A Moment

A Moment
KISAH CINTA HERMAN



Hermansya Raynaldi sedang dalam suasana hati yang bahagia, karena baru saja mendengar kabar bahwa kekasihnya Arinda akan kembali setelah berpendidikan tinggi di negeri pemilik sakura yakni Jepang.


Herman berencana akan menjemput Arinda besok di bandara, namun Arinda tak mengizinkan dengan alasan bahwa dia akan dijemput oleh seorang petinggi kampus dimana Arinda akan bekerja, di sana Arinda akan langsung menuju kampus bersama petinggi kampus dan melarang Herman untuk datang menjemputnya lagi pula besok di sekolah Citra Negara akan diadakan rapat sehingga menjadi penghambat untuk Herman menemui kekasihnya.


Saat mengetahui bahwa Herman tidak akan menjemput Arinda dimana hal itu seketika membuat Herman kecewa dan juga merasa kesal. Herman mematikan daya ponselnya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuknya sambil mengingat kapan dia pertama kali berani mengungkapkan perasaannya pada Arinda.


Flashback


*Saat itu Juni 1994, mata Herman masih saja memandangi lekukan tubuh Arinda yang sedang menari tarian daerah saat upacara terakhir angkatan 94. Herman yang notabenenya adalah ketua angkatan yang tentu saja terkenal di sekolah itu ingin memberi kejutan dengan mengungkapkan perasaannya pada Arinda lewat puisi yang telah dibuatnya.


Angin sore berhembus, dan akhir dari upacara terakhir dari angkatan 94 sudah hampir selesai. Herman muda yang tentu saja digemari oleh setiap gadis yang ada di sekolah itu mengumpulkan segenap keberaniannya tuk mengungkapkan segala rasa yang ada dalam hatinya.


Disaat waktu sudah menampakkan hari sore dan para murid sudah berkurang serta guru-guru lain yang sudah kembali ke rumahnya. Dan yang tinggal hanya kumpulan anak OSIS dan beberapa pengurus angkatan serta Herman dan Arinda yang tertinggal di sekolah itu.


Herman membuka kertas yang tadi dilipatnya dan naik ke panggung sekolah lalu berkata, "Andi, nyalakan mikronya," ucap Herman lalu meraih mikrofonnya*.


"Attention please!" ucap Herman, dan seketika membuat seluruh pasang mata menatap ke arahnya.


"*Tes tes."


"Ok, eh, untuk penampilan terakhir dari saya ketua angkatan Liorel94 untuk orang spesial diangkatan Liorel94."


Mendengar apa yang dikatakan Herman beberapa temannya yang ada di bawah panggung bersorak nama Arinda dan membuat pipi Herman agak merah dan senyum malu-malu terlihat di bibirnya.


"Hei sudahlah."


Lalu Herman berpuisi*:


"Dia berlari, dan aku mengejar


Dia tersenyum dan aku penikmatnya


Dia bersedih aku pun ikut demikian


Lalu mataku tak berhenti mencarinya sampai


Kedua kelopak mata ini


Menemukan keberadaan sosoknya


Arinda namanya


Gadis yang selama ini mampu memikat mataku


Gadis yang selama ini mampu mendebarkan hatiku


Dan gadis yang ingin aku cintai selamanya.


Arinda, maukah kau menjadi kekasihku?"


*Herman tersenyum pada Arinda yang menatapnya dari bawah panggung. Matanya menatap dengan pengharapan cintanya diterima oleh Arinda. Sedang yang lain, teman Herman maupun Arinda bersorak, dan tertawa melihat tingkah Herman yang terlihat bodoh namun romantis, Herman turun dari panggung menghampiri Arinda dan mengulurkan setangkai bunga mawar yang sudah dari tadi ia genggam.


Arinda yang takjub dengan cara Herman mengungkapkan perasaannya langsung saja ia mengiyakan untuk menjadi kekasih Herman. Semua kembali bersorak, bertepuk tangan melihat Herman dan Arinda.


Pressent


Herman mengendarai mobilnya dan akan menuju SMA Citra Negara, dia mungkin sudah terlambat untuk datang mengajar dan jam pertamanya ada di kelas 12 ipa 4. Jam ke tiga juga akan diadakan rapat di sekolah itu, dan tentu saja rapat itu penting untuk didatanginya.


