A Moment

A Moment
Berkelahi



"Halo Chik, lo dimana sih? Kok Pak Herman sih yang bawaain surat lo?" tanya Adel di balik ponsel.


"Nanti gue ceritain ok, sekarang tugas lo pura-pura sakit terus minta izin pulang, gue tunggu di halte bus depan sekolah ok," ucap Chika mematikan ponselnya sepihak.


Chika kembali memasukkan ponselnya ke dalam ransel warna birunya. Sesekali memandang wajah Tom yang sibuk mengendarai mobil.


"Jadi aku turunin kamu di halte bus?" tanya Tom, matanya melirik ke arah Chika.


"Iya," jawab Chika mengangguk.


"Kenapa nggak sekalian Om antar pulang?"


"Jangan, nanti aku dikira bolos lagi."


"Emang kamu bolos kan?" ejek Tom, wajah Chika terlihat kesal dengan ucapan Tom.


"Ye, Om Tom yang ngajarin, lagian ya Om aku tuh nggak pernah nggak masuk ke kelas. Masak sih Chika Kayla Arif itu nggak masuk belajar. Nggak mungkin kan?" ucapnya.


"Udah, nih udah sampai, jangan lupa ya," ucap Tom membuat Chika yang tadinya membuka pintu mobil langsung terhenti.


"Jangan lupa apa?" tanya Chika bingung.


"Jangan lupa mimpiin Om," gombal Tom, sekali lagi membuat pipi Chika memerah.


"Ih, dasar Om-Om, genit!" ucap Chika sambil mencubit lengan Tom dan turun dari sana.


Tom hanya terkekeh melihat tingkah gadis berambut pendek itu. Tom melambaikan tangan tanda untuk berpisah di hari itu pada Chika yang sudah duduk di kursi halte bus.


Tidak lama mobil Tom tak terlihat lagi, Adel keluar dari gerbang sekolah dengan tas dan motor coklatnya, melihat itu Chika langsung berlari turun dan naik ke motor Adel.


"Emang lo ya, hebat banget bohongin guru, hahaha," ujar Chika saat sudah mendaratkan bokongnya di atas motor Adel.


"Ini semua karena lo tau, sekarang ceritain kok lo nggak masuk?" tanya Adel dia masih menancap gas motornya.


"Bentar, kita ke Kafe Publik aja dulu ya, kita cerita di sana," jawab Chika.


"Nggak ah, gue nggak mau traktir lo, nggak ada duit."


"Ya udah ke rumah lo aja."


"Tidak, pasti orang tua gue tanya kenapa gue cepat banget pulangnya."


"Stop di sini!"


"Ha, di sini?"


"Iya di sini."


Adel menghentikan laju motornya dan berhenti di pinggir jalan. Chika mengambil ponselnya di dalam ransel tapi tanpa sengaja dia menemukan lembaran rupiah saat mengambil ponselnya itu.


Chika bingung dan berusaha mengetahui dari mana asalnya uang ini. Dan sekarang dia ingat, saat dia di suruh Tom membayar jagung bakar mereka yang mereka telah makan, Tom menyimpan lembaran uang ke dalam ransel Chika.


"Wah, lo dapat uang dari mana tuh?" tanya Adel saat melihat Chika terdiam saat mendapatkan 5 lembar uang 100 ribu. Chika masih terdiam.


"Chik!" panggil Adel menepuk bahu Chika.


"Ha?"


"Lo dapat uang dari mana tuh?" tanya Adel lagi.


"Ini uang dari Om Tom kayaknya deh," jawab Chika dengan wajah lesuh.


Adel membulatkan matanya tak percaya, "Om Tom, dia itukan yang viral sama lo, kok bisa sih kalian ketemu? Dan aku pikir lo sama Pak Herman."


"Pak Herman?"


"Iya."


"Nggak, aku nggak ketemu-ketemu sama Pak Herman, emangnya kenapa?"


"Kelas hebo gara-gara Pak Herman yang antar surat lo, sabrina nih dia bilang sama temen-temen kalau lo itu nginap di rumah Pak Herman, jadi Pak Herman yang ngantarin surat lo," jelas Adel antusias.


"Oh itu, Om Tom yang suruh Pak Herman buat izinin gue, Om Tom baik banget loh."


