A Moment

A Moment
Kasus Karina



Hari senin, cerah dan indah. Upacara terakhir angkatan Chika akan segera dimulai, seluruh murid SMA Citra Negara sudah siap berbaris, guru-guru sudah berada di tribun.


Chika mulai merasa gugup akan tampil di tengah lapangan, hanya angkatan mereka yang berbeda. Angkatan sebelumnya melakukan penampilan di dalam aula, sedang angkatannya harus berada di lapangan.


Semua itu adalah ide Herman, dimana Herman sekarang berada bersama guru lain yakni di tribun sekolah.


Akhirnya pertunjukan dimulai. Pertunjukannya dimulai dengan musikalisasi, lalu seni tari, dance, penampilan paskibraka, dan terkahir drama yang bertemakan 'manis pahitnya putih abu-abu' ide yang berasal dari ketua angkatan mereka.


*******


"Pa, Ma, aku berangkat ya," ucap Karina saat dia akan berangkat ke sekolahnya, entah kenapa hatinya merasa agak gugup.


Karina mencium punggung tangan kedua orang tuanya, dan pergi dari sana.


Sedang Tom, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia langsung berjalan pergi meninggalkan Asmi.


Melihat hal demikian Asmi merasa jengkel dan kesal, lalu dia menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "Gadis itu akan mendapat pelajaran," monolognya.


Karina berada di atas mobil sambil menatap keluar jendela, harapannya sebagai murid terbaik di sekolah harus ia dapatkan apapun yang terjadi, Karina sangat tidak ingin melihat ibunya kecewa.


Setelah sampai di sekolah, para murid-murid sudah berlomba-lomba untuk melaksanakan upacara.


Upacara terkahir Karina di smp tidak terlalu meriah seperti sekolah menengah atas, hanya menerbangkan balon berwarna putih-biru tanda masa putih-biru akan berakhir.


Karina mengambil barisan paling depan, matamu memandang ke arah barisan para guru-guru, lalu matanya tersangkut pada pria berkacamata dengan kulit hitam dan memakai baju dinas. Pria itu adalah wakil kepala sekolah di sekolah Karina.


Sekali lagi Karina menarik nafas dalam-dalam dan menutup matanya, membayangkan apa yang akan terjadi.


Tubuhnya bukan hanya berkeringat karena panas matahari tapi juga dipenuhi dengan keringat dingin yang disebabkan rasa takut.


Setelah upacara dan pelepasan balon, Kafina kembali ke kelasnya dan duduk dengan rasa takutnya, kemudian terlihat notifikasi masuk ke dalam ponselnya.


Sekarang ke ruangan ku, kau tahu apa yang akan kamu lakukan.


Pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


*******


Pertunjukan drama telah dimulai, giliran Chika yang beraksi, sesekali mata Chika menatap ke arah Herman, berharap Herman melihat setiap gerakannya, setiap aksinya, dan ya Herman memandang Chika dengan senyum yang memancarkan keceriaan.


Namun sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, pesan dari nomor yang tak diketahui, nomor yang tak di simpan oleh Karina.


Sekarang ke ruangan ku, kau tahu apa yang akan kamu lakukan.


Melihat itu Herman langsung saja membulatkan matanya, nafasnya kini tidak teratur. Herman yang sekarang tidak fokus pada aksi Chika, membuat Chika bertanya-tanya dalam benaknya, ada apa dengan Herman, kenapa dia sekarang tak memperhatikan Chika lagi.


Itu membuat Chika hanya fokus pada Herman yang akan beranjak pergi, karena hal itu Chika tiba-tiba terjatuh saat akan melakukan aksi bedlompat saat adegan perkelahian, semua yang melihat itu berteriak nama Chika, membuat Herman sekali menatap Chika, berniat menyelamatkan Chika namun tidak dua tidak bisa dia harus datang ke sekolah Karina secepatnya.


Melihat hal itu membuat Chika kecewa terhadap Herman, matanya berkaca dan lengannya tergores. Walau demikian hal itu tak lebih sakit saat Herman hanya menatapnya namun tak membantunya, saat Herman berlalu pergi dan mengabaikannya adalah hal yang lebih sakit dari goresan luka yang ada di lengannya.


*******


"Kemari," ucap pria itu.


Kemudian Karina melangkahkan kakinya sebanyak dua langkah.


"Lebih dekat Karin," ucap Pak Wakasek.


Karina kemudian melangkahkan kakinya mendekat, dia sesekali menelan ludahnya, hatinya tak berhenti berdetak.


*******


Akhirnya, Herman sampai di sekolah Karina, dia menggunakan alat pelacak untuk melacak dimana Karina berada, jalannya tergesa-gesa dan cepat, sementara matanya menampakkan kemarahan. Gerbang kedua sekolah milik Karina tertutup, walau Herman berhasil lolos di gerbang pertama, sangat sulit untuk lolos di gerbang kedua.


Terdiam sebentar, berfikir bagaimana caranya untuk masuk, dia kembali kebanyakan satpam yang ada di gerbang pertama.


"Pak Anda bisa membuka gerbang kedua itu, dan aku mau bertanya, siapa pria ini?" tanya Herman sambil menampakkan foto profil miliki nomor yang menghubungi Karina.


"Kalau Gerbang kedua baru akan terbuka saat jam pulang Pak, tapi jika Anda ingin masuk Anda bisa melalui ruangan BK yang langsung tembus ke dalam sekolah," jawabnya, lalu ia melanjutkan, "Dan foto yang barusan tadi anda perlihatkan adalah wakil kepala sekolah, namanya Pak Mehmet," jelasnya lagi.


"Oh, makasih Pak," uca Herman, dia berjalan dan melihat di sisi samping yang terdapat ruangan yang bertuliskan ruang Ruang Bibingan Konseling.


Herman berjalan cepat, dan masuk ke ruang tersebut. Disambut oleh seorang guru wanita, salah satu pengurus BK di sekolah itu.


"Maaf, Bapak mau kemana?" tanya seorang wanita yang juga berpakaian dinas di sekolah itu. Suara itu menghentikan jalan Herman.


"Oh, saya mencari Pak Mehmet, ehm, saya temannya, dan saya juga mengajar di sekolah SMA, apa anda tahu dimana ruangan Pak Mehmet?" tanya Herman, dan langsung diiyakan oleh wanita itu.


"Oh Pak Mehmet, dua sekarang berada di ruangannya, apakah Anda ngin saya mengantar Anda ke sana?"


"Ya, tentu saja aku mau."


Herman melihat alat pelacakanya dan ponsel milik Karina berada tepat di tempat yang ditunjukan wanita itu ke pada Herman.


"Baiklah, terimakasih sudah ingin mengantar ku," ucap Herman dan tersenyum pada wanita yang mengantarnya.


Setelah wanita itu berjalan, menjauh dari Herman.


Herman memundurkan badannya aga menjauh dari pintu ruangan Wakasek.


Herman menarik nafasnya lalu dia hembuskannya.


"Mehmet!!!"


Suara Herman yang memanggil nama Mehmet yang diiringan dengan menendang pintu ruangan Wakasek yang ada di hadapan.


Teriakan itu didengar hampir seluruh sekolah menengah pertama.