Setelah sampai di sekolah, Herman dengan sedikit tergesa-gesa keluar dari mobilnya dan langsung menuju kelas 12 ipa 4. Herman berjalan lincah dan akhirnya sampai juga, tepat di bingkai pintu kelas 12 ipa 4.


Lalu Herman duduk di kursi guru dan meminta maaf karena dia terlambat, setelah itu menjelaskan materi tentang pelajaran sejarah.


"Menurut lo kenapa Pak Herman terlambat? Biasanya dia yang paling cepat datang," tanya Adel, berbisik pada Chika.


"Mungkin telat bangun," jawab Chika.


"Telat bangun atau telat tidur," Adel menggoda Chika.


"Telat tidur karena mikiran gue."


"Ye, lo mah, halu tau nggak lo!"


Adel langsung memukul lengan Chika dan dengan suara yang cukup besar membuyarkan fokus seisi kelas pada penjelasan Hermansya. Mata seisi kelas berada pada Chika dan Adel.


"Chika, Adel, kenapa?" tanya Herman melotot pada mereka berdua.


"Eh, Adel bertanya kenapa Bapak telat datang, padahal Bapak biasanya datang lebih cepat dari kami," jawab Chika dengan santai menatap Herman.


"Lo kok jual gue," ucap Adel menatap Chika.


Dengan tegas Herman menjawab, "Bukan urusan kalian!" Lalu Herman melanjutkan penjelasan materinya, membuat Chika dan Adel seketika melemas.


"Buset, lo dicuekin Chik," kata Adel berbisik.


Chika hanya memandang Herman dengan rasa marah, kecewa, kesal dan untuk pertama kalinya Herman menaikkan volume suaranya pada Chika.


"Ini untuk pertama kalinya Pak Herman berkata dengan volume keras sama gue, liat aja nanti pasti Pak Herman akan kena balasannya."


Chika menyipitkan matanya.


Dan Herman sama sekali tidak merasa bersalah telah berkata dengan volume yang sedikit kasar pada Chika Kayla Arif, gadis yang selama ini menyukainya, baik padanya, dan selalu membantunya.


Saat itu Herman memang merasa kesal karena pesan yang dikirimkannya untuk Arinda tak kunjung mendapatkan balasan. Itu tentu saja membuat Herman merasa kesal dan gundah di dalam hatinya. Untuk pertama kalinya seseorang hanya membaca pesannya tanpa membalas pesan dari Hermansya Raynaldi.


Bahkan saat rapat Herman tak mendengarkan apa yang dirapatkan, di kepalanya hanyalah ada rasa penasaran dan kesal terhadap sang kekasih. Sampai rapat selesai pesan Herman yang sejak semalam belum juga di balas oleh Arinda. Dia bertanya-tanya jam berapa Arinda akan sampai namun tak dibalas juga, hatinya yang penasaran akan hal itu akhirnya mendatangi sendiri bandara tempat pesawat yang ditumpangi Arinda akan mendarat.


Herman yang saat itu sangat kesal dan begitu rindu pada Arinda tak lagi dapat menahan gejolak yang ada dalam batinnya. Dia menancap gas mobilnya menuju bandara, seharian ini hanya rasa kesal yang ada dalam diri seorang Hermansya Raynaldi.


Sesampai di bandara ternyata pesawat yang ditumpangi Arinda baru akan tiba pada jam 12 siang, Herman tiba di bandara pada jam 11:24, dia menunggu di sana hampir dengan satu jam waktu normal. Waktu menunggu Herman gunakan untuk membeli bunga dan ucapan WELCOME BACK MY LADY, dan pada saat mendengar nama pesawat yang ditumpangi Arinda telah mendarat dengan selamat, mata Herman menangkap sesosok pria yang memakai jaket bertuliskan ARINDA IS MY LOVE, Herman juga melihat pria itu memegang sebuah bunga, sama dengan bunga yang dimiliki Herman, satu buket bunga mawar merah.


Tidak lama setelah mengamati pria tersebut, seorang wanita dengan rambut panjang terikat, berlari dengan senyum mengarah pada pria yang sedari tadi diamati oleh Herman. Seketika mata Herman berkaca dan sebutir air mata jatuh membasahi pipinya setelah melihat Arinda memeluk pria yang ternyata bukan dirinya.


Perasaan Herman teriris, hampa, kecewa, marah, sedih, dan ini alasannya kenapa Arinda tidak membiarkan dia untuk datang.


Betul saja apa yang dikatakan Chika, Herman akan mendapatkan balasannya.