
Chika memandang Tom dengan rasa kecewa, marah, sedih, semuanya bercampur aduk. Dia tidak pernah menyangka bahwa Tom akan menawarkan pekerjaan keji itu.
Mata Tom dan Chika masih saling bertatap, sampai Chika berdiri dan pergi meninggalkan Tom, dia tidak tahu akan pulang dengan apa, yang dia tahu hanyalah dia ingin menjauh dari Tom, yang ada di kepalanya hanyalah dia ingin meninggalkan monster yang akan menjadikan dia hiburannya semata.
Tom mengejar Chika, menarik tangannya dan menghetikan Chika tepat di hadapannya.
"Aku nggak nyangka Om akan seperti ini, lepasin!" ucap Chika, tangannya memberontak genggaman Tom.
"Om akan antar kamu pulang, Om sudah tahu kamu pasti nolak, maafin Om," pinta Tom, dia mengucapkannya dengan nada lembut, mata Chika menatap Tom penuh dengan rasa benci, namun dia tidak bisa menolak untuk tetap menerima tawaran Tom, toh dia tidak tahu harus pulang dengan apa.
Di atas mobil Tom tak seperti biasanya, Chika dan Tom tak membuka mulut dan berbicara. Tom merasa canggung di atas mobil sedang Chika memandang keluar jendela, dan di benaknya hanya ada rasa menyesal, dia merasa bahwa dia telah direndahkan oleh Tom.
Tom menghetikan mobilnya, lalu saat Chika ingin keluar dari mobil Tom, dia merasakan tangan Tom menyentuh tanganya, refleks Chika menarik tangannya lalu menatap sinis Tom.
"Om minta maaf, Om nggak mungkin akan maafin diri Om sendiri," ucap Tom, namun tak diindihkan oleh Chika, dia hanya berlalu pergi, dan masuk ke dalam rumahnya yang terlihat gelap, karena tak ada yang menyalakan lampu.
Chika menyalakan lampu rumahnya, masuk ke dalam kamarnya dan tidur di atas kasurnya, mendengarkan musik yang mungkin menggambarkan perasaanya lagu fix you dari Coldplay.
When you try you'r best but you don't succed
When you get what you want but not what you need
When you feel so tired but you can't sleep
Stuck in revase
........
Chika sampai meneteskan air mata mendengar setiap lirik yang ada pada lagu itu, dia sampai lupa bahwa dia sendirian di rumahnya, dia sangat tak berdaya dengan dunia yang kejam yang saat ini dia tempati, dia bahkan tidak tahu mau mendapatkan uang jajan di mana untuk besok ke sekolah. Toh besok adalah hari senin dan dia tidak ingin meninggalkan pelajarannya hanya karena tak punya uang jajan.
Chika terlelap dan tidak peduli bahwa perutnya kelaparan, ponselnya butuh di charger, dan tubuhnya sudah menjadi gigitan nyamuk-nyamuk kelaparan.
Gadis itu terbangun dan baru menyadari bahwa dia harus mencharger ponselnya saat dia akan ke sekolah. Sampai dia tak tahu nomor tak dikenal sudah menelponya sejak tadi malam.
Saat Chika akan sekolah dia meminum air kerang untuk penjanggal perut sebelum ke sekolah, dia berjalan tanpa peduli siapa yang menelpon. Saat sampai di sekolahnya dia bertemu dengan Adel dia meminjam uang Adel untuk membeli jajanan.
Chika kembali mencharger ponselnya di kelasnya karena menurutnya ponsel itu masih butuh daya untuk diisi.
Dan saat sang guru menjelaskan yang tidak lain adalah Hermansya Raynaldi tiba-tiba saja ponsel Chika berdering di tempat charger yang sudah disediakan khusus kelas 12 ipa 4, sontak saja membuat semua yang ada di sana terganggu dengan deringan ponsel Chika, lalu Chika berdiri dan melihat bahwa nomor tak dikenal sudah beberapa kali menelpon, mungkin jika di hitung maka nomor itu sudah menelpon 23 kali sejak semalam. Malas dengan hal itu, dan tentu saja mengganggu seisi kelas, Chika langsung saja menolak panggilan itu, namun saat ingin mematikan daya ponselnya tiba-tiba masuk pesan ke dalam ponselnya, begini pesannya.
Kamu kemana saja, ini tante nak, ibumu semalam sekarat karena dokter bilang ibumu mengalami penyakit turunan dari nenekmu yakni lemah jantung nak, tadi pagi dokter mengatakan bahwa ibumu tak tertolong, kemana saja kau ini? Kami sangat khawatir nak, karena kau tak pulang-pulang ke rumah tante, datanglah ke rumah tante, ibumu akan dimakamkan di dekat makam nenekmu.
