A Moment

A Moment
BERMALAMLAH DENGANKU MALAM INI



"Pak Herman datang pagi-pagi sekali, aku pikir Pak Herman nggak datang setelah seminggu nggak ada kabar," ucap Chika yang langsung duduk di samping Herman.


Mata Herman masih mengikut pada gerakan Chika yang duduk beberapa senti di sampingnya.


"Sejak kapan kau memakai rok sependek itu?" tanya Herman yang sejak tadi melongo melihat penampilan baru Chika.


Mendengar Herman mengatakan itu Chika langsung memandangi seluruh tubuhnya yang sedang memakai seragam yang serba baru. Dan tanpa sadar penampilan Chika mampu menarik perhatian Herman.


"Juga sejak kapan kau mau repot menyisir rambutmu serapi itu, penampilanmu juga berubah, kenapa dan sejak kapan?" lanjut Herman.


Mendengar ucapan Herman yang cukup menyinggung Chika, dia langsung berfikir sejenak mencari kata yang bisa mendiamkan pria yang tengah duduk di sampingnya.


"Sejak Pak Herman menghilang seminggu ini, dan lupa bahwa Pak Herman dicintai oleh salah satu murid bapak yang bernama Chika Kayla Arif," balas Chika. Itu mampu membuat Herman terdiam dan membeku menatap mata sipit Chika.


Chika selalu bisa membuat Herman terdiam dan hilang kata-kata, gadis itu tidak pernah ragu mengutarakan setiap rasanya pada Herman. Dan tidak pernah malu jika itu bersangkutan dengan diksi yang bernama cinta.


"Apa maksudmu mengatakan itu?" tanya Herman yang saat tadi terdiam.


"Bapak tahu apa maksudku," balas Chika.


Lagi, mereka kembali saling memandang, di bawah langit pagi, di atas tanah SMA Citra Negara, kedua pecinta saling memandang, entah kenapa menatap saja mata sipit milik Chika membuat Herman merasakan ketenangan, dan Chika merasakan hal yang sama, cintanya pada Herman tak pernah surut sejak pertama jatuh cinta pada sosok guru sejarahnya. Chika betul-betul berharap balasan cinta dari Herman.


Lama saling menatap, Chika dan Herman tak sadar bahwa sudah banyak sekali yang memperhatikan mereka, bahkan ada yang sempat mempaparasi mereka berdua, Herman yang memakai baju dinasnya dan Chika yang memakai seragam abu-abunya cukup sempurna untuk dijadikan sebagai bahan gosipan tentang kisah cinta seorang murid bersama gurunya.


Lalu suara yang entah dari mana datangnya, membuyarkan momen antara Chika dan Herman.


"Chika, Pak Herman!" Adel yang tiba-tiba datang, berdiri di tengah-tengah antara Chika dan Herman.


Mendengar itu mereka berdua tersadarkan, karena larut dari tatapan mata masing-masing.


"Sedang apa di sini, Pak Herman juga kenapa belum masuk ke kelas? Pak Herman sudah sembuh? Aku dengar dari Pak Herman sedang sakit? Aku pikir Pak Herman nggak akan masuk, ngapain di sini? Bapak sama Chika itu sudah jadi bahan perhatian loh sejak tadi," jelas Adel, yang sudah dari tadi heran melihat pemandangan yang sudah yang mampu dijadikan untuk bahan gosipan seisi sekolah.


"Hm, sudah jam masuk?" tanya Herman yang menatap langsung pada Chika, matanya kini tak bisa jauh dari Chika yang sudah enak dipandang.


"Belum sih Pak, masih ada beberapa menit," jawab Adel.


"Oh, kalian ke kelas saja dulu, nanti Bapak nyusul ok," ucap Herman, tiba-tiba menepuk bahu Chika, hal itu sontak membangun reaksi aneh dalam diri Chika terhadap Herman yang baru saja menepuk bahunya.


*******


"Wah wah Chik, lo keliatan cantik banget hari ini tahu, tapi kok rok lo agak pendekan dan gue lihat seragam lo kayaknya baru semua, lo dapat dari mana?" tanya Adel saat berjalan menuju kelas XII ipa 4.


"Aku terima gaji kemarin, jadi aku beli yang baru, nggak mahal kok, aku traktir hari ini ya."


"Emang lo kerja apa sih Chik, ayolah kasi tahu gue dong," ucap Adel memaksa.


"Nanti aja, kita lihat dulu respon teman-teman setelah kejadian hari ini."


Chika melangkah masuk ke dalam kelas, dan lihat semua temannya memandang ke arahnya.


"Sekali lagi si perfect menggemparkan sekolah kita!" seruh Rahman yang langsung menyambut Chika saat baru masuk ke kelas.


