A Moment

A Moment
Kontrak Kerja



Mata Herman membelalak saat melihat Chika duduk di kursi untuk tamu. Bibirnya terbuka tipis, sedang Chika dia tidak tahu harus bagaimana, saat itu dia hanya menelan ludahnya.


"Pak Herman," kata Chika, suaranya pelan, dan tetap menatap Herman yang berjalan ke kursi kebesarannya.


Herman duduk dan menatap Chika heran.


"Kau, kenapa di sini?" tanya Herman setelah mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya.


Chika menelan ludah beberapa kali dan menjawab, "Mmmm, aku, aku mau ngelamar kerja Pak di sini," jawab Chika dengan sedikit terbata-bata.


"Apa!" Herman sontak kaget, "Kenapa? Kenapa mau ngelamar kerja? Lagi pula siapa yang akan menerimamu saat tahu kau masih pelajar," jelas Herman.


"Aku palsukan data diri aku," jawab Chika menunduk.


"Kenapa mau bekerja?" Herman bicara lembut menatap Chika yang seperti merasa bersalah.


"Ayahku dipenjara, ibuku masuk rumah sakit, aku sendirian." Chika menatap Herman seperti penuh harap lalu dia melanjutkan, "Pak Herman, terima aku kerja ya, aku mohon, kerja paruh waktu, aku terima gaji sekecil apapun Pak, aku mohon!" Mata Chika berlaca-kaca.


Lalu mata mereka saling menatap, mendengar penjelasan Chika barusan dia merasa kasihan, namun dia tetap saja tidak bisa membiarkan Chika bekerja karena masih di bawah umur.


"Chika, Bapak tidak bisa biarkan kamu bekerja, ujian kelas 12 sebentar lagi, Bapak tidak ingin jika kau bekerja, ujianmu akan terganggu," jelas Herman.


"Nggak kok Pak, aku bisa ngatur waktuku, aku serius, kasi aku pekerjaan ini Pak, aku mohon! Buktinya Bapak juga bisa ngatur waktu mengajar dan menjadi pemilik kafe, terus kenapa aku tidak bisa coba." Chika berbicara sambil mengelus punggung tangan Herman, berniat meyakinkan Herman.


Sadar akan itu Herman menatap punggung tangannya mengisyratkan Chika untuk melepasnya.


"Maaf," ucap Chika menarik tangannya dan kembali menunduk.


"Jadi sekarang tinggal dimana?" tanya Herman penasaran.


"Rumah Tante, tapi aku nggak nyaman di sana, jadi aku mau kerja dan tinggal sendiri," jelas Chika.


"Baguslah kalau kau tinggal di rumah Tantemu, kalau tidak nyaman nanti pasti bisa di sesuain kan, udahlah Chika, pulang ke rumahmu ya," bujuk Herman, dia berdiri lalu berkata, "Eh pulangnya sama siapa, Bapak anterin ya, oh iya, Bapak punya sesuatu yang rencananya mau dikasikan sama kamu," ucap Herman dengan senyum sahabat pada Chika, dan berjalan di depan Chika.


Chika menurut dan berjalan di belakang Herman keluar kafe dan menuju mobil Herman yang ada diparkiran.


Herman membuka pintu mobilnya dan mengambil sebuah buku di atas mobilnya. Dan lihat betapa berbinar mata Chika menatap buku itu.


"Buku ptn!" Chika dengan mata berbinar dan senyum lebar di bibirnya.


"Buat kamu, suka?" Herman mengulurkan buku itu dengan senyum di bibirnya.


"Thanks Sir, ini aku pengen banget, padahal aku udah nabung untuk ini, " ucap Chika yang masih kegirangan.


"Ambil, khusus buat Kamu, kemarin Bapak ke Gramedia bareng ponakan Bapak, eh ketemu sama buku ini, langsung kepikiran sama kamu, kan kamu pernah bilang pengen buku ini kan?" jelas Herman. Lalu Chika meraih buku di tangan Herman, dengan senyum yang masih ada, seketika Chika lupa akan keinginannya.


"Pulangnya bagaimana? Mau Bapak anterin?" tanya Herman menawarkan tumpangan buat Chika.


