A Moment

A Moment
PATAH HATI



Sebutir Air mata jatuh membasahi pipi Hermansya Raynaldi, melihat sang kekasih mendaratkan pelukan pada pria yang ternyata bukan dirinya, hancur remuk hatinya, tubuhnya seakan terpaku pada lantai di bandara. Matanya seakan tak percaya bahwa apa yang dilihatnya adalah alasan kenapa Arinda tak mengizinkannya untuk dijemput olehnya. Herman menguatkan diri untuk melangkahkan kakinya.


"Oh ini alasannya, alasan kau tidak mengizinkan ku untuk datang," ucap Herman setelah sampai tepat di hadapan Arinda. Gadis itu perlahan melepaskan pelukannya pada pria yang dipeluknya.


"Herman," ucap Arinda terkejut.


"Herman? Mantan pacar kamu kan?" tanya pria yang berdiri di samping Arinda.


"Mantan?"


Herman terkejut saat mendengar kata mantan.


"Iya, Arinda bilang nama mantannya itu Herman, kau Herman bukan?"


Pria itu mengulurkan tangannya dan kemudian berucap, "Aku Malik, tunangannya."


Rasa sakit Herman saat mendengar kata tunangan, tak mampu dijelaskan hanya dengan sekedar kata-kata, saat itu kesetimbangan tubuhnya seakan menghilang, Herman berjongkok sambil menggigit kelingkingnya, dan berdiri lagi.


"Aku menolak ribuan gadis hanya karena aku menunggumu, dan kau bahkan tidak bisa menolak satu pria demi mempertahankan cinta kita. Arinda aku tidak percaya ini semua," ucapnya, Herman meneteskan air matanya, dia terisak sambil menutup kedua matanya dengan satu tangan. Sedang bunga yang digenggamnya terjatuh ke lantai.


Mata Arinda terlihat berkaca melihat Herman yang sekarang menangis tak berdaya di hadapannya, dia lalu berkata, "Aku minta maaf Herman, ternyata jarak bisa memudarkan rasa cinta, kurangnya pertemuan membuatku terbiasa untuk tidak mencintaimu lagi, aku minta maaf," ucapnya lalu Arinda pergi dari sana, menggenggam tangan tunangannya, meninggalkan Herman bersama air matanya sendiri, terpaku dengan kesakitannya sehabis dikhianati.


Tak dapat dijelaskan, tak dapat diungkapkan, pria yang selama ini menanti kini patah karena dikhianati, penantian dibalas dengan pengkhianatan, entah kata apa lagi yang pantas untuk rasa sakit Herman selain kecewa yang mendalam.


Herman masih meneteskan air mata, bahkan saat dia sedang mengendarai mobil untuk kembali ke rumahnya dan lupa bahwa dia punya jam mengajar di sekolah. Hingga sampai di rumahnya Herman langsung membaringkan tubuhnya, lalu dia dalam posisi tengkurap menutup wajahnya dengan bantal sambil terisak tak percaya.


Cinta yang selama ini ia pertahankan pergi meninggalkan luka yang yang susah tuk dilupa. Tatapan kasihan Arinda dan ucapan yang begitu menyakitkan dapat menusuk batin terdalam Herman. Bahkan Herman sudah pernah melamar Arinda tapi saat itu Arinda sedang dalam pendidikan ke Jepang, dan berencana akan menikahi Arinda setelah Arinda kembali namun nyatanya Arinda kembali hanya membawa rasa sakit buat Herman.


"A...A...Rinda, Arindaku kau bukan milikku lagi!" ucap Herman masih menangis, hatinya perih dan sangat perih, mengingat begitu banyak kenangan, kasih sayang, cinta yang sudah mereka bagi, begitu banyak hal indah, momen-momen menyenangkan yang sudah mereka jalani dan semua itu berkahir dengan perpisahan yang menyakitkan.


Herman yang kecewa, bersedih, dan tertusuk kini menyendiri di dalam kamarnya sendiri, dia tidak memperhatikan dirinya sendiri, makan seadanya tidur tak teratur dan menjadi pendiam, tak lagi ceria seperti biasa, tak lagi menjadi yang ramah dan hanya Herman yang patah hati.


*******


"Om, Pak Herman udah nggak masuk mengajar selama seminggu, nomornya nggak aktif dan nggak ada kabar tentang dia, Om tahu?" tanya Chika saat sedang bersama Tom di kafe publik.


"Jadi kau belum tahu? Mungkin ini kabar baik buat kamu, ternyata pacarnya sudah bertunangan dan itu bukan Herman," jawab Tom.


"Apa!"


"Iya."


Chika yang selama ini menaksir Hermansya tidak tahu harus bereaksi bagaimana senang atau bersimpati.


"Kenapa diam?"


"Aku hanya tidak tahu harus merespon bagaimana, dan Pak Herman dimana sekarang?"


"Dimana lagi kalau bukan di rumahnya, dia bahkan lupa bahwa dia punya kafe untuk di urus," ucap Tom.


