
Thomas Arfinjaya berjalan masuk ke SMA Citra Negara, dia masuk ke ruangan salah satu guru di sana, namun di wajahnya terlintas senyum tipis yang tak hilang-hilang setelah mendapat gombalan dari seorang gadis di tempat parkir tadi.
Saat Tom membuka pintu, terlihat pria dengan pakaian dinasnya sedang sibuk mengetik keyboard leptopnya.
"Herman," sapa Tom pada pria yang langsung menatap Tom setelah mendengar suara yang memanggil namanya.
"Hai Tom, udah datang rupanya, silakan duduk," ucap Herman menyambut, Tom duduk di depan Herman dan senyumnya masih saja belum hilang dari wajahnya, itu membuat Herman merasa bingung dengan tingkah kakak iparnya.
"Kenapa? Kok saya lihat dari tadi senyum-senyum sendiri Tom?" tanya Herman sambil menutup leptopnya dan fokus ingin bicara dengan Tom.
"Kau salah satu guru kan di sini?" tanya Tom tiba-tiba.
"Apa? Tentulah aku guru di sini, aku kan ngajar di sini, bagaimana sih kamu, sekarang jawab pertanyaanku kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" tanya Herman lagi.
"Itu tadi, saat aku di parkiran ada murid perempuan yang gombalin aku nggak jelas, terus dia kabur lari bukankah itu lucu Her, hahahaa," jawab Tom, dia terkekeh menjawabnya.
Mendengar jawaban dari Tom, Herman terekekeh kecil namun dalam benaknya dia mencurigai seseorang yang juga sering menggombalnya.
"Oh ya, aku kenal murid yang sering gombalin aku, tapi dia itu cewek yang nggak pernah gombalin laki-laki selain aku sih," balas Herman, dia menampakkan senyum menyeringai.
"Benarkah? Kalau begitu kau beruntung dong jadi guru di sini, kau punya murid yang menyukaimu, tapi kalau dia cuman gombalin kama saja kenapa tadi aku digombalin? Oh mungkin aku lebih tampan darimu Her, hahahah." Tom tertawa membuat Herman sudah merasa kesal.
"Sudahlah jangang bicarakan itu, mari kita bicarakan tentang bisnis saja ok," ujar Herman yang langsung berbelok dari pembicaraan sebelumnya.
******
Chika melambaikan tangan pada Adel yang sudah mengantarnya pulang, setelah itu dia menuju rumahnya yang berada paling belakang dan dekat dengan kanal-kanal yang berisikan air keruh dan sampah.
Chika melihat sendal asing di depan pintu rumahnya, dia tidak tahu dan tak penasaran, Chika memberi salam dan masuk ke dalam rumahnya, di ruang utama terlihat orang yang tak dikenalinya sedang berbicara bersama ibunya, Chika hanya menampakkan senyum melihat ibunya dan orang itu berbicara entah apa, sampai akhirnya Chika mendengar ibunya dan orang tadi mebicarakan tentang uang yang dipinjam ibu Chika.
Chika masuk ke kamaranya dan langsung membaringkan tubuhnya di kasur yang kurang empuk. Chika menatap atap rumahnya dan menarik napas panjang, lalu menutup matanya, dia membayangkan wajah Hermansya Raynaldi guru sejarah yang sedari lama dikaguminya, sejak kelas 11 saat Chika masuk organisasi pramuka dan pematerinya adalah Herman di sana Chika langsung menyukai cara Herman menjelaskan dan saat naik kelas 12, Chika akhirnya diajar oleh guru yang sangat dikaguminya, mulai saat itu Chika rajing menulis di buku diary tentang perasaannya pada Herman.
Mengingat diary, Chika langsung ingin menulis tentang kejadian hari ini di bukudiar buku diary. Dia bangun dan mencari buku itu di ranselnya, namun dia sama sekali tak menemukan buku berwarna biru langitnya itu, dia bahkan mencari di kardus tempatnya menyimpan buku-bukunya.
Chika menyimpan bukunya di kardus karena tak punya rak buku di rumahnya, jangankan rak buku keluarga Chika saja sangat kesulitan membeli barang-barang eletronik yang dibutuhkan apalagi hanya membeli rak buku yang pasti menurut keluarga Chika lebih penting membeli makanan.