"Nggak usah Pak, ada Adel kok, dia bareng aku, makasih ya Pak!"


Chika pergi dari sana dan menuju tempat parkiran motor yang sudah dari tadi Adel menunggu dan memerhatikan Chika bersama Herman di parkiran mobil.


Chika masih memberi senyum pada Herman yang menatapnya juga dengan senyum, lalu dia pergi dari sana bersama Adel.


******


Ponsel Herman berdering dan itu dari Tom, dia tanpa menunggu lama mengangkat ponselnya.


"Iya Tom?" Buka Herman.


"Hai, gimana udah dapat karyawan baru?" tanya Tom di balik pembicaraan melalui ponsel.


"Belum, tadi ada yang ngelamar, tapi pelajar," jawab Herman.


"Pelajar?"


"Iya."


"Siapa, dan kenapa gitu?"


"Chika," jawab Herman singkat, jawaban itu mampu membuat Tom terkejut dan merasa penasaran akan hal itu.


"Chika? Kok dia mau kerja, kenapa coba, dia kan masih kecil."


"Entahlah apakah dia berkata benar atau tidak, tapi kata dia, ayahnya dipenjara dan ibunya masuk rumah sakit, sekarang dia sendiri, aku kasihan sih tapi apa boleh buat, dia kan masih pelajar," jelas Herman yang masih merasa kasihan pada Chika, entah kenapa dia mulai khawatir terhadap Chika padahal dia dulunya sama sekali ingin Chika jauh darinya.


"Eh Herman, boleh tidak kamu kasi aku nomornya Chika, nomer aktifnya," ucap Tom, membuat Herman merasa bingung.


"Ngapain?"


"Udahlah berikan aja, aku tunggu ya."


"Baiklah tunggu ya."


Lalu Herman mematikan hubungannya, dia mengirimkan nomor aktif Chika pada Tom.


******


"Ngapain Pak Herman di sana?" Tanya Adel saat masih mengendarai motor.


"Dia pemilik barunya, sebenarnya aku kesel sama Pak Herman tapi nggak bisa," jawab Chika


"Ih lo mah, nggak bisa ya lo itu lupain Pak Herman, ganteng sih tapi udah tua," kata Adel lagi.


"Tua tapi masih lajang, masih ganteng dan aku suka, by the way Pak Herman kasi aku buku ptn loh, yang pernah aku bilang kalau aku pengen banget buku itu."


Pipi Chika berubah menjadi merah jambu.


"Kok Pak Herman tahu kalau lo pengen buku itu?"


"Aku pernah bilang sama dia. Eh Del, antar aku ke rumah sakit Mawar dong, aku pengen ngeliat ibu," ucap Chika yang langsung di iyakan oleh Adel, mereka akhirnya ke rumah sakit da menengok ibunya yang sakit.


Adel pulang lebih dulu, dia juga berfikir bahwa dia akan menginap bersama ibunya di rumah sakit.


Chika memandang wajah ibunya yang bengkak dan mulai membenci ayahnya, banyak tetangga yang menjenguk, ada juga yang membahas tentang hutang ibu Chika yang membuat Chika muak mendengarnya.


"Kenapa sih Bu, ibu punya banyak utang?" Wajah Chika terlihat kesal.


"Itu karena Ibu mau menyekolahkan kamu, yang ayah kamu sendiri nggak mampu Chika," jawab sang ibu dengan nada pelan, "Udah pulang ya ke rumah Tante kamu, Ibu biar di sini saja," lanjut sang ibu.


"Nggak ah, biar Chika di sini temenin Ibu." Balas Chika.


"Tapi Ibu akan senang kalau kamu pulang ke rumah Tante kamu."


"Nggak, aku nggak mau pulang aku biar di sini aja!" Chika mendesak kesal.


Chika duduk di samping sang ibu, bosan dengan itu dia membuka ponselnya dan melihat pesan masuk ke whatsaap nya.


083***** : Hai, ini Tom save ya.


Om Tom, kok tahu nomor aku? Batin Chika, lalu dia menyimpan nomor Tom dengan sebutan Om Ganteng.


Chika: Om dapat dari mana nomor aku?


Om Tom: Dari Herman.


