A Moment

A Moment
Dinda & Karina



Gadis berusia 13 tahun itu menangis terseduh-seduh mendengar pertengkaran kedua orang tuanya apalagi saat mengetahui bahwa papanga, papa yang sangat ia percaya dan cintai melakukan perselingkuhan dengan gadis yang masih berstatus pelajar, gadis yang masih SMA disandingkan dengan pria yang jelas sudah berkeluarga.


Air matanya masih mengalir deras, masih tak dapat dibendung, hancur hati Karina dan sesekali mengutuk gadis yang berani mendekati papanya.


Puas menangis, Karina mengusap air matanya berbaring sebentar dan bangun lagi.


Dia mengecek ponselnya dan betapa kagetnya dia, betapa terkejutnya dia, saat melihat pesan yang baru beberapa menit masuk ke dalam ponselnya. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya, sesekali dia menelan ludahnya hanya karena habis melihat pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


Pesan dari nomor yang tak terltulis namanya di sana, namun Karina mengenal betul nomor ponsel itu.


Begini pesannya: Kau akan menjadi juara umum sekolah jika ingin mendengarkan apa yang aku suruh kan


Pesan itu kemudian membuat Karina langsung menggigit jari kelingkingnya, dan tidak tahu harus bagaimana. Sebenarnya dia sudah mendengar langsung kata itu dari pria yang berstatus wakil kepala sekolah di sekolah SMP nya.


Karina menelan ludah beberapa kali. Faktanya Karina sangat ingin menjadi juara umum sekolah karena itu akan membuat Mamanya bangga, Karina tidak ingin lagi membuat sang mama merasa kecewa terhadapnya, dimana dulu dia melihat tatapan kekecewaan terhadapnya. Itu bisa membuat Karina hancur dengan tatapan ibunya, saat itu Karina mengikuti lomba sains nasional namun dia tidak bisa memenangkannya, tentu saja Asmi merasa kecewa dan membuat Karina tak puas dengan kerja kerasnya dimana dia hanya finis di 5 besar saja.


"Mama ingin aku juara umum, dan Mama pasti kecewa karena Ayah, mungkin hanya ini agar Mama bisa bangga dan senang padaku," monolog Karina.


Dia sudah melihat kekecewaan ibunya dan tidak ingin itu terjadi untuk yang kedua kalinya. Mungkin bisa dibilang Karina terlahir dengan nasib yang cukup buruk. Ego sang mama, perselingkuhan sang papa dan kini dia harus melakukan apa saja untuk bisa mendapatkan juara umum sekolah. Inilah kehidupan anak yang terlahir dari keluarga kaya namun tak memiliki bahagia sedikit pun yang dia temui hanyalah barang-barang mewah yang hanya digunakan sebagai hiasan rumah tanpa bisa membawa senyum.


Karina kemudian memutuskan untuk membalas pesan yang sedari tadi membuatnya berkeringat dingin.


Karina: Baik Pak, saya akan melakukan apa saja yang bapak inginkan agar saya dapat menjadi juara umum.


Balas Karina. Entah apa yang akan diperintahkan oleh sang wakil kepala sekolah padanya.


*******


5 gelas dalam 5 kali tegukan, Tom dengan mudahnya meminum 5 gelas minuman untuk dimasukkannya ke dalam perutnya. Saat ini sebenarnya dia tidak tahu harus kemana, selain harus ke kelab malam yang berada 7 kilo meter dari rumahnya.


Terlintas dalam batinnya, sebuah penyesalan kenapa dia harus pulang dan tidak bermalam saja dengan Chika, mungkin semuanya akan baik-baik saja, tapi mungkin inilah yang diinginkan takdir, membuat sang istri mengetahui bahwa dia melakukan hal hina yang bisa saja meretakkan hubungan pernikahannya. Namun Tom seketika sadar bahwa hubungan pernikahannya memang sudah hancur lama sebelum Chika muncul dalam kehidupannya.


Rindu akan Chika, Tom menelpon gadis itu beberapa kali tapi ternyata ponsel Chika sedang tidak aktif dan mungkin Chika juga sudah tidur untuk saat ini.


Sadar bahwa Dinda juga sedang pergi dari rumah sebelum dirinya. Tom langsung merasa kahwatir pada sang putri. Takut jika anaknya itu hilang arah dan keluyuran di tengah malam.


Waktu sudah menunjukkan jam 11:40 itu membuat Tom langsung berniat menelpon Adinda guna menanyakan keadaan dan keberadaan putri sulungnya itu.


