A Moment

A Moment
Truth Or Dare



Hari yang cerah dan suasana panas disiang itu, jam kosong untuk kelas 12 Ipa 4, Chika memandang kosong ke arah lapangan sekolah dengan earphone di telinganya mendengar lagu yellow dari Coldplay, hatinya tenang menikmati hembusan angin, dan mengibar-ngibarkan rambut pendeknya.


Duduk di teras depan kelas sembari memandang kosong ke arah lapangan dan mendengarkan musik adalah salah satu kesukaan Chika saat jam belajarnya sedang kosong.


Lama pandangan kosong Chika yang memandang lapangan luas nan asri, matanya langsung terfokus pada sosok pria berbadan tinggi, gagah, berbaju dinas, dan tas selempang coklat di bahunya yang sedang berjalan di lorong-lorong sekolah, arah jalannya menunjukkan bahwa dia akan ke ruangan guru yang sudah tidak jauh dari dirinya.


Seketika Chika lupa akan segalanya, dia bahkan tak fokus pada lagu yang yang berdendang di telinganya. Dia betul-betul terpesona oleh pria yang sekarang sudah hilang dari pandangannya karena dia sudah masuk ke dalam ruang guru.


Chika masih terdiam takjub walau dia tak melihat keberadaan sang pria yang diamatinya sejak tadi.


"Woi Chik!"


Suara dan tepukan di bahu Chika langsung mengagetkannya dari lamunan sejak tadi. Chika hanya membalas dengan tatapan pada teman yang bernama Nurul itu.


"kenapa lo? Gue perhatiin sejak tadi lo mandangin Pak Herman yang barusan masuk ke kantor," ucap gadis itu, dia duduk di samping Chika.


"Nggak, gue nggak mandangin Pak Herman mungkin lo salah paham, gue melamun tadi dan nggak tahu kalau arah mata gue itu ke Pak Herman," jawab Chika berbohong, namun tetap saja membuat Nurul tidak percaya.


"Bohong!"


"Nggak Rul, serius, dan emangnya kenapa ke sini?" jelas Chika sambil bertanya.


"Oh iya, lo dipanggilin sama ratu kelas kita tuh, Sabrina, katanya mau ngadain games, ke kelas gih!" suruh Nurul. Mendengar itu Chika mendesah kesal.


"Ngapain sih malas tahu," jawabnya, sesekali memandang ke arah pintu ruang guru, harap-harap guru yang bernama Herman keluar menampakkan dirinya.


"Lo mau Sabrina datangin lo terus marah-marah sama lo, lagian lo tahu kan kalau Sabrina itu paling nggak suka kalau dicuekin!" lanjut Nurul.


Chika memutar bola matanya berfikir dan memandang ke arah mata yang dibingkai kacamata yang ada di hadapannya. Nurul gadis berkacamata yang jika dipandang maka akan terkesan pintar namun sebenarnya tidak tahu apa-apa jika menyangkut tentang pelajaran sekolah, namun aktif sebagai senior PMR di sekolah.


Chika yang dari tadi berfikir lama akhirnya mengiyakan panggilan Nurul, mereka berjalan masuk ke ruang kelas setelah itu menutup kelasnya dari dalam. Di sana sudah terlihat beberapa siswa kelas 12 ipa 4 membentuk sebuah lingkaran dan saat Chika akan menghampiri mereka setiap pasang mata memandang ke arah Chika.


"Nih dia udah datang, kasi ruang," ucap gadis berambut panjang hitam yang bernama Sabrina, anak seorang pengusaha butik yang kaya raya, Sabrina, cantik dan bertubuh tinggi, dan juga salah satu yang terpopuler di SMA Citra Negara.


Chika duduk di ruang kosong yang sudah disiapkan oleh teman-temannya dan itu semua membuat Chika bingung games apa yang akan mereka mainkan.


"Ada apa sih?" Mata Chika menyipit malas.


"Uni, jelasin tuh kita mau ngapain!" perintah sabrina.


"Ok, karena kita sedang jam kosong dan lo juga salah satu murid penting di kelas ini, kita-kita akan adakan permainan untuk seru-seruan yaitu truth or dare, " jelas uni.


"Terus, kenapa yang lain tidak ikut?" tanya Chika sebal membuat Sabrina mendengus kesal.


"Karena mereka nggak penting!" ucapnya dengan suara keras dan matanya melotot pada Chika.


