
Tom yang kesepian, Chika yang yatim piatu, dan Herman yang patah hati, mereka kini hilang arah, bagaimana tidak, Tom menutupi sepinya dengan menjadikan gadis yang masih SMA sebagai sugar baby nya.
Chika yang tidak ingin merepotkan kakek dan tantenya menerima saja tawaran Tom menjadi hiburan untuk pria yang yang jelas sudah berkeluarga.
Dan Herman, patah hatinya, mengubah dirinya menjadi sosok pendiam yang lagi tak sama seperti sebelumnya.
Ketiga pecinta itu kini hanya dapat terbaring dengan isi kepala yang penat dan hati yang pasrah akan kemana takdir membawa mereka.
*
Pagi seperti biasanya, Chika terbangun dari tidur yang cukup lelap, sesekali menguap dan tiba-tiba saja, terlintas di benaknya, momen ketika Tom mengecup pucuk kepalanya, pikirannya merasa keberatan tapi hatinya malah menerima yang terjadi, memikirkan itu ada rasa takut namun tetap saja senyum tipis terlintas di bibir merahnya.
Saat Chika mengambil ponsel yang sedari malam hingga pagi di charegrnya, dia melihat notifikasi dari Tom. Sebuah foto dimana Tom sedang jogging menggunakan kaos tipis berwarna hijau army yang memperlihatkan dada bidangnya, dan celana trening hitam, melihat itu membuat Chika terkekeh sendiri, dan membalas pesan seperti ini,
Chika: Dada Kok dipamer.
Om Tom: Cuma buat kamu kok.
Chika tak membalas lagi pesan dari Tom.
Chika menatap roster sekolahnya, dan melihat bahwa hari ini akan ada pelajaran sejarah yang dibawakan oleh Herman. Namun Chika tidak yakin guru kesayangannya itu akan datang mengajar. Mengingat bahwa Herman masih terluka akan pengkhianatan yang dilakukan oleh kekasihnya.
Tak mau lama memikirkan sang guru yang ternyata tidak mencintainya, Chika langsung saja ke kamar mandi, setelah memandikan tubuhnya Chika memilih sepatu dengan merk keluaran terbaru yang dibelikan oleh Tom.
Agak ragu namun tidak, dia memakai barang-barang baru , barang mahal, yang sudah dibelikan Tom untuknya, merasa selalu di pandang hina, remeh, dan miskin oleh teman-temannya, untuk saat ini dia tidak ingin lagi dipandang seperti itu, Chika mulai memperlihatkan gaya yang lebih pantas untuk diri seorang Chika.
Rambutnya yang biasanya berantakan kini disisirnya dengan rapi, bibirnya yang selalu kering kini diberi pelambab, dan sikap tomboy kini dia ubah menjadi lebih feminim. Dia kini cantik, menjadi pribadi rapi, dan tak lagi seperti biasanya.
Setelah mengubah sedikit tentang gayanya, Chika sekarang melangkahkan kakinya keluar dan menuju meja makan seperti biasanya, dia melihat kakeknya dan tantenya sudah ada di sana, Chika menampakkan senyum pada keluarga barunya, terlihat tantenya merasa heran melihat gaya baru Chika.
"Apa tas dan sepatumu itu baru Chik?" tanya sang tante saat Chika akan duduk di kursi makan. Chika terdiam dan menjawab, "Hmm, iya, ibu yang membelimya sebelum dia..." Terdiam sejenak, lalu berkata, "Maksudku aku baru memakainya sekarang, makanya terlihat baru," jawab Chika, berbohong. Dan Chika duduk, mengambil makanan untuk sarapannya.
"Dengar, kalau kau membutuhkan apapun, tinggal minta sama Kakek ok, kau tinggal mendengarkan apa yang kakek katakan, jangan seperti ibumu yang tidak mendengarkan kakek dan menikah dengan pria seperti Arif itu," ucap Sang Kakek, membuat Chika tersinggung namun hanya diam dan mengangguk mengiyakan ucapan kakeknya.
Setelah sarapan, seperti biasa Chika diantar oleh tantenya ke sekolah. Setelah sampai sekolah masih terlihat sunyi, hanya 2-3 orang yang terlihat duduk di teras-teras sambil memainkan ponsel mereka. Namun mata Chika tersangkut, dan tiba-tiba jantung di balik dadanya berdebar kencang, dengan hanya melihat sesosok pria yang duduk di teras paling ujung sambil memainkan ponselnya, dia menatap tulus pria itu, melihat beberapa perubahan di wajah pria yang tengah sibuk memainkan ponselnya.
"Pak Herman!"