Pesan yang membuat Chika tak bergeming di tempatnya berdiri, dia bahkan tak mendengar suara Pak Herman memanggil-manggil namanya yang sejak tadi melihat Chika hanya memandang layar ponselnya.
"Chika!" panggil Herman namun Chika tak membalas, Herman lalu berjalan ke arah Chika dan menepuk pundak Chika.
"Chika!" ucap Herman sambil menepuk pundak Chika, yang kemudian membuyarkan lamunan Chika, dan tanpa sadar Chika meneteskan air matanya. Dia memandang Herman dengan kedua mata yang basah.
Saat melihat itu semua teman-teman Chika berdiri dari duduknya dan sangat terkejut, sedang Herman dia menopan tubuh Chika yang lemas, lalu temen-teman sekelas Chika berkerumung, Adel membaca pesan yang masuk ke dalam ponsel Chika, dan reaksi Adel pun sama terkejutnya tapi tak sampai pingsan.
Adel memberitahu semuanya tentang pesan yang masuk ke dalam ponsel Chika, mereka semua iba dengan keadaan Chika, bahkan Sabrina sendiri pun merasa kasihan pada Chika.
Herman pun membawa Chika ke uks, dan memberikan Chika minyak wangi yang membuat Chika bangun perlahan.
"Ibu," katanya, kata pertama Chika saat tersadar dari pingsannya.
Dia lalu melihat Herman sudah ada di hadapannya beserta Adel di hadapannya, hanya beberapa yang dibiarkan dan saat itu hanya Herman dan Adel yang ada di sana.
Chika menangis, matanya meneteskan air mata, dia menutup matanya dengan telapak tangannya, terisak. Herman dia menatap Chika kasihan, dia tidak tahu bagaimana caranya menenangkan Chika, dia hanya menatap gadis yang tengah menangis itu.
Adel memeluk tubuh temannya itu berniat menenangkan, Chika betul-betul hampa saat itu.
"Del, ambilkan tas Chika di kelas," perintah Herman.
"Baik Pak," jawab Adel, dia berdiri dan segera mengambil tas Chika di kelasnya.
Sedang hanya Herman dan Chika di ruang uks itu, Chika bersandar di kepala tempat tidur uks, mata basahnya menatap Herman yang menatapnya tulus.
"Aku tahu bagaimana sakitnya itu Chik, aku juga kehilangan ibuku diwaktu remaja," kata Herman menatap Chika. Herman memajukan tubuhnya, dia duduk di pinggir tempat tidur, dia menatap Chika lalu dengan cepat Chika memeluk tubuh kekar Herman, menangis di pelukan guru tampannya itu, baju dinas Herman basah karena air mata Chika.
"Kenapa ini terjadi sama aku Pak? Aku nggak tahu harus apa lagi, aku sudah nggak tahu harus bagaimana setelah ini, aku betul-betul hampa saat ini, hiks...," ucap Chika sambil terisak di pelukan Herman.
Dam Herman dia mengelus rambut pendek Chika, dia sangat kasihan dengan apa yang terjadi pada Chika.
Hingga Adel datang, Chika masih berada di pelukan Herman, itu membuat Adel tentu saja terkejut, walau dia paham betul dengan sikap perhatian sang guru.
Chika diantar oleh Herman ke rumah tantenya, di sana sudah ada kakek Chika dan saudara-saudara ibunya yang lain, Chika langsung berlutut di hadapan jasad sang ibu, baru kemarin Chika berbicara dengan ibunya, jika dia tahu semua ini dia tidak akan pergi menemui Tom, dan meninggalkan ibunya di rumah sakit.
Chika menangis sambil memeluk jasad ibunya dan menangis berusaha untuk kuat dengan nasibnya.
******
Setelah pulang dari pemakaman Chika langsung diantar ke rumah kakeknya yang tinggal hanya berdua dengan anak bungsu kakeknya atau tante Chika. Dia tidak ingin tinggal di rumah tentenya lagi jadi dia lebih memilih untuk tinggal di rumah kakenya.
Mata Chika bengkak, tak tahu apa yang dipikirkannya dia langsung saja mengambil ponselnya dan mengirimkan Tom sebuah pesan yang bertuliskan--
Om aku mau jadi sugar babynya Om
Pesan Chika, dia masih meneteskan air mata, saat itu, Chika tak dapat berpikir jernih sehingga dia mengirimkan Tom pesan seperti itu, di dalam kamarnya dia hanya duduk diam dengan pandangan kosong.
Sampai adik dari almarhum ibunya itu datang memanggil untuk makan malam di rumah yang cukup besar, terlihat Chika menerima perlakuan baik di sana, namun dia tidak ingin merepotkan kakek dan tantenya dengan kehadiran dirinya itu sehingga menerima saja tawaran Tom untuk bertahan dari kejamnya dunia.