Ucapan itu membuat seisi ruangan memandang Sabrina, ya! Hanya anak-anak pintar dan terkenal di kelas itu yang dianggap penting sedang yang lain hanya biasa-biasa saja mereka dianggap hanya pajangan di kelas itu.


"Rasis tau nggak lo." Chika membalas tatapan Sabrina berani. "Gue nggak mau ikut bergabung dengan orang-orang rasis kayak kalian!" lanjutnya lalu berdiri dari duduknya.


"Bilang aja lo takut kan, nggak usah pake alasan kalau kita ini rasis, lo nya aja yang takut kan?!" Sabrina memanaskan suasana hati Chika.


"Sab, sudahlah kalau nggak mau nggak usah dipaksa," ucap Raihan ketua kelas yang jago buat puisi.


"Nggak, dia memang penakut!" ucap Sabrina lagi.


Chika berbalik dan kembali duduk, "Ok, aku ikut main, dan buktiin bahwa permainan kayak gini itu nggak bisa nguji keberanian Chika Kayla Arif!"


Mendengar itu, membuat Sabrina semakin panas dan dia berkata, "Kalo lo nggak pintar mana mungkin kita ngajakin lo. Lo kan orang miskin." Sabrina menyeringai.


Chika tidak menjawab, hanya diam dan kembali duduk.


Sekumpulan murid-murid yang akan mengadakan permainan itu hanyalah murid terpintar dan teraktif di kelas dan di sekolah yakni Sabrina si cantik namun sombong, Uni yang ahli dalam kimia, Rahman handal berbahasa inggris, Adli jago fisika, Raihan ketua kelas dan suka bikin puisi, Alman ketua osis, dan Chika yang memiliki semua yang dimiliki oleh teman-temannya selain kesombongan dan bukan ketua osis serta ketua kelas.


"Jadi bagaimana aturan mainnya?" tanya Adli.


"Sebenarnya ini ide Sabrina untuk mengisih jam kosong kita untuk kelas unggulan di sekolah ini, lagi pula ini akan mengasyikkan--"


"Udahlah jangan bertele-tele." Chika memandang kesal wajah Raihan yang belum juga menyelesaikan bicarnya.


"Sabar Chik, kalian lihat botol di depan kita, botol ini akan kita putar dan dimana ujung botol ini berhenti maka dia akan ditanya truth or dare, kita akan putar botol ini sebanyak jumlah kita yakni 8 kali karena kita cuman 8 orang, setiap pertanyaan akan dibuat oleh orang yang baru saja selesai memilih trut or dare, dan untuk orang pertama maka dia yang akan memilih siapa yang akan menanyai mereka, terus kalau botolnya berhenti pada orang yang sudah memilih maka putarannya akan diulang, paham?" jelas Raihan.


Semua mengangguk dan Sabrina seperti sudah merencanakan sesuatu jika dia yang akan menanyai Chika.


Putaran pertama berhenti di hadapan Adli yang memilih truth, dia memilih Rahman yang menanyainya, Adli ditanyai tentang gebetannya di kelas 12 Ipa 1 saingan kelas 12 Ipa 4.


"Truth ya. Adli, jika suatu hari Irma ingin menerima lo jadi pacarnya namun dengan syarat lo harus pindah kelas apakah lo akan ninggalin kelas kita dan akan memilih Irma?" tanya Rahman membuat Adli harus berfikir keras untuk menjawabnya.


"Aduh nyesel gue milih lo Man." Adli menggaruk kepalanya. Membuat Rahman menyeringai.


"Ayo cepetan Dli!" ucap Arsy.


"Payah lo, jadi lo mau ninggaling gue sahabat lo sendiri, dasar!" keluh Rahman membuat semuanya tertawa melihat ekspresi Rahman saat itu.


"Coi yang namanya cinta butuh pengorbanan, emangnya suatu hari nanti lo mau jadi pendamping hidup gue? Enggak kan," balas Adli, jawabannya kembali meramaikan suasana.


Putaran kedua jatuh pada Rahman lalu Uni, Raihan, Arsy, Alman, dan Sabrina yang menandakan bahwa Chika akan menjadi yang terakhir dan yang akan menanyainya adalah musuh terbesarnya di kelas itu.


Haruskah dia? batin Chika.


Sabrina memandang Chika dengan penuh kemenangan.


"Ok yang terakhir Chika, dan yang akan menanyainya adalah Sabrina," ucap Raihan.


