A Moment

A Moment
Menginap



Jam 8 malam terlihat latihan masih saja berlangsung. Herman masih melatih Andika dan kawan-kawan. Dan beberapa murid gadis sudah dijemput oleh orang tua mereka. Chika memilih untuk menginap di sekolahnya, dia juga sudah memberitahu kakek dan tantenya. Dan pada akhirnya mendapatkan izin untuk itu.


"Katakan padaku siapa-siapa saja yang akan menginap?" tanya Herman, pada Andika saat dia akan pulang.


"Semua murid laki-laki akan menginap Pak, dan murid gadis hanya Chika yang menginap," jawab Andika.


"Chika?"


"Iya Pak."


"Dia mana ia sekarang?" tanya Herman lagi.


"Dia istirahat di ruang uks Pak, aku mengizinkannya di sana. Dan anak-anak lainnya akan tidur di kelas XII ipa 1, ruangannya cukup bagus di sana," jelas Andika.


"Oh, baiklah, antar aku ke uks," kata Herman. Dia melangkahkan kakinya, terlihat dia akan ke ruang uks yang tidak jauh dari ruang guru.


Sesampai di ruang uks, terlihat Chika yang sudah kelelahan dan terlelap di kasur milik uks yang disediakan untuk para murid-murid.


"Aku akan membawanya untuk menginap di rumahku," ucap Herman. Ucapan itu mampu membuat Andika sedikit membuka mulutnya karena terkejut.


"Apa Pak?"


"Aku akan membawanya, aku tidak akan membiarkan dia di sini digigiti nyamuk, dan sendiri di ruangan ini. Tenang saja aku tidak akan bersikap kurang ajar padanya," jelas Herman.


"Apa aku harus membangunkannya Pak?"


"Tidak usah, aku akan menggendongnya, jangan bangunkan dia," jawab Herman. Dia kemudian berjalan menghampiri Chika yabg terbaring di kasur uks.


Herman menatap Chika sebentar, lalu dia mengangkat Chika yang terlelap dengan tenangnya. Mungkin karena terlalu lelah jadi dia tidak merasakan sentuhan Herman.


Setelah meletakkan Chika, Herman berterimakasih pada Andika karena sudah membantunya.


"Makasih ya Dika, dan jangan sampai yang lain tahu soal ini, bilang saja kalau Chika dijemput oleh keluarganya, dan jangan salah paham," jelas Herman, dan dibalas anggukan oleh Andika.


Herman kemudian menjalankan mobilnya sesekali menatap Chika yang masih terlelap. Entah apa yang dipikirkan Herman sehingga dia memilih membawa Chika pulang ke rumahnya. Padahal di rumahnya hanya ada dia.


Dan entah bagaimana Chika akan mersepon Herman saat dia terbangun di rumah Herman.


Sesampai di rumah yang berdesain klasik namun indah, dengan tembok kayu yang kuat dan terlihat seperti rumah-rumah klasik bernuansa Eropa. Rumah Herman mungkin sederhana tapi jika dilihat rumahnya lebih nyaman dari rumah mewah milik Tom.


Herman membuka rumahnya dan membawa Chika ke sebuah kamar di sudut bagian barat, terlihat tempat tidur bersperai warna putih polos dan jendela di bagian samping kanan tempat tidur.


Herman membaringkan Chika di atas ranjang tempat tidur, perlahan dia menatap Chika yang masih terlelap dan tak sadar bahwa dia sudah berada di rumah pria yang selama ini ia kagumi.


Herman membuka sepatu Chika perlahan, membuka kaos kakinya dan menyelimuti gadis berambut pendek itu. Kemudian Herman mematikan lampu kamar dan pergi menuju kamarnya yang akan ditemukan setelah menaiki tangga kayu yang berada di bagian selatan di dalam rumahnya.


Herman membuka sepatunya, dan juga melepas kaos yang sudah bau keringat, meninggalkan kemeja dalam berwarna putih, kemudian dia membaringkan tubuhnya.


Herman sangat kelelahan tentu saja, setelah pulang dari pengadilan dia langsung melatih kelas 12 untuk berdrama persiapan hari senin.


******


Pukul 7 pagi, mata milik Chika perlahan terbuka, dia membangunkan badannya dan lihat, mata sipit Chika tiba-tiba membulat saat tahu bahwa dia tidak berada di tempat yang semalam ia tiduri.


Mulutnya menganga, matanya melotot serta hatinya merasa panik.


"Tempat apa ini?" monolog Chika saat matanya memutari sekeliling tempat yang asing baginya.