
Hari yang melelahkan, menyebalkan dan menyakitkan buat Chika. Di sekolahnya dia harus mendapatkan tatapan sinis, aneh, hingga tatapan jijik dari seangkatannya, rasa sebal pada Sabrina hingga khawatir terhadap buku diary miliknya.
Saat di rumah pun Chika harus menanggung lelah, dia harus menyetrika tumpukan pakaian yang baru dicuci oleh sang ibu yang bernama Mia. Saat berada di rumah Chika harus melihat ibunya dibentak depkolektor, hingga malamnya sang ayah yang tahu bahwa ibu Chika memiliki pinjaman yang baru lagi, saat itu sang ayah naik pitan.
Ayah Chika bernama Ahmad Arif seorang pekerja serabutan yang suka mabuk-mabukan.
Malam terang saat itu, namun terasa gelap nan panjang buat gadis bernama Chika ini. Sang ayah yang baru pulang dari tempat mabuknya mendengar kabar bahwa tadi sore sang istri dibentak oleh depkolektor karena pinjaman yang tak dibayar oleh Mia sang istri. Hal itu membuat Ahmad sangat marah dan tak suka.
Dari ruang utama terdengar suara bentakan dari ayah Chika pada ibu Chika. Chika merasa bahwa itu semua biasa, apa yang dilakukan Chika saat itu adalah mengunci pintu kamarnya dan memakai earphone mendengar musik lalu mengabaikan segalanya dengan mengerjakan tugas fisikanya.
Namun tak semudah itu Chika mengabaikannya sesekali dia menangis membuat bukunya basah dan memburamkan tulisan yang ditulisnya.
Chika bahkan tidak makan malam karena tak adanya lauk untuk dimakannya, uang jajan pun hanya uang tabungannya yang dia kumpulkan karena sering membantu ibu kantin di sekolahnya. Chika seperti berjuang sendiri tanpa dukungan, dorongan, dan bantuan dari siapapun selama ini.
Setelah mengerjakan tugasnya Chika sudah tidak mendengar suara apapun dari luar, karena haus Chika keluar dari kamar tidurnya, dan melihat satu dari 4 kursi plastiknya sudah patah, dia juga tak melihat ibunya di sana, cuman ayahnya yang duduk dengan sebotol minuman keras, melihat itu Chika menelan ludah, lalu mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih, lalu kembali masuk ke kamarnya.
"Yang benar saja," ucap gadis berambut pendek itu, saat menutup pintu kamarnya.
******
Tom pulang dengan rasa lelah, karena saat meninggalkan SMA Citra Negara dia langsung ke kantornya menandatangani banyak berkas yang sudah menumpuk, saat pulang pun sang istri sudah terlelap tidur tanpa ada makanan di meja makan yang membuat Tom selalu kesal dengan sikap acuh tak acuh dari sang istri terhadapnya.
Bagaimana tidak Asmi istri Tom, lebih sibuk dengan perusahaan arsistekturnya kebanding mengurus keluarganya, bukan hanya kepada Tom, Asmi juga acuh tak acuh pada kedua putrinya, dia tidak terlalu peduli, tak terlalu peduli maksudnya tak peduli dengan prestasi anaknya di sekolah dan sebagainya, bahkan pada saat penerimaan rapor putri keduanya yang mesti didatangi oleh orang tua, Asmi malah menyuruh Tom yang saat itu sedang ada rapat mendadak di kantornya. Itu yang membuat Tom selalu kesal dan merasa sangat kesal terhadap sang istri.
"Bisa-bisanya dia terlelap tidur saat sang suami sedang kelaparan," keluh Tom saat melihat istrinya sudah larut dalam mimpi dalam tidurnta.
"Menyebalkan!" ucapnya dengan nada kesal, dia pun naik ke ranjang dan menarik selimut tidurnya.
Tom, dia awalnya sangat mencintai Asmi, saat mereka masih berstatus pacaran, Asmi selalu bersikap manis padanya, namun berbeda setelah menikah Tom malah merasa kesepian dengan keadannya.
******
Malam yang menyakitkan buat Chika, dan ketika pagi tak ada yang menyiapkan sarapan untuknya padahal dia sangat kelaparan, ayahnya yang menyebalkan itu mengusir sang ibu semalam, ibunya menginap di salah satu rumah tetangga.
Chika hanya mengisi botol minumnya dan pergi dengan rasa laparnya, dia berjalan kaki sepanjang 2 km untuk sampai di sekolahnya. Terkadang di jalan Chika meminum air yang telah disiapkannya.
******
Tom memandang wajahnya di dalam cermin, dia menyisir rambutnya dan sesekali merapikan dasinya, dan bersiap untuk ke kantor.
Saat sudah siap untuk ke kantor dan sudah berada di ambang pintu rumahnya, terdengar suara dari belakang.
"Papa!" Panggil Karina, putri bungsu Tom.
Mendengar itu Tom berbalik, dia melihat sang putri sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Anterin aku ke skolah dong Pa, Pak Doni sedang sakit nggak bisa antarin aku."
Doni adalah sopir pribadi Karina yang masih duduk di bangku smp.
"Kak Dinda?"
Dinda adalah anak sulung Tom yang sekarang berada di bangku kuliah.