Chika: Oh, Pak Herman.


Om Tom: Kamu katanya mau kerja?


Membaca pesan Tom, Chika langsung merasa terpanggil untuk tetap meladeni Tom.


Chika: Iya Om, aku pengen banget bekerja.


Om Tom: Ya udah kalau begitu besok kan kamu libur, temuin Om di lapangan futsal ya.


Chika: Ok Om.


******


Entah apa yang dipirkan Tom, dikepalanya  hanya memikirkan gadis berambut pendek itu, dia bahkan sudah berpikir panjang untuk memberi Chika pekerjaan, walau pada akhirnya pasti akan dibemci Chika.


Sebenarnya dia hanya ingin menguji gadis seperti apakah Chika itu, dia tidak berniat jahat, walau begitu Tom merasa bahwa Chika gadis yang berbeda.


Sekarang dia membuka leptopnya dan menonton kembali video yang pernah viral itu. Sesekali Tom tersenyum. Tom juga mencari sosial media Chika yang berisikan sertifikat penghargaan, piala kejuaraan dan beberapa kata-kata bijak yang dicopas Chika dari orang-orang hebat.


"Jika ingin menguji karakter seseorang maka beri dia kekuasaan, Abraham Lincoln." Tom yang membaca salah satu postingan Chika.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk pintu.


"Masuk!" Dengan cepat Tom menutup layar leptopnya, dan lihat yang datang adalah putri sulungnya.


"Hei, Dinda ngapain sayang?" Sambut Tom.


"Kok Papa belum tidur?" Tanya Dinda yang langsung duduk di depan Tom yang saat itu mereka ada di ruangan kerja Tom.


"Oh itu Papa lagi banyak kerjaan, jadi Papa harus lembur," jawab Tom berbohong.


"Besok?"


"Ha?"


"Maksudnya besok juga banyak kerjaan?"


"Mmm, iya sayang emangnya kenapa?"


"Besok wikkend Pa, kok kerja, padahal..." raut wajah Dinda terlihat kesal.


"Padahal?"


"Randy pacar Dinda, mau ketemu sama Papa, tapi nggak jadi karena sibuk." Dinda berdiri dengan raut wajah masam.


"Oh i'm sorry sweat heart, Papa ada janji sama klien besok," ucap Tom berbohong, lalu berkata, "Lain kali ya sayang pasti ketemu sama si Randy," Tom meyakinkan.


"Janji?" Dinda menatap dalam-dalam mata Papanya itu.


"Janji," ucap Tom dengan senyum meyakinkan.


Tom memandang putrinya berjalan menuju pintu keluar dan hilang dari tatapan Tom.


"Maafin Papa, Dinda," Ucap Tom yang kemudian kembali membuka layar leptopnya.


******


Pagi cerah, Chika langsung memandang ibunya yang terbaring lemah dan mengecup pipi ibunya dan perlahan ibunya membuka mata.


"Pagi Bu!" sapa Chika pada ibunya yang sekarang menatapnya dengan senyum.


"Pagi sayang!" balas ibunya.


Tidak lama kemudian datang tantenya dan membawa makanan untuk mereka, namun Chika dia pergi lebih dulu mengingat dia akan bertemu dengan Tom, namun dia tidak pulang ke rumah tantenya tapi ke rumahnya yang berada di dekat kanal.


Chika menyiapkan pakaian yang pas karena sangat antusias, dia memandang tubuhnya dengan menserasikan beberapa pakian pada tubuhnya yang pada akhirnya dia memilih baju yang sedikit feminin baju berwarna biru langit dan rok rempel yang hanya sampai di lutut saja.


Lalu setelah mendapatkan pakaian yang pas Chika langsung menuju kamar mandi untuk mandi tentunya.


Chika memandang wajahnya yang cantik di depan cermin dan dia menyisir rambutnya menambah sedikit lipstik di bibirnya dan ya sudah perfect cantik dan memesona.


Chika meraih ponselnya dan berniat menelpon Adel tapi akhirnya dia memilih untuk naik angkot saja kebanding merusak hari-hari temannya itu dengan menjadikannya sopir pribadi dengan bayarannya adalah jawaban dari soal-soal tugas yang diberikan gurunya.


