
"Chika hari ini gue nggak bisa ngantarin lo pulang soalnya gue harus bonceng sepupu gue yang mau nginap di rumah gue," ucap Adel seraya meyankinkan Chika dengan wajah sedikit sedih.
"Nggak Papa Kok," jawab Chika dengan santai saat dia sudah membereskan buku-bukunya.
"Serius nih, jauh loh rumah lo itu."
"Emangnya selama ini gue naik apa ke sekolah? Naik heli? Enggak kan, malahan jalan kaki, udahlah. Pulang duluan ya," ucap Chika menarik tasnya dan berjalan pergi melalui pintu kelasnya.
Tak ada hentinya dia memikirkan Herman yang selalu menari-nari di pikirannya, senyum tipis di bibirnya selalu nampak disepanjang jalan.
Dia mendengarkan musik melalui earphone dan menikmati suasana sore. Sesekali bernyanyi mengikuti suara di telinganya.
"....So now the day bleeds into nightfall and you not here to get me trough it all, i let my guard down and then you pull the rugh, i was getting kind use to be you someone you loved...." suara Chika yang menyanyikan lagu someone you loved oleh Lewis Capaldi.
setelah lelah berjalan pulang, bukannya dia akan mendapatkan waktu untuk istirahat dia malah melihat polisi berada di rumahnya dan melihat ayahnya terborgol, hampir Chika pingsan melihat kejadian itu.
Dia mencari ibunya tapi para tetangga mengatakan bahwa ibunya dilarikan ke rumah sakit akibat pukulan keras dari ayahnya.
Tetangga yang melihat itu langsung saja melapor ke kantor polisi sedang ibu Chika dibawa ke rumah sakit, kini Chika hanya sendiri dan harus merawat ibunya yang terbaring lemah di rumah sakit.
Chika masuk ke dalam rumahnya melihat beberapa barang sudah hancur, matanya berkaca dan sebentar lagi akan turun hujan lebat yang membanjiri pipinya.
Chika duduk di atas lantai rumahnya menatap ke arah atap rumahnya berharap keajaiban datang dan memberinya keluarga yang betul-betul mencintainya, menyayanginya dan peduli terhadapnya.
Setelah merenung lama dengan tetes air mata dia beranjak dan membersihkan rumahnya, menatap beberapa piala beserta piagam penghargaan yang didapatkannya selama bersekolah kini tak bisa membantunya, dia berharap bahwa itu semua nanti bisa membawanya ke kondisi yang lebih layak.
Setelah membersihkan Chika menuju kamar mandi untuk mandi, karena dia akan ke rumah sakit menemani sang ibu, dia membawa beberapa barang dan juga makanan, dia tidak tahu harus dia apakan uang Tom, di sisi lain dia merasa tidak enak dengan Tom, dan di sisi lainnya dia juga merasa bahwa dia harus menggunakannya untuk saat yang sulitnya saat ini.
Bebarapa tetangga yang iba memberi Chika uang dan ada juga yang memberinya makanan yang sekarang Chika bawa untuk ibunya. Chika menatap sang ibu di balik kaca yang sedang terbaring di tempat tidur kurus panjang rumah sakit.
"Sekarang aku harus apa? Aku betul-betul tidak tahu dimana arah jalanku saat ini," monolog Chika dengan rasa lelah dan menunduk menatap lantai rumah sakit, sesekali matanya menjatuhkan air mata.
Hati Chika baru tenang pada saat keluarga dari ibunya datang, saudara-saudara sang ibu yang mendengar berita itu langsung datang ke rumah sakit.
Sebenarnya keluarga ibu Chika adalah keluarga yang terbilang cukup mampu tapi ibu Chika lebih memilih terlilit hutang kebanding meminta bantuan pada orang tuanya.
Mungkin dikarenakan malu karena ibu Chika lebih memilih sang suami daripada keputusan orang tuanya untuk menjodohkannya dengan pria yang lebih mapan, yang pada akhirnya disesalinya karena menikah dengan seorang pemabuk yang mengerikan.
"Kau bisa tinggal di rumah Tante untuk sementara waktu," tawar wanita paru baya yang berada di samping Chika yang tidak lain adalah kakak dari ibu Chika.
"Lalu bagaimana dengan ibu?" tanya Chika khawatir.
"Tante tidak akan biarkan Mia kembali ke kampung jelek itu, setelah Mia sembuh kalian akan tinggal di rumah kakekmu, dan jauh dari pemabuk itu, sekarang pulanglah ke rumah tante bersama Om mu, biar Tante di sini ok?"
Chika hanya mengangguk mengiyakan, dia rasa akan lebih aman jika tinggal bersama dengan tantenya untuk saat ini.
******
"Bagaimana? Apa kau ingin mengurus Kafe Publik untuk saat ini?" tanya Tom pada Herman yang duduk di hadapannya.
"Kafe Publik?"
"Iya, sekarang sedang ramai di sana, aku kualahan mengurus semuanya, bukankah kau meminta usaha untuk dibangung, aku berikan Kafe Publik untukmu," jelas Tom.
"Baiklah, aku mulai kapan?" tanya Herman sembari berdiri dari duduknya berniat untuk pergi dari sana.
"Besok aku akan memperkenalkanmu dengan karyawan sebagai peminpin barunya ok?" Tom yang ikut berdiri.
Herman keluar dari ruangan Tom dan bersiap untuk usahanya nanti di Kafe Publik, dia betul-betul tidak sabar menjadi pengusaha baru.
******
Makan malam dengan sepupu-sepupunya di meja makan yang sangat layak, tidak seperti rumahnya yang sudah seperti gudang lama yang tak terurus.
