
Chika diantar oleh tantenya menuju sekolah, dan diberi cukup uang jajan, dia berjalan masuk ke dalam gerbang sekolah, sesekali berhenti karena gugup dan menarik nafas dalam-dalam, lalu berjalan lagi dengan percaya dirinya, membuang jauh-jauh rasa gugupnya, dia hanya berjalan dengan gaya yang tak biasa, matanya memandang ke depan dengan kepala ditegakkan tanpa menoleh ke kiri dan kanan. Kini Chika memilih berubah, dia akan lebih diam, jika ditanya dia menjawab, jika tidak dia akan diam saja, jika temannya mengejeknya maka dia memilih untuk diam, dan jika berhadapan dengan Hermansya Raynaldi, Chika memilih untuk tak menyapa lebih selain tersenyum pada pria yang sangat ia sukai itu. Tapi ternyata dia tidak bisa.
Chika duduk di kursi kelasnya, seperti biasa Chika selalu menjadi yang tercepat datang ke kelas, dan menit demi menit teman-teman yang lainnya datang, sesekali memandang Chika yang hanya memainkan ponselnya.
Tidak lama kemudian Adel datang dan duduk di samping Chika namun Chika hanya memainkan ponselnya.
"Hei, lo udah dapat kerjaan?" bisik Adel agar tak ada yang mendengar.
"Udah," jawab Chika singkat.
"Kerja apa? Di mana? Dan bagaimana bisa?" tanya Adel lagi, matanya melotot dan suaranya agak keras.
"Stststst, nggak usah tahu, mulai sekarang lo nggak usah lagi antar aku pulang, aku langsung ke tempat kerja."
Lalu Chika kembali memainkan jemarinya di layar ponselnya.
"Kok gitu sih, gue kan teman lo, kalau nggak mau diantar nggak ap apa, tapi kasi tahu gue dong lo kerja apa?" tanya Adel memaksa.
"Ok, pekerjaannya hanya dilakukan oleh profesional, dan berbahaya, gue nggak bisa kasi tahu lo, soalnya nanti aku dalam bahaya," jelas Chika, memang benar bahwa dia sedang dalam pekerjaan yang berbahaya.
Adel memandang Chika dengan tatapan sebal dan menganggap bahwa apa yang dikatakan Chika itu adalah omong kosong.
"Bullshit! Omong kosong tahu nggak, ok kalau lo tidak mau jawab, gue nggak akan pernah lagi temenin lo ke Pak Herman titik!"
Adel menampakkan wajah sebal dan terlihat cemberut.
"Ya udah kalau nggak percaya, nanti lo tahu sendiri kok kalau gue itu nggak bohong." ucap Chika, lalu dia kembali fokus ke layar ponselnya. Guru yang mengajarnya datang, hingga jam pelajaran habis, Chika dan Adel tidak saling bicara. Dan saat Chika hendak berdiri dan keluar dari kelasnya tiba-tiba seorang gadis berdiri tepat di hadapannya dan menaruh sebuah buku di meja Chika.
"Gue udah baca semuanya, semua yang kamu tulis di diary mu ini, gue bisa aja nyebarin semuanya, tapi gue kasihan sama lo, ambil aja," ucap Sabrina yang menaruh buku diary Chika yang menuliskan segala perasaannya pada Herman.
Adel yang ada di sana melotot melihat Sabrina sudah membaca diary Chika.
Chika menarik nafas dan menghembuskannya mengangkat kepalanya menatap Sabrina, dan berkata, "Aku harap lo tidak becanda dan tidak menyimpan dendam sama gue," ucap Chika.
"Tergantung, itu kalau lo tidak lagi nyebelin sama gue," ucapnya dan pergi dari sana.
Chika langsung menghembuskan nafas legah telah mendapatkan diary mililnya kembali.
"Sabrina berarti tahu dong segalanya," ucap Adel, menepuk pundak Chika.
Chika menoleh dan berkata, "Semuanya, dia tahu semuanya. Karena itu dia ingin aku mengikuti permainan truth or dare."
"Astaga, apa mungkin dia membocorkannya?" tanya Adel.