"Gue nggak nyangka permainannya akan seseru ini." Rahman memperlihatkan giginya yang kurang rata.


"Ok, Truth or Dare?" Sabrina, senyumnya penuh dengan rasa kemenangan.


"Truth," jawab Chika tegas.


"Serius?"


Hening, semua memadang Chika dan Sabrina yang saling menatap tajam, bahkan yang tidak ikut main memandang mereka berdua.


"Baiklah, lo harus jujur, kalo lo ketahuan nggak jujur maka lo harus mendengar semua perintah gue, katakan apa lo benaran suka sama Pak Herman?" Sabrina menatap tajam mata Chika yang juga menatapnya tajam, walau demikian dalam hati Chika merasa gugup dan dalam benaknya dia kebingungan, dia berfikir Sabrina pasti memiliki sesuatu yang kuat yang bisa membuktikan bahwa dirinya memang menyukai guru sejarahanya itu.


"Aku pilih tantangan," ucap Chika yang membuat teman-temannya pada protes.


"Apa! Nggak bisa kayak gitu dong Chik, emang lo suka benaran sama Pak Herman, ya bilang aja enggak kalau memang nggak suka," keluh Alman.


"Kalau kayak gini lo udah buktiin kalo lo betulan suka sama Pak Herman!" Adli ikutan protes.


"Aku tidak akan jawab pertanyaan konyol seperti itu, jadi aku memilih tantangan," balas Chika santai, sekali lagi membuat Sabrina mendegus kesal hampir saja dia akan memperlihatkan foto diary Chika pada semua orang yang membuktikan bahwa Chika betulan suka sama Pak Herman.


Kalau begini mah aku harus berfikir ulang, batin Sabrina.


Dia berfikir ulang tantangan apa yang akan diberikan dirinya pada Chika hingga ide gila muncul di benaknya.


"Ok, sepulang sekolah, hari ini juga, lo harus ngegombal om-om yang lewat di depan sekolah kita dan di hadapan teman sekelas!"


Entah dari mana ide gila itu datang membuat semua yang ada di sana sontak kaget.


Bibir yang lain membentuk huruf o yang menandakan bahwa mereka tidak percaya apa yang barusan Sabrina katakan.


"What! " Rahman yang masih belum percaya, "Like i said thiss will be awsome," tambah Rahman


"Kau gila?!" Chika membulatkan matanya.


"Jangan bilang kau juga akan menolak ini Chika," Adli yang sudah kesal dengan Chika yang selalu menentang.


"Bagaimana Chik?" tanya Raihan.


"Aku pikir kau suka tantangan." Bibir Sabrina tersenyum miring.


Chika tak berdaya saat itu, dia menerima saja tantangan yang diberikan Sabrina padanya.


Chika berdiri kesal dan menanti jam pulang yang entah om macam apa yang akan di gombalin. Dia menuju kursi duduknya dan melihat Adel teman sebangkunya yang hanya tahu soal pacaran dan main hp saja namun tahu soal rasa suka Chika pada Herman, Adel juga mendukung Chika jika soal rasa sukanya pada Herman.


"Lo betulan mau gombalin om-om?" Adel dengan nada suara rendah.


Chika memandang Adel dengan raut wajah penuh kemarahan, lalu berkata, "ini konspirasi, pasti Sabrina tahu sesuatu, dan sekarang, sekarang dia menjabakku." Chika betul-betul marah, tatapannya langsung mengarah pada Sabrina yang duduk bersama teman-temannya, tertawa dan memandang Chika dengan penuh kemanangan.


"Lo juga sih, mau aja ikut, cuman gara-gra Sabrina bilang lo nggak berani." Adel masih saja memandang layar ponselnya.


Chika menalan ludah, dan berkata, "Temenin gue keluar."


"kemana?"


Chika mendekatkan wajahnya pada telinga Adel. Lalu berkata, "Ke Pak Herman!"


"Buat apa?"


"Gombalin dia, cuman untuk latihan," ucap Chika menyeringai.


"Nggak, bentar lagi pulang, Pak Herman juga pasti udah pulang, lo nyiapin aja gombalan buat om-om yang akan lo gombalin itu."


Chika cemberut dan merasa sangat pasrah akan keadaan.


Lalu apa yang akan terjadi setelahnya, apakah Chika betul-betul akan menggombal om-om di hadapan teman sekelasnya?