Chika merasa canggung dihari pertamanya di rumah itu, suami tantenya dan sepupu-sepupunya tidaklah terlihat ramah melainkan terlihat dingin dan bahkan tak menyambut Chika.
Setelah makan Chika langsung masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan untuknya, setelah itu dia menutup rapat-rapat kamarnya itu.
"Menyebalkan! Kaya sih kaya tapi nggak seperti vampire juga suasananya, dingin banget kayak kutub," keluh Chika saat sudah berada di dalam kamaranya, "Eh stststs, jangan bilang begitu Chik syukur-syukur lo bisa dapat tumpangan di sini." monolognya, lalu Chika melempar tubuhnya ke ranjang yang lebih empuk dari ranjangnya yang tidak lebih empuk dari ranjang uks sekolah.
Chika meraih buku bacaannya kali ini dia membaca buku karya Rick Riordan, yakni seri ke tiga Percy Jackson. Dengan khusyu dia membacanya sampai suara ponselnya berdering.
Dari Adel, tanpa berpikir panjang Chika menjawabnya.
"Gue dengar ayah lo ditangkap dan ibu lo masuk rumah sakit, terus lo sekarang dimana? Lo nggak papa kan, gue khawatir loh ini," ucap Adel, suaranya yang ada di balik ponsel.
"Lo dengar dari mana beritanya?"
Mendengar ucapan Adel sontak Chika terkejut.
"Dari Hilda, dia kan punya jarak rumah yang lumayan dekat sama lo, jadi dia kabarin teman-teman grup, lo hebo sekarang!"
"Gue mah setiap hari hebo Del, terus respon temen-temen?"
"Ya gitu, ada yang iba, ada yang merasa jijik gitu sama bapak lo."
Mendengar itu perasaan Chika down dan berniat untuk lebih kuat.
"Gitu ya, Del aku mau minta tolong nih."
"Iya boleh kok, boleh banget, minta tolong apa?"
"Besokkan hari sabtu nih, boleh nggak lo bantuin gue nyari kerja paruh waktu."
"Lo niat kerja? Belum bisa Chik, lo kan masih pelajar"
"Besok aja gue ceritain bagaimana caranya ok, tutup dulu ya."
******
Keesokannya, Chika bersiap untuk menemui Adel dia memakai jaket levis dan celana levis yang serasi dengan jaketnya, dia juga memakai shirt hitam serta sepatu tali yang menambah kesan rock n roll seorang Chika.
Saat itu Chika menunggu di depan halte bus di dekat rumah tantenya, dia sebelumnya sudah minta izin pada tantenya itu.
Tak lama kemudian Adel datang dengan baju lengan panjang bewarna hijau army.
"Mm, rencana lo apa?" tanya Adel yang baru datang, bahkan dia belum turun dari motornya.
"Gue nyuri kartu keluarga dari keluarga tante gue, anak pertamanya cewek sekarang lagi nggak ada di kota kita, kita kan bisa palsuin kan, dan untuk urusan ktp nanti kita urus pas masuk kerja ok," jelas Chika yang membuat Adel langsung menelan ludah.
"Lo yakin mau ngepalusiin identitas lo?"
"Tenang aja, aku liat ada lowongan kerja di Kafe Publik, walau kita belum kenal sama pemiliknya, setidaknya yang ngurus kafe itu sering ngeliat kita dan di sana pun ada lowongan kerja buat karwayan baru, buruan gih antarin gue ke sana," ucap Chika sambil menepuk bahu Adel dengan rasa semangat.
"Lo pinter tapi nggak begitu pintar ya, ngelamar kerja bukan hanya pake kk, ijazah juga perlu!" bentak Adel.
"Gue tahu Del, udah beres semuanya, gue kan nginap di rumah tante gue pas di kamar kakak sepepu gue yang lagi di luar kota, gue nemuin ijazahnya ayo buruan!" perintah Chika.
"Gue nggak mau masuk-masuk ya kalau lo kena sanksi nantinya!"
Adel menancapkan gas motornya menuju tempat yang biasa mereka kunjungi. Sesampai di sana Chika dengan menampakkan senyum ramah dan melepas jaket levisnya diganti yang sekarang hanya nampak shirt warna hitam masuk ke dalam kafe.
"Kak, mmm aku mau nanya tentang lowongan kerja yang terpampang di luar apa masih berlaku?" tanya Chika pada salah satu gadis pelayan di sana.
"Oh itu, iya masih berlaku kok," jawab dengan ramah gadis itu.
"Terus kalau aku mau ngelamar kerja di sini bagaimana caranya ya Kak?" tanya Chika lagi.
"Kebetulan sekali, pemilik baru kafe ini akan datang beberapa menit lagi, tadi dia baru keluar setelah memperkenalkan diri, katanya bentar datang lagi, jadi Adek boleh menunggu di dalam, sini saya antar," ajak gadis pelayan itu.
Chika pun mengikuti arah gadis itu, lalu dia duduk di kursi yang sudah di siapkan, dia merasa sangat antusias walau terselip rasa gugup dalam hatinya karena berbohong.
Bosan menunggu Chika membuka layar ponselnya dan mendapatkan pesan dari Adel.
Adel: Woi gue liat barusan Pak Herman masuk ke dalam kafe!
Membaca itu Chika sontak kaget dan merasa kuatir apabila sang guru melihatnya di sana.
*Chika: Lo salah liat kali.
Adel: Enggak, gue nggak salah liat betulan, plat mobilnya 1831 YB tau*.
Gugup Chika langsung mematikan ponselnya dan tetap duduk tenang si sana.
Lama menunggu seorang pria membuka pintu perlahan dan betapa kagetnya Chika saat melihat pria dengan kemeja putih dan celana kain berwarna biru navy masuk ke dalam ruangan itu.