Tak ingin membesarkan masalahnya Chika hanya berjalan ke kursinya dan tak peduli dengan yang barusan dikatakan Rahman.


Namun disaat yang sama Adli si ahli fisika langsung saja melongo melihat Chika berpenampilan baru, entah kenapa yang dulunya hanya mengagumi Chika yang ahli akan segalanya sekarang betul-betul takjub melihat Chika yang terlihat cantik.


Chika beserta yang lainnya tak sadar bahwa selama ini Adli diam-diam mengagumi Chika padahal setahu teman-temannya Adli menyukai Irma yang berada di kelas XII ipa 1.


Namun Chika yang selama ini tidak menyukai Adli bukan karena Adli gendut dan agak jelek, tapi karena sikap Adli yang sombong hanya karena dia adalah anak dari kepala polisi di kota mereka dan pandai dalam fisika.


Tak lama kemudian Herman datang dan melanjutkan materi yang sempat terlewatkan minggu lalu.


Sesekali mata Herman tersangkut pada Chika yang fokus mendengarkan penjelasannya, dan ada sesuatu yang aneh terasa di balik dada Herman.


*******


Sebenarnya apa yang direncanakan Asmi?.


bating Tom.


Sejak pagi, Tom hanya menandatangani berkas, bermain ponsel, dan duduk manis merenungkan tentang Asmi.


Lama merenung, sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Tom, yang ternyata pesan dari Chika.


Chika: Om jemput aku ya!


Melihat pesan itu Tom tiba-tiba lupa dengan Asmi, dan senyum mekar di bibirnya serta bahagia timbul dalam hatinya.


Tanpa berfikir panjang atau membalas pesan Chika, Tom langsung berdiri dan bergegas ke sekolah Chika.


Saat sampai Tom hanya menunggu di pinggir jalan, tanpa masuk ke sekolah, karena dia tak ingin terlihat oleh siapapun berada di sana apalagi oleh Herman yang tidak lain adalah adik dari istrinya.


Tom memandang para murid, berbondong-bondong mereka keluar dari gerbang sekolah. Matanya sibuk mencari seorang gadis yang sudah sedari tadi ia nantikan.


Akhirnya mata tua Tom sudah menemukan gadis yang ditunggunya sejak tadi.


Tom memandang gadis itu, gadis yang melambaikan tangan padanya, tersenyum padanya, yang memancarkan cahaya cinta padanya, Chika Kayla Arif, gadis yang dimiliki Tom untuk saat ini.


Chika melangkah menghampiri mobil Tom, dia membuka mobil Tom dan duduk di samping Tom, dia menyandarkan tubuhnya sembari berkata, "Kemana kita hari ini?" tanyanya memandang Tom yang juga memandangnya.


"Menurutmu bagusnya kemana?" Tom balik bertanya.


"Hmm, ke pantai mungkin," jawab Chika.


"Ke pantai? Baiklah kita ke pantai sekarang."


Tom langsung melajukan mobilnya, sesakali memandang Chika yang asik bernyanyi-nyanyi.


¶...What if i told you that i love you?


Would you tell me that you love me back?


What if i told you that i miss you?


would you tell me that you miss me back?


What if told you that i need you?


would you tell me that you need me back..."¶


Chika yang masih menyanyi sendiri, membuat Tom merasa nyaman-nyaman saja walau suara Chika agak fales tapi tidak masalah jika itu adalah Chika.


Lagu yang dinyanyikan Chika, adalah lagu yang mungkin mampu menggambarkan perasaannya, beberapa arti liriknya seperti ini--


¶ Bagaimana jika aku beritahu kamu bahwa aku mencintaimu?


Apakah kau akan memberitahu ku bahwa kau juga mencintaiku? ¶


Sesampai di pantai, dengan lincah Chika melepas sepatunya, dan keluar dari mobil Tom, dia berlari tanpa alas kaki menginjakkan kakinya di pasir pantai yang berpasir agak kecoklatan.


Air laut sudah berada di kaki Chika, membasahai hingga ke pergelangan kakinya, lalu Tom yang sedari tadi senyumnya tak hilang-hilang berada tepat di samping Chika.


"Kau bahagia?" tanya Tom saat sampai di samping Chika.


"Terimakasih Om, selama ini aku tidak pernah diperlakukan seperti ini, aku betul-betul merasa penting, jika itu berada dekat di samping Om, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika ini semua diketahui semua orang," ucap Chika, kini tangannya berada memeluk tangan milik Tom, berharap bahwa tangan itu adalah milik Herman, namun tidak, Chika sadar bahwa tangan itu adalah milik Thomas Arfinjaya.


Mendengar itu Tom menatap Chika lekat, lalu entah sadar atau tidak Tom baru saja berkata, "Bermalamlah denganku malam ini, maka akan kuberikan apapun yang kau minta."