"Lo musti jelasin sama teman-teman besok soal ini jangan sampai mereka salah paham!"


"Nggak penting itu, sekarang aku mau ngembaliin uang Om Tom."


"Kok gitu, kita ke Kafe Publik aja, lagian lo kaya sekarang."


"No, ini punya Om Tom, ok."


******


Chika kembali pulang ke rumahnya setelah menceritakan semuanya pada Adel, seperti biasa Chika harus mengerjakan pekerjaan rumah, dia juga harus menyembunyikan uang yang diberikan Tom padanya karena jika tidak maka ibunya akan menemukan itu.


Esoknya, Chika kembali bersekolah namun bangun lebih cepat agar sampai ke sekolah lebih awal karena piket membersikan kelas adalah tugasnya untuk hari ini.


Sesampai di sekolah, dia sudah melihat beberapa temannya yang tergolong bukan siapa-siapa di kelas Chika. Tidak lama setelah Chika membersihkan sudah banyak teman yang lain datang satu-persatu, sedang Chika membaca surat izin yang ditulis Herman untuknya, pipi Chika menjadi merah jambu dan terlihat senyum di bibirnya membaca tulisan Herman padahal disana tidak ada yang lucu sama sekali.


Chika: Thanks Pak!


Pesan Chika pada Herman.


Pak Herman: Buat apa?


Chika: Makasih karena Pak herman udah nulis surat buat aku


Mr. Love: ok


Chika memandang di sektirnya melihat apakah tidak ada yang melihatnya membaca surat itu, dia juga memasukkan surat itu ke ranselnya.


Adel datang dengan wajah terlihat masih ngantuk berjalan ke arah Chika dan duduk di samping Chika.


******


Asik mempelajari ulang pelajarannya tiba-tiba seorang gadis dengan tubuh tinggi memukul meja Chika.


"Woi, lo udah sembuh," kata yang terdengar dan suara itu membangunkan Chika dari fokusnya.


Chika mendongak memandang wajah gadis yang berdiri di depannya, dan gadis itu tidak lain adalah Sabrina.


"Iya udah sembuh kenapa emang?" balas Chika cuek.


"Lo sakit kan? Emangnya diapain aja sama Pak Herman selama nginap di rumahnya?" ucapnya, Sabrina membaut seluruh yang ada di sana membulatkan matanya pada Sabrina dan juga Chika.


"Sabrina mulai lagi," ujar Alman yang juga ada di sana.


Chika memandang sinis pada Sabrina, dan berdiri seperti menentan Sabrina yang sekarang ada di hadapannya.


"Kok lo ngomong gitu Sab?" Chika yang berusaha tenang.


"Cuman mau tau aja, lo itu ngelakuin apa aja sama Pak Herman?"


Mendengat itu hati Chika semakin panas.


"Bentar lagi Bu Ani akan masuk, jadi gue nggak mau punya masalah sama lo, oke."


Chika kembali duduk dan membaca kembali bukunya. Sikap acuh tak acuh Chika membuat Sabrina kesal dan tak suka.


"Berani banget lo nggak jawab pertanyaan gue!" Mata Sabrina melotot.


Lalu entah apa yang dipirkan Sabrina dia menarik lengan Chika membuat Chika membalas dengan satu tonjokan keras pada wajah Sabrina, membuat Sabrina semakin marah dan pertengkaran dimulai, satu kelas berkerumun dan yang lain berusaha melerai perkelahian mereka.


Terlihat bekas merah di wajah Sabrina, sedang Chika hanya rambut pendeknya yang berantakan.


"Lo udah tahu Chika anak pencak silat, lo lawan," ucap Rahman saat menenangkan Sabrina yang duduk dengan wajah marahnya.


"Gue nggak peduli!" balas Sabrina.


Sedang Chika dia terlihat tenang duduk berbincang degan Adel yang menanyainya, "Apa lo nggak apa-apa?" tanya Adel yang terus di balas dengan anggukan oleh Chika.


Tiba-tiba seseorang dari kelas lain datang memanggil Sabrina dan juga Chika ke ruang bk. Terakhir kali Chika masuk ke dalam ruang bk yang sekarang dijuliki olehnya sebagai ruangan tanpa udara apalagi bertemu dengan guru yang bernama Rahmawati itu akan membuat Chika mati dalam ruangan tanpa udara itu.