"Kak Dinda buru-buru tadi, Mama juga gitu, jadi nggak sempat minta tolong sama mereka," jawab Karina.
"Okelah, Papa tunggu di mobil ya," ucap Tom yang langsung berjalan menuju mobilnya.
Tom dan si bungsu menuju ke sekolah yang berjarak 4 km dari rumah, dalam perjalanan Tom tanpa sengaja melihat Chika berjalan dengan pakaian seragam sekolah, namun saat itu arah Tom dan Chika berlawanan membuat Tom tak menghentikan mobilnya walau dia ingin.
Sesampai mengantar Karina, Tom langsung menancap gas mobilnya berharap Chika masih ada di jalan tadi, dan harapan Tom terkabul saat melihat Chika yang masih sekitar 500 meter dari sekolahnya.
Tom menghentikan mobilnya tepat di samping Chika dan membuka pintu bagian depan menandakan bahwa dia ingin memberi tumpangan pada Chika.
Sedang Chika yang merasa penasaran memasukkan setengah kepalanya melihat siapa orang yang sedang berkendara itu.
"Hai," sapa Tom menyeringai pada Chika.
"Om Tom."
"Tapi udah dekat Om," ucapnya yang berusaha menolak dengan halus.
"Dekat? Masih jauh, masih ada 500 meter kok, naik ajah Om nggak akan apa-apain kok," ucap Tom, meyakinkan.
Mendengar ucapan Tom, Chika tak ingin menolak lagi, dia masuk ke mobil ber-AC nan mewah milik Tom. Tubuh yang agak kurus milik Chika mulai merasa kedinginan dan terdengar oleh Tom suara perut mengisyratkan bahwa Chika sedang lapar.
"Kamu lapar?" tanya Tom, matanya sibuk memandang arah jalan.
"Apa? Eh, iya," jawab Chika, yang sebenarnya tak ingin menjawab dengan jawaban demikian.
"Ya udah kita makan dulu, lagian aku juga belum makan kok," balas Tom, dia baru saja melewati SMA Citra Negara, dan itu baru di sadari Chika.
"Eh, Om, sekolah aku udah lewat Om," protes Chika.
"Om kan udah bilang kita makan dulu selepas itu Om bawa kamu ke sekolahmu."
"Kalau Om bawa aku ke sekolah, aku udah terlambat nantinya," ujarnya dengan makin memprotes.
"Kalau terlambat nggak usah masuk, nanti aku kasi tahu Herman," jawab Tom santai.
Chika memandang Tom dengan tatapan tidak percaya. "Om tadi bilang nggak akan apa-apain aku," ucapnya, dia masih protes, mata sipitnya tambah menyipit.
"Emangnya Om mau ngapain kamu? Percaya deh sama Om, ada penjual jagung bakar enak di dekat lapangan bola di ujung jalan, buka mulai jam 8 sampai 5 sore, kamu nggak bakalan yesel makan di sana," kata Tom semakin membuat Chika cemberut tidak terima.
Sesekali Tom melirik wajah Chika yang sudah terlihat kesal namun menggemaskan untuknya.
"Itu, udah sampai."
Tom menghetikan laju mobilnya, lalu mereka berdua turun dari mobil dan masih terlihat sang pedagang yang baru menyiapkan jagung yang akan di jualnya.
Chika duduk di sebuah kursi kayu yang sudah disiapkan untuk pengunjung dan Tom, dia terlihat menelpon seseorang yang tidak lain adalah Herman, dia juga seketika lupa bahwa jam 10:30 AM akan ada rapat di kantornya.
Chika memandang Tom yang asik bercakap dengan pedagang jagung bakar itu, dia memandang lesung pipi milik Tom yang hanya ada pada di pipi kiri Tom. Tidak sepertinya yang dia miliki yakni, dua lesung pipi.
Terlihat Tom membawa 2 jagung bakar dan menaruhnya di atas meja yang yang sudah di siapkan dan tidak lama minuman datang.
"Mana uang kamu?" tanya Tom membuat Chika membulatkan matanya.
"Aku pikir Om yang akan bayar," balas Chika polos. Mendengar itu Tom terkekeh.
"Iya Om yang akan bayar."
"Jadi?"
"Maksud Om, uang untuk parkir di hati Om," ucap Tom membuat pipi Chika berubah menjadi merah jambu.
"Heheheh, dasar Om-Om," ejek Chika.
"Eh aku udah nelpon Herman untuk membuat surat izin buat kamu loh, jadi tenang aja ok," jelas Tom.
"Makasih Om," balas Chika dengan menampakkan senyum manis.
"Katanya kamu pintar ya di sekolah?"
"Aku yang paling pintar," jawab Chika sombong.
"Sombong sekali," balas Tom.
"Emang, kenyataan kayak gitu kok, dan kok Om baik banget sama aku?"
"Baik? Aku itu orangnya baik sama semua orang."
"Oh gitu ya."
Chika terkadang tertawa, tersenyum, terkekeh, dan marah saat berbincang dengan Tom, sama dengan Tom yang selalu mendapat topik untuk diceritakan pada Chika hingga pertemuan ini berakhir saat Tom menyadari bahwa akan diadakan rapat di kantornya.