
Asmi keluar dari rumah sederhana milik Herman dan mengendarai mobilnya menuju ke kantornya, mengingat bahwa Asmi adalah pebisnis yang tak kalah dengan suaminya, sibuk, terkenal dan kaya raya.
Namun di tengah jalan, tepat saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, mata Asmi menangkap pria yang memiliki ciri-ciri seperti suaminya sedang berdiri tepat di samping gadis yang berpakaian layaknya anak SMA.
Mata Asmi terpaku, nafasnya mulai merasa agak sesak, saat melihat pria itu, pria yang mirip dengan Tom membukakan pintu mobil taksi dan mengecup pucuk kepala gadis berambut pendek nan cantik itu. Selain melihat pria itu mengecup si gadis , pria itu juga melambaikan tangannya sambil menunjukan kissbye pada si gadis, saat melihat itu semua Asmi tak sadar bahwa klakson mobil yang ada di belakangnya sudah berbunyi berkali-kali. Hingga akhirnya tersadar dan kembali menjalankan mobilnya.
"Tom selingkuh? Tidak, tidak aku pasti salah lihat, aku pasti salah lihat, Tom ku tidak mungkin selingkuh, mungkin dia cuek, dingin tapi tidak mungkin dia selingkuh, tidak mungkin, tom tidak mungkin selingkuh!" ucap Asmi, tiba-tiba menghentikan mobilnya saat jarak antara kantor dan mobilnya tidak lagi berjarak jauh.
"Aku harus mencari tahu semua ini." Asmi kemudian menjalankan mobilnya kembali dan akhirnya sampai tepat di hadapan kantornya lalu dia masuk ke ruangannya dengan tergesa-gesa lalu menelpon asisten pribadi Tom setelah sampai di ruangannya.
"Halo, ini dengan asisiten Tom?" tanya Asmi setelah yang ditelepon mengangkat panggilannya.
"Iya dengan saya sendiri, ini dengan siapa?" jawab di balik telpon.
"Apa Tom ada di kantor?"
"Maaf bu, ini dengan siapa?"
"Saya istrinya," jawab Asmi mantap.
"Oh, Pak Thomas dia sedang ada rapat Bu, dan tak bisa diganggu, " jawab asisten Tom.
Mendengar itu hati Asmi sedikit lebih tenang.
"Mungkin saat itu aku salah liat, dan aku harap begitu Ya Tuhan," monolog Asmi sendiri.
******
"Satu kecupan di kening," pinta Tom saat akan membukakan pintu taksi untuk Chika.
"Tidak!" Chika menggeleng tidak mau.
"Satu kecupan sebelum pergi, kalau tidak Om nggak akan bayarin taksinya," ancam Tom.
"Nggak Om, biarin aja, aku yang bayar taksi nya," balas Chika menyipitkan matanya yang sudah sipit.
Tiba-tiba Tom menarik lengan Chika dan mendaratkan bibirnya di pucuk kepala Chika dengan sedikit membungkuk.
"Sudah, hanya segitu kok, sekarang naik ke mobil," ucap Tom setelah mengecup pucuk kepala Chika.
"Om ini kita di liatin orang loh!" kata Chika mendesah kesal dan memandang Tom dengan menyipitkan matanya.
"Sststs, cuma di pucuk, rencana Om di kening, tapi kau terlalu pendek," ucap Tom yang langsung membukakan pintu taksi membiarkan Chika masuk ke dalam taksi berwarna biru itu.
Setelah melihat taksinya sudah pergi menjauhi Tom melakukan gerakan kissbye pada Chika lalu melambaikan tangannya.
Lalu Tom pergi menjemput Karina pulang.
Sore yang indah untuk Tom, menghabiskan waktu dengan Chika adalah hal yang paling membahagiakan untuk saat ini, pria yang langsung merasakan getaran baru setelah mendapatkan senyuman dari gadis yang masih berstatus SMA itu.
*
"Papa kenapa lama sekali, aku sampai menunggu hampir 1 jam," keluh Karina, setelah membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang, dia memonyongkan bibirnya, kesal karena Tom selalu terlambat jika itu tentang menjemput Karina.
"Papa minta maaf, Papa ada urusan mendadak tadi, Papa janji tidak akan terlambat lagi," balas Tom dengan nada lembut, matanya memandang Karina melalui kaca mobilnya.
"Aku sudah dengar janji itu berkali-kali, lagi pula besok pasti Pak Supir sudah sembuh."
Karina lagi-lagi memonyonkan bibirnya dan menyipitkan matanya. Gadis yang masih berstatus SMP itu memiliki karakter pemarah, dan sangat membutuhkan perhatian, orang tua yang sibuk membuatnya selalu merasa bahwa dirinya tak dipedulikan, dengan sibuk nya Tom dan Asmi bisa membuat Karina muak dengan kedua orang tuanya apalagi saat nanti mengetahui bahwa sang ayahnya memiliki Affair dengan gadis SMA yang lebih muda dari Kakaknya. Mungkin saat itu Tom akan sangat dibenci oleh kedua anaknya Karina dan juga Dinda.
Tom dan Karina masuk ke dalam rumah mereka, disambut oleh pembantu rumah mereka yang bernama Bi Nina, yang kadang masakannya hanya dimakan oleh Karina saja atau Dinda, mengingat Tom dan Asmi sangatlah sibuk bahkan lupa kalau ada Bi Nina yang selalu memasak untuk mereka disetiap pagi.