Dalam perjalanan Chika berpapasan dengan Herman namun tidak menyapanya, Herman malah bertanya pada Sabrina yang wajahnya terlihat bengkak. Chika menoleh ke belakang melihat Sabrina bertindak seolah-olah dialah korban dari semuanya. Padahal kan dia yang memulai perkelahian. Chika dan Sabrina duduk di kursi ruang bk berhadapan dengan wanita menyebalkan yang disebut dengan guru bk ini.


"Telpon orang tau kalian!" ucapnya memandang sinis kedua gadis yang sedang berada di hadapan mereka.


Seketika tubuh Chika berkeringat dingin, mengingat ayahnya adalah orang yang pemarah dan pasti sama sekali tak peduli padanya, membuat Chika kebingungan harus menelpon siapa.


Sabrina terlihat sudah menelpon ibunya sedang dia masih berpura-pura mengotak-atik ponselnya hanya untuk mencuri waktu.


"Mamaku akan datang dalam beberapa menit lagi!" ucap Sabrina dengan wajah bengkak dengan gaya yang tetap sombong.


"Kau, bagaimana denganmu, apakah orang tuamu akan datang?"


Pertanyaan yang membuat Chika semakin ketakutan, tak ada yang Chika takuti selama ini selain surat panggilan orang tua.


"Orang tuaku tidak bisa datang Bu," jawab Chika dengan nada suara pelan.


"Apa! Kenapa? Kenapa tidak bisa?"


Terlihat Sabrina tersenyum miring, Habis lo Chik, ibuku pasti akan membalas lukaku ini. Batin Sabrina membuat.


"Mmm, mereka--" Chika merasa gugup namun tiba-tiba seorang pria masuk ke ruang bk dan mengajak bicara Bu Rahma, pria itu tidak lain adalah Herman, dia bagai pahlawan buat Chika, Herman bicara sesuatu pada Bu Rahma yang membuat dirinya batal memanggil orang tuanya.


"Kenapa? Kenapa batal? Ibuku sudah ada di jalan dan sekarang harus dibatalkan!" gerutu Sabrina alisnya naik sebelah.


"Apa susuahnya menyuruh orang tuamu kembali pulang, sekarang hukuman kalian membersihkan toilet kelas 10, cepat!" perintah Bu Rahmawati.


Yang benar saja, toilet kelas 10? Bersama murid paling gue benci, sebel deh! batin Sabrina.


Mmm, apa ya yang diceritain Pak Herman tadi? Buat penasaran saja. batin Chika.


Setelah membersihkan toilet, Chika melihat pesan di layar ponselnya yang membuat matanya membelalak tak percaya.


Pesan dari Pak Herman:


Pak Herman: Ke ruangan saya!


Melihat itu Chika langsung mencuci tanganya dengan sabun yang sudah disiapkan di sana, lalu lari meninggalkan Sabrina dengan rasa kesal.


Chika menarik nafas panjang dan membuka pintu ruangan Pak Herman pelan.


"Hai Pak," ucap Chika yang berjalan menuju meja Pak Herman yang sudah duduk di sana.


Chika duduk di depan Herman dan menatap mata belo indah milik Herman.


"Adel ceritain semuanya sama Bapak," ucap Herman langsung.


"Oh ya?" Chika masih menatap mata Herman.


"Kenapa menatapku begitu?" tanya Herman yang membalas tatapan Chika.


"Mata bapak indah," jawab Chika seketika membuag pipi Herman berubah menjadi merah jambu.


"Lain kali kalau ada yang seperti itu jangan diladenin, tambah masalah saja, bagaimana kalau ada yang tahu kalau kamu suka sama saya, saya tidak ingin itu terjadi, jadi kamu lebih baik diam saja oke," jelas Herman.


"Ok Pak Bos," kata Chika mengacungkan jarinya tanda dia sudah paham.


"Ok kembali ke kelasmu!"


Chika berdiri dengan senyum manis memandang Herman, saat dia akan membuka pintu keluar dia berkata, "I love you Pak!" ucapan Chika, membuat Herman seketika tersenyum tipis.