Chika memutar otaknya berusaha mengingat kapan dan dimana terakhir kali Chika menyimpan bukunya itu, Chika betul-betul merasa khawatir jika seseorang membaca bukunya itu, Chika mengingat terakhir kali dia menulis, itu saat berada di perpustakaan dan dia mengingat betul dia memasukannya ke dalam ranselnya. Lalu Chika mengingat Sabrina yang ngotot menyuruhnya bermain dan menanyakan tentang perasaannya pada Pak Herman.
"Sial!" umpat Chika, dia merasa bahwa Sabrina yang telah mengambil diary miliknya.
Menyadari akan hal itu dia mengambil ponselnya dan masuk ke aplikasi whatsApp mencari nomor Sabrina di ponselnya, belum mendapatkan nomor Sabrina pesan di grup kelasnya tiba-tiba ramai, Chika sama sekali tidak penasaran, namun bukan cuman grup kelasnya tapi seluruh grup yang ada di sekolahnya, grup angkatan, serta organisasi semuanya ramai.
Nurul, Adel, dan teman-temannya yang lain mengirimngkannya pesan.
Adel : Lo viral Chik, Rahman nyebarin vidoe saat lo gombalin om itu, tadi sore.
Nurul : Coba lo liat di grup, video lo, bukan cuman di grup tapi di beranda fb
Grup Ipa 4
*Rahman : Jagoya Chika
ngegombal
Sabrina: Lo baru tahu? Dia kan suka ngegombalin Pak Herman
Adli:Jangan sembarang ngomong Sab, nggak ada bukti
Sabrina: Gue punya bukti kok, tapi belum mau perlihatkan buktinya tunggu aja nanti*
.
.
.
Tidak ingin membaca semuanya Chika langsung masuk ke beranda facebook dan betul ternyata dia sudah viral dan yang berkomentar pun semua adalah para siswa SMA Citra Negara. Guru-guru pun ada yang lihat termasuk Pak Herman, tanpa Chika ketahui ternyata Pak Herman sudah mengirim pesan padanya di whatsaap.
*Pak Herman: Maksud video itu apa Chika?"
Chika: Itu cuman main-main kok Pak, emannya Bapak cemburu*?
Chika berusaha untuk menganggap semuanya bukan apa-apa, walau dia sangat senang Pak Herman yang menanyakan hal itu padanya walau dia merasa agal gugup.
Pak Herman: Emangnya kau pikir kakak ipar aku itu mainan?
Pesan dari Pak Herman membuat Chika langsung merasa terkejut, emangnya om yang tadi sore itu kakak iparnya Pak Herman? Batin Chika.
*Chika: Enggak kok Pak, itu semua gara2 teman-teman aku yang maksa.
Pak Herman: Besok kamu harus jelasin semuanya
Chika: Baik Pak
Melihat balasan Herman, Chika langsung merasa kesal.
"Kebiasaan kalau chat pasti balasnya itu-itu terus kalau mau mengakhiri chat," monolog Chika yang kesal pada Herman.
Chika melihat video yang dikirimkan Rahman masuk ke dalam grupnya dan sesekali tersenyum memadang raut wajah dari pria setengah baya itu, walau dalam hatinya dia merasa sangat khawatur karena diary miliknya menghilang.
******
Chika baru saja sampai di sekolahnya, dan tak seperti biasanya setiap pasang mata di sana memandang ke arahnya, sampai dia masuk ke dalam kelasnya, dimana di kelasnya pun teman-temannya memandang ke arahnya, sedang Chika dia merasa biasa saja berjalan masuk dan menuju tempat duduknya.
"Wow, ratu gombal kita udah datang!" Rahman yang sedari tadi udah gatal mau ngejek Chka.
Chika hanya menghembuskan nafas pelan dan menahan amarahnya keluar di pagi-pagi ini.
"Udahlah Man, jangan cari masalah pagi-pagi kayak gini," ucap Adli, yang berada di samping Rahman.
Chika yang merasa panas memanggil Adel untuk keluar dari kelasnya itu.
"Keluar yuk," ajak chika, dia memandang Adel yang terlihat asik memainkan ponselnya.
"Buat Apa? Lagian bentar lagi Pak Herman akan masuk, kan dia jam pertama hari ini," balas Adel, dia sepertinya sedang tidak ingin kemana-mana.