"Kebetulan Tuan, Nyonya sudah pulang dan membantu saya memasak di dapur," jawab Bi Nina, membuat Tom terkejut, bukan hanya Tom tapi Karina juga.
"Mama masak?" tanya Karina, matanya melotot heran.
"Iya Non," jawab Bi Nina singkat.
Mendengar itu Tom tidak langsung masuk ke kamarnya, mengganti bajunya namun langsung ke dapur melihat Asmi sedang memakai celemek kain di perutnya, dan tersenyum pada Tom.
"Tom, sayang kau sudah pulang, lihat aku masak sayur jagung kesukaan kamu," sambut Asmi saat melihat Tom berdiri tepat di pintu dapur.
Tom hanya tersenyum miring mendengar sambutan Asmi.
"Karin, sini bantuin Mama," ajak Asmi, ini baru pertama kalinya Asmi berkata dengan menampakkan senyum pada Karina.
Tom menoleh pada Karina yang langsung tersenyum heran pada ibunya, Tom merasa bahwa ada yang tidak beres sedang terjadi pada Asmi. Kenapa Asmi tiba-tiba baik, lembut, dan menjadi hangat pada semua orang. Bahkan untuk pertama kalinya Asmi mau memasak.
Setelah memasakkan makanan untuk makan malam, Bi Nina pamit pulang karena jam kerjanya sudah selesai.
"Baiklah, sekarang tinggal tunggu Dinda untuk pulang, supaya keluarga kita lengkap, makan malam bersama," ucap Asmi, saat selesai dan duduk di kursi makan.
Tidak lama kemudian si sulung pulang dari kampusnya dan melihat papa dan mamanya beserta adiknya sudah duduk rapi di kursi makan, itu tentu saja membuat Dinda heran, karena terkahir kalinya melihat adegan itu saat dia masih sangat kecil bahkan sebelum Karina lahir.
"Ini dia sulung kita sudah datang," ucap Asmi menyambut.
Dinda langsung ke meja makan dan berkata, "Ada apa ini, kalian mimpi apa semalam?" tanya Dinda seperti sedang menatap dua musuh duduk bersama-sama di meja makan.
"Kenapa kau mengatakan itu Dinda? Bukankah bagus kalau kita selalu seperti ini setiap malam?" balas Asmi.
Tom yang masih belum membuka mulut sejak tadi kemudian berkata, "Kenapa baru sekarang? Kenapa baru mau meluangkan waktu untuk keluargamu baru sekarang? Saat kami sudah terbiasa dengan rumah yang lebih dingin dari kutub, lebih sunyi dari sebuah gua, saya sudah tidak butuh dengan semua ini, Dinda dan Karina sudah terbiasa dengan semuanya Asmi, lagi pula aku sudah makan saat akan pulang, tidak perlu ini semua," ucap Tom dan berdiri dari duduknya, dia memandang Asmi dan kedua putrinya, lalu berjalan pergi.
"Papa mau kemana?" tanya Karina yang keberatan dengan ucapan ayahnya, tentu saja dia sangat ingin momen hangat seperti ini.
"Tidak bisakah kalian akur hanya jika di hadapanku, kenapa kalian selalu seperti ini? Aku benci kalian berdua!" lanjut Karina dan pergi menuju kamarnya. Sedang Dinda dia tersenyum miring dang pergi dari sana.
Asmi terdiam dari duduknya, memandang makanan yang tak sedikitpun disantap oleh keluarganya. Selama ini dia telah membuat keluarganya membenci dirinya, bahkan anak-anaknya pun demikian. Hanya karena melihat sosok yang mirip dengan Tom di jalan tadi dia merasa takut kehilangan pria yang paling dicintainya, ya Asmi sangat mencintai Tom tapi karena kesibukannya dia tidak bisa menunjukan betapa takutnya Asmi kehilangan Tom, betapa dia tidak ingin Tom dimiliki oleh yang lain selain dirinya, betapa takutnya dia bahwa Tom akan mencintai wanita lain selain dirinya.
Namun rasa takut kehilangan itu sudah terlambat, karena rasa takut itu datang setelah sesuatu yang lain masuk ke lubuk hati terdalam seorang Thomas Arfinjaya.
*
Tom membukan ponselnya dan melihat notifikasi dari Arkan, asisten pribadi Tom.
Istri anda tadi menelpon menanyakan keberadaan Anda Pak, dan saya sudah menjawab seperti yang anda perintahkan
Kenapa Asmi mencari ku? Monolog Tom.
Lama berfikir, Asmi membuka pintu kamarnya dan melihat Tom yang masih sibuk dengan ponselnya. Tom yang penasaran langsung menanyai Asmi, dia bertanya, "Kenapa kau mencariku tadi?" tanya Tom.
"Ha?"
"Arkan memberitahuiku kalau kau menelponnya, menanyakan tentangku, kenapa tingkah mu mulai terlihat aneh?"
"Apakah aneh jika seorang istri menanyakan tentang suaminya dan memasak makanan untuk suaminya?"
"Tidak aneh jika itu dilakukan oleh istri yang lebih mencintai suaminya kebanding pekerjaannya."
Tom langsung mematikan ponselnya dan membaringkan tubuhnya, menghadap samping membelakangi Asmi.
Andai kau tahu aku sangat mencintaimu Tom, dalam sesaat aku sadar bahwa aku sangat mencintaimu, batin Asmi, saat baru saja mendengar ucapan Tom yang mampu menembus masuk ke dalam batin terdalamnnya.