"Mungkin, tapi tidak, Sabrina menunggu waktu yang tepat, mungkin dia sudah memfotonya dan akan menyebarkannya nanti. Tunggu waktu yang tepat saja."
Tidak lama berbincang, Chika keluar dari kelasnya, merasakan tiupan angin yang berasal dari pohon-pohon di sekolah Citra Negara. Menatap lapangan tempat para murid laki-laki bermain futsal. Lalu terlintas di matanya, Hermansya. Chika berfikir untuk tidak menemuinya, dan tidak ingin, namun hatinya selalu membuat kakinya ingin melangkah menemui Hermansya Raynaldi.
"No, You will not meet whit Him today," ucapnya sendiri, namun kakinya tetap saja melangkah.
"Oh no, came on, No!"
Tapi Chika tetap melangkah. Dan akhirnya dia menghentikan gurunya itu, dia mengangkat tangannya ke depan tepat di hadapan sang guru tanda untuk menghentikan Herman.
Herman berhenti saat melihat tangan Chika berada tepat di hadapannya.
"Kenapa?" tanya Herman.
"Biar aku saja yang membawakan tas Bapak," tawar Chika, dengan senyum di wajahnya.
"Tidak usah berat, ada laptop di dalamnya," balas Herman menolak.
"Ayolah Pak, itu tidak akan memberatkan saya, lagi pula saya sudah berpengalaman dengan beban-beban berat," lanjut Chika.
"Tidak Chika," ucapnya berjalan lurus namun tetap dihentikan oleh Chika. Gadis berambut pendek itu kini berada tepat di samping Herman memegangi tali tas selempang Hermansya, namun arah tubuh mereka berlawanan arah, Herman menghadap ke timur dan Chika menghadap ke barat, dan kini Chika mengangkat kepalanya menatap Herman dan Herman dia menghadap ke bawah, menatap wajah Chika yang mendongak.
"Tidak akan berat, saya yakin," Chika meyakinkan.
"Baiklah," Herman kemudian melepaskan tasnya dan memberikannya pada Chika dan berkata, "Saya tidak bertanggung jawab jika bahumu pegal nantinya."
"Ok Pak Bos," ucap Chika tersenyum, dan pada saat Herman memberikan tasnya, betul bahwa tasnya sangat berat dan mampu membuat bahu Chika merasa kesakitan.
"Ikuti saya," ucapnya, berjalan lincah ke depan.
Chika merasa sedikit berat dan dengan suara kecil namun bisa terdengar oleh Herman, begini katanya, "Kalau begini mah aku tidak mau," ucap Chika.
"Apa katamu?" tanya Herman, menolah ke belakang.
"Eh, kataku? Oh bapak ganteng sejak kemarin."
Mendengar ucapan Chika pipi Herman berubah Merah dan terlihat menahan senyum yang seakan ingin nampak di wajahnya.
Chika tersenyum dan lupa bahwa dia akan berubah bahkan pada Herman, namun tidak, dia tidak bisa berubah.
********
Dia Cinta Pertamaku**
Chika saat menulis di buku diary, saat itu dia sedang berada di atas mobil mewah milik Tom.
"Tulis apa?" tanya Tom.
"Tentang rahasia cinta," jawab Chika, tatapannya masih ada dalam bukunya.
"Herman?"
"Yup," jawab Chika singkat. "Eh, Om, kita mau kemana?"
"Belanja," jawab Tom.
"Belanja?"
"Iya, kita ke mall, aku pikir perempuan suka belanja, tidak terkecuali kamu kan? Dan Om pikir ini adalah permulaan untuk kamu dan Om," jelas Tom.
"Oh," Chika mengangguk.
"Suka?"
"Baiklah, kalau itu mau Om, hari ini aku akan habiskan uang Om," jawab Chika menatap tajam Tom yang sedang sibuk mengemudi.
"Cukup adil," balas Tom tersenyum.
Setelah sampai tepat di dalam Mall mewah yang tidak lain adalah mall milik Tom sendiri, Chika langsung berlari masuk ke dalam Mall dengan kaki lincahnya dan anehnya Chika tak memakai alas kaki, dia melepaskan alas kakinya saat di atas mobil Tom. Tom hanya terkekeh kecil melihat tingkah laku gadis kecil yang sudah dimilikinya itu.