Tom menelpon Dinda beberapa kali namun tak dijawab oleh sang putri. Karena malam sudah larut sekali, kelab saat itu sudah mulai sepi dan hanya beberapa orang saja, Tom juga melihat gadis yang seusia dengan putrinya duduk merokok di sofa yang sudah disediakan di sana. Tanpa Tom sadari sebuah ponsel berdering saat dia berusaha menghubungi Dinda, ponsel itu berdering di meja dekat gadis yang merokok itu.


Tom yang keheranan dengan itu langsung mengambil ponsel itu dan ternyata betul ponsel itu adalah milik Dinda dan bertanya pada gadis itu dimana pemilik ponsel yang berada di tangan Tom.


"Dimana pemilik ponsel ini?" tanya Tom. Namun tak dijawab oleh gadis itu.


"Hei kau dengar aku? Dimana pemilik ponsel ini!?" ucapnya dengan suara membesar dan di dengar oleh orang-orang yang berada di sana.


"Brengsek?" tanya Tom yang langsung heran, putrinya baru saja dipanggil gadis brengsek oleh gadis perokok itu.


"Iya, dia baru saja ke hotel bersama Randy kekasihnya, sangking antusiasnya bermalam bersama Randy dia lupa akan ponselnya," jawab gadis itu, membuat Tom langsung membulatkan matanya.


"Hotel? Bermalam?"


Nafas Tom tiba-tiba tak teratur.


"Siapa kau? Kau sugar daddy nya? Sudah kuduga dia memang brengsek!" ucap gadis itu sekali lagi.


"Di hotel mana?" tanya Tom yang masih bisa menahan ke sabarannya.


Namun Tom hanya diacuhkan oleh gadis itu.


"Di hotel mana kataku!?" tanya Tom, suaranya semakin membesar.


"Apa masalahmu? Kau ini siapa?" tanua Gadis itu terlihat merasa takut melihat kemarahan Tom.


"Aku Ayahnya! Sekarang katakan dimana putriku?!"


*


Sekarang Tom mengetahui dimana putrinya berada dan langsung menuju alamat hotel yang sudah dikatakan oleh gadis tadi.


Keringat dingin, marah dan takut membuyur tubuh Tom. Dia marah karena ada pria yang berani macam-macam dengan putrinya, dia takut karena akan terjadi apa-apa pada putrinya itu. Tom dengan sigapnya melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tanpa peduli bahwa dia sedang berada di jalan raya.


Untuk saat ini dia tidak ingin anaknya yang sudah ia besarkan selama 21 tahun hancur hanya karena 1 malam, dia tidak ingin masa depan putrinya itu kelam hanya karena satu malam. Tom semakin melajukan mobilnya, dengan kecepatan penuh hingga dia sampai tepat di hadapan hotel bernama Ananda Dirgantara tanpa memarkirkan mobilnya dengan baik Tom langsung berlari masuk ke dalam hotel bertanya dikamar mana gadis bernama Adinda Arfinjaya menginap.


Setelah tahu keberadaan Dinda, Tom langsung membuka kamar itu dengan kunci kamar yang sudah dia minta tadi. Dia membuka perlahan dan betapa terkejutnya Tom saat melihat 3 pria seusia Dinda berada di sana berusaha mencumbui putrinya itu.


"Papa!"


Dengan sigap Tom langsung memukuli satu persatu anak muda itu, lalu menyelimuti sang anak yang hanya menggunakan mini dress.


Adinda terlihat pucat dan terlihat air mata di matanya. Sedang Tom kembali memukul satu persatu pemuda itu, dia memukul dengan segala tenaga yang ia punya demi menyelamatkan putrinya dan memberi pelajaran pada ketiga pemuda kurang ngajar itu.


Akhirnya Tom melumpuhkan ketiga pemuda itu dan menyeret satu pemuda yang bernama Randy keluar dari hotel, pemuda itu yang ternyata pemuda yang pernah ingin dekenalkan Dinda pada Tom.


"Kau, kau akan melihat neraka malam ini!" kata Tom saat menyeret Randy keluar dari kamar hotel, sedang kedua temannya diikat oleh Tom yang satu menggunakan dasi milik Tom dan yang satunya diikat dengan memakai ikat pinggang yang Tom temukan tergeletak di lantai kamar hotel.


Tom masih menyeret pemuda itu hingga di saksikan oleh beberapa orang hotel, dalam waktu tengah malam Tom mampu memberi pelajaran pada 3 pemuda yang berniat kurang ajar pada putri yang sudah ia besarkan selama 21 tahun.


Tom menyeret pemuda itu hingga ke depan satpam dan berkata, "Panggil polisi dan katakan ada kasus yang tidak senonoh terjadi di hotel ini!"