"Biar aja lagi malas ketemu sama dia," ucapnya, dia memonyongkan bibir merahnya.
"Betulan nih?"
Chika mengangguk yang pada akhirnya membuat Adel mengikuti kemauan Chika.
Mereka berdua keluar dari kelasnya yang sebentar lagi akan masuk jam pertama, ini memang kesukaan Chika mengitari sekolah saat dia sedang ingin menghilangkan emosinya.
"Kemana?" tanya Adel yang sudah lelah mengikuti arah jalan Chika.
"Putarin satu sekolah, lagi pengen jalan," jawab Chika santai.
"Pak Herman pasti udah masuk nih, lagian lo kan anak pinter pasti Pak Herman ngijinin lo, sedang gue? Menyebalkan," keluh Adel.
"Lo mau gue nggak kasi jawaban kimia, Bu Tahmi galak loh," ancam chika.
Dan Chika tiba-tiba melihat guru kesayangannya dengan tas selempagnya sudah berajalan ke arah kelas 12 ipa 4, namun mata Chika tambah membulat saat dia melihat pria yang kemarin di gombalinnya berjalan bersama Hermansya Raynaldi.
"Del, lihat tuh Om yang kemarin!" Chika sambil menunjuk kedua pria yang asik saling tertawa itu.
Chika yang sudah jauh dari kelasnya, sedang Herman yang semakin dekat dengan kelas 12 ipa 4, membuat Chika membulatkan matanya yang juga diikuti oleh Adel.
"Chik, Om itu mungkin udah cerita sama Pak Herman, dan Pak Herman pun udah kasi tahu kalau lo itu kelas 12 ipa 4," uca Adel khawatir.
"Ini semua gara-gara anak orang kaya sialan itu, kalau-kalau nilaiku bermasalah awas mereka!" Chika mengepalkan tangannya dan berjalan lincah ke kelasnya, di mana Pak Herman dan temannya itu sudah sampai di sekolah.
Chika semakin cepat dan lama-kelamaan Chika berlari kecil dan dia pun menancap gasnya berlari kencang dan Adel yang memiliki badan cukup berisi susah untuk berlari, berada jauh di belakang Chika.
Betapa kagetnya Chika saat di depan pintu dia sudah melihat Pak Herman dan pria jangkung itu duduk, pria jangkung itu menduduki kursi Chika, dia duduk di sampaing Pak Herman.
Semua orang memandangnya berdiri di ambang pintu, sedang Adel dia baru sampai dan juga sangat terkejut melihat Pak Herman sudah ada di dalam kelas.
"****** kita Chik," keluh Adel yang napasnya masih tersengal-sengal.
Dan Chika, dia memandang mata pria jangkung yang juga memandangnya, seperti biasa Tom selalu menampakkan senyum tipis di bibir tipisnya.
"Dari mana?" tanya Pak Herman, dia berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju Chika.
Hanya setengah jalan Herman berhenti dan menatap Chika dalam-dalam.
"Dari toilet," jawab Chika berbohong.
"Masuk!" perintah Herman yang langsung di balas anggukan dari dua muridnya itu.
Chika berhenti tepat di hadapan pria jangkung dan dia seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Om, itu kursi aku," ucap Chika pelan namun berani.
"Benarkah? Baiklah ambillah," ucap pria itu yang berdiri dari duduknya.
"Tidak usah Tom, tidak usah, Chika bisa duduk berdua dengan temannya itu," ujar Herman yang menahan Tom saat Tom akan memberikan kursinya untuk Chika.
Jadi namanya Tom, menyebalkan, apa yang dia lakukan di sini, batin Chika.
Herman menjelaskan bahwa Tom datang ke kelas 12 ipa 4 untuk mengetahui siapa yang sebenarnya mengirim video yang kemarin, dia hanya membutuhkan penjelasan mengapa Chika melakukan hal demikian, akhirnya semua menjelaskan namun ada yang aneh, saat Chika menjelaskan semuanya, Tom asik memandang mata sipit Chika dan bulu mata lentik yang dimiliki Chika.
Entahlah saat itu Tom hanya suka dengan bentuk wajah gadis ini, gaya rambut pendek, lesung pipi, gigi yang rata dan kecantikan lain yang dimiliki Chika.