Dan saat Chika berada dalam Mall mewah semua orang memandanginya namun dia tidak peduli semua itu, dan tiba pada saat dia berada di tempat pembelanjaan pakaian, Chika mengambil apapun yang dia sukai, kaos, celana, sepatu, sendal, dress, tas, dan singgah di gramedia mall, Chika juga membeli buku salah satu buku yang sudah lama dicarinya yakni buku yang berjudul, Lolita karya Vladimir Nabokov. Chika merasa bahwa dia adalah Lolita milik Herman namun ternyata ada pria dewasa lain yang lebih ingin memilikinya.
"Ok, sudah?" tanya Tom saat dia membawa barang-barang Chika.
"Belum," jawab Chika, kini matanya tersangkut pada tempat penjualan elektronik. "Laptop, aku mau laptop."
Chika lalu Berjalan menuju tempat tujuannya, sedang Tom sudah kesulitan membawa barang-barang Chika. Entah apa yang dipikirkan Chika, dia berbelok dan berkata, "Sudahlah, ayo pulang," ucapnya membuat Tom agak legah dengan hal itu, hampir saja Chika menghabiskan uang Tom dalam sehari.
"Uh, akhirnya pulang juga," ucap Chika saat mendaratkan bokongnya di atas kursi mobil Tom.
Dan Tom memasukkan barang-barang Chika ke dalam mobilnya di kursi belakang. Dan masuk ke dalam mobilnya, mengendarai mobil.
"Astaga, kau hampir saja membuatku bangkrut," ucap Tom, matanya fokus ke depan.
"Sudah aku bilang," balas Chika.
"Kau tidak ingin makan dulu, ini belum malam, apa kau sudah mau pulang?"
"Kalau aku pulang mungkin Kakek dan Tanteku akan bertanya dimana aku mendapatkan barang-barang ini." Chika merenung.
Tom memandang Chika sesaat lalu matanya fokus lagi ke depan.
"Lalu kenapa? Jawab saja kalau ini dari pacarmu, apa susahnya," usul Tom.
"Apa? Come on, emangnya segampang itu, Tuan Arfinjaya!" ucapnya, Chika mengeraskan suaranya tepat di telingan Tom.
"Om becanda, kamu simpan saja di rumah lama orang tua kamu, terus Om antar ke rumah Kakek kamu, setuju?" usul Tom lagi.
"Oh iya ya, tapi sebelum itu kita harus...."
"Harus apa?"
"Harus makan, aku laper."
Mereka berdua singgah di rumah makan pinggir jalan, dan mengantar barang-barang Chika ke rumah lama Chika, setelah itu baru ke rumah kakeknya.
Tom menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah kakek Chika.
"Makasih ya Om," ucapnya sembari tersenyum pada Tom, dan Tom yang juga tersenyum pada Chika.
"Ok sekarang turunlah, dan ini kartu rekening khusus untuk kamu, sudah Om masukkan saldo ke dalamnya," ucap Tom sambil mengulurkan kartu rekeningnya pada Chika.
Chika menatap Tom lekat-lekat, mata mereka saling bertatapan, mata jernih, indah, dan masih muda, bertatapan dengan mata yang sudah terlihat kerutan di samping dan di bawah kelopak matanya, yang sudah terlihat lelah, dan hitam di bagian bawah matanya.
Lalu Chika memajukan wajahnya, dan semakin memajukannya membuat nafas Tom sudah terasa di bagian bibir Chika. Dan Chika dia langsung mengecupkan bibirnya tepat di pipi kanan Tom lalu dia berkata, "Untuk permulaannya di bagian pipi dulu," ucap Chika saat selesai mengecup pipi Tom. Ucapan Chika membuat Tom tersenyum, pipinya berubah merah tanda malu-malu.
********
Itu baru permulaan, kecupan di pipi masih belum apa-apa, kisahnya masih baru dimulai, antara Chika, Tom dan Herman.