A Moment

A Moment
Ketahuan



"Om, besok kita jangan ketemu dulu ya, takut nanti aku bosan sama Om," ucap Chika saat akan keluar dari mobil Tom.


"Oh jadi nggak ketemu nih besok?"


"Iya, aku harus ikut rapat angkatan untuk pertunjukan nanti, saat upacara terakhir angkatanku. Soalnya minggu depan udah ujian akhir semester," jelas Chika.


"Bagus dong, soalnya kamu akan pisah sama Herman, tapi tidak denganku," ucap Tom yang memandang Chika dengan senyum miring.


"Terserah deh Chika mau tidur, dah," ucapnya lalu mengecup pipi kiri Tom dan pergi dari mobil Tom.


Sedang Tom tersenyum menyeringai sesaat setelah Chika mengecup pipi kiri miliknya. Setelah itu Tom melajukan mobilnya menuju rumah.


Dalam perjalana pulang Tom tak ada henti-hentinya memikirkan Chika, Chika dan hanya Chika. Hingga berada di rumahnya saat akan membuka pintu rumahnya Chika masih terbayang di kepalanya. Senyum Tom masih saja mekar, sampai dia melihat Asmi dan Karina asik menonton acara televisi di ruang utama.


Tom yang keheranan dengan hal itu, langsung saja kehilangan senyumnya.


"Tom? Kau pulang lebih awal, bergabunglah dengan kami," ajak Asmi, saat melihat Tom berdiri tepat di telinga pintu rumahnya.


Tom berjalan menuju ruang utama dan melihat Karina sangat fokus dengan acara televisinya sesekali tertawa.


"Aku yang pulang lebih awal atau kau yang tidak lagi lembur?" ucapan Tom seketika menyinggung perasaan sang istri.


"Aku mau mandi," ucap Tom saat akan melangkah pergi.


"Tunggu!" Asmi menahan tangan Tom.


"Apa itu di daun telingamu?" tanya Asmi saat melihat sesuatu yang aneh pada daun telinga Tom.


Asmi langsung berdiri dan membersihkan daun telinga Tom, yang ternyata di sana ada pasir yang menempel di telinganya.


"Pasir?" Lalu Asmi yang sadar bahwa pakian Tom ternyata juga dingin seperti habis terkena air. Asmi meremas rambut Tom, rambut yang di sela-selanya sudah terlihat sedikit uban.


"Kau darimana Tom? Kenapa kau kebasahan?" tanya Asmi membulatkan matanya Pada Tom.


"Bukan urusanmu!" Tom, lalu melempar tangan Asmi yang sedari tadi berada di kepala Tom.


Dan Karina, dia mulai merasa agak takut orang tuanya akan saling memebentak.


"Kau dari pantai?"


"Apa?"


"Tadi sore aku membawakanmu makanan, aku pikir kau akan lembur tapi kau tidak ada di kantormu, ponselmu pun tidak aktif, kau dari pantai kan Tom?" ucapnya dengan suara yang agak membesar.


Ucapan Asmi membuat Tom harus berfikir keras, alasan apa yang dia harus buat agar tidak bertengkar dengan Asmi di depan Karina.


"Karin, masuk ke kamarmu nak!" perintah Tom.


"Kenapa? Mau bertengkar lagi?" Karina yang mulai kesal dengan Tom dan Asmi.


"Pa, Ma, kalian nggak bosan bertengkar, akur kek, sehari aja, dan Pa, Mama udah masak, udah nggak lembur lagi, udah nggak sibuk, terus apalagi? Bukankah ini yang diinginkan Papa, kenapa Papa selalu cari bahan buat bertengkar sih!" ucap Karina dengan suara yang agak meninggi.


"Papa bilang masuk ke kamarmu!" kata Tom melotot pada Karina tanda bahwa Karina harus mendengarkannya.


Karina yang kesal dan penuh amarah masuk ke dalam kamarnya, dengan mata yang akan mengeluarkan air mata kesedihan, dan rasa kemarahan.


"Iya, saya dari pantai, saya tidak dikantor, saya mencari udara segar di sana, lalu apa masalahnya!?" jelas Tom dan menatap Asmi dengan rasa marah.


