
"Udah bangun ya, ternyata kau tukang tidur," ucap Herman ketika dia berjalan masuk dan akan membuka tirai jendela.
Melihat Herman ada di sana, membuat Chika membulatkan matanya dan mukutnya menganga seakan tak percaya yang terjadi.
Dia kebingungan, matang mengikuti setiap langkah Herman.
"Kau ketiduran di sekolah, jadi aku membawamu ke rumahku, senang?" ucap Herman dan kemudian duduk di samping Chika, menatap Chika dengan senyum.
Chika kemudian memeriksa pakaiannya, kalau-kalau Herman melakukan hal buruk padananya, tindakan Chika disadari oleh Herman danembuat pria yang ada di sebelahnya itu merasa tersinggung.
"Tenang saja aku tidak melakukan apa-apa padamu, kalau pun aku melakukannya kau pasti menyukainy," ucap Herman dengan senyum miring di wajahnya.
Chika memandang Herman dengan tatapa tajam yang dimilikinya.
"Mulut Bapak empuk sekali. Aku harus pulang, aku mau mengganti pakaian ku di rumah Kakekku, jam 8 kita harus latihan," ucap Chika.
"Aku tidak mau mengantarmu pulang, kalau mau pulang saja sendiri, ada bekas pakaian ibuku, kau bisa menggunakan itu, tidak usah pake pulang segala," ucap Herman, menatap Chika lekat-lekat dengan nada serius.
"Apa? Oh aku tahu, Pak Herman mau macam-macam kan, bilang aja, ka?"
"Kalau aku mau aku sudah lakukan semalam, sekarang bergegaslah, ketu angkatanmu akan mengomel jika kau terlambat," ucapnya, lalu berdiri membelakangi Chika, terlihat senyum miring di wajahnya.
Herman kemudian keluar, dia juga segera bergegas, dia tahu kalau Chika menyukai apa yang telah dia lakukan.
Dan Chika, dia tidak ada hentinya tersenyum di dalam kamar, lihat dia, dia berseri dan melihat keluar jendela, dia melihat halaman yang luas dan pohon di pinggir halaman itu, serta bunga-bunga yang menghiasi halaman rumah Herman.
Kemudian Chika melihat bahwa sudah ada pakaian yang disiapkan Herman untuknya. Namun ransel milkinya ternyata tidak dibawa Herman, ketinggalan di sekolah.
Lalu melihat ada ruangan kecil di bagian sudut kamar, yang ternyata adalah kamar mandi khusus.
"Apa Pak Herman tinggal sendiri di rumah ini?" monolognya. Chika kemudian bergegas mandi dan bersiap.
Herman yang sudah siap dengan pakaiannya tiba-tiba kepikiran dengan Karina, dia menengok ponselnya, namun pesan yang masuk hanya masuk tidak ada yang mencurigakan.
Dia kemudian menaruh kembali ponselnya dan kembali memasak kemeja berwarna putih miliknya. Setelah siap, Herman menuju tempat Chika.
Sebelum masuk dia mengetuk dulu, kalau-kalau Chika sedang berpakaian takut nanti dituduh yang tidak-tidak oleh Chika.
Suara ketukan pintu dari luar.
"Aku udah siap Pak!"
Mendengar itu Herman langsung masuk ke dalam kamarnya dan betapa terkejutnya dia saat melihat Chika yang memakai topi berwarna merah jambu bertuliskan Forever Young, sebuah topi yang berpasangan dengan milik mantan kekasihnya.
"Darimana kau dapatkan itu?" tanya Herman.
"Apa?"
"Topinya."
"Oh, aku suka tulisannya, forever young, bukankah itu keren Pak," balas Chika.
"Kalau kau mau ambil saja, sekarang naik ke mobil. Dan jangan lupa bawa pakaian kotormu, aku tidak mau mencucikannya untukmu, juga kembalikan pakaian ibuku," ucap Herman dengan nada santai. Walau dia merasa lemas saat dia melihat kenangan lama muncul lagi.
Chika dan Herman sekarang berada di atas mobil yang sama, tak ada hentinya Chika memandang tulisan yang ada di topi milik Herman.
"Kenapa forever young?" tanya Chika.
"Kau tahu Mel Gibson?"
"Yang aktor itu?"
"Iya, dia aktor kesukaan Arinda, dan juga pada zama kami Mel Gibson bermain film dalam film yang berjudul forever young, kami sangat menyukai film itu, sudahlah kenapa aku harus menceritakannya padamu," jelas Herman, pandangan lurus ke depan.
"Aku pengen nonton film itu, sama Pak Herman, siap tahu aku suka," ucap Chika.
Herman mengangguk tersenyum, lalu ia berkata, "Siapa aktor kesukaanmu?" tanya Herman.
"Hm, Hugh Jackman," jawab Chika.
"Kalau begitu kita nonton film Hugh Jackman, aku dengar film yang dibintangi Hugh Jackman akan rilis, judulnya bad education, mau?"
Chika membalas senyum dan mengangguk, diajak nonton sama Herman adalah salah satu keajaiban yang tidak akan dia lupakan.