Chika: Om aku udah mau berangkat.


Om Tom: Oh iya, Om juga sudah siap nih, atau mau Om jemput aja, tunggu di jalan menuju  sekolah kamu aja ya, Om jemput di sana.


Chika: Siap Om.


******


Tom menyisir rambutnya dan memandang wajah gentlenya dengan senyum tak sabar bertemu Chika.


"Kita lihat bagaimana eksperesi Chika mendengar pekerjaan yang aku tawarkan," ucap Tom sambli memandang wajahnya di dalam cermin.


saat Tom akan berjalan keluar rumah seorang wanita yang seumuran memanggilnya.


"Tom!" panggilnya membuat Tom berbalik.


"Mau kemana? Kan lagi wikkend kok rapi banget?" tanya sang istri.


"Mau ketemu klien," jawab Tom singkat.


"Klien?"


"Iya kenapa?"


"Ketemu klien sepagi ini? Kau pernah bilang sama aku kalau aku ini yang gila kerja tapi ternyata kau lebih gila," ejek sang istri membuat Tom kesal dan menggeleng pelan lalu meninggalkan sang istri sendirian.


"Menyebalkan!" cerutu Tom saat sudah di atas mobil.


Tom menjalankan mobil mewahnya dan dalam hitungan menit dia akhirnya melihat Chika berdiri dipinggir jalan dengan baju biru langit dan rok rempel yang membuatnya terlihat menawan. Tom sendiri tidak tahu kenapa sejak kejadian video viral itu dia mulai terobsesi dengan Chika.


Dia keluar dan membukakan pintu mobil buat Chika.


"Silakan masuk my lady," sambut Tom dan menampakkan senyum cerianya pada Chika.


"Kok repot-repot Om," ucap Chika saat naik ke mobil Tom. Lalu Tom berlari menuju mobilnya.


Setelah sampai di tempat tujuan mereka berdua turun dari mobil, dan memesan jagung yang sama seperti yang dulu mereka makan.


"Om tahu, aku suka banget sama sepak bola," Chika saat memandang pertandingan futsal yang ada di depan mereka.


"Oh ya, kalau Om tidak tahu apa-apa tentang sepak bola," balas Tom yang mungkin bisa mengangetkan Chika.


"Kok? Dasar paya, terus ngapain ke sini kalau nggak nonton pertandingan futsal?"


"Kau mau tahu jawabannya?"


"Apa?"


Lalu Tom mendekatkan pipinya pada Chika sambil menununjuk dua remaja saling bermesraan di dekat pohon rindang sedikit jauh dari lapangan futsal.


"Aku suka ngeliatin mereka," jawaban Tom, membuat Chika langsung melotot menatap wajah Tom yang masih memandang kedya remaja itu.


"Kau lihat si pria, dia setiap minggu mengganti gadisnya," ucap Tom lagi.


"Dan Om perhatikan itu semua?"


"Ya, Om suka pemandangannya," jawab Tom berani sambil memperlihatkan giginya pada Chika. "Lihat sebentar lagi mereka akan berciuman," ucapnya lagi seperti menikmati pemandangan itu.


"What! Ternyata Om mesum ya," ucap Chika sambil memukul lengan Tom. "Ok sekarang kasi tahu aku apa pekarjaan aku, nggak sabar pengen kerja," lanjut Chika antusias.


Lalu Tom melempar tatapannya pada Chika yang tadinya asik memadang dua remaja yang asik berpacaran.


"Kau serius ingin bekerja?" tanya Tom meyakinkan.


"Iya, aku nggak mau nebeng di rumah orang, aku mau dapat penghasilan sendiri, aku mau bayar semua utang ibu aku," jelas Chika.


Tom menelan ludah, Chika betul-betul ingin bekerja dan pasti Chika akan membencinya pada saat mendengar pekerjaan yang ditawarkan Tom.


Mereka saling memandang, mata Chika berbinar penuh harap pada Tom, sedang Tom dia harus mengatakannya, bukan apa-apa dia sangat ingin memiliki gadis ini selalu dekat dengannya.


"Jadi sugar baby Om," ucapnya membuat Chika sontak kaget dan tak percaya Tom mengatakan itu.