap hari semakin membuatku semakin sayang?"