******
Tom menatap Asmi yang masih terlelap tidur, jam 5 pagi waktu yang tidak biasa untuk seorang Tom terbangun di pagi hari. Dia menatap sang istri, wanita yang pernah ia perjuangkan hingga menjadi miliknya sampai sekarang, namun kecewa tentu saja ada, Tom yang selalu menginginkan cinta ternyata tak sepunuhnya bisa didapatkannya dari Asmi, seorang wanita karir seperti Asmi tak dapat memberikan apa yang selama ini diimpakan Tom, kehangatan, keharmonisan, dan cinta semua itu tak ia dapatkan di rumah besarnya.
Dia yang tidak ingin menyia-nyiakan waktu bangun paginya untuk berolaharaga langsung saja mengganti baju tidurnya dengan kaos berwarna hijau army terlihat lebih tipis, memperlihatkan bentuk dada kekar milik Tom dan dengan celana trening berwana hitam.
Tom keluar dari rumahnya, berlari kecil dan mengitari komplek sederhana namun di tempati oleh pebisnis-pebisnis kaya. Karena iseng Tom memotret dirinya dengan pose berlari memamerkan dadanya di dalam layar ponsel bermerk mahal miliknya. Lalu dikirimkan gambar itu pada Chika.
*Chika: Dada Kok Dipamer
Tom: Cuma untuk kamu kok*
Melihat balasan Chika membuat pipi Tom berubah merah, dan tersenyum sendiri, terselip di hatinya rasa bahagia yang cukup aneh, unik, dan indah yang dirasakan Tom.
Setelah cukup lelah karena jogging, Tom kembali ke rumahnya, dan betapa kaget nya Tom melihat sang istri kembali membantu Bi Nina menyiapkan sarapan pagi. Mata Tom menatap heran, dan kedua anak mereka pun sama, Karina yang sudah siap dengan pakaian sekolahnya menatap Tom, isyarat untuk tidak mengacaukan makan bersama keluarga lagi.
"Ibu mau aku bantu?" tanya Karina yang langsung berlari menuju meja makan membantu ibunya dan Bi Nani menyiapkan makanan.
Namun berbeda dengan Dinda, dia malah merasa risih dengan ibunya yang tiba-tiba berubah.
"Aku jalan duluan saja ya Ma, Pa," ucap Dinda, dia berjalan dan hanya bersalim pada ayahnya saja tapi tidak pada Asmi. Tom tersenyum pada Dinda saat Dinda hendak meninggalkan mereka.
"Papa ikut sarapan?" tanya Karina, tersenyum pada Tom. Tidak ingin mengecewakan sang anak, Tom mengiyakan saja ajakan sang anak.
Hingga akhirnya, Tom dan Asmi yang sekian lamanya tak terlihat sarapan bersama akhirnya momen itu tiba untuk hari ini. Namun itu semua tidak menjamin bahwa Tom akan kembali mencintai Asmi.
******
Hari yang cukup cerah untuk seorang Herman yang butuh mengobati hati yang telah terluka. Matanya memandang cermin dan melihat wajah lusuh karena terlalu lama mengunci diri dengan air mata kekecewaan.
Untuk dirinya, dan bukan untuk siapapun Herman kembali menguatkan tekatnya untuk tetap mengajar, namun mungkin dia akan mengubah sedikit pribadinya, menjadi lebih pendiam.
Herman yang sudah lengkap dengan pakaian dinasnya dan tas selempang dikenakannya, akan berangkat menuju sekolah, namun tidak dengan mobil tapi dengan sepeda, pagi-pagi sekali Herman berangkat, dia mengayuh sepeda dengan santai, namun dengan jarak yang cukup jauh, sekitar 4 kilo meter Herman merasakan sedikit keringat hangat jatuh dari kepalanya.
Sesampainya, dia langsung masuk ke ruangannya, menyimpan tasnya, dan keluar menatap cahaya pagi di SMA Citra Negara, dia menghirup udara pagi, lalu melangkahkan kakinya dan berhenti di ujung teras kelas yang berjijir, dia duduk di sana sambil memainkan ponselnya. Satu persatu murid datang ke sekolah, hingga lama duduk dia mendengar suara memanggil namanya.
"Pak Herman!"
Herman yang mendengar itu langsung menatap gadis yang mengeluarkan suara memanggil namanya.
Chika, gadis yang sedang berdiri di hadapannya, yang membuat Herman mendongakkan kepalanya menatap Chika yang tersenyum padanya. Entah kenapa melihat Chika dengan gaya yang lebih baru, dengan momen pagi yang mendukung, membuat hati Herman merasakan sedikit ketenangan.
Rambut Chika yang biasanya berantakan sehabis latihan pencak silat, dan saat-saat Chika berubah menjadi kutu buku, kini kesan itu hilang diganti dengan Chika yang lebih enak dipandang. Disaat Herman tidak menyukai Chika karena gaya tomboy, datang Tom yang melihat segalanya, yang melihat kecantikan dibalik senyum yang pertama kali diberikan Chika pada Tom, kini Chika tunjukan pada Herman. Saat Herman melihat Chika di pagi itu, ada pendirian yang mungkin runtuh saat dia akan ke sekolah untuk mengajar.