Mendengar ucapan Chika, Tom menatap mata Chika yang penuh dengan perasaan tulus pada Herman. Dengan tatapan itu saja Tom bisa tahu kalau Chika bukan hanya sekedar mengagumi Herman namun sekarang rasa kagum itu sudah berubah menjadi cinta.


"Kau tahu Chika perbedaan Mengagumi dengan mencintai?" Tom bertanya.


"Apa pengagum berbeda dengan pencinta?" tanya Chika balik.


"Pengagum akan meninggalkanmu saat tahu keburukanmu, dan orang yang mencintaimu akan tetap bersamamu walau tahu bahwa kau punya keburukan yang tak terbatas," ucap Tom, kini mata Chika dan Tom saling bertatap. Saat Herman lupa bahwa dia adalah guru yang dicintai oleh muridnya maka Tom lupa bahwa dirinya sebenarnya sudah tua.


"Oh ya Om lupa, kalau Om harus jemput Karina di sekolah, supir kami akhir-akhir ini sering sakit, kau mau ikut?" tanya Tom setelah lama menatap mata indah Chika.


"Ikut? Om mau aku ketemu sama anak Om?"


"Kenapa tidak?"


"Nggak!"


"Ok, Om akan antar kamu pulang dulu setelah itu Om jemput Karina."


"Nggak ah, aku pulang sendiri aja."


"Jangan, nanti kamu diculik lagi, Om pasti akan patah hati," goda Tom.


"Aku pikir pencurinya itu adalah Om Tom sendiri."


"Ok, ok kamu pulang sendiri tapi Om yang akan cariin kamu taksi."


"Setuju bosku."


*******


"Sampai kapan kau akan seperti ini?" tanya Asmi saat berkunjung ke rumah Herman, khawatir terhadap keadaan sang adik yang masih mengunci di dalam rumahnya.


Dan Herman, dia seperti pria tanpa ada yang mencintainya, matanya merah seperti sudah menagis darah, di bawah kelopak matanya ada kantong mata berwarna hitam menandakan bahwa dia kurang tidur.


"Pikirkan pekerjaanmu, sekolah tempat kau mengajar, kau sekarang adalah bos di kafemu sendiri, bukankah itu yang kau inginkan Herman, kau ingin menjadi guru dan sekarang kau menjadi guru, kau ingin menjalankan kafe sekarang kau sudah menjalankan kafe, apalagi, menikahi Arinda?"


"Iya, aku ingin menikahi Arinda, aku tidak ingin dia berada di pelukan pria lain, aku takut pria itu tidak akan mencintainya lebih seperti aku mencintainya Kak, aku tidak mau melihatnya bersedih dan disakiti oleh pria yang akan mengkhianatinya, dia bisa menyakitimu sepuasnya asalkan dia mau kembali padaku, karena hanya aku yang akan menerimanya, mencintainya bakan jika rambutnya sudah berubah putih," jelas Herman sambil meneteskan air mata.


"Tapi Arinda dia malah membiarkan mu seperti ini, Herman adikku, kau ini Raynaldi, seharusnya kau memimpin sebuah perusahaan, kau ipar dari Arfinjaya, kau salah satu yang terkaya di kota ini, namun kau memilih untuk menjadi guru hanya karena Arinda ingin kau menjadi guru, kau menjadi seorang yang biasa, padahal kau berasal dari yang luar biasa, Herman tunjukan pada Arinda dan bukan hanya Arinda tapi ke seluruh dunia bahwa seorang Raynaldi dan bagian dari Arfinjaya tidak akan patah hanya karena seorang gadis," ucap Asmi kini memeluk Herman.


Mungkin Asmi sangat dingin dan terlihat cuek pada siapapun bahkan pada Tom, dia mungkin terkesan sombong, bahkan dia juga sangat cuek pada anak-anaknya namun tidak pada Herman, adiknya, dia sangat mencintai Herman karena satu-satunya yang dia miliki selain Tom dan anak-anaknya, dia cuman punya Herman, adiknya orang pertama yang akan memukul pria yang menyakiti kakaknya, pria yang akan melindunginya, dan pria yang selalu ada untuknya bahkan lebih dari Tom suami Asmi sendiri yang sekarang sibuk dengan urusannya sendiri.


"Kakak benar, sekarang hanya Kakak yang ku punya, hanya kakak yang mencintaiku lebih, hanya Kakak yang peduli terhadapku, sekarang aku hanya akan mencintai satu wanita selain ibu yakni Kakak, aku tidak akan rapuh hanya karena gadis yang bahkan tak pantas aku cintai."


Herman melepas pelukan sang kakak dan mengusap air matanya.


Herman mencoba kembali mengumpulkan puin-puin semangatnya, membangun kembali benteng pertahanannya, berusaha untuk tidak lagi mengingat Arinda dan mempelajari apa yang dia katakan Arinda, yakni 'kurangnya pertemuan membuatku terbiasa untuk tidak mencintaimu lagi' seperti itulah yang dikatakan Arinda pada Herman dan akan Herman ingat sebagai motivasi untuk bangkit kembali.