"Oh, kau ke pantai, dengan gadis SMA itu?" ucap Asmi spontan.


"Apa?"


"Kau lihat, video yang tersebar di sosial media, gadis itu merayumu, gadis yang sama yang kulihat bersamamu di kafe publik, aku tahu segalanya Tom, kau main curang di belakangku..." Asmi tak dapat lagi berkata-kata, air matanya memberontak keluar, setelah tahu bahwa sebenarnya Tom selama ini sudah berkhianat di belakangnya.


Asmi menangis sejadinya, dia menutup matanya dengan kedua tangannya dan berlutut di hadapan Tom.


"Hiks.. hikss, Kenapa Tom, ha? Kenapa!" ucap Asmi yang terisak dan Tom dia masih terdiam.


Tom yang tak tahu harus bagaimana dia langsung berjalan pelan, mengarah pintu keluar rumahnya namun di sana sudah berdiri Dinda yang baru pulang dari kampusnya.


"Papa selingkuh?" tanya Dinda saat dia sudah menatap langsung mata Papanya.


"Tidak, kalian salah paham, Papa..., Papa butuh udara segar," jawab Tom, dia terlihat lemas dan sepertinya dia kehilangan kekuatannya.


"Siapa gadis itu Tom?!" tanya Asmi saat hendak berdiri.


Namun Tom tetap berjalan dan mengabaikan Asmi.


"Siapa gadis itu Tom!" tanya Asmi lagi, suaranya yang kembali membesar dan menghentikan Tom dari jalannya.


"Kalau kau tahu siapa gadis itu, kau pasti tidak akan diam, kau salah paham Asmi," ucap Tom.


"Papa betulan selingkuh? Ha, Wao, selingkuh di usia yang sudah kepala 4, aku pikir cuma Mama yang akan aku benci, tapi ternyata Papa juga monster!" ucap Dinda yang kembali lagi membuka pintu dan hendak pergi dari sana.


"Dinda kau mau kemana?" tanya Tom.


"Untuk apa aku di sini, di rumah yang tidak pantas untuk aku pulang!"


Dan Dinda pergi dari sana, membawa kecewa dan marah terhadap kedua orang tuanya.


Dia bisa paham papanya selalu bersikap dingin karena sikap cuek sang mama, namun tidak jika itu tentang perselingkuhan.


"Asmi, jika kau tahu siapa gadis itu, dan kau berani melakukan hal yang mungkin bisa menyakitinya, maka kau akan menyesal seumur hidup!"


Dan Tom pergi dari sana, meninggalka Asmi dengan air matanya.


"bagus Tom, bagus! Tapi gadis itu akan mendapatkan pelajaran!" monolog Asmi saat Tom meninggalkannya.


*******


Chika menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur, memainkan ponselnya sambil terbayang saat dia dan Tom sedang berada di pantai tadi sore.


Tapi terlintas di benaknya, bahwa apa yang akan terjadi saat istri Tom mengetahui semua ini.


Chika menaruh ponselnya, mengambil buku diary. Lalu menulis.


Diary!


****Aku mencintai Pak Herman, tapi tidak mendapatkan cintanya. Aku kehilangan kedua orang tuaku, yang aku tahu bahwa mereka tidak betul-betul mencintaiku.


Aku punya Kakek dan Tante, tapi mereka hanya memberiku tumpangan hidup tanpa bisa memberiku kasih sayang.


Lalu datang Thomas Arfinjaya, yang memberikan segalanya, memberiku materi dan juga perlindungan, aku terkadang berharap bahwa aku terlahir dan memiliki ayah seperti Om Tom, tapi bukannya menjadi ayah dia malah menjadi sugar daddy ku, yang rela membayar utang ibuku demi bersamaku, yang rela berbohong pada keluarganya demi bersamaku, dan dia tidak meminta apapun kecuali bersamaku.


Aku tidak tahu sampai kapan ini semua berakhir, entah dengan bahagia atau hanya dengan sedih.


Namun aku tahu, bahwa semua yang terlarang akan berakhir buruk**.