
Tepat di teras rumahnya, kedua mata Ana bersitatap dengan Asril. Gadis itu langsung menunjukkan senyum hangatnya. Dia seolah menunjukkan bahwa dirinya sedang baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, meski dari raut Asril ketara kalau dirinya sedang mengkhawatirkan Ana.
"Saya sudah mengemasi semua barang-barang saya. Dan saya akan pergi dari sini."
Ana terlebih dahulu berpamitan, kemudian beranjak keluar dari gerbang rumahnya. Ralat. Rumah itu bukan lagi rumah tempat tinggal Ana.
"Gue akan pergi." Ana menatap Asril yang juga kini tengah menatap ke arahnya. Dia masih menunjukkan senyumannya. Namun, dari kedua mata Ana kali ini tidak bisa berbohong kalau dirinya sedang ada perasaan yang disembunyikan.
"Lo akan ke mana, Na?" tanya Asril.
Gadis itu tidak langsung menjawab pertanyaan Asril. Dia terlebih dahulu mengalihkan pandang, melihat sepeda motor yang sempat berlalu-lalang. Setelahnya, dia kembali menatap ke arah sang lawan bicara.
Ana mengembuskan napasnya, sejenak. Dia kembali menunduk dan menggelengkan kepala. Kedua tangannya kompak memainkan koper yang tengah dia bawa.
"Gue belum tahu saat ini. Mungkin nanti gue akan mencari tempat tinggal untuk sementara."
"Rencananya?"
"Di luar kota."
Mendengar kata 'luar kota' nyaris membuat Asril terbelalak.
"Lo yakin, Na? Jangan bercanda. Bagaimana dengan sekolah lo, jika lo bener-bener ke luar kota?" tanyanya.
Ana kembali mendongak, "Urusan sekolah, gue akan pindah sekolah jika tabungan gue cukup untuk membayar dan mendapatkan biaya siswa. Namun, jika tidak ...." Ana sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Jangan bilang lo akan ...."
Ana mengangguk. Dia bisa menebak apa yang ada di pikiran Asril saat ini.
"Gue akan bekerja. Lagipula gue ingat perkataan Mama dulu, sebenarnya belajar bisa di mana saja asal ada niatan. Hanya saja belajar formal terkenalnya di sekolahan. Jadi kalau pun nanti gue enggak lagi menginjak bangku sekolah, gue masih tetap bisa belajar, dari rumah misalnya."
"Tapi, Ana. Lo jangan gegabah. Kita udah kelas akhir."
"Lo mikirin ijazah?" tebak Ana.
"Zaman sekarang, Na. Ijazah meski hanya berbentuk kertas, tetapi nilainya seolah lebih dari kertas jika dipandang dari kacamata dunia. Selama kita berada di dunia, maka kita juga harus menyesuaikan diri juga, Na."
"Gue bisa ngejar paket, Ril." Ana menyahuti. Dia membenarkan konsep yang dimaksud Asril tadi.
"Gue peduli sama lo, Na. Jika lo bisa peduli sama mereka, izinin gue peduli sama lo juga. Gue enggak mau lo gegabah kayak gini. Apalagi ini bisa menyangkutpautkan masa depan lo."
"Kita temenan, Na. Lo jangan segan dan sungkan. Gue akan bantu lo. Kita lewati semua ini bareng-bareng."
Ana terdiam. Dia terharu dengan semua kalimat yang dilontarkan lelaki di hadapannya.
"Dan masalah tempat tinggal. Lo enggak perlu ke luar kota."
"Maksud lo?"
"Lo bisa tinggal di rumah gue, Na."
Ana terbelalak.
"Mulai! Lo jangan berpikiran yang tidak-tidak. Lagian gue masih waras juga kali jadi cowok. Di rumah gue, gue enggak tinggal sendiri. Ada Bi Ijah juga."
"Justru gue seneng banget jika gue berguna jadi manusia. Gue bisa bantu lo dalam kondisi seperti sekarang. Karena gue enggak tau, entah nanti atau kapan, gue juga bakal mengalami masalah dan tentu gue membutuhkan bantuan manusia. Gue pernah juga dalam masa sulit, Na. Jadi gue enggak mau orang lain ngejalanin masa sulit itu sendiri, gue ingin membantu melewatinya."
