A Moment

A Moment
Bercanda



Mendengar Tom mengatakan hal itu, membuat Chika melepaskan tangan Tom yang sedari tadi ia genggam.


Bermalamlah denganku malam ini....


Ucapan itu mampu membuat Chika terdiam, hilang kata-kata, matanya agak berkaca, inilah yang sebenarnya ia takutkan. Tom menuntut balasan atas apa yang telah ia berikan pada Chika.


Tentu saja Tom pasti akan meminta itu semua, menginginkan Chika betul-betul menjadi miliknya.


Sebelum memutuskan untuk menerima tawaran Tom, Chika sudah memikirkannya, dia sudah menyiapkan mental terbaiknya jika menghadapi momen seperti ini.


Lama berfikir panjang, Chika akhirnya memutuskan hal yang tidak diduga-duga oleh Tom.


"Ok, ok, Om mau bermalam denganku, baiklah, kita akan bermalam bersama malam ini, dimana kita akan bermalam, di hotel, di villa, dimanapun yang Om inginkan," ucap Chika, tatapannya kemana-mana, dia sama sekali tidak menatap ke arah Tom.


"Ok?"


"Iya, Om pengen kan? Baiklah kita lakukan, Om memberikan aku apapun yang kuinginkan, sepatu, seragam, tas, dan barang-barang mahal lainnya tidak mungkinkan Om berikan itu semua dengan cuma-cuma, lagian ya Om aku udah pikirin ini sejak aku memutuskan untuk menjadi sugar baby jadi kenapa aku harus menolak," jelas Chika, matanya kini tersangkut pada tatapan Tom yang terlihat heran.


"Chika!" Tom, kedua tangannya berada di atas bahu Chika, menatap mata Chika yang agak berkaca, mungkin karena shok mendengar tawaran Tom.


"Chika, Om cuman bercanda, kau pikir Om serius? Tidak mungkin Om berani kayak gini, astaga Chika..., baik kau sekarang betul-betul polos, entah apa yang terjadi jikalau bukan aku yang menawarimu menjadi baby sugar, entah apa yang terjadi jika pria lain yang menawarimu, mungkin kau sudah bukan Chika yang sama lagi." Tom terdiam, hilang kata-kata, dia menatap langit yang sudah berubah jingga, dia betul tak percaya kalau Chika betul-betul menerima tawaran Tom.


"Bercanda?" tanya Chika membuka mulut saat lama mengamati pergerakan wajah Tom.


Tom yang tadi menatap langit, kini langsung menatap Chika.


"Iya bercanda, dengar Chik, aku ini seorang ayah, ayah dari dua anak gadis, Dinda yang lebih tua darimu, dan Karina yang lebih muda darimu, bagaimana mungkin disaat aku memiliki dua putriku itu, aku berani macam-macam dengan anak gadis orang lain. Chika, jangan pikir Om berani menjadikan kau sugar baby, berarti Om juga berani macam-macam denganmu, tidak mungkin Om melakukan itu!" tegas Tom.


"Kenapa tidak?"


"Karena Om tidak mungkin merusak apa yang Om ingin jaga, ya! Aku ingin menjagamu, menjaga gadis yang baru 2 bulan Om kenal, karena sejak pertama kali kau memberikan senyum itu, senyum saat kita pertama kali bertemu, saat itu juga kau menunjukkan pada ku bahwa kau tidak betul-betul tersenyum, tidak betul-betul bahagia saat itu. Chika dalam sesaat kau..., kau seperti menyihirku, dan saat itu, in that moment, aku lupa bahwa aku sudah tua." jelas Tom, seketika membuat Chika meneteskan air mata.


Untuk pertama kalinya dia betul-betul merasa dilindungi dimana ayahnya saja tidak bisa, untuk pertama kalinya Chika merasa bahwa dia penting bagi seseorang, merasa bahwa dia dicintai oleh seseorang, walau orang itu, walau pria itu, adalah milik orang lain.


Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Tom, Chika menunduk lesuh dan memutar balik tubuhnya, mulai berjalan pelan menjauhi Tom, dia merasa seakan dia tidak pantas untuk dicintai oleh siapapun. Dia membutuhkan cinta tapi bukan cinta dari pria yang berkeluarga, apalagi punya dua anak, itu tentu saja membuat Chika merasa bahwa semua ini, permainan ini perlu diakhiri sebelum dia mulai membuka hatinya untuk Tom.


"Chika!" Tom, dia menarik tangan Chika yang mulai melangkah menjauhinya, namun saat tangan Tom menarik Chika dan tubuh Chika mulai tertarik dan berputar ke arahnya, kaki Chika terpeleset dan---


mereka terjatuh ke pinggir laut yang berombak, saat kedua tubuh itu membentur air dan kepala mereka tenggelam ke dalam air laut, mata Chika yang tak tahan dengan air asin tertutup, sedang Tom matanya seakan tak peduli seberapa perih air garam membentur matanya, yang dia lihat saat itu adalah wajah cantik dan enak dipandang, wajah Chika yang tidak membosankan, wajah Chika yang menenangkan, dan rambut pendek miliknya melayang-layang di bawah laut, membuat Tom semakin lupa bahwa dia sedang berada di dalam air.


Chika yang tak tahan bernafas saat itu langsung saja keluar dari air tersebut dengan nafas yang terengah-engah.


"Hufs...,ha..., hah...." Chika berusaha mengatur nafasnya, dan baru menyadari bahwa ada air yang masuk ke dalam telinga kirinya, dia lalu memiringkan kepalanya, memukul-mukul kepalanya pelan, berusaha mengeluarkan air yang ada di telinganya.


"Apa ini, telingaku tidak berfungsi dengan baik," ucapnya sambil memiringkan kepalanya.


Lalu perlahan, Tom mengeluarkan kepalanya dari air yang tadi menenggelamkannya. Dia menatap Chika, yang sibuk dengan dirinya sendiri, dan lihat senyum yang sama di nampak kan Tom saat mereka baru pertama bertemu.


"Eits, jangan begitu, bukan begitu caranya mengeluarkan air dari telinga," ucap Tom, dan langsung berjalan cepat ke arah Chika.


"Ini semua gara-gara Om Tom, telingaku jadi kayak gini," keluh Chika.


Kemudian Tom mengambil sedikit air laut lalu memasukkan ke telinga Chika perlahan agar memancing air yang ada di dalam keluar, dan syukurlah akhirnya berhasil.


"Tuh kan, gitu caranya, kamu sih, nepuk-nepuk kepala kayak gitu nanti nggak pintar lagi loh," goda Tom. Dia menepuk-nepuk bajunya yang kebasahan, dan menatap langit yang akan berubah malam. Matahari tinggal separuh di langit barat dan itu tandanya Chika harus pulang ke rumah kakeknya.


"Bagaimana aku akan pulang kalau bajuku kayak gini!" keluh Chika, dia sekarang memonyongkan bibirnya, dan membuat Tom terkekeh melihat wajah menggemaskan Chika.


"Kita di sini dulu, tunggu sampai pakaian kita kering, baru pulang," ucap Tom, dia berjalan menjauhi ombak lalu duduk di atas pasir putih yang jauh dari ombak yang siap menyerang.


Tom dan Chika duduk berseblahan memasang matahari yang sebentar lagi tenggelam.


"Jika Herman yang menginginkan ini, apa kau akan melakukan secara gratis?" tanya Tom, pertanyaan yang sekali lagi membuat Chika sontak terdiam.


"Tanpa balasan apapun, tanpa tas baru, tanpa sepatu baru, apakah kau akan memberikannya? Chika?"


"Pak Herman tidak akan meminta itu, aku kenal dia," jawab Chika santai.


"Bagaimana kalau tidak, bagaimana kalau dia tiba-tiba menginginkammu, mengingat Arinda sudah bukan miliknya lagi, kemungkinan dia akan memilihmu Chika, dia akan memilihmu," jelas Tom, matanya memandang matahari yang akan tenggelam.


"Walau dia tidak memilihku, dia akan selamanya menjadi cinta pertamaku, Om."


Percakapan antara Tom dan Chika berakhir disaat mereka memilih untuk pulang, beristirahat dari dunia nyata yang amat menyakitkan.