"Ril ...."
"Na, apa yang lo raguin dari gue? Lo takut kerobohan rumah gue?" tanya Asril, mencoba mencairkan suasana.
Sementara Ana langsung menggeleng, berulang kali, "Ish! Enggak gitu! Bukan gitu maksud gue. Gue enggak enak aja nanti pasti gue bakal ngerepotin dan nyusahin lo. Terutama Bi Ijah. Gue enggak enak sama kalian berdua."
"Konsep gue dari dulu memang gitu, Ril. Lebih baik gue membantu, daripada meminta bantuan. Meski kali ini gue terkesan enggak minta bantuan, tetapi dengan cara lo nawarin bantuan kayak gini itu enggak jauh beda sebenarnya."
Asril mengembuskan napasnya.
"Na, kita sama-sama manusia. Dan lo pasti lebih tau tentang manusia yang tergolong makhluk sosial. Apalagi kita hidup di zaman modern seperti sekarang. Semua kerja sama juga saling butuh-membutuhkan, bantu-membantu, dan lain-lainnya. Bahkan, manusia purba dulu juga hidup bergotong royong, saling tolong menolong."
"Dan perihal seperti konsep yang lo katakan. Pasti, Na. Hampir kebanyakan manusia juga maunya seperti itu. Tapi seperti yang gue bilang awal. Manusia makhluk sosial. Ada saatnya manusia itu membantu. Dan ada saatnya juga, manusia itu membutuhkan bantuan. Tinggal waktunya saja, kapan itu akan terjadi."
Perlahan, tangan kanan Ana tergerak menuju kening Asril. Gadis itu membolak-balikkan telapak tangannya di sana.
"Lo ngapain?" tanya Asril. Pandangannya mengikuti arah tangan Ana yang tergerak di keningnya.
"Rada hangat. Pantesan tiba-tiba bijak gini. Gue kira lo kesambet apaan," ucap Ana seraya menurunkan kembali tangannya.
Asril berdecak, "Gini memang kalau cewek dibilangin. Selalu ngalihin topik. Selalu merasa benar. Dan malah mengatasnamakan kamus besar cewek tidak pernah salah."
Sementara Ana mencibir setiap kata yang terlontar dari mulut Asril.
"Nah, kan, gue bilang juga apa."
"Lagian, elo, sih. Ngomong udah kek kereta di rel aja. Panjang banget perjalanannya."
Asril sejenak menarik napas, kemudian mengembuskannya dengan cara perlahan. Dia kembali menatap Ana, "Gue cuma mau ngingetin lo aja, Na. Kalau kita itu manusia."
"Ya, siapa yang bilang kita enggak manusia?" sahut Ana. Gadis itu mengangkat sebelah alisnya. Menunjukkan raut menyebalkan yang membuat Asril bernostalgia ketika dia awal mengenal Ana.
Ana akan menunjukkan raut menyebalkan andalannya ketika dia sedang mendapatkan cermah, atau bahkan berhadapan dengan orang yang membuatnya tidak suka.
"Serah lo dah! Dahlah, mending langsung ke rumah gue. Gue lupa, lo tadi belum makan, kan? Kita enggak jadi belanja tadi."
"Udah hilang laparnya."
"Halah. Nanti kalau lihat makanan Bi Ijah, pasti lo udah lupa yang namanya kenyang. Enak banget soalnya."
"Serius?" tanya Ana.
Asril mengangguk. Dia langsung mengajak Ana menuju rumahnya. Hanya kisaran beberapa langkah saja mereka sudah tepat berada di halaman rumah lelaki itu.
Sejauh ini, baru kali ini Ana mendatangi rumah Asril. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala arah. Rumah dengan bangunan sederhana itu terlihat menyejukkan di mata.
Bersamaan dengan tatapan Ana yang mengarah ke arah pintu, di sana memunculkan seorang wanita paruh baya yang juga menghampiri mereka dengan senyuman yang terpancar di wajahnya.
"Wah, cewek Aden ini?" tanya Bi Ijah menggoda.
"Belum lagi, Bi. Masih calon," sahut Asril, tetapi cukup berhasil didengar Ana. Membuat gadis itu mencubit lengannya.